Dia Tetap Memancarkan Tjahaja Purnama !

Basuki Tjahaja Purnama

‘Di sini saya  baik-baik dan sehat,  cukup makan,  sehari saya BAB 3 sampai 4 kali’,  demikian kalimat pembuka yang disampaikan Ahok pada saat menerima saya dan teman-teman TarQ Ladies yang mengunjunginya di rumah tahanan Mako Brimob,  Kelapa Dua,  Depok pada hari Selasa,  28 November 2017.  Kalimat yang sukses mengundang tawa dan mencairkan suasana 😀

Wajahnya  segar,  badannya tetap tegap dan bicaranya ‘tetap Ahok’,  penuh semangat  tanpa bisa dibendung,  semua hal kecil bisa jadi pembicaraan panjang yang menyenangkan karena banyak hal menarik yang beliau sampaikan yang menambah wawasan.

Menjawab pertanyaan seorang teman mengenai buku yang sedang beliau tulis,  Ahok menyampaikan saat ini sedang menulis jurnal tiap pagi dan sudah mencapai 191 halaman,  menulis ‘the best of me (kalau saya tidak salah ingat),  sudah 199 halaman dan menulis tentang kebijakan dan  Peraturan Gubernur yang beliau terbitkan selama menjabat sebagai Gubernur Jakarta,  lengkap dengan  kisah yang melatarbelakangi  setiap kebijakan dan  Peraturan Gubernur  tersebut.   Buku yang ketiga ini,  sudah mencapai 800 halaman karena dibantu oleh tim yang mengetikkannya.

Banyak ‘cerita pendek’ tentang  kesulitan orang miskin yang tidak mampu beli daging, yang tidak mampu berobat kalau sakit, yang tidak mampu menyekolahkan anak,   menjadi dasar  banyak keputusan yang beliau buat untuk memampukan orang-orang miskin tersebut akan hal-hal yang paling mendasar.  Dan hebatnya semua keputusan itu disertai dengan rambu-rambu agar pelaksanaanya tidak melenceng.

Selama ini kita sudah pernah membaca atau mendengar secara tidak langsung akan hal tersebut tetapi kesannya menjadi sangat berbeda bila kita mendengar langsung dari mulut beliau karena  kita bisa melihat emosi  beliau yang mewarnai setiap kisah,  ketulusan hati beliau untuk membantu orang miskin benar-benar ‘genuine’.

Beliau juga bercerita  beberapa kisah ‘blessing in disguise’  dari  tindakan membantu banyak orang,  sampai ‘blessing’ dapat hukuman 2 tahun.   ‘Gue akan habis, kalau gue dihukum dengan masa percobaan sesuai tuntutan Jaksa’,  demikian beliau berpendapat dengan alasan yang ‘off the record’.     Tapi bagi saya,  apapun alasannya,   saya setuju dengan  ‘blessing’ hukuman 2 tahun ini,  karena  setelah ‘perjuangan’ yang melelahkan,  beliau perlu waktu untuk mengisi ulang batere dirinya untuk menjadi lebih punya value positif,  untuk menjadikan dirinya lebih baik dan lebih baik lagi.

‘Bagaimana perasaan  Ko Ahok difitnah soal gaji dari swasta itu?’  ini pertanyaan saya yang dijawab dengan santai;  ‘ngga pa-pa gue difitnah,  ngga ada perasaan sakit;  gue udah belajar menerima semuanya dengan ikhlas.   Kemudian beliau menambahkan bahwa umumnya banyak orang  cenderung terperangkap pada pola pikir mereka sendiri dalam artian mereka memakai ukuran/barometer diri mereka sendiri untuk menuduh orang lain dan ternyata tuduhan mereka keliru,  karena mereka lupa bahwa tidak semua orang sama dengan mereka,  maka pernyataan yang mereka keluarkan  menjadi tidak berdasar alias fitnah belaka.

Hal yang sama juga dengan jawaban yang beliau berikan waktu saya bertanya soal applikasi Jakarta Smart City apakah bisa diterapkan di semua propinsi ?  ‘Sangat bisa diterapkan,  hanya tergantung pada kemauan para kepala daerah masing-masing saja, mau kerja bener ngga ?’.  Beliau tidak menerapkan ukuran value diri beliau terhadap orang lain. Beliau menjawab hal ini dengan santai padahal saya mengharapkan beliau lebih ‘ngotot’  memaksakan aplikasi yang luar biasa ini dipakai dan diterapkan di semua propinsi,  kalau perlu dengan  Instruksi Presiden.

Inilah  pelajaran penting yang saya dapatkan,  yaitu yang pertama  bahwa kita harus menerima semua kejadian yang menimpa kita dengan ikhlas,  yang saya artikan sebagai berdamai dengan keadaan yang ada dan yang kedua adalah  jangan pernah menilai orang dengan memakai  ukuran/value diri kita,  karena pertama kita akan jadi tukang fitnah atau kita akan menelan kekecewaan. Orang lain itu berbeda dengan diri kita.

Mengambil hikmah dari semua kejadian,  tampaknya juga  mewarnai nada bicara Ahok.   Beliau memang  masih bicara dengan antusias dan semangat yang  tidak pudar,  tapi dibalik nada-nada itu ada nada lain yang meredamnya,  nada-nada yang lebih damai karena ada kebijaksanaan dan keikhlasan dibalik semua cerita-ceritanya yang seru.

Ucapan untuk Marcel & Mario, ditulis langsung oleh Ahok. ‘Gue belajar nulis lurus’

Batere baru lainnya yang beliau isi adalah kesabaran;  dengan sambil bercerita,  beliau dengan sabar menuliskan ucapan-ucapan  dan  menandatangani setiap buku-buku, kartu-kartu dan juga t-shirt2  yang  saya dan teman-teman bawa,  walaupun waktu  berkunjung sudah habis tapi beliau tetap mau menyelesaikan  ‘PR’ dari kami.  ‘Ya,  saya menjadi lebih sabar,  mama saya aja menggerutu kalau lihat banyak buku-buku yang harus saya tandatangani’,  begitu celotehnya.

Dan yang memang tidak  berubah dari Ahok adalah spontanitas dalam berkomentar,    ada beberapa  komentar  lucu yang secara spontan beliau ucapkan untuk kisah-kisah yang mestinya cukup menyedihkan,    tapi itulah Ahok yang pandai meramu kegetiran dan kemudian menghibur dengan ‘ending’ yang manis sehingga membuat orang yang mendengarnya akan merasa lega dan tertawa.

Buku mewarnai untuk terapi anti stress,  souvenir buat Ahok

Sebuah buku mewarnai tingkat lanjut  lengkap dengan pensil warna,  saya sampaikan sebagai souvenir untuk beliau,  ‘ loe mau ngerjain gue ya?’  hahaha… begitu komentarnya dan  saat saya meminta beliau menuliskan namanya  pada kolom ‘this book belongs to’,  Ahok langsung nyeletuk ‘heran,  ngga percaya amat ama gue’  hahaha….tapi beliau  tetap menuliskan namanya secara lengkap dengan ‘full capital letters’.   Sebuah ciri nyata dari seorang yang berkarakter percaya diri.

Sukses mendapatkan semua  ucapan yang ditulis tangan  lengkap dengan tanda tangan  dan terlebih lagi pelajaran berharga dari kisah-kisah yang disampaikan,  saya dan teman-teman juga sukses memeluk Ahok,  karena beliau mengijinkannya,  setelah seorang teman meminta ijin ‘boleh peluk ngga?’ #maafyabuvero  #dilarangiri 😉

Sungguh sebuah kunjungan yang manis sebagai pelepas rindu kepada seseorang yang menjadi idola dan patron kejujuran,  kerja keras dan kepedulian terhadap orang miskin.

Pertemuan ini telah  memastikan saya bahwa sang Basuki tetap memancarkan Tjahaja Purnama-nya di manapun dia berada.  Tuhan selalu memberkatimu,  Koko !

*Maureen T. Rustandi

29 November 2017

Note : Terima kasih untuk Rini Roosdiarti,  seorang teman yang mengatur kunjungan ini dengan seksama dan juga untuk semua teman yang ikut berkunjung : Rini, Elly, Lany, Win, Rosemary, Yenny, Tuty, Anna, Chika, Erika dan Ria.  Seru ya pengalaman kita 😀

Tags: , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *