Umur 70 Jadi Presiden

November 18, 2016 by Maureen T. Rustandi

Seminggu yang lalu saya menulis di timeline saya sebagai berikut : ‘Di usia 70 tahun ada yang bisa jadi presiden….nah loe yang masih muda ngapain aja?’ #tanyakepada dirisendiri

Donald Trump dan Hillary Clinton, sama tuanya.

Donald Trump dan Hillary Clinton, sama tuanya.

Status tersebut memang saya tulis sehubungan dengan terpilihnya Mr. Donald Trump sebagai presiden ke 45 Amerika Serikat di saat usia beliau 70 tahun.  Terlepas dari segala keonaran masa kampanye kedua kandidat presiden AS,  ada hal yang menarik perhatian saya,  yaitu usia kedua kandidat yang  sudah tidak muda,  apalagi bila dibandingkan dengan usia Presiden Obama saat pertama kali beliau menjabat sebagai presiden,  yaitu di usia 47 tahun,   keduanya tentu berbeda generasi.   Bila Hillary Clinton yang memenangkan pilpres,  maka ia juga  akan menjadi presiden di usia 70 tahun.  Sama tuanya dengan Trump.

Berkaitan dengan masalah  usia ini,  saya,   pada setiap kesempatan selalu menyarankan jagoan saya yang kedua dan yang paling muda,  Mario,   untuk  berani mengejar dan mewujudkan segala keinginannya.   ‘Cita-cita tidak cukup hanya ditulis tapi harus diupayakan untuk mencapainya’.  Dan biasanya akhir dari ‘kotbah’ saya kepadanya adalah seperti ini ‘……..ayo ikut marathon, mumpung masih muda,  kan keren banget kalau bisa tampil  di Boston,  di London,  di Tokyo…..’  dan dia akan  menjawab sambil tersenyum  : ‘Mama aja yang ikut…kan mama yang suka lari….lari dari kenyataan hahaa’ .

‘Lari dari kenyataan’,  sebuah komentar becandaan yang nyeleneh tapi membuat saya me review sejenak perjalanan hidup yang telah saya lalui,  sekalian mencari jawaban dari pertanyaan kepada diri sendiri,  ‘ngapain aja?’.  Dari review sejenak ini ternyata saya banyak menemukan moment-moment di mana saya lari dari kenyataan;  bukan lari dari kenyataan yang pahit atau menyedihkan tapi kenyataan berupa kesempatan yang harusnya bisa saya ambil,  tapi saat itu sepertinya tidak  terlalu saya pedulikan.

Seingat saya dulu tidak ada teman-teman yang meributkan ide bekerja/berkarir sesuai passion, membicarakan kemampuan berpikir out of the box  atau mendiskusikan pentingnya berusaha sendiri daripada jadi  kuli kantoran.    Sepertinya saat itu kita sudah dianggap berhasil bila dapat pekerjaan setelah lulus kuliah dan dianggap sukses bila mendapat gaji sekian juta rupiah.   Dan semua anggapan seperti ini tampaknya meninabobokan kita (baca : saya) dan sedikit melumpuhkan ambisi (?)

Bukannya saya mau menyalahkan keadaan tapi harus diakui jaman memang berubah :  kemajuan teknologi dan ketersediaan informasi memberi dampak dahsyat terhadap pola pengasuhan,   metoda pendidikan,  dan pola pikir anak-anak generasi millennial sekarang ini  dibanding dengan anak-anak jaman dulu.   Anak-anak sekarang lebih berani memperjuangkan apa yang mereka mau : mau punya karir seperti apa dan mau menjadi apa.   Sesuatu yang sangat positif.

Lihat saja saat ini bagaimana repotnya orang tua sekarang bila menghadapi keinginan anak-anak masa kininya memilih jurusan kuliah yang begitu beragam,  detail dan fokus.  Kerepotan orang tua akan bertambah dengan ketidakmengertian saat disodorkan  nama-nama program study yang beragam dan kedengaran asing  yang membuat orang tua kadang terbata-bata menjelaskan apa yang dipelajari anaknya bila ada kenalan yang bertanya.

Marathon Moscow : hanya bisa nonton

Oleh karenanya,  kepada  anak-anak masa kini atau yang kekinian,  terlebih untuk jagoan-jagoan saya,  Marcel dan Mario,  berteguhlah mencapai cita-cita dan passion mu,  berjuanglah untuk apa yang kamu inginkan,  raih impianmu,   petik pengalaman hidup orang tua tapi  jangan terlalu  terlena pada ‘pikiran’ mereka yang masih level ‘nokia’,  sehingga  kelak diharapkan tidak ada kekecewaan di masa tuamu karena kamu  tidak  melakukan hal yang ingin kamu lakukan di saat kamu muda dan kuat;   jangan  seperti  ibumu yang menyesal tidak pernah ikut marathon selagi ia muda dan bisa :'(   Lihatlah sekarang ia hanya bisa nyengir kalau nonton lomba marathon 😀

Dan kalau memang kamu bercita-cita jadi presiden,  janganlah menunggu sampai usiamu 70 tahun karena kamu akan kehilangan ketampanan/kecantikan masa muda dan itu  membuat foto-fotomu jadi tidak enak dilihat rakyat karena wajahmu sudah keriput dan rambutmu menipis.  Di samping itu,  usia yang tua juga akan membuatmu nyinyir dan kadang bertingkah seperti anak-anak lagi  kecuali….  kamu bercermin dan ingat pada nasihat-nasihat yang diberikan oleh orang tua dan guru-gurumu betapa pentingnya menjadi orang yang bijaksana :)

OK,   selamat berjuang dan sukses untukmu ! :*)

*Maureen T. Rustandi

Jakarta,  18 November 2016

A Day Without Laughter is A Day Wasted ? Bener Begitu ?

October 5, 2016 by Maureen T. Rustandi

‘A day without laughter is a day wasted’

Demikian kalimat yang pernah saya baca pada sebuah cangkir minum yang dijual pada sebuah supermarket serba 1 harga  di Italia.  Sebuah kalimat yang menginspirasi dan juga cukup menggoda untuk dikomentari.  Menurut info,  kalimat ini adalah ucapan legendaris dari Charlie Chaplin.

Bahagia atau menjadi bahagia  yang umumnya diekspresikan dengan tertawa,  sepertinya sudah menjadi tuntutan yang harus dicapai oleh semua orang karena memang begitulah tujuan hidup manusia :  mencapai kebahagiaan.  Sehingga tidak heran banyak sekali kalimat-kalimat penyemangat nan bijaksana,  baik yang  disampaikan secara verbal maupun secara tertulis,  seperti yang tertera pada cangkir minum tersebut,   yang  semuanya berusaha mengingatkan kita pentingnya menjadi bahagia,  pentingnya tertawa dalam keseharian kita 😀

Charlie Chaplin legenrdary's quote

Charlie Chaplin legendary’s quote

Kadangkala saat saya lagi bersedih atau bahkan lagi marah dan kemudian teringat kalimat yang tertera di cangkir itu,  saya  suka bertanya dalam hati demikian salahkah saya membuang-buang waktu untuk  tidak tertawa karena melampiaskan kesedihan atau kemarahan saya ?  Setelah saya memikirkannya dan melihat berbagai akibat dari pernyataan perasaan saya yang sebenarnya,  maka saya cenderung untuk menjawab ‘tidak’.   Bukan karena saya mencari pembenaran diri,  tetapi hanya berdasarkan kepada kenyataan saja bahwa secara alami memang manusia harus banyak merasakan berbagai macam perasaan untuk lebih merepresentasikan dirinya secara lebih jujur,  lebih normal dan lebih manusiawi.

Dengan lebih banyak perasaan yang bisa kita ekspresikan dengan jujur,  seperti perasaan senang, gembira,  damai, tenang, cemas, galau, sedih, marah, kesal, bangga dan lain-lainnya,   kita bisa menjadi lebih berempati dengan orang lain karena kita bisa merasakan apa yang sedang orang lain rasakan.  Kita bisa maklum kalau melihat seseorang lagi melampiaskan kemarahannya,  kita bisa lebih tulus kalau orang lain sedang berbahagia.  Intinya,  kita bisa menjadi lebih paham terhadap berbagai situasi nyata yang terjadi.

Tanpa pernah mengalami berbagai macam perasaan dan apalagi hanya ingin merasakan kesenangan saja,  niscaya hidup kita kurang kaya,  hati kita akan menjadi tawar dan kita akan terjangkit perasaan ‘biasa saja’  seperti yang banyak dialami orang lain yang kalau ditanya,  bagaimana perasaanmu,  maka ia akan menjawab ‘biasa aja’.  Terus terang bagi saya,  perasaan yang ‘biasa aja’ ini sering bikin bingung ;).    Hati-hati ya kalau kamu lebih sering menjawab perasaanmu biasa aja,  itu pertanda hatimu mulai tanpa rasa alias tawar.

Kunci terpentingnya adalah bagaimana kita mampu mengelola segala macam perasaan dengan baik dan seimbang sehingga kita mampu menempatkan diri dengan benar,  mengerti situasi dan kondisi serta memahami perasaan orang lain.  Kita jadi lebih mampu bersikap tulus tanpa perlu menjadi berlebih-lebihan dan yang terpenting,   perasaan kita menjadi lebih sehat.

Jadi menurut saya,  satu hari terlewat karena kita tidak mampu tertawa pada hari itu,  bukanlah berarti kita membuang hari itu begitu saja.  Kita  bisa mengambil kekuatan dari kesedihan kita,  menghambil hikmat dari amarah kita,  mengambil semangat  dari  kekecewaan kita.  Intinya,  kita belajar dari segala kejadian yang mewarnai perasaan kita.  Pada hari di mana kita tidak dapat tertawa,  pasti di hari itu kita banyak mengalami pembelajaran yang membuat kita mampu berempati dengan orang-orang di sekeliling kita.   Nggak  mungkinkan,  misalnya,  pada hari kita lagi melayat dan di situ  kita tertawa-tawa  sambil selfie….selain nggak sopan,  itu  namanya kita nggak punya perasaan.   Be aware !

Yuk mari belajar menyatakan perasaan kita dengan lebih jujur sesuai dengan situasi kondisi yang ada.

Nggak usah pura-pura senang kalau lagi sedih dan nggak usah pura-pura sedih kalau  memang lagi sedih (nah loh bingung) ! 😉

 

*Maureen T. Rustandi

Oktober 2016

 

How To Reduce Dark Circles Under Eyes ?

September 13, 2016 by Maureen T. Rustandi

Helloo !   Do you like to know the unusual beauty tip ?  If you do,  kindly read the following  idea 😉

I love those weird and wacky anti-aging tips because they give me a perspective of what is possible and to what extend people would go to look young and beautiful.
By the way, these tips may be werid but they are proven to work.

One of the frequently asked questions is how to reduce the dark circles under the eyes.

The red lipstick

The red lipstick

Well, as you know, those dark circles will make you look dull, tired and even older.
The best way to prevent it is to use eye cream on a daily basis.
But if you need a quick fix, this is one unsual beauty tip for you.
Use red lipsticks to cover those dark circles.
The red lipsticks can double as a skin tone collector.
The shade works as a color corrector by neutralizing the bluish/purple hue dark circles.
The trick is to lightly dab the lipstick around your eye and use an eyeshadow brush to blend it in.
Next, use a makeup sponge to apply a light layer of concealer over top of it.

If you have a very fair skin, a peachy shade of lipstick will work better.
For darker skin tones, try a red shade with a tinge of orange in it.

Now you will look more energetic and beautiful…

Stay Young & Beautiful 😉

By : Sophie Grace

Note  :   If you need  products to erase your wrinkles, dark circles or eyebags,   check out  this link !

Kamu Adalah Kamu

August 27, 2016 by Maureen T. Rustandi

Terpesona juga dengan sebuah surat ‘nyasar’ yang masuk ke inbox saya dari seseorang,  yang setelah saya telusuri, ternyata tidak ada dalam friendlist saya.  Tetapi siapapun kamu,  entah saya kenal atau tidak,  saya mau bilang terima kasih karena sudah membuat saya menyempatkan diri untuk menulis lagi 😉

Hal yang ingin saya sampaikan pertama kali sebagai awal tulisan ini adalah kamu jangan pernah sekalipun membuat dirimu cemburu kepada apa yang kamu lihat di timeline saya atau timeline teman-temanmu yang lain.  Percayalah pada saya,  bahwa hidup tidak seindah gambar-gambar yang terpajang pada semua timeline.

Walaupun gambar yang kamu lihat itu indah,  pasti semuanya melalui proses panjang dan kadang berat untuk mencapainya.   Contoh sederhananya begini,  kamu bilang kamu iri dengan rambut saya yang selalu tampak bagus;  tapi kamu tidak tahukan betapa saya harus memberikan  ‘extra effort’ untuk merawat rambut yang disebut oleh para tukang gunting rambut,  bisa bikin tumpul gunting mereka karena saking kejurnya ?  so,  jadi bila rambutmu lembut melambai,  terimalah dengan penuh syukur karena rambut yang lembut melambai sudah pasti lebih mudah dirawat daripada rambut yang kejur kayak ijuk.

Just Be Genuine of YourselfKamu hanya perlu menjadi kamu.  Itu sudah lebih dari cukup.  Jangan membuat dirimu lelah karena selalu ingin menjadi seperti orang lain.  Jangan hiraukan mengenai standard tentang kecantikan, kesuksesan,  kepopuleran atau kekayaan,  karena standard itu tidak pernah kenal dengan kata ‘cukup’.

Mari mulai belajar nyaman dengan keadaan dirimu sendiri.  Tidak ada kekurangan yang diberikan Sang Maha Pencipta  tanpa ada kelebihan di sisi yang lain.  Kenali dirimu lebih cermat,  kelebihan-kelebihanmu dan kembangkanlah. Suatu saat kamu pasti hebat atau mungkin saat ini mestinya kamu sudah menjadi luar biasa tanpa kamu sadari dan syukuri,  hanya karena kamu terlalu sibuk meng ‘copy paste’  orang lain.

Kamu bilang kamu selalu merasa aneh dengan penampilanmu yang menimbulkan kasak-kusuk orang yang melihatmu?  Pernahkah kamu baca kalimat bijak  ‘don’t be afraid of being different’ ?  Maksud saya,  bila penampilanmu ‘aneh’ dan menjadi bahan olok-olok teman-temanmu,   bagi saya itu adalah salah satu kelebihanmu.   Jadilah berbeda dari orang lain dan biarkan orang lain menjadikan dirimu sebagai topik pembicaraan mereka.  Kamu tau nggak,  itu keren banget !

Jadi inti nasehat saya untukmu,  my dear mysterious friend,  berusahalah selalu nyaman dengan dirimu dalam kondisi apapun sehingga rasa percaya dirimu akan tumbuh dengan sendirinya.  Untuk selalu merasa nyaman dalam kondisi apapun,  yang perlu kamu lakukan adalah :  terimalah dirimu apa adanya,  berdamailah dengan segala yang kamu anggap kekuranganmu,  syukuri segala yang kamu miliki walaupun sedikit tapi tidak semua orang dapat memilikinya,   kemudian  bersosialisasilah,  baik secara offline dan online,  karena punya teman itu penting dan perlu;  dan jangan lupa tunjukkan sikap tulus kepada teman-temannu termasuk kepada para penggunjingmu karena bagaimanapun mereka turut memberikan sumbangsih kepadamu untuk menjadi lebih baik.

OK,  selamat berakhir pekan ya….teman.  Ingat,  kamu adalah kamu apa adanya :  asli dan berbeda.

Doaku selalu untukmu !

*Maureen T. Rustandi

27 Agustus 2016