God’s Calling

Memasuki awal tahun 2017 saya sudah berniat untuk merealisasikan perjalanan ziarah ke Tanah Suci (Holy Land),  dengan cara mulai mencari beberapa informasi dari biro-biro perjalanan,  membanding-bandingkan program dan harga yang ditawarkan,  mencari waktu yang tepat agar tidak berhimpitan dengan rencana perjalanan lainnya,  menyesuaikan dengan hari cuti yang  tersedia dan mengabarkan rencana perjalanan ziarah ini ke beberapa teman dekat;  hal yang terakhir ini,  menurut saya yang paling paling penting,  karena setidaknya saya seperti mengucapkan janji kepada seseorang agar bisa menepatinya.

Apakah demikian berniatkah saya untuk berangkat sejak dari awal tahun? Hmm…

Sepanjang tahun 2017 itu saya sebenarnya agak terombang-ambing mengambil keputusan  antara apakah benar-benar mau ziarah dan kapan waktu yang tepat untuk berangkat.  Apalagi setelah pilihan pertama berangkat pada libur lebaran, tidak lagi menjadi pilihan karena informasi cuaca yang panas,  maka rencana ini terabaikan karena saya fokus kepada urusan lain.

God’s Calling

Setelah musim panas berlalu dan mulai memasuki bulan  September,  ingatan akan janji pergi ziarah ke Tanah Suci kembali datang,  seakan-akan seperti ‘panggilan’ yang datang dari berbagai arah,  ada yang datang dari teman,  dari mantan pacar,  dan yang paling jelas adalah yang arahnya  datang  dari  ‘hati’,  suatu panggilan yang tidak bisa disembunyikan,  seakan selalu ada di belakang saya :  menegur dan menuntut.

Setelah cukup lama melakukan ‘perdebatan’ dalam batin  mengenai hal-hal yang secara manusiawi akan menjadi ganjalan dalam perjalanan ziarah,  seperti keterikatan dengan rombongan,  keterbatasan waktu,  kemampuan menyesuaikan diri dengan peserta ziarah atau dengan tata tertib lainnya;  maka setelah berjuang ‘memenangkan’ perdebatan batin ini,   rasanya sudah tidak ada lagi yang dapat  menghalangi realisasi perjalanan ziarah ini.

Sedikit godaan masih menghampiri saat group tour pilihan pertama menginformasikan bahwa sudah tidak ada tempat bagi saya karena mereka sudah fully booked,  saat itu saya sempat ‘mengintip’ program ziarah mereka yang ke lain tujuan yang lebih banyak leisure-nya dibanding dengan kegiatan pilgrim;  tapi kembali suara hati bergema ‘selesaikan Holy Land’.   Saya tahu ini yang disebut sebagai God’s Calling.  Saya tidak bisa menghindarinya.

Karena saya tidak mau terlambat untuk kedua kalinya,  maka dengan segera saya mendaftar ke group tour pilihan kedua,  dan selanjutnya semua urusan persiapan berjalan lancar.  Doa yang saya mohonkan setiap malam selama lebih kurang 1 bulan sebelum keberangkatan adalah mohon keikhlasan hati agar selama perjalanan ziarah, saya tidak menemukan kendala yang mungkin saja akan membuat saya bad mood karena jengkel dan sebal.   Dalam periode doa ini,  saya juga tiba-tiba berkeinginan untuk mengajak papa mertua,  Hidajat Rustandi,  untuk ikut bersama.   Saya tahu ini Tuhan yang berkeinginan.  Bukan saya.

Selamat Datang di Yerusalem !

Puji Tuhan, perjalanan ziarah saya yang berlangsung dari tanggal 19 Desember  s/d 30 Desember 2017 berlangsung dengan lancar, walaupun menjelang keberangkatan banyak sekali berita  mengenai perselisihan (baca : pertempuran)  antara Palestina dan Israel akibat pernyataan Presiden Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, sehingga sampai adanya himbauan dari Kedutaan RI di Mesir untuk menunda perjalanan ke daerah yang diperebutkan oleh kedua belah pihak tersebut.

Tapi ternyata perjalanan ziarah rombongan saya tidak menemukan kendala apapun, bahkan kami tidak melihat atau merasakan adanya aura peperangan di Yerusalem yang cantik.  Demikian juga bagi saya pribadi, semua berlangsung lancar dan menyenangkan. Saya dapat dengan mudah menyesuaikan diri dengan situasi yang ada  walaupun situasi tersebut bukan situasi yang baik,  seperti halnya saat tidak ada wifi,   saat waktu menunggu terlalu lama,  saat harus berjalan kaki cukup jauh,  saat diburu-buru untuk segera melanjutkan perjalanan,  saat mendapatkan kamar hotel yang kurang nyaman atau saat hidangan yang tersedia kurang memenuhi selera.  Rasanya semua itu hal yang biasa-biasa saja yang dengan sendirinya dapat saya jalani dengan gembira.   Saya tahu Tuhan menjawab doa yang  saya mohonkan  : keikhlasan hati.

Selama tour berlangsung,  setiap hari kegiatan kami diisi dengan doa bersama dan ibadat sabda atau misa;  saya mencatat ada 7  misa dan 1 Doa Rosario yang terselenggara dengan lancar dan khusuk,  yaitu misa di :

  1. Kapel Francescanne Elisabettine, Kairo 22 Des 2017
  2. Kapel Padang Gembala, Bethlehem 24 Des 2017 jam 8 pagi
  3. Gereja Notredame, Yerusalem, Misa Malam Natal, 24 Des 2017 jam 8 malam
  4. Function Room Hotel Orient Palace, Bethlehem,  Misa Natal 25 Des2017 jam 7 pagi
  5. Taman Bukit Sabda Bahagia, Galilea,  27 Des 2017
  6. Kapel di Kana, Nazaret, Misa Peneguhan Janji Perkawinan,   28 Des 2017
  7. Gereja Memorial of Moses, Gunung Nebo – Yordania, 29 Des 2017

dan 1 Doa Rosario,  Lembah Sinai,  23 Des 2017 untuk mendoakan teman-teman yang malam itu mendaki Gunung Sinai.

Dalam setiap  kesempatan misa tersebut,  Pastor pendamping,  RD Garbito Pamboaji,  selalu memohonkan agar doa-doa kami dan doa-doa orang yang kami doakan dapat dikabulkan Tuhan.  Tapi di samping itu,  ada hal lain yang selalu diingatkan oleh Pastor pendamping yaitu untuk merenungkan apa buah-buah perziarahan yang didapat dari perjalanan ini.

Setelah kembali dari perjalanan,  ada beberapa kejadian yang memerlukan keputusan saya,    baik di tempat kerja maupun di bidang pelayanan,  yang mengingatkan saya akan buah-buah perziarahan apa yang telah saya dapatkan,  yang kiranya dapat meneguhkan langkah saya untuk mengambil keputusan-keputusan penting.  Beberapa saat,  hampir sebulan setelah perjalanan selesai,  saya merasa bahwa saya tidak mendapat apa-apa kecuali foto,  foto dan foto.

Bukit Golgota

Bersimpuh di Bukit Golgota

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sekali waktu saat saya sudah merasa jenuh merenungkan  perziarahan ini,  secara iseng saya membuka file-file foto yang isinya ribuan foto itu dan satu persatu foto-foto itu saya perhatikan sambil melakukan ‘napak tilas’ dalam benak saya dan tiba-tiba saya melihat sebuah foto yang tidak terlalu terang dan jelas karena memang lokasi tempat foto itu aslinya redup.    Foto itu yang memperlihatkan saya sedang berlutut mencium lantai.   Seketika,  setelah melihat foto itu,  saya tahu apa yang saya dapatkan dari perziarahan ini.

Tak terasa air mata saya kembali bergulir melihat foto itu,  situasi yang sama saat foto itu diambil dari belakang saya,  saat itu air mata saya sedang bergulir.  Itu bukan sembarang lantai yang saya cium.  Lantai berlubang itu adalah tempat di mana salib Yesus tegak berdiri,   salib tempat Ia digantung menderita, dicambuk, dipaku, dirajam;  salib tempat Ia  meregang nyawa karena kasihNya yang tiada berbatas kepada manusia,  kepada saya.

Foto itu masih saya pandangi dan saya ingat akan  gema suara di hati saat itu  yang mengingatkan saya untuk  membalas kasihNya,  ‘sedikit saja’,  kata suara itu,  ‘masa sih kamu tidak bisa?’ tuntut suara itu.    Semuanya begitu menjadi jelas kembali dan saya sadar bahwa ini suaraNya.  Ia berbicara kepada saya,  mengingatkan saya bahwa permohonan keikhlasan hati yang Ia kabulkan,   tidak hanya untuk perjalanan ini saja,  tetapi juga untuk ‘perjalanan-perjalanan’ hidup selanjutnya.   Saya menjadi lebih jelas mendengarNya,   dengan keikhlasan hati akan lebih ‘memudahkan’  saya untuk menjadi lebih baik,  lebih  berbuat baik,  lebih bersikap baik,  menjadi lebih rendah hati dan lebih punya perhatian akan keadaan sekitar sehingga saya mampu sedikit saja membalas kasihNya.

Kandang Natal Gereja Notredame Yerusalem

Ya Tuhan,  maafkan saya yang demikian mudah melupakan hal ini. Hal yang menjadi inti panggilan Mu ! Ijinkan saya untuk selalu mempunyai senyum seperti yang tampak pada foto di depan kandang Natal lantai dasar Gereja Notredame ini.  Foto yang di ambil pada malam yang sama setelah saya mengerti arti panggilanMu saat Kau ‘bicara’ di Bukit Golgota, tepat di malam kelahiran PutraMu terkasih.

Terima kasih Tuhan atas panggilanMu ini.  Terima kasih atas waktu perenungan yang saya lalui dan mampukan saya untuk selalu  mengingat hal ini.   Saya percaya bahwa Engkau selalu mengasah hati saya untuk selalu menjadi lebih ikhlas dan lebih peka sehingga dapat  lebih mengerti mengenai apa yang Kau kehendaki untuk saya jalani bukan hanya untuk kebaikan saya semata tapi untuk kebaikan banyak orang.

Gloria…. Praise The Lord !

*Maureen T. Rustandi

31 Januari 2018

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *