‘Suara’ Di Balik (Hashtag) #dirumahaja

Virus Corona

Saya bersyukur,  sungguh sangat bersyukur bisa ikut mengalami masa pandemi virus corona yang sedang terjadi saat ini.   Virus yang ‘menyerang’ manusia di seluruh dunia  sejak akhir Januari 2020 telah memaksa semua pemimpin negara mengambil tindakan penyelamatan untuk masing-masing rakyatnya.

Di Indonesia,  serangan virus sepertinya datang terlambat dan kita sempat pongah menganggap  kita kebal corona, seperti halnya kita kebal SARS,  beberapa belas tahun yang lalu dan itu menjadikan kita seperti sedikit terlena.

Tapi sejak pemerintah mengumumkan ada penderita corona di Indonesia  pada awal Maret 2020,  penularannya sudah tidak terbendung lagi sehingga mengharuskan pemerintah mengambil langkah-langkah pencegahan dengan mewajibkan masyarakat untuk #dirumahaja.   Bekerja dari rumah,  belajar dari rumah,  beribadah dari rumah,  belanja dari rumah,  hangout dari rumah; ya,  semua kegiatan diupayakan dari rumah sebisa mungkin. 

Sampai saya menulis ini, ‘gerakan’ #dirumahaja sudah berjalan  lebih kurang 1 (satu) bulan.   Saya yang memang pada akhir tahun 2019 memutuskan untuk berhenti ngantor dan saat virus mulai merebak di Wuhan, China,  saya masih sangat menikmati hari-hari di rumah,  menyusun jadwal perjalanan/itin liburan, beberes ruangan demi ruangan,  menikmati bangun lebih siang,  menikmati jalan pagi keliling kompleks perumahan,  menikmati kelas yoga,  semangat ikut kursus kitab suci,  membuat jadwal baca buku,  ikut kursus online,   berencana merealisasikan usaha ini itu  dan tentu saja menikmati kumpul-kumpul dengan berbagai teman di hari-hari kerja.

Tetapi total  #dirumahaja hampir 1 (satu) bulan dengan #socialdistancing atau #physicaldistancing yang bagi saya wajib dijalani,  benar-benar mengingatkan saya kepada ungkapan bahwa manusia memang hanya pandai berencana. Begitu banyak kegiatan,  yang saya rancang untuk mengisi waktu luang,  ternyata harus berhenti/ditunda.  Rencana liburan ke Balkan tinggal kenangan yang tidak menarik lagi, kelas yoga berhenti,  kursus kitab suci ditunda,  jalan pagi hanya sebatas muter-muter depan rumah,  janji makan siang hanya tinggal janji,  rencana usaha masih tetap sebagai wacana.  Saya tidak tahu apakah semuanya nanti masih bisa direalisasikan setelah corona berlalu ? Situasi dan kondisi pasti sudah berbeda, dan yang pasti saat ini saya merasa ada ‘kenikmatan’ lain.

Kegiatan rutin,  seperti  ke supermarket, belanja ke tukang sayur,   order go-food,  ke salon bahkan ketemu tetangga,  semua berubah;  semuanya dilakukan dengan dibayangi perasaan parno.  Hampir tidak ada lagi tegur sapa  yang berkepanjangan,  hanya lambaian tangan jarak jauh atau bicara seperlunya dibalik masker dan  kalau bisa tidak bertemu,  rasanya lebih baik. Akhirnya situasi memang mengharuskan saya #dirumahaja,  dan ini benar-benar ‘kenikmatan’ lain itu, yang tidak pernah terbayang sebelumnya. Mengikuti misa dan rangkaian doa novena secara streaming, menitikkan air mata saat pertama kali mengucap doa Komuni Batin, dan mencoba mengisi waktu yang lebih longgar dengan kursus online design template, belajar memasak (benar-benar belajar lho buat makanan ini itu untuk pertama kalinya – seruuuu !), tetiba jadi reseller sebuah produk dan jualan online, punya waktu untuk membaca/menulis dan berkebun di samping asyik juga menyelesaikan episode Madam Secretary yang keren itu, serta keseruan nonton bareng anak dan suami berupa filem2 jadul jaman Ben Afleck,  Alex Baldwin,  Harrison Ford masih kinclong dan ganteng abis 😀

Note : Kamu yang hobby nonton pasti tahu ini cerita detektif karangan siapa. 😉

#dirumahaja dengan pakaian ‘kebesaran’ yang nyaman berupa t-shirt dan celana pendek, tidak perlu make up,  cukup pakai pelembab wajah,  lebih banyak bersandal jepit,  bila keluar sebentar cukup bawa tote bag kain karena bisa sekalian untuk bawa barang  yang mungkin dibeli mendadak,  rambut yang untungnya sudah dipotong pendek,  sekarang lebih ber ‘warna warni’,  jingga, coklat,  hitam dan uban nongol merebak 😉

Suatu waktu saat memandang cermin,  saya bersuara kepada pantulan wajah di sana :  ‘kamu tahu sepanjang hidupmu,  selalu ada rencana baik Tuhan dibalik semua kejadian, tapi saat ini rencana Tuhan yang dahsyat sedang direalisasikan terhadapmu dibalik (hashtag) #dirumahaja.  DIA yang dari tahun 2019 sudah ‘mengatur’mu untuk berhenti bekerja,  saat ini sedang memintamu untuk lebih bersyukur, untuk memikirkan ulang dengan jujur semua keinginanmu,  memintamu mereposisi diri di mana seharusnya kamu berada,  mengetuk hatimu dengan lebih keras agar kamu lebih bisa mendengar apa kebutuhan orang lain dan juga untuk lebih memperhatikan hal-hal yang tampaknya dulu kamu anggap remeh temeh.  Kamu tahu,  Dia menunggu ‘komen’ mu sekarang ?’

#dirumahaja

Kenyataanya dengan #dirumahaja,  saya menyadari bahwa saya tidak perlu pakaian selemari penuh,  tidak perlu sepatu dengan puluhan kotak penyimpan,  tidak butuh branded bag untuk ditenteng ke tukang sayur,  tidak perlu bedak kinclong,  tidak perlu parfum semerbak,   tidak butuh perhiasan berkilau2an  dan banyak lagi ketidakperluan lainnya.  ‘Suara’ itu meminta saya untuk tampil lebih ’polos’,  sederhana dan  bersahaja,  dan saya tahu,  Dia menunggu ‘penampilan baru’ dari saya.

Selama #dirumahaja,  saat tidak memungkinkan bertemu/berkumpul dengan teman,  sahabat dan saudara,   saya jadi punya banyak waktu untuk memikirkan segala tingkah laku,  ucapan, sikap saya kepada mereka. Singkatnya ada ‘suara’ yang meminta saya mereview semua kelakuan saya dan sejauh mana saya mempertanggungjawabkannya termasuk juga mereview hati saya. Sudahkah selama ini saya menjalin hubungan pertemanan dan persaudaraan dengan tulus, apakah sapaan saya sekedarnya saja, jabat tangan saya seperlunya saja asal nempel, pelukan saya berjarak, cipika cipiki saya tanpa rasa ? Dan saya tahu,  Dia menunggu ‘sesuatu’ yang baru dari saya.

Ya,  ‘suara’ itu sedang meminta pertanggungjawaban saya  atas semua milikNya yang Dia titipkan kepada saya,  apakah saya sudah menggunakannya dengan baik,  termasuk waktu yang Dia berikan?  Apakah saya hanya melakukan pemborosan yang tiada berkesudahan? Apakah saya sudah memperlakukan anggota keluarga,  teman, sahabat dan saudara dengan pantas dan tulus ? Apakah saya sudah berdamai dengan siapapun yang pernah menyakiti hati atau dengan orang-orang yang tidak saya sukai tanpa alasan jelas ? Apakah saya sudah menjadi berkat bagi orang lain? Apakah saya sudah lebih rendah hati dan menghargai peran orang lain yang selama ini tampak biasa saja? Apakah saya bisa menjadi lebih sabar? Apakah saya sudah turut merawat alam tempat tinggal? Hhmm,  tadi pagi,  saat berjemur matahari,  saya menengok sejenak kepada tanaman di halaman rumah,   rasanya kegiatan berkebun harus lebih sering saya lakukan karena sudah begitu lama saya abaikan.  Dan saya tahu,  Dia menunggu.

Saya percaya bukan hanya saya saja yang boleh mendapat pembelajaran melalui ‘suara-suara’ yang terus bergema di sanubari selama #dirumahaja, kamu dan kita semua pasti mendapat hikmat kebijaksanaan masing-masing. Oleh karenanya saya mengharapkan bahwa saya, kita semua dan  dunia tempat  kita tinggal akan menjadi lebih baik setelah pandemi ini berlalu, karena kalau tidak,  rasanya sia-sia belaka pembelajaran dibalik (hashtag) #dirumahaja,  sia-sia hanya karena kebebalan dan kepongahan kita semua,  seperti yang selama ini berulang terjadi; setelah ‘maut’ seakan pergi menjauh,  kita kembali lupa kalau waktu kita adalah sekarang.  Kita menyia-nyiakan pembelajaran yang diberikanNya.

Daripada kita kembali bebal dan pongah,  baiknya kita ingat akan pesan untuk selalu ‘berjaga-jaga’ dengan tetap memelihara iman, kasih dan pengharapan,  sehingga nanti pada saatnya pandemi ini berlalu dan saat kita boleh saling bertemu lagi,  maka diri kita telah menjadi lebih baru dan updated,  sehingga jabat tangan kita akan menjadi lebih erat,  pelukan kita menjadi lebih hangat,  cipika cipiki kita menjadi lebih tulus dan topik pembicaraan kita lebih bermakna/bermanfaat,   karena kita telah berjuang dan menang, tidak hanya melawan virus corona, tetapi lebih kepada kita telah : menerima, mengerti dan melaksanakan semua pembelajaran melalui ‘suara-suara’ selama #dirumahaja.

Selesai membaca tulisan di atas, daraskanlah seuntai doa sesuai dengan keyakinanmu masing-masing. Saya pribadi mendaraskannya secara sederhana seperti ini : ‘Bapa kami yang ada di surga,  dimuliakanlah namaMu. …….. janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat,  Amin!’

Ibarat sehelai rumput rapuh yang bersinar tertimpa sinar matahari, kita masih bisa berkarya baik karena kasihNya untuk menyongsong terang yang mengintip malu.

*Maureen T. Rustandi

13 April 2020

Tags: , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

14 + 17 =