Sumba : Cinta yang Hidup, Indah dan Sederhana

Pulau Sumba merupakan pulau seluas +/- 10.700 km2 yang terletak di Propinsi Nusa Tenggara Timur,  bersebelahan dengan Sumbawa dan Flores,  yang terbagi atas 4 kabupaten,    yaitu Kabupaten Sumba Barat Daya,  Sumba Barat,  Sumba Tengah dan Sumba Timur.   Walaupun penduduk asli terdiri dari  banyak etnis/suku-suku  yang masing-masing mempunyai bahasa sendiri-sendiri tapi rata-rata penduduk Sumba lancar berbahasa Indonesia.

Berkesempatan menyusuri Sumba dengan bermobil dari Barat sampai ke Timur pada liburan akhir tahun ini 2015,   sungguh merupakan pengalaman liburan yang luar biasa bagi saya.   Bukan karena saya boleh menyaksikan keindahan alam yang cantik serta keunikan sebuah masyarakat yang masih berpijak antara kepercayaan leluhur nenek moyang dan kesempatan dunia yang lebih modern, tapi lebih kepada hal yang memberi makna tentang kesederhanaan sejati yang merupakan refleksi dari sikap dan pikiran yang juga sederhana tapi memberikan daya yang membahagiakan untuk kehidupan.

Dengan pesawat jet explorer-nya Garuda yang menempuh waktu terbang 1,5 jam dari Denpasar,    saya dan keluarga tiba di Tambolaka,  Sumba Barat Daya menjelang jam 2 siang.    Segera menyergap mata adalah keunikan rumah penduduk setempat dan bangunan segi empat yang berdiri di halaman depan rumah.   Bangunan apakah itu ?

Jet explorer

Welcome to Sumba 1

Oro Beach

Oro Beach menjadi tempat pertama kami menginap untuk 2 malam pertama di Sumba, dengan luas 4 hektar dan yang baru difungsikan hanya sebagian kecil saja berupa 1 unit rumah tinggal berlantai dua yang berfungsi sebagai kantor dan restoran, 4 unit bungalow dengan total 8 kamar dan sisanya adalah padang karang dengan tumbuhan pantai dan batu2 koral khas pantai bertebaran.

Oro Beach entrance

Oro Beach entrance 1

Memasuki jalan kecil menuju Oro Beach seakan memasuki dunia lain, yaitu dunia dongeng yang secara umum pada bagian awal selalu menarik dengan kejadian-kejadian mencekam dan akan berakhir dengan kebahagiaan. Begitulah gambaran Oro Beach. Apalagi kalau pertama kali tiba di sana pada hari sudah menjelang gelap, kamu tentu akan merasakan bahwa : you are entering to a different world !

Bertemu dengan sang pemilik, pasutri Jerman Indonesia (Flores), Lucas dan Siska serta ketiga anak perempuan mereka yang cantik2 : Noni, Elsa dan Zora; kesan kehangatan sebuah keluarga sangat terasa; mendengar Siska bicara dan bercerita tentang pantai Oro yang terbentang luas bersih dan hening di depan sana, rasanya kaki sudah pengen segera berlari.

Oro beach

Maka segeralah saya berjalan ke sana …..ke pantai yang indah,  tapi jangan lupa harus bersepatu kets ya…. karena untuk sampai pada bibir pantai yang landai,  kita harus berjalan menuruni hamparan gundukan batu-batu karang dan menyusuri jalan setapak satu-satu. Usaha yang sama sekali tidak sulit untuk akhirnya kita bisa menjumpai pantai yang indah.

Oro Beach 2

Oro Beach in the morning

‘This is your private beach,  enjoy the happiness that it offers to you’ demikian terngiang kalimat yang diucapkan Siska beberapa saat yang lalu.   Pengunjung boleh berjalan di sepanjang pantai ke arah kiri atau ke arah kanan, bila beruntung akan bertemu dengan satu atau dua orang penduduk setempat yang sedang mempersiapkan jala atau yang sedang membali-balikkan batu untuk menangkap kepiting yang sembunyi.   Ngga pernah kebayangkan kalo kepiting yang lezat itu ditangkap dengan cara yang sederhana begitu ?

Oro Beach in the morning 1

Nelayan Oro BeachHalo Oro Beach 2

Selfie @Oro Beach

Karena sudah lelah berjalan (dan berfoto),  saya kembali ke kompleks bungalow Oro Beach dan singgah di gazebo yang ada gantungan hammock nya dan mencoba merebahkan badan disitu serta nikmati semilir angin yang berhembus…..nikmatnya ! serasa dunia milik sendiri lho   Hhhmm,    seperti dongeng kan ?

Gazebo Oro Beach 1

Nikmatnya hammock

Danau Weekuri

Perjalanan 2 jam bermobil dari Waitabula menuju Weekuri harus dinikmati tanpa perlu tidur karena banyak sekali pemandangan alam dan kehidupan tradisional yang sangat bisa dinikmati.  Langit yang cerah di tengah musim hujan,  hamparan ladang yang siap ditanam,  rumah-rumah berpagar batu karang,  barisan rindang pohon kesi,  hanya sebagian kecil saja dari sekian banyak yang bisa dilihat.   Sekilas foto-fotonya di sini :

View Sumba Barat Daya

Sumba permai

Pagar batu karang

Pohon kisu

Tiba di Weekuri sekitar jam 11 siang dan matahari bersinar sempurna menyengat kulit tapi biru dan beningnya air danau Weekuri yang sudah tampak dari tempat parkir sangat pantang untuk diabaikan.  Kalau berenang di sini,  serasa punya kolam renang pribadi ukuran raksasa lho !

Danau Weekuri 2

Kolam renang pribadi

Danau Weekuri 1

Air danau Weekuri adalah air laut yang didapat dari resapan laut Hindia melalui batu-batu.  Pemandangan sekitar danau juga menjadi luar biasa karena seperti membalikkan telapak tangan,  maka kita akan segera menjumpai bentangan Samudra Hindia yang luas dan berwarna biru pekat pada sisi kanan danau.

Samudra Hindia 1

Samudra Hindia

Konon, Weekuri merupakan rahasia alam yang tersingkap secara tidak sengaja oleh 2 pemuda penggiat wisata Sumba yang senang blusukan mencari obyek-obyek wisata alam dan kemudian teknologi internet yang menyebarluarkan rahasia ini.  Amazing.

Pantai-pantai ‘Pribadi’ di Sumba

1. Pantai Pero

Pecahan ombak yang menghempas tebing di bibir pantai dengan sebagian lagi pecah pada celah tebing merupakan pemandangan yang dijumpai di Pantai Pero ini. Seperti kebanyakan pantai-pantai indah di Sumba, Pantai Pero juga dapat kita nikmati tanpa perlu kuatir akan banyaknya pengunjung. Ini adalah pantai pribadi ke dua yang saya kunjungi di hari kedua liburan. Matahari setia bersinar meningkahi biru dan jernihnya laut yang tenang, sungguh rasanya nyaman duduk di tepi pantai dan memandang cakrawala luas.

Ombak Pantai Pero 1

Pantai Pero 1

Tidak ada pengunjung lain kecuali anak-anak yang berlari riang tanpa alas kaki di atas karang-karang yang bertebaran,  kemudian mandi dengan menantang ombak dan bermain bola di tebing bibir pantai serta segerombolan kambing yang merumput di sekitar pantai.

Bersama anak2 karang

Anak-anak karang 1

Menantang ombak

Main bola di tebing pantai pero

Saya baru menyadari bisa tertawa-tawa lepas di Pantai Pero karena menyaksikan ulah anak-anak karang ini menantang ombak.   Rasanya udah lama lho saya tidak tertawa bebas seperti ini.   Hhmm….benar-benar liburan yang melepas dan membuang stress Jakarta.

Ombak Pantai Pero

  1. Pantai Mananga Aba

Satu lagi pantai di Sumba Barat yang memiliki keunikan, yaitu tepi pantai dengan hamparan pasir putih bersih yang luas dapat kita temui di Pantai Mananga Aba yang juga dikenal sebagai Pantai Kita.

Pantai Kita 1

Pantai Kita 2

Sesuai namanya,  ini memang pantai kita,  our own beach,  karena hanya kita yang berkunjung ke pantai ini 😀   Jadi ini adalah private beach  saya yang ke tiga yang saya kunjungi di hari ke 3 di Sumba.   Duduk-duduk di bawah payung gazebo yang ada di tepi pantai,  sambil melamun atau menulis,  mestinya sungguh nyaman karena belaian semilir angin,   cuma sayang waktu yang terbatas menjadi penghalang untuk menikmati pantai luas dan tenang ini lebih lama.

Rumah Budaya Sumba

Barisan pohon kelapa yang rapih dan teduh akan menyambut setiap pengunjung saat memasuki komplek Rumah Budaya Sumba yang berupa museum,  pusat informasi dan penelitian budaya Sumba.  Dikelola dengan sangat baik oleh misionaris Katolik, yaitu Pastor Robert Ramone CSsR,   yang dikenal juga dengan bukunya,  yaitu :   Sumba, The Forgotten Island.

Barisan pohon kelapa 2

Museum Budaya Sumba

Kedatangan saya & keluarga juga disambut oleh beliau tapi sayangnya saat itu beliau lagi kurang sehat sehingga tidak bisa mendampingi kami saat berkunjung ke museumnya.   Museum yang tidak terlalu besar tapi ditata dengan baik dan lengkap informasi;   karena di sini kita akan mendapat pengetahuan baru tentang kearifan budaya penduduk Sumba yang digambarkan melalui masa kelahiran, dewasa, peperangan dan juga kematian.   Sarat dengan simbol-simbol yang merepresentasikan falsafah, keberanian dan nilai-nilai keluhuran masyarakat Sumba yang tampak sederhana tapi sarat makna.  Seperti umumnya peraturan yang berlaku di museum-museum,   di sini juga dilarang mengambil foto.

Museum ini juga sudah acapkali memenangkan penghargaan baik dari pemerintah daerah,  pusat maupun dari organisasi swasta,  yang semuanya diabadikan dalam foto-foto yang tergantung di dinding museum.   Selain itu,  ada 1 foto yang mencuri perhatian,  sebuah foto dengan gaya informil dari seorang ibu.  Siapa gerangan beliau ? Saya mendapat penjelasan beliau adalah istri pengusaha air minum terkenal yang menyerahkan tunai milyaran rupiah untuk pembangunan Rumah Budaya Sumba. God bless you, Bu!

Komplek Rumah Budaya Sumba saat ini baru terdiri dari 2 bangunan utama yang cukup besar dan lengkap, bergaya panggung yang kokoh dengan model atap yang sama dengan rumah adat Sumba tapi cara pemasangan atap rumbia-nya memakai cara Bali yang dianyam dengan lebih rapih.

Rumah budaya Sumba

on C

Yang menarik di sini adalah  simbol huruf C besar yang dicetak di atas marmer dan berwarna emas,  yang terdapat di tengah-tengah ruang museum maupun di halaman. Mengapa C ? Karena C dapat diartikan sebagai Culture , Courage, Corazon dan dapat juga berarti Cinta,  demikian penjelasan yang saya dapatkan.

Kampung-kampung Adat

  1. Ratenggaro

Setelah menahan keingintahuan yang muncul sejak melihat bentuk rumah penduduk asli Sumba yang atapnya menjulang tinggi serta bangunan segi empat yang ada di depan rumah,  akhirnya terjawab semua di Kampung Ratenggaro.   Di sini saya berkesempatan memasuki salah satu rumah yang didiami oleh kepala suku,  yang memiliki ‘menara’ atap paling tinggi di seluruh Sumba, yaitu sekitar 30 meter.

Kampung Ratenggaro

Rumah panggung dengan 3 bagian utama,  bagian bawah untuk kandang ternak, bagian tengah/utama untuk tempat tinggal dan bagian atas/atap sebagai tempat menyimpan hasil kebun.  Empat tiang utama sebagai kolom penyangga terbuat dari batang pohon kelapa yang diukir dengan simbol-simbol kepercayaan;   keseluruhan rumah dari lantai,  dinding didominasi dari bahan bambu, demikian juga dengan ambalan tempat tidur.

Interior rumah adat 1

Pada bagian teras rumah sebelah dalam biasanya banyak digantung rahang babi dan tanduk2 kerbau yang telah dikeringkan,  sebagai simbol sosial dari si pemilik rumah; makin banyak rahang babi dan tanduk kerbau yang tergantung,  berarti pemilik rumah makin tinggi status sosialnya.

Rumah adat RatenggaroKebiasaan adat Sumba juga mengubur keluarga yang meninggal di depan rumah dengan cara meletakkan jenazah di atas tanah, tidak dikuburkan tapi dibuatkan semacam rumah dengan tembok mengelilingi jenazah dan bagian atasnya ditutup dengan batu besar.

Makam di depan rumah juga mempunyai makna sebagai peringatan kepada yang masih hidup bahwa ‘ kelak nanti kalau meninggal dunia, maka tempatmu akan berada di situ. Jadi jalanilah hidup dengan baik-baik’.   Akhirnya keingintahuan saya yang mucul sejak awal kedatangan,  sudah terjawab.

Makam kuno 1

Makam raja Ratenggaro

Pemandangan di belakang Kampung Ratenggaro sungguh indah, hamparan muara sungai yang bertemu dengan garis pantai yang landai berpasir putih bersih dari Samudera Hindia mengundang pujian dari setiap bibir orang yang melihat.   Ketakjuban ini dilengkapi lagi dengan adanya beberapa batu makam berumur ratusan tahun yang kokoh berdiri di tepi pantai.   Sekali lagi … suguhan pemandangan bak negeri dongeng bisa saya nikmati di Sumba.

Pantai Ratenggaro

Kampung Ratenggaro dari seberang

Satu hal yang menarik lagi,  saya bertemu dengan kuda Sumba yang kesohor,  yang dikenal sebagai kuda Sandalwood,  di kampung ini,  hanya seekor yang sedang asyik merumput tapi cukup untuk segera teringat akan keeksotisan Sumba,  kuda dengan padang sabananya. Di mana ?

Kuda Sumba

  1. Manola

Perjalanan panjang menuju daerah Wewewa Selatan untuk mengunjungi Kampung Adat Manola yang berada diketinggian sebenarnya cukup melelahkan karena saat itu saya terserang flu dan batuk. Tapi sesampai di sana,  mendapati suasana kampung yang lebih guyub dengan bentuk atap rumah yang tidak semenjulang atap rumah di Kampung  Ratenggaro dan bertemu serta sempat ngobrol dengan beberapa penduduk,   ada pengetahuan yang bertambah;   yaitu belajar tentang hidup yang menyesuaikan dengan keadaan alam  serta meresapi keramahtamahan yang sederhana dan apa adanya.

Kampung Manola

Patung kayu kampung Manola

Kesetiaan mempertahankan adat istiadat yang tercermin dari kesetiaan mempertahankan bangunan rumah sesuai aslinya walaupun sudah dilengkapi dengan teknologi solar cell dan beberapa antena parabola,   sepertinya menggambarkan paduan tradisional modern yang coba untuk terus dipertahankan dan disesuaikan seturut kearifan lokal.

Wajah tua yang ramah 1

Keramahan penduduk Kampung Adat Manola juga tercermin dari wajah mereka yang tampak selalu tersenyum yang menjadikan mereka segar di usia yang senja. Guratan senyum yang merefleksikan rasa syukur.  A power of smiles !

  1. Kampung Tarung

Kampung Tarung terletak di tengah kota Waikabubak, Sumba Barat.  Letak geografis ini membuat Kampung Tarung menjadi demikan unik,  karena menggambarkan secara jelas bagaimana kehidupan tradisional bisa berdampingan secara harmonis dengan kehidupan modern yang hanya berjarak seputaran langkah.

Kampung Tarung

Rahang babi dan tanduk kerbau

Kampung Tarung 1

Dengan tetap mempertahankan nilai tradisional dalam bentuk struktur bangunan dan kebiasaan hidup sehari-hari,  penduduk Kampung Tarung juga berperan aktif dalam kehidupan berpolitik setempat,  karena banyaknya para pejabat pemerintah daerah yang berasal dari Kampung Tarung ini;  sehingga tidak heran bila melihat begitu banyaknya rahang babi dan tanduk kerbau yang sudah dikeringkan,  tergantung di depan rumah.  Itu semua menunjukkan status sosial si penghuni.

  1. Kampung Pasunga dan Kabondok

Perlu menempuh sekitar 45 menit perjalanan dari pusat kota Sumba Barat  untuk sampai di daerah yang banyak terdapat situs megalitikum ini,  yaitu Kampung Pasunga dan Kampung Kabondok yang terletak di daerah Waibakul, Sumba Tengah. Hal yang membedakan di sini adalah material atap rumah adat yang sudah memakai seng,  tidak lagi memakai rumbai daun kelapa dan terdapatnya beberapa makam para raja lengkap dengan batu kubur yang sangat besar (pastinya sangat berat juga) yang diukir dengan corak-corak khas budaya tempat.

Rumah atap seng Pasunga 1

Rumah atap seng Kabondok

Banyak kisah-kisah magis yang melatarbelakangi pembuatan kubur ini dan konon diperlukan sampai seribu orang  untuk menarik batu kubur ini.

Makam kuno Pasunga

Makam kuno raja Kabondok

Banyaknya penduduk asli Sumba yang sudah meninggalkan agama nenek moyang, yang dikenal sebagai Marapu,  jelas tergambar dengan adanya pohon natal cantik yang terbuat dari material sederhana di Kampung Kabondok.   Melihat ini saya jadi teringat penjelasan pastor pemandu saat di Rumah Budaya Sumba tentang bagaimana perjuangan para misionaris mengenalkan agama Katolik di Sumba,  yaitu dengan berpegang pada satu pedoman bahwa : ‘Yesus datang tidak untuk melenyapkan hukum Taurat tapi untuk menyempurnakannya’

Pohon natal Kabondok 1

Bukit Wairinding

Kerinduan akan eksotisnya sabana Sumba baru terobati pada hari ke 4 di tengah perjalanan dari Sumba Tengah menuju Sumba Timur. Setelah selesai berkunjung ke Kampung Pasunga dan Kabondok, perjalanan overland ini berlanjut melewati Hutan Taman Nasional Tanadaru hingga akhirnya tiba di perbukitan yang indah dengan gradasi warna hijau yang berlekuk-lekuk sejauh mata memandang. Beberapa anak berlari riang bersama ternak atau binatang peliharaan mereka….wajah mereka berbinar senang saat diajak berfoto bersama.

Bukint Wairinding HP

Bukit Wairinding HP 2

Mario dan anak Bukit Wairinding

Inilah sabana yang menghijau di Bukit Wairinding,  salah satu spot di film Pendekar Tongkat Emas.  Sungguh menyejukkan setiap mata yang memandang hamparan hijau ini. Terbayang sekilas Nicholas Saputra yang tampan berlari-lari action di tempat yang begini indahnya. Klop !

MR Bukit Wairinding

Puru Kambera

Hotel tempat kami menghabiskan malam terakhir di Sumba adalah Pondok Wisata Pantai Cemara yang terletak di daerah Puru Kambera yang indah dan eksotis, di wilayah Sumba Timur.

Sepanjang perjalanan melewati daerah ini, mata secara terus menerus dimanjakan dengan pemandangan alam indah berupa padang luas yang landai tempat bermainnya kuda-kuda dan ternak lain, bukit-bukit bermahkota awan putih yang anggun dan juga laut biru dikejauhan yang berkilau-kilau lengkap dengan pohon-pohon unik yang tumbuh ditengah laut, seperti yang terdapat di pantai Walakiri.

Puru Kambera Camera

Gereja Puru Kambera

Pada Puru Kambera

Mahkota awan Puru Kambera

Waktu yang menyenangkan di Puru Kambera belum berakhir karena setelah malam berlalu, pagi harinya saya masih punya kesempatan untuk berjalan menyusuri pantai yang terbentang di depan bungalow. Walaupun saat itu banyak tamu, tapi tampaknya pagi itu,  para tamu masih terbuai di peraduan  yang nyaman berkelambu,  sehingga memberikan keleluasaan bagi saya untuk menikmati pantai Sumba terakhir kalinya sebelum kembali ke Jakarta.

Pantai Pondok Cemara 1

Pantai Cemara

Hhmm….rasanya mimpi bisa berlibur ke Sumba dan setiap bertemu teman,  maka pertanyaan mereka adalah : ‘koq bisa sih pilih Sumba,  memang ada apa di sana?’ Pertanyaan yang hanya perlu dijawab dengan senyuman 😉  Kamu harus menyaksikan sendiri keunikan  Sumba yang terpancar melalui alam,  tradisi,  penduduk dan juga dedikasi mereka yang melestarikan budaya tanah ini.  Kemudian rasakan cinta yang begitu hidup,  sederhana dan indah ♥♥♥

 *****

Bonus, bonus dan bonus !!!

Katedral Roh Kudus Waitabula : Ada Cinta

Berkat yang indah bagi saya dan suami karena bisa mengikuti misa perayaan Keluarga Kudus yang ditandai dengan pembaharuan janji perkawinan di Katedral ini. Praise The Lord !

Katedral Roh Kudus tampak depan

Katedral Roh Kudus tampak samping

Misa sore itu tidak terlalu ramai tapi saya sangat terkesan dengan kelompok paduan suara yang menyanyikan lagu puji-pujian.   Mereka umat yang sederhana tapi bernyanyi dengan cinta  dan penuh percaya diri.

Warung Gula Garam : Restoran paling hits di Sumba Barat

Restoran ini saya dan keluarga kunjungi 2 kali dalam sehari pada hari pertama kami tiba di Sumba Barat;  kunjungan pertama untuk makan siang dan kunjungan kedua untuk makan malam.    Sengaja kami memilih jenis masakan yang berbeda,  untuk makan siang,  pihan jatuh pada masakan Indonesia dan untuk makan malam,  Italian food yang mengundang selera jadi santapan.   Semuanya lezaaattt.  Pizza-nya very recommended ! #anehjugayamakanpizzadisumba

Gula Garam

2016-01-16 18.33.49

Banyaknya tamu yang datang memang menjadi bukti hitsnya restoran milik seorang berkebangsaan Perancis ini dan untuk itu kita harus sabar menunggu makanan dihidangkan.

Stasi St. Paulus, Oba Wawi, Waitabula : The Pure Gratefulness

Bangunan sederhana berbentuk persegi panjang dari bahan geribik tanpa jendela, berdiri sunyi sendiri di tengah lahan luas cukup menarik perhatian apalagi saat membaca papan nama yang terpampang di depannya. ‘Stasi St. Paulus’….. oh ini gereja toh ? terbayang sekilas megahnya stasi di dekat rumah saya,  yaitu :  Stasi St. Ambrosius,   yang masih saja dikomplain oleh beberapa umat yang kurang puas.  Jelas ini perbedaan seperti langit dan bumi.

Stasi St. Paulus Oba Wawi

Keesokan harinya saat melewati kembali tempat ini, suasana yang berbeda saya dapatkan karena begitu banyaknya penduduk yang berkumpul. Berhenti sejenak dengan maksud melihat bagian dalam gereja yang sangat-sangat sederhana ini, akhirnya menjadikan saya juru foto dadakan bagi 17 pasangan pengantin di pernikahan massal.   Seruu… !

Pengantin

Lebur dengan kegembiraan pasangan pengantin dan umat yang ada serta tersentuh dengan kesederhanaan yang mereka bawa sebagai persembahan terbaik kepada Tuhan,  sungguh mengingatkan betapa saya harus bisa selalu bahagia dengan lebih banyak-banyak bersyukur.

Gua sumber air di Waikelo Sawah : Berkah Melimpah

Bila di wilayah Sumba Barat Daya, penduduk setempat kekurangan air sehingga harus menampung air hujan, tidak halnya dengan penduduk di kota Waikabubak, Sumba Barat.  Gua sumber air Waikelo ini seakan menjadi berkat yang mengalir deras ke seluruh sawah-sawah yang terbentang hijau subur di sini.

Waikelo Sawah

Gua sumber air

Makan lezat di dermaga Waingapu : Warung Pantura

Perjalanan panjang dari kota Waikabubak ke Waingapu selama 4 jam yang melewati jam makan siang tentu saja membuat perut terasa lapar, yang untungnya terbayar lunas saat menyantap makanan di warung sederhana ‘Pantura’ di dermaga Waingapu.

Dermaga Waingapu

Sajian berupa ikan bakar gurame dan tongkol yang lezat, tumis kangkung segar dan kuah labu kuning dan ikan asin gurih,  menjadikan ini salah satu makan siang saya yang terenak selama di Sumba.  Beneran !

2016-01-16 18.29.59

Natal Syahdu di Ujung Sumba Timur : Dongeng Pantai Cemara

Hati langsung terpikat begitu memasuki area bungalow Pantai Cemara karena begitu banyaknya pernak pernik natal bertebaran sejak dari pintu gerbang,  area reception, halaman bungalow dan juga di area restoran tempat para tamu menikmati makan malam.  Suasana Natal  yang semarak sekaligus syahdu tercipta di sini.

Pondok Wisata Pantai Cemara

2016-01-16 19.59.27

Dari teras bungalow, terbentang lautan luas yang bersih lengkap dengan anjungan yang bisa dipakai untuk wedding ceremony. Di sini kita boleh duduk dan menutup mata sejenak membayangkan wedding vow diucapkan dengan alam raya berserta isinya yang terbentang bebas sebagai saksinya.  Masih ingatkan….ini kisah nyata di negeri dongeng lho  ! Woowww !

Wedding vow 1

Ketemu Bunda Maria di Puru Kambera : Salam !

Sempat beberapa kali saya bertanya kepada pemandu yang mendampingi, apakah ada patung Bunda Maria dengan gaya Sumba? Karena tidak ada, jadi maksud untuk membelinya tidak kesampaian.  Tetapi dalam perjalanan kembali ke Waingapu, secara tidak sengaja, saya ‘bertemu’ dengan patung seorang ibu dalam balutan kain tenun Sumba yang sedang menggendong bayinya, yang segera saja saya menyimpulkan itu patung Bunda Maria sedang menggendong kanak-kanak Yesus.  Rasanya hati sudah cukup senang.  Salam untuk Bunda !  Note : credit foto : Valentino Luis

sumba-timur.25

Gereja Katolik Sang Penebus, Waingapu

Replika patung Yesus, Sang Penebus Dunia dengan balutan kain tenun Sumba yang saya lihat di museum Rumah Budaya Sumba, menjadi magnet yang mengantarkan saya berkunjung sesaat ke Gereja Katolik Sang Penebus di Waingapu.   Patung asli tersebut berdiri dengan gagah di halaman depan gereja  lengkap dengan keunikan khas Sumba yang tidak akan ditemui di gereja Katolik manapun.

Gereja Katolik Waingapu

Souvenir Khas Sumba

Tenun Sumba : Dongeng Di atas Sehelai Kain

Tiap helai kain tenun Sumba mengandung cerita tentang proses kehidupan manusia, ritual-ritual adat dan lain-lain peristiwa-peristiwa penting,   menjadikan tenun Sumba sebagai media yang bercerita melalui simbol-simbol filosofis para leluhur yang dapat diwariskan kepada generasi selanjutnya layaknya sebuah kisah sejarah.

Tenun SumbaKeterbatasan lebar alat menenun disiasati dengan menyambung beberapa helai kain tenun dengan kisah yang berurutan sehingga kadang bisa didapatkan kain tenun yang sangat lebar sesuai kisah yang digambarkan.   Semua warna benang yang ditenun berasal dari bahan2 alami. Indah ! Note : credit foto : Valentino Luis

Liontin unik : Lambang Kesuburan

Satu lagi yang paling unik dan selalu ditawari di mana-mana adalah liontin kalung, baik yang terbuat dari perak, tulang maupun kayu, semuanya hampir berbentuk sama. Nama perhiasan ini adalah Mamoli, yang melambangkan kesuburan dan cikal bakal kehidupan manusia karena bentuknya yang menyerupai vulva, yaitu bagian dari organ intim wanita paling luar dari keseluruhan sistem reproduksi wanita. Sarat makna.

2016-01-16 20.15.46

******

Perjalanan liburan ke Sumba merupakan salah satu perjalanan liburan terbaik saya bersama keluarga.  Banyak yang dilihat,   banyak yang didapat sebagai pengalaman hidup yang memperkaya batin dan pikiran.   Sudah puaskah ?  Rasanya belum, karena saya masih rindu akan padang sabana yang menguning dan menyaksikan Pasola,  yaitu tradisi adat Sumba berupa perang-perangan dengan menunggang kuda dan melempar lembing saat memperingati musim menanam padi,  yang biasanya berlangsung setiap tahun pada bulan Februari.

Jadi, mau balik lagi ke Sumba ? 😉

* Maureen T. Rustandi

Note :  Terima kasih kepada Hugo Dalupe (@travellingthroughsumba)  yang mendampingi perjalanan ini dan  kepada Mario Averdi,  yang mengabadikannya 🙂

my photografer 3

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

6 Responses to Sumba : Cinta yang Hidup, Indah dan Sederhana

  1. Agatha Kristanti says:

    Wah…keren bener yah, Maureen….. Bagus banget. Boleh nih bikin Tarki ladies goes to Sumba, hehe…
    Cerita dan foto2mu oke banget, kayaknya gue musti print dulu deh untuk baca pelan2, hehe…

  2. Thanks for your personal marvelous posting! I certainly enjoyed reading it, you might be a great author.

    I will ensure that I bookmark your blog and will often come back at some point.
    I want to encourage that you continue your great posts,
    have a nice morning!

  3. Hugo Dalupe says:

    Hello Ibu Maureen..
    Apa Kabar ??
    Terima kasih banyak sudah menulis cerita pengalaman liburannya di Sumba.
    Cerita yang sangat menarik dan inspiratif.
    Semoga makin banyak orang yang berkunjung ke Sumba untuk menemukan cinta yang hidup, indah dan sederhana.

    Salam dari Sumba..

  4. Foto nya keren-keren mbak, gue semakin semangat buat menuntaskan traveling keliling Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *