Depok : Berawal Dari Kisah Seorang Tuan Tanah…..

Depok.   Sepertinya sebuah kota yang dekat tapi jauh dan juga sebaliknya,  jauh tapi dekat;  sehingga saya selalu tergoda untuk berkunjung.    Dan ketika kesempatan itu ada bersama Komunitas Love Our Heritage di hari Sabtu,  30 April yang lalu,  rasa antusiasnya sudah membuncah sejak 2-3 hari menjelang.     Sebelumnya saya dan teman-teman berencana untuk naik mobil tapi   setelah bertanya ke beberapa teman termasuk ke office boy di kantor  mengenai lokasi Depok yang ternyata terletak antara Jakarta dan Bogor,   akhirnya kami memutuskan untuk naik kereta.  Wow ! #jaditambahsenang

Berangkat dari Stasiun Rawa Buntu jam 6:15 kami tiba di Tanah Abang jam 6:45,  sebelumnya sempet ‘nyasar’  melihat-lihat  stasiun Palmerah yang konon katanya baru dan bagus itu ….hi..hi…saking antusias saya dan teman-teman sempat turun di Palmerah karena mengira sudah tiba di Tanah Abang;  untung saja keretanya masih menunggu beberapa saat sehingga kami dengan mudah naik kembali sambil ber hahahihi 😀

Note :  Info jadwal kereta api/commuter line,  bisa dilihat di sini 

gerbong krl khusus wanitaPerjalanan Tanah Abang – Depok yang ditempuh lebih kurang selama 50’,   kami jalani dengan lancar dan gembira apalagi kali ini kami mendapat duduk di gerbong kereta khusus wanita yang berwarna sangat perempuan :  paduan putih dan pink;  warna yang turut mempengaruhi suasana hati menjadi lebih meriah di pagi yang menyenangkan.

Margo city

Karena meeting point komunitas LOH bertempat di Margo City,   maka saya dan teman2 turun di Stasiun Pondok Cina.   Dari Margo City yang sedang berulang tahun ke 10 inilah perjalanan Jelajah Depok 2016 : Dulu dan Kini, yang dipandu oleh Mas Adjie Hadipriawan dan Oom Yano Jonathans,   d i m u l a i.

♠ Asal Muasal Nama Depok

Di masa kekinian ini,  banyak orang mengenal Depok sebagai kependekan dari Daerah Elit Pemukiman Orang Kaya,  versi yang lebih serius seperti yang diceritakan oleh Oom Yano adalah nama yang diberikan oleh masyarakat Depok yang bermukim di Belanda yang masih mempunyai ikatan hati dengan tanah kelahiran dan sebagai perintis pemeluk agama Kristen di Depok jaman dahulu kala,  yaitu De Eerste Protestantse Organisatie van Kristenen,   yang dapat diterjemahkan sebagai  ‘Umat/jemaat Kristen yang pertama’.

lambang keluarga cornelis chasteleinTapi kenyataan yang sebenarnya dan lebih sederhana adalah berdasarkan situasi jaman dahulu kala saat sebelum daerah ini dibeli oleh  Cornelis Chastelain,  seorang tuan tanah yang menguasai Depok pada masa kolonisasi VOC di Jawa.    Depok sudah merupakan tempat orang bertapa di sekitar hutan dan sungai dengan mendirikan gubug pertapaan yang disebut sebagai padepokan.    Dari kata ‘padepokan’ ini,  diyakini sebagai asal muasal kata Depok.

Note :  Info detail mengenai Cornelis Chastelein,  klik di sini

♣ Sejarah Nama Pondok Cina

Dalam perjalanan di kereta,  seorang teman sempat bertanya kenapa ya dinamain Pondok Cina ?  ‘ Ha..ha… tempat tinggal orang cina kali’   sekenanya saya menjawab.   Jawaban yang ngga salah 100% sih, karena kisahnya seperti ini :  pada jaman VOC dulu,   Depok terkenal sebagai tanah pertanian yang subur yang banyak menghasilkan beragam jenis buah-buahan dan sayur-sayuran,  sehingga Depok menjadi tujuan para pedagang Cina yang datang dari Jakarta (Batavia).

Stasiun Pondok CinaDemi menghindari ketergantungan penduduk kepada para pedagang Cina dan juga  melindungi mereka dari pengaruh-pengaruh buruk para pedagang yang suka menghisap ganja (dulu dikenal sebagai ‘madat’),  maka saat itu ada larangan bagi pedagang Cina untuk tinggal di Depok,  sehingga kepada pedagang2 Cina yang kemalaman,  mereka diijinkan untuk tinggal daerah perbatasan kota Depok,  yang sekarang daerah tersebut dikenal sebagai Pondok Cinta eh….Pondok Cina 😉 ~ begitulah hikayat ceritanya 😀   Pondok Cina sekarang dikenal dengan singkatan Pocin khususnya  oleh para ‘roker’  (rombongan kereta) 😉

♥ The Old House

tampak samping depan the old houseSebuah bangunan tua bercat putih pada bagian dinding luarnya,  berlokasi di sebelah Margo City,  tepatnya berada di belakang Margo Hotel.  Rumah yang bergaya neo classic ini,  konon dibangun pada tahun 1841,  milik seorang Cina bernama Lauw Tek Lok.   Pada bagian dalam rumah ini,  kita masih bisa melihat jejak peninggalan kekunoan,  yaitu berupa keramik yang bermotif vintage yang unik,  kusen-kusen pintu yang kayunya masih tampak kokoh dan terutama lantai teras yang masih dipertahankan keasliannya,  yaitu keramik bata.

20160430_014913559_iOS_resized

 

 

Untuk informasi,   Depok dulu dikenal sebagai penghasil batu bata yang diakui terbaik karena daya tahan/kekuatannya.  Tidak pernah terbayang sebelumnya berapa lebar dan beratnya 1 keping keramik bata sampai saya menemukan contoh keramik bata kuno di rumah YLCC dan saya atau para pria  sekalipun tidak mampu untuk mengangkatnya.

keramik unikSaat ini kondisi The Old House dibiarkan tidak terpakai dan tampak terbengkalai,  beberapa waktu yang lalu pernah dipergunakan sebagai cafe,  sehingga ruangan bagian sebelah dalam yang mempunyai akses ke Margo City sudah banyak mengalami penyesuaian.   Sepertinya nasib The Old House ini  sama dengan nasib banyak bangunan heritage lainnya di kota-kota di Indonesia.

♦ Jembatan Panus

kolong jembatan panus

Sebuah jembatan tua yang di bawahnya melintas sungai Ciliwung.   Dahulu kala,  jembatan ini merupakan satu-satunya jembatan yang menjadi penghubung antara Depok dan Jakarta.  Saat ini perannya bukan lagi sebagai penghubung antara kedua kota tersebut tetapi sebagai ‘pelindung’ bagi kota Jakarta,  karena pada kaki jembatan ini difungsikan sebagai pengukur ketinggian air yang biasanya datang dari sekitar Bogor,  untuk mewaspadai kemungkinan banjir melanda Jakarta.

Apabila ketinggian air di sini sudah melebihi 250 cm (lihat garis biru) itu berarti banjir sudah mengintip Jakarta 😉

jembatan panusJembatan Panus dibangun pada tahun 1917 oleh Ir. Andre Laurens dan nama Panus berasal dari nama seorang warga,  Stevanus Leander yang bertempat tinggal di samping jembatan.   Sampai saat ini rumah sederhana ‘Pak Panus’ masih ada berhimpitan dengan rumah-rumah penduduk lainnya.

Jembatan Panus layak disebut sebagai jembatan legendanya kota Depok.

♠ Kisah 12  Marga Kaoem Depok

daftar 12 marga kaoem depokMasyarakat Depok tampaknya memang harus berterima kasih kepada tuan tanah Cornelis Chastelein yang melalui surat-surat wasiat yang ditinggalkannya,  banyak mengisahkan pemikiran-pemikaran yang berbeda dibanding para tuan tanah umumnya.  Konon ada 7 hal yang paling membedakan  dan membuat Cornelis Chastelein tampak lebih kekinian,  yaitu :

  1.  kepedulian sosial dan spiritual/keagamaan
  2.  kepedulian akan kesejahteraan
  3.  kepedulian akan keamanan
  4.  kepedulian akan kestabilan ekonomi
  5.  kepedulian akan kebebasan
  6.  kepedulian akan alam/lingkungan
  7.  kepedulian akan sejarah

Dengan nilai-nilai  kepedulian seperti itu yang dimiliki Cornelis Chastelein,  maka tidak mengherankan apabila sikap dan perlakuan yang diberikan kepada 150 pekerja (sesuai jaman itu,  lebih pas disebut sebagai ‘budak’) sangat baik. Cornelis Chastelein memberikan wasiat berupa hibah tanah,  harta dan juga kebebasan untuk menentukan hidup mereka sendiri.   Jadi jauh sebelum jaman pembebasan budak bergema luas,  di Depok para budak telah mempunyai harapan untuk  hidup yang lebih  sejahtera dan sejajar dengan masyarakat sekitarnya.

Supaya mereka menjadi satuSikap dan perilaku yang baik dari sang tuan juga menjadi panutan bagi para pekerja,  sehingga dalam hal ini banyak para pekerjanya juga ikut memeluk agama Kristen,  agama yang sama yang dianut oleh sang tuan.  Tampak dari sebagian besar  nama-nama baptis merekalah lahir 12 marga kaoem Depok yang menjadi bagian sejarah masyarakat Depok sampai saat ini.

Menurut buku ‘Potret Kehidupan Sosial & Budaya Masyarakat Depok Tempo Doeloe’,  karangan Oom Yano Jonathans,  kini hanya tinggal 11 marga yang ada,  karena 1 marga,  yaitu Zadokh sudah tidak mempunyai keturunan lagi.

♥ Kawasan Cagar Budaya Depok ♥

nomor rumah presiden depokYang disebut Kawasan Cagar Budaya Depok adalah sepanjang Jalan Pemuda yang dimulai dari rumah kediaman Presiden Depok yang terakhir,  di Jalan Pemuda No. 11 sampai dengan Gedung Yayasan Lembaga  Cornelis Chastelein (YLCC)  di Jalan Pemuda No. 72.

Di sepanjang jalan ini akan banyak kita temui bangunan-bangunan bersejarah atau rumah tinggal biasa dengan arsitektur bergaya art deco dan klasik, beberapa diantaranya seperti yang saya dan teman-teman kunjungi,  yaitu :

♠ Rumah Tinggal Presiden Depok

tampak depan rumah presiden depokAda rasa aneh ketika mendengar kata ‘Presiden Depok’;   bukankan Depok itu berada di antara Bogor dan Jakarta?   Apakah Depok itu menjadi  sebuah negara tersendiri di luar NKRI?’

Menurut penuturan,  adalah pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1871 yang memutuskan agar Depok mempunyai pemerintahan sendiri terlebih untuk mengurus hal-hal yang berhubungan dengan pengaturan tanah,  perpajakan,  pendanaan,  perkebunan,  fasum dan sarana penunjang lainnya serta memperbaiki peraturan-peraturan yang sudah dirintis pembuatannya sejak beberapa tahun sebelumnya dalam bentuk dokumen Riwayat Tanah Partikelir Depok demi terjaganya kesejahteraan masyarakat Depok.   Menurut saya kemungkinan dibuatnya keputusan yang luar biasa ini adalah pengaruh  besar dari seorang Cornelis Chastelein,  yang menguasai daerah yang begitu luas bahkan mencakup Batavia.

Tercatat ada 4 orang yang pernah menjabat sebagai Presiden Depok yang cara pemilihannya dulu dilakukan secara aklamasi di antara 12 marga kaum Depok;  dan presiden yang terakhir adalah Johannes Matijs Jonathans,  yang kami kunjungi rumahnya.

FB_IMG_1462224439530Rumah berhalaman luas yang sederhana yang apik dan bersih dengan ciri khas beranda tempat duduk-duduk santai dan daun pintu 2 lapis : bagian luar full kayu yang disusun membentuk kisi-kisi dan bagian dalamnya adalah daun pintu dengan frame kaca;  model pintu yang sama dengan pintu rumah nenek di Lampung,  yang  mengingatkan  saya betapa sulitnya membersihkan debu-debu yang menempel di balik kisi-kisinya itu.

♣ Gedung Gemeente Bestuur atau Gedung Kotapraja

geement beesturMerupakan gedung pusat pemerintahan  tempat Presiden Depok berkantor,  yang sekarang dipergunakan sebagai Rumah Sakit Harapan Depok,  dengan alamat  Jl. Pemuda No. 10;  jadi letaknya berseberangan dengan rumah Presiden Depok yang terakhir.  Hhmm….betapa nikmatnya ya,  kalau pergi kerja,  sang presiden langsung menyebrang jalan,   tidak  perlu pakai  vojrider yang nguing-nguing berisik  dan menghambat kelancaran jalan orang banyak 😀

Bentuk bangunan masih dipertahankan seperti aslinya,   hanya tugu yang berdiri di depan gedung,  yang awalnya tempat berdiri Tugu Peringatan Cornelis Chastelein,  saat ini sudah berganti bentuk karena pada sekitar tahun 1960-an tugu asli tersebut dirobohkan demi mendukung semangat Trikora.

♥ Gedung SDN Pancoran Mas 2

sdn pancoran masBerupa bangunan tua  dengan pintu dan jendela-jendala yang super besar yang masih dipertahankan sesuai aslinya karena dulu bangunan ini juga berupa sekolah untuk masyarakat Depok kebanyakan,  yang disebut sebagai Depoksche School.  Menurut cerita,  dulu para muridnya pergi ke sekolah tanpa bersepatu.

Gedung sekolah ini merupakan milik Yayasan  Lembaga Cornelis Chastelein yang disewakan kepada Pemerintah dan saat ini dipergunakan sebagai gedung Sekolah Dasar Negeri Pancoran Mas 2.

♦ Gereja GPIB Immanuel

tampak depan kiri gpib depokWaktu ‘mengurus’ exit permit untuk ke Depok,  suami saya bilang  : ‘jangan lupa foto gerejanya ya’.  No problemlah kalau cuma minta foto – demi ijin yang sudah keluar- tapi saya bertanya juga apakah gerejanya luar biasa bagus?

Pertanyaan yang baru terjawab saat saya tiba di sana. Gereja ini menjadi penting untuk dikunjungi bukan karena bagusnya tapi karena nilai historis yang dimiliki.   Awal mulai berdirinya tidak diketahui tahun berapa,  hanya disebutkan ‘setelah beberapa tahun kedatangan Cornelis Chastelein’  tapi pada tahun 1714,  gereja ini direnovasi karena pelapukan dan sempat hancur karena gempa pada tahun 1834.

Dua puluh tahun kemudian,  gereja ini kembali dibangun dengan hanya menyisakan sebuah prasasti yang merupakan peninggalan peringatan terhadap Cornelis Chastelein.

2016-05-12 17.07.42_resizedLalu nilai historis apa yang dimiliki? Selain sebagai  ’landmark’ penyebaran agama Kristen di Depok,    sepertinya semangat menghargai identitas leluhur yang mendasari kerja pemugaran gereja,  yang dilakukan secara menyeluruh pada tahun 1998,  jelas terlihat.  Hal ini tampak dari nama-nama yang terpatri pada daun pintu masuk gereja yang berjumlah 12 pintu :  6 pintu di sisi kiri dan 6 pintu di sisi kanan,  yang masing-masing daun pintu dituliskan masing-masing 12 marga kaoem Depok  sebagai penghormatan terhadap jemaat kristen pertama di Depok,  yang lebih dikenal sebagai Jemaat Masehi Depok.

Lonceng gereja GPIBKeunikan lainnya adalah lonceng gereja yang saat ini tergantung di dalam kanopi menara gereja;  lonceng yang merupakan benda donasi yang diberikan pada peringatan Cornelis Chastelein ke 216 pada tahun 1930.  Menurut data yang ada,  lonceng ini dibuat pada tahun 1677  di kota Daventer;  dan pada badan lonceng terukir kutipan ayat Alkitab,  Roma 8:31 dalam Bahasa Latin ’Si Deus Pronobis Quis Contra Nos ? – 1677 Rom 8:31.

Secara keseluruhan bagian dalam gereja tampak bersahaja dengan sentuhan arsitektur yang simpel,  tapi apabila diperhatikan banyak terdapat ’pernak-pernik’ unik di dalamnya.  Beberapa di antaranya bisa di lihat pada foto-foto di bawah ini.

♦ Gedung Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC)

Beberapa langkah dari pintu keluar GPIB ke arah kanan,  kita akan menemukan Gedung YLCC yang memang letaknya bersebelahan halaman dengan gereja.

gedung ylcc depokYayasan yang merupakan perkumpulan 12 marga kaoem Depok ini bertujuan untuk menghormati jasa-jasa dan memelihara peninggalan Cornelis Chastelein berupa lahan tanah dan bangunan yang dulu diwariskan kepada mereka serta memberikan pelayanan sosial pendidikan bagi para ahli waris,  sehingga cita-cita Cornelis Chastelein dulu agar masyarakat Depok hidup sejahtera,  setidaknya tetap bergema dan dirasakan minimal oleh para keturunan 12 marga kaoem Depok .

ruang depan gedung ylccGedung YLCC juga dapat dikatakan berfungsi sebagai museum kecil-kecilan yang memajang foto-foto,  prasasti,  lambang dan beberapa perabot seperti meja kursi,   yang semuanya bisa bercerita tentang sejarah Depok yang tidak bisa dilepaskan dari peran ketokohan Cornelis Chastelein.

Di samping itu,  pada bagian dinding ruang depan  terdapat daftar nama-nama pendeta yang pernah melayani di GPIB Immanuel  mulai dari tahun paling awal yaitu  1713 s/d tahun 1955.  Hal ini seperti ingin menyampaikan sebuah penghormatan dan juga menilai betapa pentingnya peran tokoh agama bagi keberlangsungan umatnya.

♣ Kerkhof – Kompleks Makam

makam cor de graafKompleks makam ini termasuk tempat yang dikunjungi karena keterkaitannya dengan kisah sejarah Depok dan pemakaman ini merupakan milik 12 marga kaoem Depok dan tempat peristirahatan terakhir bagi sanak keluarga mereka.   Lokasinya di luar daerah cagar budaya Depok.

Bila dilihat dari nama-nama yang terpatri pada batu nisan,  sudah banyak nama-nama lain di samping nama 12 marga kaoem Depok,  nama-nama lain tersebut merupakan sanak famili karena adanya hubungan pernikahan.

Pada makam yang cukup padat dan berhimpit-himpitan ini,  terdapat beberapa makam tokoh penting dan juga makam keluarga presiden Depok yang tampaknya kurang terpelihara dengan memadai.

kompleks makam 12 marga kaoem depokDari bentuk makam dan nisan yang ada,  dapat disimpulkan bahwa pemakaman ini sudah ada lebih dari seratus tahun karena  ada beberapa makam dibangun dengan bentuk yang kokoh dan besar layaknya makam jaman dahulu kala dan lainnya adalah makam kebanyakan model jaman sekarang yang bertebaran tanpa pengaturan yang baik.

BONUS   :  SEKILAS INFO

♥ Belanda Depok

Suka mendengarkan julukan ‘Belanda Depok’?  yang terbayang kalau  mendengar ungkapan ini adalah seorang indo hasil kawin campur antara orang Belanda dengan orang Depok.  Tapi kenyataannya,  julukan ini ditujukan kepada 100% asli orang Depok,  yang memilih pindah  dan menjadi warga negara Belanda saat Belanda mengakui kedaulatan Indonesia  dan atau orang Depok yang masih tinggal di Depok tapi sehari-hari fasih berbicara bahasa Belanda.

Almarhum orang tua saya yang karena mendapat pendidikan Belanda,   juga sehari-hari fasih berbahasa Belanda,  kalau dulu mereka tinggal di Depok,  jangan-jangan saya bisa dapat julukan Belanda Depok hahaha….

♥ Asal Muasal Nama Margo City

margo city complexMargo City,  sebuah pusat perbelanjaan besar dan megah yang terletak di Jln. Margonda Raya,  Depok.  Bisa ditebak bahwa kata Margo di sini diambil dari nama jalannya. Tetapi tahu kah kamu kalau Margonda itu nama seorang pahlawan?

Ia seorang pemuda yang pernah mendapat pelatihan sebagai penerbang cadangan dan bergabung dengan para pejuang melawan Belanda  dan gugur sebagai pahlawan Angkatan Muda Republik Indonesia.

♥ Makanan Unik khas Belanda Depok

2016-05-12 17.36.43_resizedUntuk kamu yang punya lidah bercita rasa bule,  kamu wajib ke Depok dan mencicipi masakan yang dihidangkan dengan penuh cinta oleh Tante Thea,  seorang keturunan dari 12 marga kaoem Depok,  Jonathans.

Di rumah Tante Thea yang berlokasi di Jalan Sumur Batu No. 10 Depok,  kamu akan disuguhi jenis-jenis makanan enak,  lezat,  yummy,  maknyus dan sejenisnya itu,   seperti :  Frikadel Bakar,  Huzaren Sla, Bruinen Bonen Soup,  Ikan Pindang Kenari.  Di sini juga kamu bisa bawa pulang – tapi pakai bayar ya-   macaroni panggang dan klapper tart yang enak banget ! 😀

♥ Ke Depok :  Mudah,  Murah dan Meriah

20160430_153046aHikmah mengikuti tour Jelajah Depok bersama Komunitas Love Our Heritage adalah bisa mengenal sedikit apa,  siapa dan bagaimana  Depok itu dan juga  cara mengunjunginya dengan mudah.

Pengalaman naik KRL dari Serpong ke Depok dengan harga tiket kereta Rp. 7.000,- bahkan hanya Rp. 2.000,- kalau kamu berangkat dari stasiun Tanah Abang Jakarta,  dengan fasilitas kereta yang bersih, nyaman dari ber A/C super dingin,   membuat kunjungan wisata ke Depok merupakan kunjungan yang mudah, murah dan meriah !

Yuk ke Depok ….naik kereta api ! Tut….tut…tut 😀

Salam!

* Maureen T. Rustandi

Note :   Terima kasih kepada team Komunistas Love Our Heritage,  Mas Adjie Hadipriawan,  juga kepada Oom Yano Jonathans yang telah banyak bercerita tentang Depok,  baik secara langsung maupun cerita lewat buku : ‘Potret Kehidupan Sosial & Budaya Masyarakat Depok Tempo Doeloe’.

Terima kasih juga kepada teman-teman dan fotografer andalan yang banyak memberikan foto-fotonya :  Erika Sianturi,   Margaretha Sazzcha, Rita,   Noverly Liem dan Budi Wongso.  Yuk nikmati sebagian di sini 🙂

legs togethernes

Kebersamaan di atas keramik vintage @The Old House

sudut jalan kota depok

Salah satu sudut kota Depok : kabel telpon dan PLN saling salib

jembatan baru depok

Jembatan baru pengganti Jembatan Panus : sungai Ciliwung mengalir di bawahnya

diatas jembatan panus

Foto seru di atas Jembatan Panus

 

 

 

 

 

 

 

 

 

buah atap

Pohon buah atap : inget kebon Engkong dulu ada pohon ini.

Keliling Depok naik bus

Wajah2 gembira peserta Jelajah Depok

beranda rumah presiden depok

7 orang buta dengan 1 pemandu 😀 @ Beranda rumah presiden Depok

Foto bareng cucu presiden depok

Bersama cucu presiden Depok dan Mas Adjie @ teras rumah presiden Depok

rumah tua depok

Rumah tua yang tampak terpelihara dengan baik dan beralih fungsi sebagai resto

salah satu rumah tua depok

Asri, sederhana dan bersahaja : missing the old days in my hometown, suasananya mirip

didepan gereja gpib depok

Foto bareng Oom Yano di depan GPIB Immanuel

lampu unik gereja gpib depok

Tangkai unik lampu dinding @ GPIB Immanuel

kaca patri

Window glass cantik @GPIB Immanuel

1 keping keramik bata Depok : kokoh, besar dan beraaattt

1 keping keramik bata Depok : kokoh, besar dan beraaattt

 

 

 

Foto bareng Tante Thea

Foto bareng Tante Thea @de indo keuken

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

One Response to Depok : Berawal Dari Kisah Seorang Tuan Tanah…..

  1. Nice note. Gaya bercerita yang mudah dipahami. Thanks infonya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *