Hello world!

February 28, 2012 by Maureen T. Rustandi

Hi !  Welcome to my blog !  hoping you enjoy to read and get inspired from it :)

Halo !  Selamat datang di blog saya …. semoga Anda suka membacanya dan mendapatkan inspirasi dari apa yang saya tulis di sini :)

Hidup itu indah : rajin itu indah,  pintar itu indah,  tertib itu indah,  rapih itu indah,  cantik itu indah,  jalan-jalan itu indah,  suka membaca itu indah,  memberi itu indah,  toleran itu indah dan …………….bersyukur itu paling indah !

Masih Merokok ? Kuno Banget Sih….. !

September 23, 2013 by Maureen T. Rustandi

Mungkin judul tulisan ini membuat anda bingung atau menduga saya keliru.  Yang pasti,  saya sedang bingung melihat makin banyaknya perempuan2 muda usia bahkan remaja-remaja mahir mengepulkan asap rokok.   Dari tampilan wajah yang masih segar sampe yang udah kuyu kusam,  sering saya temui ditempat2 umum dan bila kita berpapasan dengan mereka…..hhmm yang tercium hanya aroma rokok.  Ngga banget deh !

Sudah dari dulu ada anggapan  kalo menghisap rokok itu kesannya  keren,  modern,  ngga ketinggalan jaman.  Sebenarnya para perokok mengabaikan informasi yang tertulis jelas pada setiap bungkus rokok atau papan2 reklame rokok akan resiko yang dapat timbul akibat merokok;  para perokok juga  menutup telinga dan mata untuk mendengar dan membaca kisah-kisah yang menyedihkan dan menyengsarakan karena kecanduan pada sebatang rokok.   Mereka sepertinya terbuai dengan halusinasi kenikmatan menghirup aroma semerbak tembakau cengkeh dan sensasi  gelombang asap yang dihembuskan dari hidung dan mulut yang sarat racun bagi lingkungan dan manusia.

Saat ini sedang gencar-gencarnya himbauan/gerakan gaya hidup sehat yang diserukan oleh para pakar kesehatan,  pakar kuliner dan juga pakar kebugaran.  Para pencinta lingkungan di seluruh dunia juga tidak mau ketinggalan untuk menyerukan gaya hidup go green atau back to nature demi menyelamatkan bumi yang makin merana akibat pemanasan global.   Inilah issue-issue yang paling mengemuka,  paling modern dan up to date saat ini.   Saya pikir semua orang alert akan issue-issue ini dan kita mempunyai tanggung jawab yang sama untuk ikut aktif pada gerakan ini,  sekecil apapun.

Oleh karenanya saya pribadi sangat terganggu melihat begitu banyak ketidakpedulian (baca : ketulian) dari mereka-mereka yang masih asyik masyuk menghembus-hembuskan asap rokok.   Ketulian mereka terhadap issue-issue baru yang ternyata lebih keren dan lebih modern daripada sekedar menghisap rokok ,  membuat mereka ketinggalan jaman,  old fashioned dan tampak kuno di mata saya.  Saya menganggap mereka masih hidup di jaman lampau karena terbelenggu pada pandangan usang yang keliru.

Untuk para perempuan dan remaja putri,  tolonglah diri kalian sendiri,   anda tentu ingin dianggap sebagai perempuan yang keren,  modern,  fashionable dan ngga ketinggalan jaman   kan ?  ingat,  merokok bukanlah gaya hidup,  itu hanya satu kebiasaan buruk yang harus anda singkirkan …. mulai hari ini,  say NO to rokok  untuk tampil lebih up to dateelegant dan menyebar inspirasi selaras dengan issue-issue masa kini.    Mari aktif menjaga kesehatan diri sendiri sebagai wujud cinta diri  yang sejati sehingga kita bisa berkembang mencintai kehidupan,  lingkungan dan sesama.

 Let’s  say NO to rokok !

 

by Maureen T. Rustandi
Jakarta,  6 September 2013


Kapan Terakhir Anda Menyanyikan ‘Indonesia Raya’ ?

August 19, 2013 by Maureen T. Rustandi

Pertanyaan ini muncul beberapa hari yang lalu menjelang peringatan Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus.  Di tahun 2013 ini tanggal 17 Agustus  jatuh pada hari Sabtu dan ada pada masa akhir libur panjang Lebaran.  Sebagian besar sekolah juga masih meliburkan murid-muridnya,  jadi sudah dipastikan tidak ada upacara peringatan proklamasi kemerdekaaan di sekolah-sekolah,  hari bersejarah itu pun akan berlalu tanpa kesan,  mungkin para murid berbahagia,  mungkin para guru lega  karena tidak perlu mempersiapkan acara apapun di sekolah.

Mestinya saya tidak mau berkomentar tentang hal ini,  tapi daripada  terpendam,  maka sekilas saya mau bertanya :  ‘kenapa sih ngga dibuat peraturan agar sekolah mewajibkan murid-murid masuk pada tanggal 17 Agustus untuk melaksanakan upacara peringatan kemerdekaan Indonesia?’.  Sedemikian sederhanakah keputusan yang akan dibuat misalnya  memindahkan upacara peringatan kemerdekaan ke hari berikutnya ?   Rasanya mau marah deh….

Kembali kepada pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini,  ‘kapan terakhir kali Anda menyanyikan Indonesia Raya?’    Saya menyanyikannya terakhir pada tanggal 15 Juni 2013 yang lalu pada saat graduation putra bungsu saya dari SMP.

Pada saat menyanyikan itu saya sempat memperhatikan sekilas situasi sekeliling :  ada pasangan orang tua yang baru masuk ruangan dan sibuk mencari nomor kursi,   ada seorang ibu yang sibuk merapihkan pakaiannya,  seorang ibu yang lain sibuk mengibas-ibaskan rambutnya yang indah,  seorang bapak yang bengong aja,  beberapa anak  yang menengok ke kiri/kanan/ke belakang,  banyak para tamu yang tidak tau berdiri dengan sikap sempurna dan sementara itu berlangsung,    saya sibuk menahan air mata yang hampir menetes…..

Yah…. lagu Indonesia Raya yang indah dan anggun dengan syair yang menyentuh kalbu,  selalu membuat saya merinding dan meneteskan air mata saat menyanyikannya atau bahkan pada saat mendengarkannya saja.

Saya tidak tahu pasti apa yang menyebabkan masyarakat sangat apatis saat ini bila dihadapkan pada situasi yang berkaitan dengan nilai-nilai kebangsaan.  Kalo dibilang kurang pendidikan,  rasanya kurang tepat juga apalagi kalo merujuk kepada latar belakang para orang tua yang di sekolah anak saya.  Apakah ada kaitannya dengan situasi pemerintahan saat ini yang banyak menimbulkan  kekecewaan karena harapan  yang tidak terpenuhi ?  apakah dampak dari perlakuan menyakitkan  atau pandangan2 sempit terhadap kesetaraan  berwarga negara ?  Adakah kaitannya dengan sistem pendidikan yang bingung konsep ataukah dampak dari penegakan aturan/hukum yang letoy?

Di lingkungan tempat tinggal saya,  tidak ada lagi petugas RT  yang menegur warga yang tidak menaikkan bendera pada tanggal 17 Agustus kemarin.  Mau tahu dari 26 rumah di cluster tempat saya tinggal,  berapa yang memasang bendera ? Tidak lebih dari 5 rumah lho …..menyedihkan ya?

Kiranya kita perlu kerja keras,  bukan hanya dari pihak pemerintah saja tapi kita pribadi2 sebagai orang tua harus memegang peranan yang lebih besar dalam menanamkan nilai2 kebangsaan di dalam diri anak2 kita dan itu semua harus dimulai dari kita sendiri bagaimana seharusnya bersikap dan memberi contoh kepada anak2 kita.   Buang jauh-jauh rasa tidak puas kepada pemerintah,  balut rasa sakit hati karena perlakuan tidak adil (mungkin), ikhlaskan kepenatan menjalani hidup yang berat atau apapun itu demi anak2 kita agar mereka tumbuh menjadi manusia yang cinta kepada orang tua,  kepada nusa dan bangsa.   Demi tegaknya kepala mereka bila suatu saat nanti mereka berhadapan dengan anak-anak negara lain karena mereka punya identitas dan rasa percaya diri sebagai orang Indonesia.

Teman saya menulis bahwa tidak ada pemerintahan yang ideal di manapun,  tetapi yang penting diingat adalah negara ini,  tanah air ini telah memberi kita kehidupan yang luar biasa.   Ngga percaya ?  Buktinya kita masih betah tinggal di Indonesia kan ?

‘ Indonesia tanah airku,   tanah tumpah darahku
Disanalah aku berdiri jadi pandu ibuku
Indonesia kebangsaanku,  Bangsa dan Tanah Airku
Marilah kita berseru : Indonesia bersatu

Hiduplah tanahku,  hiduplah negriku
Bangsaku rakyatku semuanya
Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya

Indonesia Raya Merdeka Merdeka
Tanahku negriku yang kucinta

Indonesia Raya Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya

Indonesia Raya Merdeka Merdeka
Tanahku negriku yang kucinta

Indonesia Raya Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya

Indonesia Tanah yang mulia
Tanah kita yang kaya
Di sanalah aku berada Untuk slama-lamanya
Indonesia Tanah pusaka Pusaka Kita semuanya
Marilah kita mendoa Indonesia bahagia

Suburlah Tanahnya Suburlah jiwanya
Bangsanya Rakyatnya semuanya
Sadarlah hatinya Sadarlah budinya
Untuk Indonesia Raya

Indonesia Tanah yang suci Tanah kita yang sakti
Disanalah aku berdiri menjaga ibu sejati
Indonesia! Tanah berseri Tanah yang aku sayangi
Marilah kita berjanji Indonesia abadi

Slamatlah Rakyatnya Slamatlah putranya
Pulaunya lautnya semuanya
Majulah Negrinya Majulah Pandunya
Untuk Indonesia Raya’

‘Indonesia Raya’  ciptaan WR Supratman

Note :
Saya  senang karena banyak radio2  swasta  yang memutar lagu Indonesia Raya setiap pagi sebagai awal mereka memulai siaran.   Indonesia Raya Merdeka Merdeka !

 

by Maureen T. Rustandi
Jakarta 18 Agustus 2013

 

Gaptek Koq Bangga?

August 14, 2013 by Maureen T. Rustandi

Dalam keseharian kita sering mendengar orang berkata : ‘gaptek nih gue’ dilanjutkan dengan tawa berderai-derai  or  ‘maklumlah gue kan gaptek’ dengan mimik ‘mohon pengertiannya’.

Belakangan ini saya mulai perhatiin beberapa kejadian sepele,  seperti minta tolong teman motret dengan kamera saku yang simpel,  entah karena teman tersebut ngga pernah motret (aneh ya ?) atau kurang pede pegang kamera orang lain,  maka ia akan menolak dengan berkata ‘aduh gue gaptek ngga bisa motretin’ sambil ‘ ha..ha..ha …..’

Banyak juga kita jumpai orang yang menggunakan handphone canggih, yang dikenal sebagai smartphone, tapi nggak tau bagaimana memanfaatkan fitur2 sederhana yang tersedia seperti mengunggah, mengunduh dan menyimpan gambar,  atau bahkan memasukkan data di phone book.   Gawatnya mereka ngga pernah mau bertanya (mungkin malu) atau malas ngutak-ngutik sendiri,   sehingga tiap ada yang tahu ketidakmampuannya,  mereka dengan gampang akan ngeles  ‘he..he..gue kan gaptek’.

Ada cerita lain lagi dari seorang temen yang menanyakan lokasi sebuah gedung di Jakarta via BBM (hhmm…pasti pake Black Berry dong),  karena saat itu saya lagi sibuk dan juga kurang tahu pasti letak gedung itu dimana,  maka saya jawab ‘coba deh loe browsing tanya sama mbah google’;  dan segera dia menjawab ‘gue gaptek nih’ …. ‘hhmmm,   gaptek koq bangga sih?’  dijawab seperti itu,  malah dibales ‘gue kan barang langka’  buseettt dah :(

Dari sekian banyak kisah ‘gue gaptek nih’, saya jadi mikir pernah ngga sih kita sadar bahwa ‘belajar itu ngga kenal usia’ ?  Ini kan bukan urusan belajar dalam arti ke kampus, menyimak, bikin tugas, buat laporan, nulis skripsi dan ujian.

Ngga usahlah membandingkan diri dgn Ibu Pia Alisjahbana atau beberapa tokoh perempuan lainnya  yang di usia lanjut masih menempuh pendidikan S3;  urusan mengatasi masalah gaptek gadget ini kan jauh dari rumit karena hanya butuh bertanya 1 menit,  mendengar penjelasan sekalian praktek paling lama 5 menit dan  kemauan untuk latihan mengulang-ulang sehingga akhirnya menjadi terbiasa dan mahir.

Yuk,  mulai sekarang hilangkan kebiasaan ngeles dengan bilang ‘gue gaptek’  dengan mulai ngutak-ngutik gadget,  praktek dikit-dikit sambil meningkatkan rasa pe-de;  karena dengan berhenti bilang ‘gue gaptek’  berarti kita itu berhenti melecehkan diri sendiri lho…. :)

Masak kalah sih dengan smartphone yang ada digenggaman ? kita yang menggenggamnya kudu lebih ‘smart’ dong !

 

by Maureen T. Rustandi
Jakarta, 14 Agustus 2013


Yuk, Tampil Pantas

August 13, 2013 by Maureen T. Rustandi

Mungkin udah bawaan dari sono nya kali ya….maksud saya,  udah jadi sifat dasar manusia yang alami bahwa kita selalu melihat bagaimana menjadi seperti orang lain,  kita kurang bisa menerima kondisi diri sendiri.

Coba liat deh…banyak anak2 remaja perempuan (khususnya) yang tampil seperti tante-tante,  padahal mereka lagi atau baru ngerayain sweet seventeen birthday.   Emang sih katanya umur 17 itu pertanda mulai memasuki era dewasa,  peralihan dari remaja menjadi dewasa,  tapi masa sih harus juga diikuti dengan berdandan gaya perempuan dewasa ?

Rambut diuwel-uwel jadi sanggul,  pake dress yang terlalu sexy  untuk ukuran umurnya,  ber-hi-heel lebih dari 10cm sehingga jalannya kayak robot tertatih tatih,  make-up tebel dengan lipstick merah padam dan nenteng tas model satchel dengan gaya nyonya konglomerat yang semuanya bikin tambah berat umur.

Sebaliknya  ….perhatiin juga deh tampilan perempuan dewasa (baca tante-tante)  yang dimuda-muda-in :  mengenakan tank top or ber t-shirt ketat (ngga peduli lengan segede paha or perut ndut) + celana pendek sepangkal paha (oopsss!)  lengkap dengan flat shoes,  tas selempang dan rambut berponi imut.

Yeaah….ngga ada salahnya sih tampilan mau gimana itukan termasuk hak asasi kan ?  tapi pertanyaan mendasarnya adalah :  kenapa sih yang muda mau tampil lebih tua (baca dewasa) dan yang tua mau tampil gaya anak muda ?  kalo kenyataannya udah terbalik,  jadi siapa meniru siapa ?

Maunya saya sih …lebih ideal kita bisa tampil pantas sesuai umur,  yang remaja tampil fresh gaya remaja,  nikmati masa-masa muda dengan sepuasnya,  ngga perlu buru-buru jadi emak-emak,  sehingga nanti pada saatnya jadi emak-emak ya… udah ngga neko-neko lagi,  bisa jadi emak-emak yang anggun dan elegan.  Ngga dilarang koq bergaun pesta,  berdandan,  ber hi-heel tapi harus tetap tampil manis,  muda, lincah   khas remaja.

Demikian juga yang udah mature baik dari segi umur dan pengalaman,  tampillah dengan menjaga citra wanita dewasa sehingga kita bisa lebih dipandang dengan penuh respect.   Sangat dibolehkan untuk menjaga tampilan lebih muda dengan cream anti kerut,  facelift,  botox atau apapun cara untuk menyamarkan kerutan diwajah,  tapi itu semua juga harus dijalankan dengan bijaksana dan diimbangi dengan ‘perbaikan’ di bagian lain.   Maksud saya,  janganlah lupa berolah raga,  nge-gym gitu,  biar lengannya kayak lengan SJP,  perutnya seperti punya JLO dan kakinya,  mirip-mirip kaki capung Miranda Kerr …..  :D dan yang penting juga harus disiplin minum vitamin atau antioksidan.

Tapi di atas semua usaha itu,   sebaiknya kita tidak lari dari kenyataan bahwa mata kita tidak bisa berbohong….. ;)   Penampilan kita boleh bak gadis remaja,  wajah tanpa kerutan…..tapi begitu mau membaca,  kita  harus melorotkan kacamata  atau menjauhkan obyek bacaan 50cm ke depan ;)   maklumlah teknologi lasik sementara ini hanya bisa  mengatasi masalah mata minus…..

So,  jadi apa yang harus kita lakukan ?   Simple aja,   mari kita terima dan syukuri pencapaian usia kita dengan tampil  pantas  (baca :  enak dilihat) supaya kita bisa ‘melangkah’  dengan lebih  nyaman :)   OK ?

Note :  Satu hal yang penting,   cermin di rumah kita itu pasti ngga suka berbohong,  jadi bila kita sudah berdandan,  menghadaplah ke sang cermin,  dengarlah ‘suara’  yang muncul,  bila sang cermin bilang OK,  kita bisa berlenggok dengan pe-de,  tapi bila sang cermin agak ragu-ragu,  itu pertanda kita kudu balik lagi ke  dressing room ;)

 

By Maureen T. Rustandi
Jakarta,  13 Agustus 2013