Hello Friends ! :)

February 28, 2012 by Maureen T. Rustandi

Hi !  Welcome to my blog !  hoping you enjoy it and get inspired from it ;))

Halo !  Selamat datang di blog saya …. semoga Anda suka membacanya dan mendapatkan inspirasi dari apa yang saya tulis di sini 😉

Hidup itu indah : rajin itu indah,  pintar itu indah,  tertib itu indah,  rapih itu indah,  cantik itu indah,  jalan-jalan itu indah,  suka membaca itu indah,  memberi itu indah,  toleran itu indah dan …………….bersyukur itu paling indah ! :)

Arti Merdeka Adalah Berani Memerdekakan Diri

August 20, 2015 by Maureen T. Rustandi

Dalam menyambut dan merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus kemarin, beberapa teman menulis status di timelinenya sebagai berikut : ‘Merdeka itu adalah bisa makan pete dan jengkol tanpa merasa bersalah’ 😀 ada juga yang menulis : ‘Merdeka itu kalo loe bisa menggunakan otak dengan bener :)  dan masih banyak lagi versi merdeka menurut beberapa teman,  tapi 2 versi merdeka ini yang jadi perhatian saya : tanpa rasa bersalah dan memakai otak untuk berpikir.

Karena jadi perhatian maka saya mempertanyakan juga apa arti merdeka bagi saya ? Saya sebagai istri, saya sebagai ibu/orang tua, dan saya sebagai pekerja kantor ? 1 pribadi dalam 3 posisi jabatan hhmm…bukan hal yang luarbiasa tapi hal yang biasa saja karena memang begitulah jabatan para perempuan umumnya; yang menurut saya peran ini adalah peran yang mestinya dipilih secara sadar oleh para perempuan menikah yang bekerja di luar rumah.

Peran sebagai istri, sebagai ibu/orang tua dan peran sebagi pekerja kantor adalah peran yang terikat dengan berbagai aturan sosial hukum budaya dan kewajiban2, tapi bukan berarti tidak ada kemerdekaan di dalamnya. Menurut saya, kebebasan mengemukakan pendapat, menjalankan tugas kewajiban tanpa beban, atau berani menolak suatu tugas tanpa perlu merasa bersalah adalah hal-hal dapat dikategorikan sebagai merdeka.

Tapi sayangnya banyak diantara kita yang tidak atau belum berani untuk merasa merdeka, lebih aman diam saja apabila ada hal yang kurang disukai atau bahkan bila punya ide yang lebih baik, juga tidak berani menyampaikan. Demikian juga kita suka melakukan tugas dan kewajiban dengan banyak mengeluh dan mengumpat di belakang, tidak berani menolak tugas yang bukan menjadi kewajiban kita atau walaupun berani menolak tugas tapi ada rasa bersalah atau ada ketakutan yang menghantui. Kalau kita masih bersikap demikian secara sadar,   berarti kita belum merdeka dan situasi ini kita yang ciptakan sendiri.

Sekarang pertanyaannya mau sampai kapan kita terbelenggu dalam situasi tidak merdeka yang kita ciptakan sendiri ? Mulailah untuk bersikap lebih asertif pada situasi-situasi yang tepat.   Bila dalam suatu pertemuan atau meeting, kita dimintai pendapat akan suatu hal, sampaikanlah apa yang menjadi pendapat kita, walaupun kita merasa pendapat kita itu tidak penting, tapi di sini, di situasi yang tepat kita berani belajar merdeka berpendapat. Jangan kuatir untuk ditertawakan atau ditolak karena pada kenyataannya, sebuah pendapat yang baikpun seringkali di depan forum seakan-akan tidak didengar, jadi bersikap santai saja bila pendapat kita diabaikan #inihalyangbiasa

Dalam hal menjalankan tugas kewajiban dengan banyak mengeluh, mari kita coba melihat apakah hal ini memang menjadi tugas kewajiban kita sesuai dengan peran/jabatan kita. Bila ‘ya’, teliti kembali mengapa kita harus mengeluh melakukannya ? apakah kita tidak mampu, tidak suka atau tugas kewajiban yang terlalu banyak ? Apapun hasil review yang kita dapatkan, sebelum kita membicarakannya secara terbuka kepada pihak lain, pastikan kita telah secara bijaksana mengambil kesimpulan; sehingga nanti pada saat kita membicarakannya, kita dapat menyampaikan apa yang menjadi sumber keluhan kita dengan lebih percaya diri

Kasus berani menolak tugas tanpa merasa bersalah atau merasa takut harus didasari dengan argumentasi yang jelas dan bertanggungjawab, karena tanpa argumentasi yang jelas, kita akan dinilai sebagai pembangkang atau sebagai orang mau enaknya sendiri. Bila sudah diberi label seperti ini, sudah pasti kita tidak bisa jadi orang yang merdeka.

Apabila ketiga hal di atas sudah dapat kita jalankan dengan baik dalam setiap peran apapun, kita akan menjadi orang yang bisa merasakan apa arti merdeka, karena kita berani mengambil keputusan dengan segala resikonya; kita berani melepaskan status follower atau bayang-bayang orang lain yang biasanya kita ikuti saja apa kata mereka, kita bisa dengan riang hati menjalankan tugas kewajiban dan tidak ada lagi orang yang berani sewenang-wenang menyuruh kita melakukan tugas ini itu.

Kita sedang merdeka - pic by J.S.P.T Art

Kita sedang merdeka – pic by J.S.P.T Art

Ini mumpung masih dalam suasana semangat Hari Kemerdekaan, mari kita mulai kembali menata hati, pikiran dan sikap untuk berani mengambil keputusan2 yang memerdekakan diri kita dari situasi2 membelenggu yang pada dasarnya kita ciptakan sendiri #revolusimentaldimulaidaridirisendiri #beranimerdeka

So, kembali kepada pertanyaan di atas, apa arti merdeka bagi saya ? ngga mau terlalu pusing memikirkannya, karena selama saya baik-baik, nyaman dan senang-senang saja menjalani peran yang sudah menjadi keputusan saya, itu sudah cukup.   Hi..hi…udah merdeka ya saya ?

Opps….baca dulu dong lanjutannya di bawah ini 😉

Dari sisi yang lebih ‘ngasal tapi serius’ , kalau ditanya apa arti merdeka, saya mau bilang, merdeka bagi saya adalah :

  1. jalan tol dan jalan2 di Jakarta tanpa macet #kapan?
  2. bisa belok tanpa hambatan karena biasanya banyak mobil berhenti tepat di belokan #hadeuy!
  3. berani nabrak motor yang berjalan melawan arah #kenyataannyanggaberani
  4. hari Sabtu bisa bangun jam 10 #nggapernah
  5. bisa langsung tidur tanpa mandi #nggapernahjuga
  6. berani marah sama tetangga di kompleks rumah yang ganti pohon2 pinus dengan pohon trembesi tua tanpa kompromi #cumabisamanyunaja
  7. interupsi pastor yang kotbahnya ngga jelas #ampunnggaberani

Nah….sudah merdeka kah saya ? 😀

Dari hal yang ‘ngasal tapi serius’ di atas,  bila saya teliti kembali,  maka saya berkesimpulan bahwa kenyataannya untuk saya merasa merdeka,  bukan hanya menuntut pihak lain (baca : pemerintah) yang harus kerja keras, dalam hal ini : untuk mengatasi kemacetan, menegakkan hukum, memberikan pendidikan yang membangun karakter dll; tetapi saya pribadi juga harus belajar dan mengembangkan diri untuk menjadi yang lebih baik, lebih taat hukum atau aturan-aturan yang mengikat secara sosial budaya dan juga bisa lebih menghormati orang lain, baik itu teman, tetangga, terlebih orang yang lebih tua dan para pemimpin bangsa.

Sehingga arti merdeka yang dapat saya simpulkan adalah “berani merdeka dengan hidup nyaman dan kebebasan yang dipagari dengan aturan, tata krama dan tanggung jawab”.

Setuju ? 😉  #merdekauntuktidaksetuju! 😉

* Maureen T. Rustandi

‘Me-Time’ : Jalan-jalan Sambil Bersih-bersih Rumah ;)

August 18, 2015 by Maureen T. Rustandi

Tujuh belas Agustus 2015 jatuh pada hari Senin…wooww berarti akhir pekan ini adalah  long week-end. Jalan-jalan yuuukkk….. ! Mau ikut ? Jalan-jalan versi saya kali ini diwujudkan dengan cara yang berbeda.  Mau tahu ? yuk… ikuti ‘perjalanan’ saya 😉

Langkah pertama perjalanan saya bukanlah langkah ke luar rumah tapi tetap berada di rumah,  dengan berpusat mengitari ruang tamu, ruang keluarga dan ruang makan.   Ada pepatah yang mengatakan ‘bila ingin keliling dunia, ambil buku, duduk dan mulailah membaca’ . Nah saya akan melakukan hal yang mirip tapi tidak dengan membaca buku tapi dengan beberes rumah hahaha….

Obyek operasi bersih-bersih saya yang pertama pastilah koleksi pernak pernik berupa lonceng, gelas-gelas kecil, snowball dan benda-benda miniatur pajangan lainnya, yang umumnya saya beli waktu berkesempatan pergi mengunjungi suatu tempat.

Koleksi lonceng-lonceng

Koleksi lonceng-lonceng

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pada saat melakukan kegiatan bersih-bersih ini biasanya saya akan teringat moment-moment saat barang itu dibeli, bagaimana kondisi tokonya, situasi sekitarnya, dengan siapa saya membeli barang itu dan yang pasti teringat adalah suasana perasaan saya saat itu : kegembiraan liburan, kegembiraan bersama anak2 dan suami yang selalu bisa mengalahkan rasa capek #priceless

♣ Miring Itu Menyenangkan !

Wanaka ! sesuai namanya yang menyiratkan kejenakaan begitulah kenangan seru-seruan di Puzzling World, Wanaka.  Gelas kecil yang langsing tapi miring ini selalu berhasil mengembalikan kegembiraan yang serba miring haha….  Walaupun awalnya agak pusing dan di beberapa ruangan hampir tidak bisa berjalan tapi anehnya tertawa tidak pernah berhenti di sini.  Kalau kamu berkesempatan ke sini,  jangan lupa coba toiletnya ya… 😉

Tentang Puzzling World Wanaka,  bisa klik link ini.

Memang kudu miring di sini,  baru seru :D

Memang kudu miring di sini, baru seru :D

 

 

 

 

 

 

 

 

 

♥ Bertemu pasangan Bali di Tanah Parahyangan 😉

Pasangan Bali di tanah Parahyangan

Pasangan Bali di tanah Parahyangan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selalu ingin punya koleksi patung2 kayu dari berbagai daerah di Indonesia, dan secara tidak sengaja menemukan toko souvenir di Bandung yang menjualnya….nah ini pasangan patung dari Bali …..hi..hi…di Bali sendiri blom tentu ketemu lho :) Suka juga sama suasana tokonya…sometime pengen punya toko kayak ini #LaOmaSouvenirShop

♠ Ada Japanese Girl di Jiu Fen Old Street

Saat ke Jepang mengantar sulung saya sekolah 3 tahun yang lalu, memang saya ngga punya banyak waktu untuk keliling cari2 souvenir, maka rasanya senang banget bisa ketemu this cute little japanese girl saat jalan2 ke Jiu Fen Old Street, Taiwan. Ngga nyangka kan ?  Sekilas Jiu Fen Old Street ada di sini.

Ketemu gadis Jepang di Taiwan :D

Ketemu gadis Jepang di Taiwan :D

 

 

 

 

 

 

 

 

 

♦ Naga di Krakow Castle

Legenda tentang naga bukan cuma milik Tiongkok aja.  Di kota Krakow,  Polandia juga ada legenda tentang naga,  yang dikenal sebagai The Wawel Dragon.  Lonceng kecil dengan gambar naga ini mengingatkan suasana sore yang dingin gelap di bawah suhu -9 derajat,  saat saya dan keluarga berjalan menaiki tangga licin yang diselimuti hamparan salju mengunjungi Krakow Castle pada kesempatan liburan akhir tahun 2014 yang lalu.  Hhmm….rasa beku telapak tangan yang tersimpan pada kantung jas masih pekat terasa.   Note : klik di sini untuk info The Wawel Dragon.

The Wawel Dragon

The Wawel Dragon

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Aloha!

A priceless memory with mom

A priceless memory with Mom

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Memory yang manis saat liburan berdua dengan mama ke USA via Hawaii selalu melintas bila saya membersihkan lonceng yang setia tergantung di teras belakang ini; demikian juga dengan pajangan dinding lainnya yang berupa centong2 dan tempat telur dari berberapa tempat di West Coast Amerika.  That time was a such meaningful time with my mom before I getting married nine months later.   Miss you mom … you’re always in my heart !♥♥♥

♦ Bukan Oppa Gangnam Style

Saat berkesempatan mengunjungi Korea di tahun 2013, ketenaran Gangnam Style tinggal sisa-sisanya saja. Melihatsepasang patung dengan pakaian tradisional Korea yang posisinya bisa dirubah-rubah sesuai suasana hati pemiliknya dan berfungsi sebagai penyampai pesan kepada pasangannya ini,  sungguh menghibur hati dibanding nonton videonya si Oppa Gangnam Style 😀  dan patung ini jugalah yang mengembalikan keseruan rasa berjalan kaki mulai dari pasar ikan yang luar biasa luas dan bersih, Jagalchi Fish Market sampai ke Gukje International Market- Busan,  yang penuh dengan toko-toko,  pedagang makanan gerobak yang jualannya kelihatan enak dan kenikmatan makan siang dengan gaya nongkrong di  K5 ala Korea 😀   Ini saya sharing fotonya di sini 😉

Pasangan Tradisional Korea yang sarat simbol bahasa tubuh

Pasangan Tradisional Korea yang sarat simbol bahasa tubuh

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Serunya jalan-jalan bersama sahabat

Serunya jalan-jalan bersama teman2 :D

 

 

 

 

 

 

 

 

 

♠ Separuh Jiwa Melayang

Bungy Jumping

 

 

 

 

 

 

 

 

Gelas mungil ini selalu mengingatkan bagaimana rasanya separuh jiwa melayang walaupun saat itu hanya berani menyaksikan dari monitor raksasa ketika si bungsu saya melakukan bungy jumping di Kawarau, NZ.   Selang beberapa waktu memang rasa itu berangsur-angsur hilang tapi pengalaman hati yang cekam ditengah sorak sorai tantangan menaklukan rasa takut,   selalu bisa dikenang;   mungkin begitulah proses uji nyali yang harus dijalani….dan kayaknya saya ngga lulus dalam hal ini :(

Info bungy jumping di New Zealand bisa dilihat di sini

♥ Prayer Wheel

Prayer Wheel, Tibet

Prayer Wheel, Tibet

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ritual doa di Tibet mungkin yang paling langka (unik) di dunia dan itu menjadi peringatan khusus bagaimana harusnya manusia menunjukkan ketaatan dalam beribadat dan kesetiaan untuk memuliakan Tuhan. Untuk mengingat dan terlebih menghormati ritual tersebut, saya berkeliling di sepanjang jalan depan komplek Tashi Lhunpo Monastery, Shigatse, Tibet untuk mencari dan membeli prayer wheel ini.   Letak Shigatse yang berada di ketinggian 3.900 meter, membuat udara masih tipis sehingga sampai saat ini saya masih bisa merasakan bagaimana tidak nyamannya hanya bisa bernapas pendek-pendek sambil sesekali menikmati jantung yang berdebar-debar dan rasa lelah yang tiba-tiba datang. Keindahan Tibet memang sampai menyesakkan dada 😉

Tashi Lhunpo Monastery,  Shigatse - Tibet

Tashi Lhunpo Monastery, Shigatse – Tibet

 

 

 

 

 

 

 

 

Selalu Bersama Selamanya

Mickey & Minnie.  Selalu suka sama pasangan ini dan ingat begitu banyak kesenangan masa kecil yang dihadirkan oleh tingkah laku mereka. Membersihkan snowball mereka dari debu dan memandang mimik lucu mereka selalu berhasil mengundang senyum.  Luv you Mickey & Minnie #selalubersamaselamanyadalamsukadanduka #kenangandariHKDisneyland

Selalu Bersama Selamanya

Mickey loves Minnie

 

 

 

 

 

 

 

 

 

♣ Kinkaku-ji Temple,  Antara Anggun dan Sakral

Keterpesonaan menyergap begitu melihat The Golden Temple ini,  berdiri anggun di tengah danau dan memancarkan kemilau kesakralan yang berpendar ke sekelilingnya.  Lonceng mungil berlapis sepuhan emas ini selalu mengingatkan akan daya magis Kinkaku-ji Temple dan yang selalu ‘memanggil-manggil’ untuk kembali ke sana suatu waktu 😉  ketenangan suasana,  taman Jepang yang  memukau,  keteduhan jalan setapak,  kicauan burung yang bersahut-sahutan  dan sensasi minum teh gaya Jepang di bawah payung kertas merah……melambungkan suasana hati ke langit ke 7! #gapapalebay #sukabangetKyoto

Anggun dan sakralnya Kinkaku-ji Temple,  Kyoto

Anggun dan sakralnya Kinkaku-ji Temple, Kyoto

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kenangan minum teh ala Jepang di Kinkaku-ji Temple.  Unforgetable !

Kenangan minum teh ala Jepang di Kinkaku-ji Temple. Unforgetable !

 

 

 

 

 

 

 

 

Nah….‘perjalanan liburan’ saya hampir tiba di tempat  terakhir…. 😀

→Ke Bali Ku Ingin Kembali

Setia :)

Setia :)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sepasang patung dari pasir semen putih ini selalu berhasil mendatangkan kenangan liburan di Ubud yang hijau, tenang dan menentramkan. Layaknya Bali yang selalu setia memberi liburan yang indah,   sepasang patung ini pun setia berdiri di undakan anak tangga….. setiap melewatinya, mereka menggoda pikiran saya untuk kembali ke Bali, dan perjalanan ke sana selalu terulang…..minimal dalam sanubari.  Dan saat saya membersihkan patung ini dari debu, terasa semilir keramahan Bali menyapa.

Selang 2 jam ‘perjalanan’ ini selesai….kerja bersih-bersih yang menyenangkan, kerja yang saya anggap sebagai ‘me time’ ini memberikan energi baru untuk kembali bersyukur dan menjalani hidup dengan semangat, masih banyak mimpi…masih banyak yang mau dicapai dan tentunya masih banyak tempat yang mau dikunjungi.

Sebagian yang mau dikunjungi.... ;)

Sebagian yang mau dikunjungi…. ;)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Akhirnya selalu senang bisa menikmati rumah yang bersih, yang berisi banyak cerita di balik pernak-perniknya……I just appreciate a tiny thing by cleaning it :)

……at the end of the day, I found a place called home in our family. Home of gratefulness.

Home of Gratefulness

Home of Gratefulness

 

 

 

 

 

 

Note :  terima kasih Mario untuk frame foto yang bagus ini ♥

*Maureen T. Rustandi


Cerita Tentang Ayah Mertua….

August 4, 2015 by Maureen T. Rustandi

Mungkin ini sedikit kisah yang tidak umum ditulis oleh seorang perempuan berstatus menantu,   tentang ayah mertuanya, tapi inilah kisah apa adanya……

Ulang tahun ke 82 yang dirayakan bersahaja.

Ulang tahun ke 82 yang dirayakan bersahaja.

Tanggal 25 Juli 2015,  hari Sabtu yang telah lalu,   kami merayakan ulang tahun ke 82 dari ayah mertua, Leonardus Hidayat Rustandi dengan memberikan kado ultah berupa Samsung Tab. Sebuah hadiah yang biasa saja bagi para penggila gadget dan juga bagi anak2 muda. Tapi saya tahu…betapa bahagianya ayah mertua saya menerimanya.

Saya ingat ulang tahun beliau yang ke 81, beliau juga mendapatkan gadget berupa iPod Apple yang sudah lengkap berisikan lebih kurang tujuh ratus lagu; masih terbayang wajah terpesonanya memandang si mungil tipis iPod bisa menampung sekian banyak lagu.

Demikian juga pada saat beliau berulang tahun ke 80 yang kita sempatkan untuk merayakannya di sebuah restoran chinese tua yang menjadi favorit beliau karena kelezatan makanannya. Kembali terbayang pada saat beliau menyampaikan pidato terima kasih yang mengharu biru kepada para anak, mantu dan cucu-cucu yang hadir saat itu.

Ayah mertua saya adalah pribadi yang sederhana dan mencintai kebersamaan keluarga; beliau merupakan sulung dari12 bersaudara; 3 adik beliau telah berpulang menghadap Bapa di surga;  saat ini di usianya yang ke 82, Puji Tuhan beliau dalam keadaan sehat dan enerjik. Saya menilai karena keinginan beliau yang mau terus belajar dan mengetahui hal-hal baru, yang membuat semangat hidup begitu terpelihara sampai saat ini.

Hidayat Rustandi bersama istri Yosephine Sukaniwati & putra putri,  ki-ka : Sunardi,  Tinowati, Lastri & Sunarto

Hidayat Rustandi bersama istri Yosephine Sukaniwati & putra putri, ki-ka : Sunardi, Tinowati, Lastri & Sunarto

Berhasil memberikan pendidikan yang baik kepada putra-putrinya dengan cara berusaha tekun menjalankan perusahaan keluarga yang ditinggalkan kepada beliau, yaitu sebuah usaha konveksi (topi pet & pita tanda jasa) dengan mesin pintal yang sederhana. Perusahaan ini sampai saat ini masih dikenal orang karena hasil produksinya yang bagus dan rapih. Tapi sayangnya karena ayah mertua saya tidak bisa mengikuti perkembangan jaman untuk menerbitkan kuitansi2 mark-up, maka banyak ditinggalkan para pembelinya yang umumnya adalah rekanan dari institusi2 pemerintah.

Begitulah beliau bisa dengan gembira dan tanpa beban menceritakan hal-hal seperti ini kepada saya dan cucu-cucunya disetiap kesempatan dengan sambil menyelipkan nasihat bahwa kejujuran adalah hal yang terpenting dalam menjaga martabat diri pribadi dan keluarga.

Kecintaan beliau untuk selalu belajar hal-hal baru dan mengikuti perkembangan jaman juga membuat beliau tampil dengan gaya yang bisa mengikuti percakapan anak2 muda, ikut guyon-guyon dan bebas dari gangguan2 pengurangan daya ingat.

Bersama dengan para cucu,  saat semuanya masih bersekolah di Indonesia

Bersama dengan para cucu, saat semuanya masih bersekolah di Indonesia

Beliau selalu antusias untuk berdiskusi informal tentang perkembangan pemerintahan, kasus-kasus korupsi, perkembangan teknologi dan sangat menaruh perhatian kepada   para cucu, apa yang dipelajari, apa yang dikerjakan…semuanya tak luput untuk beliau tanyakan.

Terbayang kembali pada sekitar tahun 1998, disaat usia 65 tahun,   beliau mulai belajar mengenal not-not balok karena mulai belajar bermain organ, yang dilanjutkan dengan bertekun belajar bahasa Perancis secara private dan 2 tahun terakhir ini beliau aktif mengikuti extension course filsafat dari Fakultas Filsafat Universitas Parahyangan, yang beberapa pengajarnya adalah para pastor, Bpk. Remy Silado, Bpk. Goenawan Muhammad #kerenkan ?

Hal-hal itu semualah yang mendasari kami, terutama anak-anaknya untuk juga mengenalkan beliau kepada kemajuan teknologi informasi, mulai dari belajar mengoperasikan desk top,  belajar menulis surat elektronik dan mengirimkannya, dan kemarin di hari ulang tahun yang ke 82, dua cucunya mengajarkan chatting via whatsapp dan line 😀 Juga sempat ber skype dengan seorang cucu yang sedang bersekolah di Taiwan. Betapa tersirat kegembiraan dan rasa syukur beliau masih bisa menikmati kemajuan teknologi yang demikian pesat dan tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Keluwesan dan keramahtamahan beliau juga yang membuat beliau dikelilingi banyak teman dan sahabat dari berbagai tempat, baik teman dari Bandung, dari Bandarlampung bahkan teman dari mancanegara yang dikenal beliau pada saat melakukan perjalanan.   Kesediaan untuk bertegur sama pertama kali yang membuka pintu persahabatan dengan teman2 ini, yang kemudian berlanjut dengan korespondensi surat, mengirim postcard….dan mungkin sebentar lagi semuanya itu akan berganti dengan mengirim e-mail, chatting, skype-an….seperti layaknya yang dilakukan oleh para anak muda sekarang, who knows ? 😀 karena mungkin saja ayah mertua saya berpedoman : “youth has no ages” 😀

Bersama sang belahan jiwa,  Yosephine Sukaniwati

Bersama sang belahan jiwa, Yosephine Sukaniwati

Berhasil merayakan ulang tahun perkawinan ke 50 dengan wanita yang dikasihinya, Yosephine Sukaniwati, pada tahun 2008, di saat keduanya sehat sejahtera, membuat beliau berani berucap doa untuk 10 tahun kemudian masih diberikan kesempatan merayakan pesta intan, ulang tahun perkawinan ke 60. #Amin!

Beberapa tahun terakhir ini,  kesehatan ibu mertua memang berkurang jauh : gangguan fisik, kemunduran daya ingat dan juga ketidakstabilan emosi sang istri, tambah memupuk kesabaran dan tidak membuat beliau tampak susah ….ya semuanya beliau terima dengan ikhlas dan penuh syukur…..’kita masih bisa berkumpul bersama’, begitu beliau seringkali berucap. Memang karakter beliau yang selalu bersyukur dan berserah kepada Tuhan yang menjadikan beliau benar-benar dapat menjalani hidup bersama dalam situasi ‘untung dan malang’. Inilah pesan tersirat yang saya dapatkan dari segala ucapan dan tindakan beliau selama ini…..sebuah pesan yang berharga bagi kami anak, menantu dan para cucu.

Cerita tentang ayah mertua ini akan jadi berkepanjangan karena begitu banyak yang bisa dituangkan dalam kata…dalam kalimat, tapi saya tidak ingin berpanjang-panjang dalam hal ini, karena satu hal penting yang sudah dapat diambil hikmatnya dari ayah mertua saya adalah : “hidup dengan iman yang penuh syukur terlebih dalam segala kekurangan, bukan dalam kelimpahan dan iman yang berserah kepada kehendak terbaik Tuhan,  telah membawa beliau kepada kesehatan yang prima dan kebahagiaan hidup sehari-hari”.

Selamat Ulang Tahun, Papa Hidayat.  God bless you ! Amin !

Papa Hidayat & Maureen,  on walking tour 'Jelajah Passer Baroe' with LOH,  March 2013.

Papa Hidayat & Maureen, on walking tour ‘Jelajah Passer Baroe’ with LOH, March 2013.

 

 

 

 

Catatan : Ulang Tahun Ayah Mertua, Leonardus Hidayat Rustandi yang ke 82, Bandung, 25 Juli 2015 – ditulis oleh Maureen T. Rustandi.

 

Don’t Sweat the Small Stuff

August 1, 2015 by Maureen T. Rustandi

Sekitar 10 tahun yang lalu, saya membaca buku yang berjudul sama yang ditulis oleh Richard Carlson, Ph.D., dan buku ini pernah menjadi salah satu buku favorit saya tapi beberapa saat  sempat terlupakan. Kemudian seiring berjalannya waktu dan banyaknya kejadian-kejadian yang ada di sekitar diri dan hidup saya yang berpotensi memicu stress, membawa saya untuk mengingat kembali buku ini, sebuah buku yang dikategorikan sebagai buku stress management.

Layaknya hidup sebagai mahluk sosial, mau tidak mau, senang tidak senang, kita harus berinteraksi dengan orang lain, baik hanya sekilas maupun intensive; sudah tentu konsekuensi dari interaksi ini kadang menyenangkan, kadang menyebalkan bahkan kadang membuat marah, bertengkar dan mungkin memutuskan tali pertemanan. Semuanya bisa terjadi dengan sengaja, tanpa sengaja, disadari atau tidak disadari. Saya pernah mengalaminya dan saya tahu, kamu juga pernah mengalami walaupun dengan kadar yang berbeda 😉

Apalagi saat ini dikeramaian media sosial, kita dengan mudah membaca status banyak orang yang tidak semuanya menyenangkan. Ada yang mengeluh berkepanjangan,  memaki dan menghasut, yang semuanya itu tidak memberikan energi positif bagi kita yang membacanya. Belum lagi termasuk kejadian-kejadian offline yang kita temui sehari-hari : di jalan raya, di tempat kerja, di pasar bahkan juga di rumah. Tanpa perlu saya merinci jenis kejadiannya, tiap hari kita pasti bertemu dengan banyak orang, baik itu yang tidak kita kenal, kita kurang kenal atau yang cukup kita kenal, yang semuanya punya peranan melalui ocehan,  sikap dan tindakan masing-masing,  untuk menciptakan hal-hal yang menjengkelkan, menyebalkan bahkan stress bagi kita. Apalagi kalau yang dimaksud kita itu, adalah pribadi yang karakternya seperti saya, yang maunya  teratur, rapih,  agak2 idealis ngga puguh bahkan kadang terlalu detail/njelimet…. 😀 nah loh,  kita bisa berpotensi jadi orang yang paling menderita :( Mau? Nggalah ya ! Jadi kudu gimana nih ? 😉

Baiknya kita menyadari bahwa senyatanya kita tidak bisa mengatur hati (baca : emosi), pikiran dan hidup orang lain untuk menjadi seperti yang kita mau, dengan demikian kita dapat bersikap untuk tidak memusingkan hal-hal yang remeh temeh atau bahkan hal-hal yang prinsip, karena yang prinsip bagi kita, bisa jadi tidak prinsip bagi orang lain. Kita putuskanlah untuk move on ke level yang lebih tinggi, yaitu level di mana kita bisa mengatur hati, pikiran dan hidup kita sendiri untuk selalu menjadi lebih baik, karena inilah yang paling perlu sehingga kita bisa jadi contoh buat orang lain #marikitacariuntungbuatdirisendiri

Jangan memusingkan masalah kecil

Jangan memusingkan masalah kecil

Kita juga tidak perlu kuatir apabila pada satu saat kita terbentur dan kembali lagi turun ke level yang rendah, seperti yang saya alami berulang kali, di mana saya masih manyun apabila membaca status2 yang berbau provokasi/hasutan, serta melihat ketidakteraturan dan ketidakdisiplinan orang lain atau bahkan menjadi terlalu nyinyir untuk urusan-urusan yang sebenarnya tidak berhubungan dengan kepentingan saya pribadi dan di luar kendali saya. Segera sadari saja bahwa itu semua ‘hanya masalah kecil’ bagi kita dan kita tidak mau membuang-buang waktu dan energi untuk orang-orang yang tindakannya tidak kita sukai yang menyebabkan kita sebal, jengkel, nyinyir, stress dan sebagainya #karenaitumerugikandirisendiri

Situasi up and down yang terjadi berulang-ulang ini merupakan ajang pelatihan yang akan memberi hasil akhir bagi pengembangan diri kita: menjadi pribadi yang lebih baik atau lebih buruk. Akhirnya kita yang harus memutuskan sendiri bagaimana kita harus bersikap menghadapi segala ketidaknyamanan, baik itu yang remeh temeh maupun yang serius, yang keduanya terjadi diluar kendali kita, demi diri kita yang lebih bahagia #saynotostress

Banyak yang memilih menjadi tidak peduli, tidak berempati, tetapi banyak juga yang memilih sebaliknya, menjadi lebih peduli, lebih toleran. Yah, kenyataannya hidup memang tidak sekedar perhitungan untung atau rugi bagi diri kita pribadi tetapi lebih kepada passion yang akan membawa kita kepada kebahagiaan setiap hari.  Inilah proses yang sedang saya jalani….up and down and down…and up …and up…..again !

Jadi bila kamu punya passion untuk peduli kepada ketidaknyamanan, berperanlah di situ untuk menjadikan segalanya lebih nyaman dengan segala tantangannya;  tetapi bila kamu tidak punya passion di situ, kamu cukup untuk tidak menjadi jengkel dan sebal apabila menghadapi ketidaknyamanan.  Akan mudahkah mengimplementasikannya ? kamu bisa menjawabnya sendiri apabila kamu telah melakukannya.  Menurut saya apapun pilihanmu, yang terpenting dalam menjalankannya kamu harus ingat akan judul buku yang saya tulis di atas…… don’t sweat the small stuffjangan memusingkan masalah kecil, sehingga harapan saya, kamu tidak menjadi stress tapi tetap dapat menjalani hidup dengan nyaman dalam ketidaknyamanan #selamatmenikmatikebahagiaan #Amin!

Note: Tulisan ini tidak ditujukan untuk promosi buku ya 😀

*Maureen T. Rustandi