Antara Sayang, Cinta dan Kasih

‘Apa sih perbedaan antara sayang, cinta dan kasih?’  Apakah kamu pernah bertanya  atau ditanya mengenai hal ini ? Pernahkah kamu memikirkannya secara serius ? 

Beberapa tahun lalu  saya  pernah mendengar pertanyaan ini dari seorang Bapak yang usianya sudah cukup lanjut dan beliau bilang bahwa belum pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan.   Sejak saat itu,  saya menyadari bahwa bahwa ke tiga hal tersebut memang berbeda tapi belum tahu bagaimana menjelaskannya.  Berbeda  bukan semata-mata karena kosa kata bahasa Indonesia yang lebih beragam dibanding dengan bahasa Inggris,  yang menterjemahkan kata sayang, kasih  cinta dalam satu kata,  yaitu LOVE,  tetapi berbeda karena suatu value/nilai yang saat itu secara ringkas saya putuskan untuk menerima alasan tersebut tanpa lagi menuntut penjelasan.

Setelah sekian lama berlalu dan saya sudah tidak pernah lagi memikirkan perbedaan tersebut,  sampailah pada suatu siang di hari Sabtu tanggal 28 September 2019,  saat saya menghadiri misa sakramen perkawinan putri seorang sahabat. Pastor Andang Gunawan yang memimpin misa tersebut memberikan homili yang bagus ,yang disampaikan dengan cara yang sederhana sehingga mudah dimengerti,   yaitu menjelaskan apa perbedaan antara sayang,  cinta dan kasih,  sebagai wejangan kepada pasangan pengantin baru.  Waah,  saya jadi langsung teringat bahwa saya juga memerlukan penjelasan mengenai perbedaan ketiga hal tersebut.

Yuukkk mari kita simak…..

Sayang

Rasa pada saat  pacaran, saat sejak tahap PDKT,  saat mulai saling suka dan akhirnya memutuskan jadian,  rasa yang dominan adalah sayang,  keduanya *saling sayang*.   Kondisi ini dicontohkan semisal sang  pacar belum jawab WA, maka hati akan kesal;  rasa  kesalnya seperti kehilangan barang yang disayangi.  Porsi nilai sayang di tahap ini  masih besar memikirkan kepentingan diri sendiri.  Menyayangi pacar tapi masih lebih mementingkan kepentingan diri sendiri,  gitu deh kesimpulannya.

Cinta

Seiring berjalannya waktu,  rasa sayang berganti menjadi rasa cinta.  Sampai pada tahap ini biasanya pasangan yang pacaran akan  memutuskan untuk menikah,  tahapannya sudah *saling cinta*,  karena masing-masing sudah bisa saling memberi dan menerima.  Porsi nilainya sudah seimbang, memikirkan kepentingan diri sendiri dan juga memikirkan kepentingan pasangan.

Kasih

Saat mengarungi hidup sebagai pasutri, rasa saling cinta sudah tidak cukup dipertahankan untuk memberi kebahagiaan kepada pasangan,  rasa saling cinta harus tumbuh dan ‘berubah’ menjadi  *saling mengasihi*.  Pada tahap ini masing-masing sudah tidak memikirkan memberi dan menerima (secara seimbang),   tetapi hanya memikirkan  ‘apa yang bisa atau akan atau sudah saya berikan buat pasangan tanpa mengharap apa imbalannya’.   Porsi nilainya lebih besar kepada  kepentingan atau kebahagiaan pasangan.

Apabila kedua belah pihak sama-sama berpikir dan bersikap seperti ini,  yaitu saling memberi kasih,  maka pernikahan yang bahagia bukan sekedar impian.

Dasar dari semua kemampuan memberi kasih adalah teladan yang dicontohkan oleh Tuhan Yesus,  kasihNya yang besar yang menyelamatkan umatNya,  kasihNya yang besar sampai Ia rela mati di kayu salib.   

Sungguh ini homili yang tidak hanya bagus  tapi juga indah dan sangat cocok disampaikan pada misa penerimaan sakramen perkawinan.   Saya sungguh beruntung boleh mendengarkannya dan bisa menulisnya di note HP supaya tidak lupa untuk catatan saya pribadi.  Semoga teman2 yang membacanya juga bisa memahami perbedaan ketiga kata tersebut dan bisa mencapai  jenjang tertinggi  ‘saling mengasihi’ untuk kebahagiaan hidup perkawinan.

Apabila suatu saat kita ada berada pada  situasi ‘panas’ dalam rumah tangga dan memikirkan keadaan yang mungkin sudah tidak ada cinta,  janganlah cepat memutuskan untuk berpisah.  Pikirkanlah,  mungkin benar bahwa cinta sudah tidak ada, karena ia sudah berganti menjadi kasih…..dan di sinilah kehidupan perkawinan yang bahagia berawal kembali.

Dan ucapkan ‘ Aku mengasihimu…… ‘ You will feel the difference !

Jakarta,  13 Desember 2019

Maureen T. Rustandi

Tags: , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 × 4 =