A Blessed Lovely Trip to Bruges

Cantiknya kota Bruges

Pertama kali saya jatuh cinta pada Bruges  atau Brugge (bahasa Belanda)  adalah saat saya menonton film India yang berjudul PK  (Pee Kay) dua tahun yang lalu (2015),   di mana beberapa adegan love-love-annya  menampilkan beberapa sudut kota Bruges yang cantik.   Ada adegan menyusuri sungai dengan perahu lengkap dengan latar belakang jembatan yang melengkung atau adegan berjalan di tengah kota yang sebelah kiri kanannya berupa bangunan-bangunan tua berseni,  rasanya itu  telah cukup untuk menambahkan Bruges dalam daftar tempat yang wajib dikunjungi.

Kesempatan mengunjungi Bruges datang secara tidak direncanakan karena tujuan utama saya ke Perancis akhir bulan Agustus lalu adalah untuk mengantar si bungsu kuliah.   Saat menyusun jadwal perjalanan pulang setelah urusan si bungsu selesai,  saya mendapatkan  1 hari kosong yang bisa dimanfaatkan untuk berkunjung ke sebuah kota.  Ada 2  kota yang ingin saya kunjungi,  yaitu Colmar di Perancis  dan Bruges di Belgia.   Karena hari kosong yang tersedia hanya satu hari,  maka pergulatan batinpun dimulai ! 😉

Bruges yang tenang dan menyenangkan

Dengan mempertimbangkan bahwa Colmar bisa dikunjungi  di waktu-waktu mendatang saat kami nanti berkunjung kembali ke Perancis untuk menengok si bungsu,  dan memperhatikan informasi berharga lainnya dari sulung saya yang mengatakan bahwa di Bruges ada relikui The Holy Blood of Jesus,   maka dengan hati mantab pilihan jatuh pada Bruges !

Saya membeli tiket kereta  rute Paris – Bruges pp via online seharga 150 Euro per orang di Rail Europe,  agak mahal karena  saya memang mau menikmati  kereta kelas 1 saat bepergian berdua dengan suami 😉  Ssst,  bisa repot nih kalau tulisan ini dibaca sama anak2 saya 😀

Hari Sabtu,  tanggal 5 Agustus 2017 jam 7:15 kami bergegas meninggalkan hotel setelah secara kilat menikmati sarapan croissant dan hot choco untuk menuju stasiun Paris du Nord yang hanya melewati 2 stasiun dari daerah Montmartre.  Ketergesaan kami disebabkan karena kami harus mampir dulu di konter Thalys,   operator kereta api,  untuk mencetak tiket.  Ada kesulitan yang kami hadapi karena tiket kereta tidak bisa di cetak dari notifikasi e-mail saat setelah pembayaran dilakukan.  Dan ternyata memang menurut  petugas konter Thalys,  tiket sudah tidak perlu dicetak.    Jadi pada saat menaiki kereta,  saya hanya memperlihatkan  kode booking yang tercantum pada e-mail dan petugas mengecek pada portable machine yang dia bawa.

Pemandangan cantik Paris – Bruges yang bisa dilihat dari kereta api

Kereta tepat berangkat jam 7:55 dari Paris du Nord dan tiba di Brussel untuk ganti kereta ke Bruges jam 9:17.  Sebagai penumpang kelas 1,  kami mendapat pelayanan layaknya penumpang pesawat terbang,  diberi makan pagi yang lengkap dengan pilihan minum kopi, susu atau teh.   Setelah selesai sarapan,  kami bisa menikmati pemandangan  indah sepanjang perjalanan  :  tanah perkebunan jagung yang bunganya sedang menguning, rumah-rumah penduduk yang asri,  ternak-ternak yang sedang berjemur atau sekedar barisan rapih pohon-pohon.   Kami tiba di Bruges jam  10:26  disambut dengan cuaca mendung dan hujan rintik-rintik,  yang membuat kami mampir di Carefour  yang ada di sisi kiri pintu keluar stasiun untuk membeli payung.

Di depan stasiun,  sisi sebelah kiri berjejer banyak bus,  dan kami memilih bus dengan jurusan city center untuk menuju tempat yang jadi prioritas pertama kami datangi yaitu Basilica of The Holy Blood (Katedral Darah Suci Yesus).  Tarif bus/orang adalah 1,50 Euro.

Interior bergaya Dutch Gereja St. Salvatore

Sebagai orang ‘ndeso’ yang tidak punya map dan tidak terhubung dengan wifi saat baru tiba di Bruges,   kami sama sekali tidak menduga akan ada banyaknya gereja dengan menara-menara  yang menjulang  tinggi nan indah di Bruges;   sehingga pada pemberhentian pertama bus yang kami tumpangi,  kami sudah turun karena melihat sebuah gereja dengan menara yang indah dan kami menduga….inilah katedralnya. Hahaha….akhirnya kami tertipu karena ke-ndeso-an kami;  gereja pertama ini adalah Gereja St. Salvator yang interiornya sangat bergaya Dutch,  tetap indah dengan atap/plafon yang lebih bersih tanpa ornamen.

Supaya kesalahan tidak berulang,  maka map gratis yang ada di pintu masuk Gereja St. Salvator segera kami ambil dan dengan berbekal map ini,   kami mulai berjalan menyusuri  sisi dalam kota Bruges yang benar-benar indah dan unik.  Banyak sekali sudut jalan dengan rumah-rumah bergaya khas di sisi kiri kanan jalan yang wajib untuk     diabadikan.    Berjalan menuju ke tujuan utama kami yang terletak di Burg Square,  kami menyusuri Mariastraat dan melewati beberapa  tempat menarik,  seperti  Museum  Archaeological,  Gereja dan Museum  Onze-Lieve-Vrouwekerk (dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Church of Our Lady) dan Museum Sint Janshospitaal  (St. John’s Hospital),  yang urung kami masuki karena antrian yang cukup panjang;    kemudian kami berbelok melewati Arentshof,  sebuah mansion abad 17 lengkap dengan  taman  yang dihiasi beberapa patung perunggu  penunggang  berkuda dengan berbagai pose.

Rosary Quay dengan keanggunan menara Church of Our Lady

Di ujung jalan kami  menyebrangi Gruuthusestraat untuk menyusuri  street market  yang banyak menjual barang-barang antik dan pernak-pernik lucu yang bernilai historis,  dan kemudian  tiba di persimpangan Rozenhoedkai yang dikenal sebagai Quay of the Rosary.

Di persimpangan ini,  pada  sisi Hotel deOrangeri  yang terletak di tepi sungai  Reie,  sungai yang membelah dan mengitari kota Bruges,  terdapat  Boottochten,  yaitu dermaga tempat naik dan turun penumpang motor boat yang menyusuri keindahan kota Bruges melalui kanal-kanal sungai Reie.  Boottochten ini terdapat di 3 tempat yang terpencar-pencar sehingga memudahkan pengunjung untuk mendatanginya.  Saya dan suami memang sudah memutuskan untuk  meng’explore’ kota Bruges by boat.   Setelah melihat di semua Boottochten,  pengunjung antri mengular, sehingga akhirnya kami memutuskan untuk antri di tempat ini.

Rasa bosan dan lelah mengantri sekitar hampir 1 jam lebih untuk mendapat giliran naik ke boat dan  kemudian menikmati ‘cruising’ selama 30 menit ,  layak terbayar lunas saat melihat keindahan kota Bruges dari sudut yang berbeda.   Rute pertama, boat yang saya tumpangi bersama dengan wisatawan berbagai bangsa,  menuju arah selatan,  ke arah balik tempat saya datang,  dan saya mendapatkan pemandangan yang berbeda,   anggunnya  Church of Our Lady yang menaranya  menjulang   setinggi 122 meter   atau sisi belakang Museum Sint Janshospitaal yang tampak mengapung dan sudut-sudut cantik lainnya di mana angsa –angsa putih berenang  gembira  melewati bawah  jembatan-jembatan yang ‘atap’nya melengkung unik lengkap dengan ranting-ranting pohon yang menjuntai indah di atas permukaan sungai.

Pemandangan saat ‘explore’ Bruge by boat

Pada bagian sungai lain,  saya melihat keunikan rumah-rumah yang berjejer rapih di kiri kanan jalan;  rumah-rumah dengan tampak depan yang khas yang bagian depan atapnya menyerupai undakan tangga dari kedua sisi dan bertemu pada undakan paling tinggi di tengah yang ditandai dengan ornamen2  unik.  Bangunan rumah-rumah ini didirikan pada abad 16 yang semuanya tampak kokoh terawat sampai saat ini.

Kemudian kapten boat juga membawa kami menyusuri sisi-sisi rumah yang seperti mengapung,  rumah-rumah dengan dinding batu bata warna terakota ataupun rumah-rumah berdinding kayu mahoni yang kokoh.  Pemandangan ini serta merta mengingatkan saya akan kota Venezia.   Yaah…kota Bruges memang dijuluki sebagai  Venice of the North.   Cantik !  Waktu 30 menit rasanya cepat berlalu,   walaupun mata dan hati rasanya belum cukup puas tapi kami harus turun dari boat.

Kembali berjalan kaki,  kami melanjutkan langkah menuju katedral  The Holy Blood of Jesus.    Beberapa tempat yang kami lewati dan sempat mampir  berlama-lama  adalah di Tintin Kingdom,  sebuah toko souvenir yang menjual pernak pernik Tintin secara lengkap;   selain Tintin,  toko ini juga menjual sovenir  tokoh komik lainnya serta tidak ketinggalan coklat-coklat dan juga beer Belgia yang terkenal enak itu dapat ditemui di toko ini.   Khusus untuk beer,  malahan ada ruang khusus di lantai bawah,  di mana pengunjung dapat melihat,  mempelajari  sejarah beer Belgia secara singkat dan jelas. Di sini suami saya membeli 2 botol beer yang katanya buat oleh-oleh untuk ayahandanya 😉

Tintin Adventure in Egypt – miniatur toy

Setelah membeli boneka miniatur Tintin pesanan si sulung,   langkah kaki kami mengayun kembali menyusuri trotoar toko-toko sepanjang jalan menuju Markt Square sambil mata melakukan window shopping  melalui etalase toko yang memajang jualan unik mereka :  coklat-coklat yang dibentuk berbagai macam benda,  dari  kepala anjing sampai payudara 😀  atau renda-renda cantik dalam bentuk taplak meja,  serbet makan atau juga teko-teko unik aneka warna yang menarik perhatian.   Yaaa… ini hanya sebagian barang dagangan yang bisa saya sebutkan di antara barang-barang unik lainnya.

*Khusus untuk renda,  Bruges adalah renda karena renda telah menjadi bagian kehidupan sehari2 di kota ini.   Pada perjalanan pulang,  saya sempat melewati sebuah rumah yang pintu depannya penuh dengan kerubungan orang-orang yang ‘menonton’ kemahiran seorang nenek merenda dengan  perangkat tradisional khas Bruges.     Renda Bruges menjadi sebuah ‘art’ yang saat ini banyak dipelajari oleh para pengrajin renda dari seluruh dunia.

Untuk kamu yang tertarik akan renda Bruges,  bisa mengunjungi Kantcentrum atau Lace Centre,  sebuah rumah yang direnovasi menjadi pusat pembelajaran membuat renda yang juga dilengkapi dengan museum renda.    Detail informasi mengenai  Kantcentrum dapat di klik di link ini.

Markt Square

Belfry Tower dari depan Tintin Kingdom

Langkah kaki terus mengayun sampai akhirnya kami tiba di satu alun-alun besar  yang sangat ramai dan disekelilingnya berderet bangunan/gedung aneka warna dan gaya. Di tengah alun-alun ini berdiri teguh sebuah patung yang pada bagian bawahnya menjadi tempat pengunjung ‘nongkrong’  bercengkerama atau berfoto ria.   Tapi yang paling menonjol  di sini adalah sebuah bangunan setinggi 83 meter,  yang kemudian saya ketahui sebagai Belfort atau Belfry Tower atau dikenal juga sebagai museum Salvador Dali,  pelukis surealis yang kesohor  dengan gaya kumis uniknya.  Kemudian ada bangunan warna putih dengan tampak depan yang ‘meriah’,  dikenal  sebagai ……..dan di sebelahnya juga ada satu bangunan  yang merupakan museum  bergaya modern karena dilengkapi dengan gerak dan suara yang membawa pengunjung  kembali ke abad pertengahan dengan cara yang menarik.

Historium

Museum ini dikenal sebagai Historium.   Karena terbatasnya waktu,  di sini saya hanya sempat berpose dengan gaya ratu yang duduk di singgasana dengan jubah dan mahkota yang kedodoran. 😀

Alun-alun besar ini bernama Markt Square yang merupakan jantung kota Bruges,  tempat ini merupakan tempat yang wajib dikunjungi,  apalagi bila masih banyak waktu,  dengan membayar Euro 8-10/orang,  kita bisa mendaki 366 undakan ke lantai paling atas Belfry Tower dan view yang luar biasa indah akan menjadi reward yang setimpal.

Burg Square

Terletak berdekatan dengan Markt Square dan saat kami tiba di sini,  suasananya tidak sehiruk-pikuk seperti di Markt Square walaupun sebuah panggung pertunjukan musik sedang dipersiapkan,  tampaknya semua pengunjung punya tujuan utama untuk berziarah di sini  yaitu masuk ke Basilica of the Holy Blood yang terletak di sudut  dan tampak luar bangunannya tidak semegah bangunan gereja lainnya.

Altar Basilica The Holy Blood of Jesus

Tuhan memang selalu  baik  karena menuntun  kami  tiba ke  sini -setelah sempat mengikuti boat tour,  berlama2 di Tintin Kingdom,  mampir ke beberapa toko,  makan siang dan berfoto ria di Markt Square-   tepat waktu saat berlangsung prosesi pribadi penghormatan relikui (veneration) sesi sore hari,  jam 14 – 16,   sehingga saya dan suami bisa langsung masuk dalam antrian para peziarah.

Sungguh saya merasa menjadi orang yang  sangat terberkati saat saya bisa berdoa dan mencium relikui darah suci Tuhan Yesus,  tidak banyak  doa yang terucap selain ungkapan terima kasih,  syukur dan cinta yang sempat saya ‘bisikan’ dengan suara samar bergetar saat mencium relikui ini.

Informasi sejarah mengenai relikui ini dapat dibaca di sini

Setelah penghormatan pribadi selesai, kami melanjutkan dengan perenungan singkat dengan duduk dalam hening memandang relikui dari kejauhan.  Bila suatu saat kamu tiba di sini dan rada nge-blank mau berdoa apa,  berikut adalah ‘contekan’ doa yang umumnya  didaraskan oleh para peziarah 😉

Prayer (*)

Lord,
Your Precious Blood reminds us of your suffering, your death and resurrection.
You relieved us of a nonsensical life and of an eternal death.
Give courage to those who bow down under oppression.
Give life to those who are living an empty life.
Give strength and resistance to those who work for peace and security.
Revive the fire of love among men and the flame of unity and tolerance among Christians.

Lord,
Your Precious Blood reminds us of the New alliance between God and men.
It is the sign of your liking for us.
May this alliance grow every day.
Open my heart and my mind for every man You put on my road.
That Your Precious Blood give me the courage to bear witness to God.

*sumber : www.holyblood.com

Facade Basilica The Holy Blood of Jesus

Setelah  perenungan selesai,  hati rasanya lega karena tujuan utama datang ke Bruges sudah tercapai;  segala pengalaman yang didapat dari perjalanan 1 hari menuju Basilica of The Holy Blood di Bruges menjadi pelengkap kisah perjalanan hidup kami.

Walaupun kaki cukup letih tapi kami membawa pulang hati yang penuh syukur dan suka cita kembali ke Paris;  kereta yang kami tumpangi dari Bruges berangkat jam 17:30 dan kami tiba kembali di stasiun Paris du Nord jam 20:05.   Sebagai pelengkap kenikmatan  yang telah kami rasakan sepanjang hari,  malam itu kami sempurnakan dengan makan malam  chinese food yang lezat di Montmartre 😉  What a blessed lovely day ! ♥♥♥

 

*******

Bonus ! Bonus ! Bonus!

To Be in Bruges

Banyak hal dari Bruges yang bisa saya jadikan bonus info untuk kamu,  dari info mengenai museum,  café,  souvenir sampai best photo spots;  tapi setelah memikirkannya sekali lagi,  maka bonus yang akan saya berikan adalah informasi mengenai berbagai cara menjelajah kota Bruges.  Silahkan pilih moda transportasi yang paling cocok dengan kamu 😉

Bruges by Boat

Menyusuri sungai Reie, melihat Bruges dari sisi yang berbeda

 

Moda  ini adalah yang paling banyak diminati dan menjadi sebuah keharusan.  Tersedia pada periode Maret s/d pertengahan November,  setiap hari dari jam 10 pagi – 6 sore.   Tiket untuk dewasa Euro 8 dan Euro 4 untuk anak usia 4 – 11 tahun. Informasi detail mengenai Bruges by boat dapat dilihat di sini.

 

 

 

Bruges by Walk

Menjelajah Bruges sampai ke relung hatinya

Menyenangkan apabila kita berjalan di sebuah kota asing yang menarik dengan ditemani oleh tuan rumah yang ramah dan menguasai cerita tentang kota itu,  baik cerita yang berat seperti sejarah kota dan bangunan2nya maupun cerita2 ringan mengenai kebiasaan penduduk setempat.  Bila kamu berminat,  silahkan bergabung dengan kelompok Bruges by heart dan informasinya dapat kamu peroleh dari pusat informasi yang ada di Gedung Historium,  Markt Square atau bisa kamu intip di  link ini.

Bruges by Horse-drawn Carriage 

Kereta kuda di Bruges, siap membawamu dengan gaya bangsawan jaman dulu. pic by visit-bruges.be

Selama 30 menit kamu bisa duduk dengan anggun diatas kereta yang ditarik kuda layaknya bangsawan jaman dulu.  Kusir kereta akan bercerita mengenai tempat-tempat menarik yang dilewati.   Dari informasi yang saya dapat,  tiket berkereta kuda cukup mahal kalau kamu hanya ingin sendiri atau berduaan saja,  yaitu sekitar Euro 50 untuk max. 5 penumpang;   jadi untuk mensiasatinya supaya murah,  kamu harus mencari teman.

Info tentang kereta kuda di Bruges,  klik ini.

Bruges by Bike

Gowes yuuukk !
pic by visit-bruges.be

Untuk kamu para jagoan gowes,  ini cara yang paling pas buatmu menjelajah kota Bruges dengan bersepeda.  Pasti akan menyenangkan karena kamu bisa melewati jalan-jalan kecil yang yang punya cerita tentang gaya bangunan abad pertengahan yang unik.

Tiket :  Euro 30 untuk dewasa dan untuk pelajar Euro 28;  harga ini termasuk jasa pemandu,  sewa sepeda,  jas hujan  dan beer Belgia di salah satu lokal bar.  Apabila kamu membawa sepeda sendiri,  harga tiket menjadi Euro 18 dan pelajar Euro 16.  Tour dengan sepeda ini untuk orang dewasa dibatasi usia maksimal 26 tahun.   Intip info bersepeda ini di sini.

Bruges by ‘Becak’ 

Becak di Bruges, Abangnya cakep 😀
pic by visit-bruges.be

Mau cara unik lainnya untuk keliling kota Bruges ?  kamu bisa pilih moda transportasi yang ramah lingkungan yaitu dengan naik becak berkeliling mengunjungi situs2 sejarah juga tempat2 yang romantis  selama 30 menit dengan abang becak yang merangkap pemandu.  Kapasitas becak untuk 3 orang dengan ongkos  Euro 24.

Cari tahu info becak di Bruges pada situs ini

 

Bruges by balloon

Memandang cantiknya Bruges sambil mengudara. pic by bruges-ballooning.com

Bukan hanya di Cappadocia,  Turki saja kamu bisa naik balon udara mengangkasa memandang cantiknya kota dari ketinggian,  karena di Bruges kamu bisa melakukan hal yang sama.   Terbang dengan balon udara mungkin merupakan cara yang paling adventure dan sekaligus romantis karena kamu bisa menikmatinya sambil  minum sampanye atau makan malam.  Asyikkan ? 😉

Tiket : Euro 180 untuk dewasa dan Euro 110 untuk anak-anak usia 4 s/d 12 tahun. Info menarik tentang balon udara Bruges dapat kamu dapatkan di situs ini.

Nah… itu bonusnya,  kalo bonus lainnya,  berupa foto-foto,  bisa kamu  intip  di album ‘Bruges,  Waiting For Me….Please! ada di FB atau foto lainnya di IG saya 😉 😀

Kiranya kisah perjalanan 1 hari ke Bruges ini bisa memberikan inspirasi buatmu untuk melakukan perjalanan yang sama dengan lebih komplit.   Selamat berlibur ke Bruges ya … !

Salam !

Maureen T. Rustandi

Bergaya di Bruges yang cantik, jadi ikutan cantik 😉

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *