Via Dolorosa : Jalan Keselamatan Yang DIA Bangun Untuk Kita

 

Via Dolorosa : Jalan Salib, Jalan Keselamatan

Bersyukur bisa mengikuti perjalanan ziarah ke Tanah Suci Yerusalem pada bulan Desember 2017 yang lalu.  Begitu banyak hikmat dan nikmat yang tidak bisa dan tidak cukup dijabarkan dalam kata-kata , sehingga saya perlu waktu cukup lama untuk bisa menuliskan pengalaman luar biasa ini.   Saya perlu waktu untuk  memikirkan dan memilah-milah  hal dan kejadian apa yang paling berkesan dan yang mendatangkan berkat perziarahan, tidak hanya untuk saya saja,  tapi juga untuk banyak orang,  terlebih untuk teman-teman yang suka membaca blog saya ini.

Ini kisah yang pertama 😉

Via Dolorosa

Dikenal sebagai Jalan Kesengsaraan atau Jalan Salib (The Way of Cross)  yang dilewati Tuhan Yesus saat memanggul salib dari tempat Ia diadili,  yang sekarang  dikenal sebagai  Church of Flagellation sampai ke Church of  The Holy Sepulchre  (Gereja Makam Kudus),  Golgota.

Lorong sepanjang Via Dolorosa dari Gerbang West Tunnel

Titik perhentian Jalan Salib yang menjadi tradisi umat Katolik untuk mengenang sengsara Tuhan Yesus  (Passion of Christ) ada 14 titik perhentian,  yang  disebut sebagai stasi,  dan di sepanjang Via Dolorosa yang berkelok-kelok ini terdapat 9 stasi,  5 stasi lainnya terletak di dalam komplek Church of Holy Sepulchre.

Biasanya pada hari-hari tertentu dan terlebih pada masa sebelum dan  sesudah Paskah,  peserta ziarah akan mengikuti dan menjalani prosesi Jalan Salib ini lengkap dengan pemanggulan salib,  baik yang diselenggarakan oleh kelompok imam setempat (Ordo Fransiskan) ataupun oleh kelompok peziarah yang didampingi oleh pembimbing rohani.

Menyusuri Via Dolorosa melalui Western Wall Tunnel yang terletak di sebelah barat Tembok Ratapan,  saya berjalan  pada sebuah

Pasar di Via Dolorosa

lorong panjang dengan lebar yang berbeda-beda;   di sepanjang lorong  ini pada bagian kanan dan kirinya berjejer  toko-toko, pedagang  kaki lima dan juga pasar.  Bagian atas lorong dilengkapi dengan lengkungan-lengkungan yang menghubungi sisi kiri dan sisi kanan.

Entah mengapa pada saat menyusuri lorong Via Dolorosa ini saya tiba-tiba teringat akan  potongan lirik dari sebuah lagu ini :  ♥Yesus,  Tuhanku karena kasihMu,  Kau panggul salib ke Golgota♥ dan perasaan hati saya langsung merasakan kesedihan yang sedikit mencekam yang kemudian menjalar ke seluruh tubuh seperti saya melakukan suatu kesalahan fatal yang tidak dapat saya perbaiki lagi.

Perasaan ini terus menggayuti hati  sampai setibanya saya di  beberapa titik perhentian Jalan Salib yang semuanya penuh dengan kerumunan  peziarah.

Walaupun saya tidak mengikuti prosesi Jalan Salib,  tapi saya sangat terkesan pada  stasi-stasi yang saya kunjungi dan  lewati,  yaitu :

Stasi I  :  Komplek Monastery Fransiskan –  Church of Flagellation :  Tempat  Yesus Dijatuhi Hukuman Mati dan Dimahkotai.

Tempat kejadian asli saat  Yesus divonis mati

Pada bagian dinding luar monastery ini,  terdapat sebuah pintu gerbang kecil yang telah ditutup permanen dengan batu kapur dan apabila kita tidak teliti memperhatikannya,  maka kita akan begitu saja melewatinya tanpa sadar bahwa disitulah tempat  kejadian Yesus divonis hukuman mati,  dicambuk pertama kali dan dimahkotai rangkaian duri.  Mungkin karena keperluan akan jalan untuk peziarah,  tempat ini seakan dipindah ke dalam kompleks monastery.

Di dalam komplek monastery  dibangun gereja,  Church of Flagellation (Gereja Penderaan), yang pada bagian interiornya  dilengkapi dengan kisah Ponsius Pilatus membasuh tangan,  Yesus didera dan dimahkotai  serta kegembiraan Barabas,  yang semuanya terlukis pada dinding kaca bagian atas yang mengitari altar.

Interior Altar Church of Flagellation *pic by BibleWalk

Lukisan pada langit-langit kubah gereja ini secara artistik menggambarkan mahkota duri yang secara langsung mengingatkan para peziarah akan mahkota duri yang dikenakan Yesus.

Stasi II : Church of Condemnation :  Titik Awal Yesus Memanggul Salib

Terletak  dalam satu komplek monastery yang sama dengan Church of Flagellation yang ada di sisi kanan,  Church of Condemnation (Kapel Penghukuman) terletak di sisi kiri  dan secara letak bersisian dengan pintu  gerbang kecil yang telah ditutup secara permanen tersebut,  yang merupakan tempat asli Yesus dijatuhi hukuman mati.

Church of Comdemnation dengan kubah yang sebagian terlihat

Gereja ini tampak lebih indah dengan menara 5 kubah yang  tingginya tidak beraturan.  Kubah-kubah ini secara jelas terlihat dari luar monastery.  Pada latar dari altar gereja ini terdapat lukisan artistik yang memperlihat Yesus dengan jubah berwarna merah sedang dipersilahkan oleh seorang algojo untuk segera memanggul salibnya.  Ya.  di tempat ini, Yesus mulai memanggul salib,  memanggul semua dosa-dosa manusia dan dosa-dosa saya.

Ya…Yesus, karena kasihMu,  Kau panggul salib ke Golgota……♥  sepenggal lirik ini bergema kembali dihati saya tanpa bisa saya hentikan.

Stasi IV : Saat Yesus Berjumpa Dengan IbuNya.

Stasi IV : Yesus Bertemu dengan IbuNya

Kerumunan peziarah ada di depan pintu gerbang Church of Our Lady of the Spasm atau dikenal sebagai Gereja Duka Bunda Maria, yang dibangun pada tahun 1881.  Gereja ini  menjadi perhentian keempat dari perjalanan sengsara,  menandai  saat Yesus berjumpa dengan IbuNya.  Gereja ini milik Armenian Catholic,  dilengkapi dengan kapel yang didedikasikan buat Bunda Maria.     Perjumpaan yang sangat mengharukan ini   digambarkan dengan indah dalam bentuk patung yang sangat bagus.

Stasi V :  Simon dari Kirene Membantu Memanggul Salib

Kerumunan peziarah di depan Chapel of Simon of Cyrene

Ini adalah perhentian kelima dari Via Dolorosa.   Saat melewati tempat ini,  saya bertemu dengan beberapa peziarah dari Indonesia yang sedang mengantri masuk bergantian.   Di perhentian ini dibangun sebuah kapel milik Fransiskan,  yang diberi nama Chapel of Simon of Cyrene (Kapel Simon dari Kirene) sebagai penghormatan kepada Simon yang bersedia membantu Yesus memanggul salib.

Setelah berkunjung  dan melewati beberapa stasi Jalan Salib ini dengan sesekali menyenandungkan sepenggal lirik lagu,  akhirnya secara begitu saja,   saya dapat mengingat  utuh lirik lagu yang memilukan hati ini :

Oh,  Yesusku,  Sang Penebus bermahkotakan duri; Oh,  Tuhanku, betapa jahat dosa yang kubuat

Yesus Tuhanku karena kasihMu;  Kau panggul salib ke Golgota

Oh Yesusku,  Sang Anak Domba yang menanggung dosa;  Kau relakan,  Kau disesah demi keselamatanKu

Yesus Tuhanku karena kasihMu; Kau panggul salib ke Golgota

Paving stone asli dari zaman Herodes

Menyenandungkan lagu ini dalam diam  sambil berjalan memandang ke arah  paving stone yang menurut informasi  adalah asli dari jaman Herodes,  langsung  terbayang di pelupuk mata bahwa di jalan ini 2000 tahun yang lalu,  Yesus memanggul salib dalam derita yang mendalam,  dihina,  didera,  dicambuk,  berdarah-darah dan terjatuh berulang kali dalam perjalanan sengsaranya ke Bukit Golgota.  Membayangkan ini semua,  rasanya tidak kuat untuk menahan air mata yang mulai merembes di pelupuk mata.  Membayangkan darahNya yang berceceran di sepanjang jalan yang sekarang saya lewati dengan segala sifat kemanusiaan saya yang lemah.  Klik link ini untuk mendengarkan lagu yang menyayat hati ini.

Kembali terlintas juga saat malam sebelumnya saya dan rombongan berkunjung ke komplek Church of Sepulchre  yang terletak di Bukit Golgota, berdesak-desakan dengan para peziarah dari seluruh dunia untuk  mengunjungi titik-titik perhentian menjelang akhir Jalan Salib,  yaitu :

Stasi  XI  :  Yesus Dipaku Pada Kayu Salib

Gambaran Yesus Dipaku Pada Kayu Salib : lukisan dinding yang indah

Memandang lukisan  yang dibuat sangat indah dengan paduan warna hijau lembut dan kuning keemasan  ini,  saya mendapatkan wajah Yesus yang begitu damai dan penuh kasih padahal Ia sedang terlentang di atas salib yang rebah  dengan kaki dan tangan yang  sudah dipaku. Sepertinya lukisan ini mau  menyampaikan pesan bahwa kesengsaraan sama sekali tidak berarti bagiNya karena kasihNya yang demikian besar yang mengalahkan semua penderitaan. KasihNya telah mengajarkan kepada saya dan kita semua untuk tidak perlu takut berkorban karena damai akan diberikan kepada kita  bila kita melakukannya dengan rela.

Stasi  XII : Yesus Wafat Pada Kayu Salib

Begitu banyaknya peziarah yang berkerumun di sekitar tempat ini karena masih menunggu selesainya ritual yang sedang berlangsung,  saya mendapati keheningan yang mendalam,  hampir tidak ada suara berbisik yang terdengar di sini.  Sepertinya suasana kesedihan secara otomatis terbangun di sini.

Bukit Golgota : DIA wafat di sini

‘Ya Yesusku,  dua ribu tahun yang lalu Engkau tergantung di sini,  salibMu tertancap di sini hanya untuk menebus dosaku yang umumnya terjadi karena aku terlalu egois, tinggi hati, iri hati dan selalu lupa bersyukur.  Aku bersimpuh di sini dengan kesesakan  hati yang membuncah  mengingat penderitaanMu dan airmataku bergulir mengingat semua kasihMu.  Terima kasih Yesus! Terpujilah Engkau selama-lamanya !’  Demikian kalimat yang sempat saya bisikan saat saya bersimpuh di Golgota.  Ya,  tempat ini adalah Golgota.

Tempat yang ditemukan oleh Helena,  ibu dari Raja Konstantin,  yang mendapat ‘pesan’ untuk mencari tempat ini setelah ia dan putranya menjadi Kristen.  Berkat Helena (yang kemudian menjadi Santa Helena),  kita semua,   para peziarah,  dapat bersimpuh di sini.

Stasi XIII : Pengurapan Jenazah Yesus

Wajah Bunda yang bersedih hadir di sini

Begitu banyak peziarah yang berlutut,  menangis sambil mencium dan membersihkan potongan batu yang secara tradisi dipercaya sebagai tempat pengurapan jenazah Yesus sesaat telah diturunkan dari kayu salib,  sebelum dimakamkan.   Berlutut di sisi batu ini,  saya seperti melihat wajah Bunda Maria yang penuh duka,  memeluk tubuh anaknya yang penuh dengan luka dan sudah tidak bernyawa.  Wajah Bunda yang sedih berkali-kali terlintas di sini :'(

Stasi XIV : Yesus Dibaringkan Dalam Lubang Kubur

Di tempat ini adalah antrian panjang kedua yang saya alami,  setelah pagi harinya selama 1 jam lebih berdesak-desakan dengan para peziarah dari seluruh dunia di Gereja Nativity,  gereja yang dibangun di atas tempat kelahiran Yesus;  maka sore ini,  saya dan rombongan kembali antri dengan tertib dan mengikuti arahan dari para petugas  yang berulang kali ‘menggiring’ kami untuk mendekat ,  menjauh,  dan mendekat lagi sampai seperti dipepet ke bangunan makam karena lebar jalur antrian bisa diatur fleksibel dengan memindahkan pagar besi yang mobile.

Hanya cahaya lilin ini yang menerangi makam Yesus

Gereja Makam Yesus yang dikenal sebagai Gereja Makam Suci atau The Church of Sepulchre,   menaungi empat situs teramat penting bagi perziarahan orang Kristen  yang dijabarkan sebagai perhentian 11 s/d 14 pada  perenungan atau devosi ritual Jalan Salib.

Setelah antri lumayan lama,  akhirnya sampai pada giliran saya untuk masuk ke dalam makam;  kami diatur maksimal 4 peziarah masuk  bersamaan dengan waktu yang sangat terbatas mengingat antrian masih mengular di luar.   Saat berlutut di samping  batu yang 2000 tahun lalu menjadi alas bagi jenazah Yesus,  perasaan saya seperti hampir tidak percaya saya bisa sampai di situ;  perasaan campur aduk seperti anak yang hilang yang selama ini hanya mendengar kabar  seseorang yang mengasihinya  tapi tidak pernah berkunjung kerumahNYA;  dan ketika berkesempatan itu datang,  yang didapat hanya makamNYA.

Oh Yesusku betapa jahat dosa yang kubuat♥  …. saat menuliskan alinea ini,  sepotong lirik lagu itu tiba-tiba bergema kembali dan…..kali ini saya hati saya serasa tercabik-cabik mengenang perziarahan saya di Via Dolorosa.

Kubah Gereja Makam Kudus tepat di atas makam Yesus

Kenyataannya menuliskan kisah Via Dolorosa ini tidak semudah saya menuliskan cerita perjalanan  lainnya.  Berulang kali  mendengar ‘seseorang’ menyanyikan lagu ♥Oh Yesusku♥  di saat-saat saya mengenang perziarahan ini  membuat saya merenungkan kembali arti perziarahan ini,  sehingga bagi saya,  Via Dolorosa adalah sebuah jalan keselamatan yang ‘dibangun’  Tuhan Yesus dengan darahNya buat kita semua.   Bukan sekedar jalan dengan kelokan dan paving stone yang vintage serta lengkungan-lengkungan yang menawan,  di mana para peziarah mestinya melewati jalan ini dengan kesadaran iman yang murni.   Ini sungguh sebuah perziarahan yang sangat indah yang mendatangkan banyak berkat bagi saya.

Semoga teman-teman yang mempunyai keinginan untuk melakukan perziarahan yang sama dapat segera melakukannya  dan untuk teman-teman yang belum memikirkannya sama sekali,  mulailah untuk membuka hati …. Dia memanggil !

*Maureen T. Rustandi

3 Maret 2018

** Ucapan syukur dan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Baik yang telah membisakan saya bersama suami dan ayah mertua melakukan ziarah ini. Terima kasih juga kepada Pastor Garbito Pamboaji,  Marisa Winata dan semua teman2 rombongan ziarah Christour, EHP 123012-2017😊

*** Bonus – Bonus – Bonus

Tampak Depan Church of Sepulchre

Kubah Church of Sepulchre yang anggun, tepat di atas makam Yesus

Tampak Depan Church of Our Lady of Spasm
* pic by Bible Walk

Perjumpaan yang mengharukan di kapel Stasi IV – Church of Our Lady of Spasm *pic by Bible Walk

Yesus dengan jubah merah. lukisan di Church of Condemnation

Tampak depan bagian atas Church of Flagellaltion

Saya bersama Marisa Winata, Tour Leader yang mengurus dan mendampingi peserta ziarah.

Teman2 seperjalanan ziarah yang menyenangkan

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *