Bagi Senyummu, Jangan Bagi Susahmu !

Talk about blessings more than talk about problem

Beberapa hari yang lalu saya berkesempatan ketemu dengan teman-teman lama yang jarang ketemu dan jarang juga berinteraksi lewat media sosial.   Layaknya orang bertemu,  pasti yang ditanya adalah kabar,    ‘apa kabarmu ?’  dan belum sempat saya menjawab,  mereka melanjutkan :  ‘enak ya loe,  gue liat senang terus,  jalan-jalan mulu,  ngga pernah susah deh loe, pantes awet muda.’  Waaah,  rupanya selama ini secara diam-diam mereka suka ngintip-ngintip postingan saya di FB/IG.  Dan setelah nyerocos,  pertanyaan akhirnya adalah ‘apa resepnya?’

Nah ini dia pertanyaannya,  ‘apa resepnya?’ Apakah ini sebuah pertanyaan  serius apa cuma basa basi ?  saya juga kurang jelas,  tapi saya mau jawab serius di sini 🙂

Kelihatan senang terus ? ya jelas,   karena saya  hanya membagikan kegembiraan saya yang menurut saya pantas saya bagikan dan berusaha dengan sesadar-sadarnya untuk tidak membagikan kegundahan,  keluhan, kesedihan dan kesusahan serta masalah2 yang sedang saya hadapi  kepada teman-teman apalagi dengan nyerocos di sosial media.  Rasanya ngga penting untuk teman-teman yang membacanya.  Setiap orang pasti menanggung permasalahannya masing-masing,  maka janganlah kita menambahkannya dengan masalah kita.  Itu prinsip saya.

Prinsip ini bukan berarti saya harus hidup dengan cara yang palsu atau bersandiwara atau berpura-pura;     pura-pura senang atau pura-pura tidak punya masalah.  Hidup apa adanya saja,  senang, susah, masalah datang dan pergi,  semuanya wajar.   Yang menjadikan tidak wajar biasanya adalah sikap kita sendiri.  Banyak orang yang bersikap kalau sedang punya masalah,  hal pertama yang dilakukan adalah update status,  lapor dulu ke dunia maya;  padahal tidak semua teman kita bisa berempati dengan tulus dengan permasalahan yang kita hadapi. Mungkin saja mereka bersorak di belakang kita. Who knows ? Pertimbangan ini umumnya tidak berlaku bagi para ‘sekuter’  yang perlu mencari dan atau menciptakan sensasi.

Para sekuter yang suka posting-posting masalah mereka, umumnya punya tujuan jelas yang untuk ‘menelanjangi’ diri mereka sendiri di medsos selama itu bisa memperpanjang masa eksistensi mereka atau syukur-syukur harapannya bisa membuat mereka jadi ‘naik kelas’.  Tipe-tipe seperti ini biasanya posting status atau menulis caption tanpa memikirkan apakah dampaknya bisa merugikan orang lain atau bahkan mempermalukan diri sendiri,   pokoknya semua masalah tumplek-plek  dulu di status timeline demi sedikit popularitas.    Tapi kalo bagi kita yang kaum awam/kaum jelata/bukan selebrities, baiknya kita  berpikir panjang dulu sebelum curhat semua masalah di sosmed.   Intinya, kita ngga perlu caper di medsos dengan permasalahan kita.

Never tell your problems to anyone !

Jadi sebagai orang yang biasa-biasa saja, bukan jenis sekuter,  baiknya kita menyikapi semua permasalahan dengan cara yang baiknya lebih rendah hati,  menjadikan permasalahan itu benar-benar urusan kita pribadi,  tidak mengumbarnya di sosmed,  menyadari dengan sepenuhnya bahwa  setiap masalah yang ada, akan membuat kita ingat untuk tidak menjadi sombong,  dan membuat kita menjadi lebih toleran terhadap orang lain;  dari segi spiritual,  dengan adanya masalah,  kita juga lebih bisa membuktikan keimanan kita dengan memberi kesempatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk menyatakan kuasaNya atas diri kita.

Punya masalah?   keep it private, cari solusi yang terbaik dengan mohon pertolongan orang terdekat yang dapat dipercaya dan bawalah selalu setiap permasalahan dalam doa dan pakai kesempatan ini untuk lebih memperteguh iman kita sehingga  kita selalu bisa terlihat senang terus,  ngga pernah susah dan awet muda pastinya  hahhaha.

Nah itu resep saya……mudah2an jadi resep yang awet sepanjang hidup saya.

Note : by the way, sekuter itu apa-an ya? sekuter itu artinya ‘selebriti kurang terkenal’ 😉

Jakarta, 14 Oktober 2019

Maureen T. Rustandi

Tags: , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × four =