Kamar Itu Kosong ……

Berbagai wajah dan gaya : usia 0 – 17 tahun

Sudah lebih 2 bulan berlalu sejak bungsu saya pergi melanjutkan sekolah ke Perancis.   Iyaaa….ke Perancis,  tepatnya di kota Rennes.  Tempat yang dia pilih sendiri dan dia perjuangkan dengan semangat pantang mundur  demi bisa diterima di salah satu universitas negeri Perancis yang biaya kuliahnya free.

Dia yang selama lebih kurang 4 tahun terakhir ini hanya sendiri di rumah karena sang kakak lagi menuntut ilmu di Jepang,  menjadi lebih dekat,  menjadi tempat curhat,  menjadi  anak yang diandalkan dan dimintai tolong  dari urusan remeh temeh,  urusan antar jemput,  urusan bersih-bersih,  urusan masak,  sampai urusan menemani mama kondangan dan bahkan menemani mama mertua (oma-nya) di Bandung selama papa mertua pergi ke luar kota.

Bungsu saya yang periang,  lucu,  baik hati,  perhatian,  suka menolong,  suka galau juga ,  sensitive tapi expressive ,   saat ini lagi belajar dan berjuang hidup mandiri untuk mencapai mimpi-mimpinya.

Dulu….. sejak  ia mulai belajar tidur di kamar sendiri di usia balita dan karena ia bungsu juga  maka kamar tidur dibuat berhubungan dengan kamar tidur saya,  dengan maksud supaya  saya lebih mudah menjenguknya di  malam hari dan sebaliknya juga untuk memudahkan dia pindah tidur ke kamar saya bila sedang rewel.

Bersama Marcel, kakak yang dari kecil dijadikan panutan

Kamar yang sama,   ia tempati sampai  ia lulus SMA;  jadi bisa dibayangkan betapa seringnya saya bolak balik menengok dia setiap saat, apalagi  kebiasaan saya,  sejak ia dan kakaknya masih kecil,  selalu menengok mereka  pada saat sebelum tidur atau pada saat saya terbangun di tengah malam ;  kebiasaan ini  berlanjut terus sampai mereka besar.   Dan 4 tahun terakhir ini karena ia yang masih di rumah,  maka  sasaran saya setiap malam adalah menengok ke kamarnya atau sekedar mengintipnya kalau ia sedang  sibuk.    Saya selalu  merasa nyaman setelah melakukan ritual ini karena saya tahu,  ia ada di sana,  di kamarnya.

Sekarang kamar itu kosong,   saya tidak lagi mendapati dia sedang tidur atau lagi bertekun di meja belajar atau lagi bermain gitar atau  lagi cekikikan menonton ulah baby Tatan di IG;  saya tidak bisa lagi berhimpitan tidur memeluknya di tempat tidur single-nya atau ikutan menempel duduk dikursi belajarnya sambil menonton film Thailand kesukaannnya.

Kamar itu lengang,   tempat tidurnya selalu rapih,  dingin, meja belajarnya bersih dan tidak ada kemeja, topi atau celana jeans bertebaran.   Berulang kali kalau terbangun malam hari untuk ke toilet,  secara tidak sengaja saya masih membuka pintu ke kamar itu ….dan kemudian menyadari kalau ia tidak ada di situ.

Foto favorit yang dipandang kalau sedang kangen 😉

Kalau kangen dengannya, selain melihat-lihat foto,   saya suka tidur-tiduran di situ,  walaupun  seprei dan sarung bantalnya bersih tapi rasanya saya masih merasakan bau badannya yang khas.    Kalau sedang di kamar itu,  saya suka ingat si bungsu bilang kalau kamarnya boleh saya jadikan wardrobe dan ruang hias.  Hhmm…saya jadi tersenyum sendiri mengingat hal itu,  ingat akan keinginannya menyenangkan hati emaknya yang pengen punya ruang rias layaknya ruang rias punya Rosa,  sang Diva 😀

Sekarang kami berkomunikasi via LINE,  ia rajin menyapa dan mengirim kabar juga mengirim foto-foto.  Banyak bercerita tentang kota tempat tinggalnya yang pernah kami datangi pada saat mengantarnya,  juga bercerita tentang aktifitasnya bersama PPI di sana.  Setiap hari Minggu, sepulang gereja,   ia rutin mengirim foto kutipan bacaan injil bahasa Perancis untuk Opanya,   Hidayat Rustandi,  yang memang sedang menekuni bahasa Perancis.

Kartu-kartu ucapan yang dikirim dari Perancis

Perhatian yang diberikannya juga tidak berkurang,  ia seperti biasa rajin membuat desain khusus untuk kartu-kartu ucapan ulang tahun pernikahan dan ulang tahun kelahiran,  masih bersekongkol dengan kakaknya untuk memberi surprise dan setelah itu ia juga masih menyempatkan diri untuk menelpon pada hari-hari spesial keluarga.

Kemarin,  tanggal 15 Oktober 2017 adalah hari ulang tahunnya yang ke 20, pintu gerbang usia dewasa,  periode menyelesaikan kuliah,  periode mencapai cita-cita,  periode berkarya nyata dan juga  periode pernyataan diri dengan lebih bertannggung jawab.   Saya senang teman2nya di PPI merayakan ulang tahunnya walaupun secara sederhana.  Pada tanggal yang sama,  kebetulan kami menjadi host untuk lingkungan berdoa Rosario dan Novena 3 Salam Maria;  pada kesempatan itu,   seorang sahabat mendoakan kesehatan,  keselamatan dan keberhasilan untuknya.  Sebuah doa yang lengkap dan saya hanya mampu untuk mengamininya.    Saya percaya Tuhan berkenan  mengabulkannya.    Selamat ulang tahun,  sayang…… selalu sehat, bahagia,  panjang umur serta mulia !

Hai…. Mario,  di atas adalah sedikit cerita tentang rindu kepadamu yang  acapkali hadir di hati  dan baru bisa mama tuliskan sekarang  :*)   dan berikut ini adalah cerita terselubung tentang  bangga kepadamu ……

Berdua, duduk di depan kampusnya, Universite Rennes 2, Bretagne, Perancis

Usaha  yang kamu tunjukan selama  mengkuti intensive course bahasa Perancis setiap hari Senin-Jum’at,  dari jam 8 – 15 selama 9 bulan, kemudian dilanjutkan dengan belajar menggambar,  kursus fotografi,  diselingi dengan menyelesaikan  kelas piano,  kelas gitar,  mendesain t-shirt dan menjualnya,  kemudian mengurus  pendaftaran kuliah dan melengkapi sendiri semua persyaratan yang diminta,  menyiapkan portofolio desain-desain,  menulis motivation letters dan beberapa essay,  menjalankan test wawancara,    bolak-balik ke CampusFrance/IFI dengan naik kereta dan ojeg (pernah terserempet bajaj,  ditolong sama satpam kereta api yang baik hati) dan disela-sela kesibukan itu,  kamu masih ‘menyenangkan’ diri dengan ikut kursus vocal (karena kamu senang bernyanyi)  dan juga ikut kelas percakapan bahasa Perancis bersama ‘oma-oma’;  semuanya kamu lakukan tanpa mengeluh dan itu telah menunjukan  determinasi dirimu  yang tangguh.

Liburan lengkap berempat di Labuan Bajo sebelum ke Perancis,  Mei 2017

Di depan,   jalan yang kamu tempuh tidak akan selalu rata,  cuaca yang kamu rasakan tidak selalu nyaman,   semua yang kamu temui,  tidak selalu membuatmu tersenyum;   suatu saat kamu perlu mendaki,  suatu saat kamu harus berkeringat,   suatu saat kamu mungkin perlu menangis;  tapi mama tidak merasa kuatir akan semua itu karena mama percaya kamu mampu menjalani semuanya seperti yang telah kamu buktikan  di saat kamu berjuang untuk mendapatkan  1 tempat di universitas negeri Perancis.  Dan……..kejutannya  ternyata kamu mendapatkan 2 (dua)  tempat di sana.

Tetap semangat dan tetap berjuang  Gregorius Mario Averdi  ! Keep and grow all good attitudes,   keep faith and keep fighting spirit.

Biarkan kamarmu di rumah tetap kosong,    kelak  kamu pulang,  kamu pasti mengisinya dengan banyak cerita hebat dan mama akan mendengarkannya dengan antusias.  God bless you all the way!  Love you much ! ♥♥♥

 

 

 

 

 

 

 

 

*Maureen T. Rustandi

Jakarta, 17 Oktober 2017

** Berikut ini adalah beberapa foto yang kamu kirimkan 😉

‘Tempat aku jogging sore di sepanjang sungai dekat Republique’

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Les Halle Market, Rennes
‘Mama pasti suka ke sini’

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

‘Pertama kali masak nasi’

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Palais Saint George, Rennes
‘Mama pasti juga suka kalau ke sini’ 🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

Altar @Cathedral Renne

 

 

 

 

 

 

 

 

 

‘Aku bikin salad, Ma’

 

 

 

 

 

 

 

 

 

‘Jalan sore aku ke taman ini yang dekat Katedral’

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Parc du Thabor, Rennes
‘Waktu itu kita ngga sempat ke sini’

 

Ikut main di Coupe Du Mondo, Rennes

 

Chatting time with you : Priceless

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *