Depok : Berawal Dari Kisah Seorang Tuan Tanah…..

May 13, 2016 by Maureen T. Rustandi

Depok.   Sepertinya sebuah kota yang dekat tapi jauh dan juga sebaliknya,  jauh tapi dekat;  sehingga saya selalu tergoda untuk berkunjung.    Dan ketika kesempatan itu ada bersama Komunitas Love Our Heritage di hari Sabtu,  30 April yang lalu,  rasa antusiasnya sudah membuncah sejak 2-3 hari menjelang.     Sebelumnya saya dan teman-temanberencana untuk naik mobil tapi   setelah bertanya ke beberapa teman termasuk ke office boy di kantor  mengenai lokasi Depok yang ternyata terletak antara Jakarta dan Bogor,   akhirnya kami memutuskan untuk naik kereta.  Wow ! #jaditambahsenang

Berangkat dari Stasiun Rawa Buntu jam 6:15 kami tiba di Tanah Abang jam 6:45,  sebelumnya sempet ‘nyasar’  melihat-lihat  stasiun Palmerah yang konon katanya baru dan bagus itu ….hi..hi…saking antusias saya dan teman-teman sempat turun di Palmerah karena mengira sudah tiba di Tanah Abang;  untung saja keretanya masih menunggu beberapa saat sehingga kami dengan mudah naik kembali sambil ber hahahihi 😀

Note :  Info jadwal kereta api/commuter line,  bisa dilihat di sini 

gerbong krl khusus wanitaPerjalanan Tanah Abang – Depok yang ditempuh lebih kurang selama 50’,   kami jalani dengan lancar dan gembira apalagi kali ini kami mendapat duduk di gerbong kereta khusus wanita yang berwarna sangat perempuan :  paduan putih dan pink;  warna yang turut mempengaruhi suasana hati menjadi lebih meriah di pagi yang menyenangkan.

Margo city

Karena meeting point komunitas LOH bertempat di Margo City,   maka saya dan teman2 turun di Stasiun Pondok Cina.   Dari Margo City yang sedang berulang tahun ke 10 inilah perjalanan Jelajah Depok 2016 : Dulu dan Kini, yang dipandu oleh Mas Adjie Hadipriawan dan Oom Yano Jonathans,   d i m u l a i.

♠ Asal Muasal Nama Depok

Di masa kekinian ini,  banyak orang mengenal Depok sebagai kependekan dari Daerah Elit Pemukiman Orang Kaya,  versi yang lebih serius seperti yang diceritakan oleh Oom Yano adalah nama yang diberikan oleh masyarakat Depok yang bermukim di Belanda yang masih mempunyai ikatan hati dengan tanah kelahiran dan sebagai perintis pemeluk agama Kristen di Depok jaman dahulu kala,  yaitu De Eerste Protestantse Organisatie van Kristenen,   yang dapat diterjemahkan sebagai  ‘Umat/jemaat Kristen yang pertama’.

lambang keluarga cornelis chasteleinTapi kenyataan yang sebenarnya dan lebih sederhana adalah berdasarkan situasi jaman dahulu kala saat sebelum daerah ini dibeli oleh  Cornelis Chastelain,  seorang tuan tanah yang menguasai Depok pada masa kolonisasi VOC di Jawa.    Depok sudah merupakan tempat orang bertapa di sekitar hutan dan sungai dengan mendirikan gubug pertapaan yang disebut sebagai padepokan.    Dari kata ‘padepokan’ ini,  diyakini sebagai asal muasal kata Depok.

Note :  Info detail mengenai Cornelis Chastelein,  klik di sini

♣ Sejarah Nama Pondok Cina

Dalam perjalanan di kereta,  seorang teman sempat bertanya kenapa ya dinamain Pondok Cina ?  ‘ Ha..ha… tempat tinggal orang cina kali’   sekenanya saya menjawab.   Jawaban yang ngga salah 100% sih, karena kisahnya seperti ini :  pada jaman VOC dulu,   Depok terkenal sebagai tanah pertanian yang subur yang banyak menghasilkan beragam jenis buah-buahan dan sayur-sayuran,  sehingga Depok menjadi tujuan para pedagang Cina yang datang dari Jakarta (Batavia).

Stasiun Pondok CinaDemi menghindari ketergantungan penduduk kepada para pedagang Cina dan juga  melindungi mereka dari pengaruh-pengaruh buruk para pedagang yang suka menghisap ganja (dulu dikenal sebagai ‘madat’),  maka saat itu ada larangan bagi pedagang Cina untuk tinggal di Depok,  sehingga kepada pedagang2 Cina yang kemalaman,  mereka diijinkan untuk tinggal daerah perbatasan kota Depok,  yang sekarang daerah tersebut dikenal sebagai Pondok Cinta eh….Pondok Cina 😉 ~ begitulah hikayat ceritanya 😀   Pondok Cina sekarang dikenal dengan singkatan Pocin khususnya  oleh para ‘roker’  (rombongan kereta) 😉

♥ The Old House

tampak samping depan the old houseSebuah bangunan tua bercat putih pada bagian dinding luarnya,  berlokasi di sebelah Margo City,  tepatnya berada di belakang Margo Hotel.  Rumah yang bergaya neo classic ini,  konon dibangun pada tahun 1841,  milik seorang Cina bernama Lauw Tek Lok.   Pada bagian dalam rumah ini,  kita masih bisa melihat jejak peninggalan kekunoan,  yaitu berupa keramik yang bermotif vintage yang unik,  kusen-kusen pintu yang kayunya masih tampak kokoh dan terutama lantai teras yang masih dipertahankan keasliannya,  yaitu keramik bata.

20160430_014913559_iOS_resized

 

 

Untuk informasi,   Depok dulu dikenal sebagai penghasil batu bata yang diakui terbaik karena daya tahan/kekuatannya.  Tidak pernah terbayang sebelumnya berapa lebar dan beratnya 1 keping keramik bata sampai saya menemukan contoh keramik bata kuno di rumah YLCC dan saya atau para pria  sekalipun tidak mampu untuk mengangkatnya.

keramik unikSaat ini kondisi The Old House dibiarkan tidak terpakai dan tampak terbengkalai,  beberapa waktu yang lalu pernah dipergunakan sebagai cafe,  sehingga ruangan bagian sebelah dalam yang mempunyai akses ke Margo City sudah banyak mengalami penyesuaian.   Sepertinya nasib The Old House ini  sama dengan nasib banyak bangunan heritage lainnya di kota-kota di Indonesia.

♦ Jembatan Panus

kolong jembatan panus

Sebuah jembatan tua yang di bawahnya melintas sungai Ciliwung.   Dahulu kala,  jembatan ini merupakan satu-satunya jembatan yang menjadi penghubung antara Depok dan Jakarta.  Saat ini perannya bukan lagi sebagai penghubung antara kedua kota tersebut tetapi sebagai ‘pelindung’ bagi kota Jakarta,  karena pada kaki jembatan ini difungsikan sebagai pengukur ketinggian air yang biasanya datang dari sekitar Bogor,  untuk mewaspadai kemungkinan banjir melanda Jakarta.

Apabila ketinggian air di sini sudah melebihi 250 cm (lihat garis biru) itu berarti banjir sudah mengintip Jakarta 😉

jembatan panusJembatan Panus dibangun pada tahun 1917 oleh Ir. Andre Laurens dan nama Panus berasal dari nama seorang warga,  Stevanus Leander yang bertempat tinggal di samping jembatan.   Sampai saat ini rumah sederhana ‘Pak Panus’ masih ada berhimpitan dengan rumah-rumah penduduk lainnya.

Jembatan Panus layak disebut sebagai jembatan legendanya kota Depok.

♠ Kisah 12  Marga Kaoem Depok

daftar 12 marga kaoem depokMasyarakat Depok tampaknya memang harus berterima kasih kepada tuan tanah Cornelis Chastelein yang melalui surat-surat wasiat yang ditinggalkannya,  banyak mengisahkan pemikiran-pemikaran yang berbeda dibanding para tuan tanah umumnya.  Konon ada 7 hal yang paling membedakan  dan membuat Cornelis Chastelein tampak lebih kekinian,  yaitu :

  1.  kepedulian sosial dan spiritual/keagamaan
  2.  kepedulian akan kesejahteraan
  3.  kepedulian akan keamanan
  4.  kepedulian akan kestabilan ekonomi
  5.  kepedulian akan kebebasan
  6.  kepedulian akan alam/lingkungan
  7.  kepedulian akan sejarah

Dengan nilai-nilai  kepedulian seperti itu yang dimiliki Cornelis Chastelein,  maka tidak mengherankan apabila sikap dan perlakuan yang diberikan kepada 150 pekerja (sesuai jaman itu,  lebih pas disebut sebagai ‘budak’) sangat baik. Cornelis Chastelein memberikan wasiat berupa hibah tanah,  harta dan juga kebebasan untuk menentukan hidup mereka sendiri.   Jadi jauh sebelum jaman pembebasan budak bergema luas,  di Depok para budak telah mempunyai harapan untuk  hidup yang lebih  sejahtera dan sejajar dengan masyarakat sekitarnya.

Supaya mereka menjadi satuSikap dan perilaku yang baik dari sang tuan juga menjadi panutan bagi para pekerja,  sehingga dalam hal ini banyak para pekerjanya juga ikut memeluk agama Kristen,  agama yang sama yang dianut oleh sang tuan.  Tampak dari sebagian besar  nama-nama baptis merekalah lahir 12 marga kaoem Depok yang menjadi bagian sejarah masyarakat Depok sampai saat ini.

Menurut buku ‘Potret Kehidupan Sosial & Budaya Masyarakat Depok Tempo Doeloe’,  karangan Oom Yano Jonathans,  kini hanya tinggal 11 marga yang ada,  karena 1 marga,  yaitu Zadokh sudah tidak mempunyai keturunan lagi.

♥ Kawasan Cagar Budaya Depok ♥

nomor rumah presiden depokYang disebut Kawasan Cagar Budaya Depok adalah sepanjang Jalan Pemuda yang dimulai dari rumah kediaman Presiden Depok yang terakhir,  di Jalan Pemuda No. 11 sampai dengan Gedung Yayasan Lembaga  Cornelis Chastelein (YLCC)  di Jalan Pemuda No. 72.

Di sepanjang jalan ini akan banyak kita temui bangunan-bangunan bersejarah atau rumah tinggal biasa dengan arsitektur bergaya art deco dan klasik, beberapa diantaranya seperti yang saya dan teman-teman kunjungi,  yaitu :

♠ Rumah Tinggal Presiden Depok

tampak depan rumah presiden depokAda rasa aneh ketika mendengar kata ‘Presiden Depok’;   bukankan Depok itu berada di antara Bogor dan Jakarta?   Apakah Depok itu menjadi  sebuah negara tersendiri di luar NKRI?’

Menurut penuturan,  adalah pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1871 yang memutuskan agar Depok mempunyai pemerintahan sendiri terlebih untuk mengurus hal-hal yang berhubungan dengan pengaturan tanah,  perpajakan,  pendanaan,  perkebunan,  fasum dan sarana penunjang lainnya serta memperbaiki peraturan-peraturan yang sudah dirintis pembuatannya sejak beberapa tahun sebelumnya dalam bentuk dokumen Riwayat Tanah Partikelir Depok demi terjaganya kesejahteraan masyarakat Depok.   Menurut saya kemungkinan dibuatnya keputusan yang luar biasa ini adalah pengaruh  besar dari seorang Cornelis Chastelein,  yang menguasai daerah yang begitu luas bahkan mencakup Batavia.

Tercatat ada 4 orang yang pernah menjabat sebagai Presiden Depok yang cara pemilihannya dulu dilakukan secara aklamasi di antara 12 marga kaum Depok;  dan presiden yang terakhir adalah Johannes Matijs Jonathans,  yang kami kunjungi rumahnya.

FB_IMG_1462224439530Rumah berhalaman luas yang sederhana yang apik dan bersih dengan ciri khas beranda tempat duduk-duduk santai dan daun pintu 2 lapis : bagian luar full kayu yang disusun membentuk kisi-kisi dan bagian dalamnya adalah daun pintu dengan frame kaca;  model pintu yang sama dengan pintu rumah nenek di Lampung,  yang  mengingatkan  saya betapa sulitnya membersihkan debu-debu yang menempel di balik kisi-kisinya itu.

♣ Gedung Gemeente Bestuur atau Gedung Kotapraja

geement beesturMerupakan gedung pusat pemerintahan  tempat Presiden Depok berkantor,  yang sekarang dipergunakan sebagai Rumah Sakit Harapan Depok,  dengan alamat  Jl. Pemuda No. 10;  jadi letaknya berseberangan dengan rumah Presiden Depok yang terakhir.  Hhmm….betapa nikmatnya ya,  kalau pergi kerja,  sang presiden langsung menyebrang jalan,   tidak  perlu pakai  vojrider yang nguing-nguing berisik  dan menghambat kelancaran jalan orang banyak 😀

Bentuk bangunan masih dipertahankan seperti aslinya,   hanya tugu yang berdiri di depan gedung,  yang awalnya tempat berdiri Tugu Peringatan Cornelis Chastelein,  saat ini sudah berganti bentuk karena pada sekitar tahun 1960-an tugu asli tersebut dirobohkan demi mendukung semangat Trikora.

♥ Gedung SDN Pancoran Mas 2

sdn pancoran masBerupa bangunan tua  dengan pintu dan jendela-jendala yang super besar yang masih dipertahankan sesuai aslinya karena dulu bangunan ini juga berupa sekolah untuk masyarakat Depok kebanyakan,  yang disebut sebagai Depoksche School.  Menurut cerita,  dulu para muridnya pergi ke sekolah tanpa bersepatu.

Gedung sekolah ini merupakan milik Yayasan  Lembaga Cornelis Chastelein yang disewakan kepada Pemerintah dan saat ini dipergunakan sebagai gedung Sekolah Dasar Negeri Pancoran Mas 2.

♦ Gereja GPIB Immanuel

tampak depan kiri gpib depokWaktu ‘mengurus’ exit permit untuk ke Depok,  suami saya bilang  : ‘jangan lupa foto gerejanya ya’.  No problemlah kalau cuma minta foto – demi ijin yang sudah keluar- tapi saya bertanya juga apakah gerejanya luar biasa bagus?

Pertanyaan yang baru terjawab saat saya tiba di sana. Gereja ini menjadi penting untuk dikunjungi bukan karena bagusnya tapi karena nilai historis yang dimiliki.   Awal mulai berdirinya tidak diketahui tahun berapa,  hanya disebutkan ‘setelah beberapa tahun kedatangan Cornelis Chastelein’  tapi pada tahun 1714,  gereja ini direnovasi karena pelapukan dan sempat hancur karena gempa pada tahun 1834.

Dua puluh tahun kemudian,  gereja ini kembali dibangun dengan hanya menyisakan sebuah prasasti yang merupakan peninggalan peringatan terhadap Cornelis Chastelein.

2016-05-12 17.07.42_resizedLalu nilai historis apa yang dimiliki? Selain sebagai  ’landmark’ penyebaran agama Kristen di Depok,    sepertinya semangat menghargai identitas leluhur yang mendasari kerja pemugaran gereja,  yang dilakukan secara menyeluruh pada tahun 1998,  jelas terlihat.  Hal ini tampak dari nama-nama yang terpatri pada daun pintu masuk gereja yang berjumlah 12 pintu :  6 pintu di sisi kiri dan 6 pintu di sisi kanan,  yang masing-masing daun pintu dituliskan masing-masing 12 marga kaoem Depok  sebagai penghormatan terhadap jemaat kristen pertama di Depok,  yang lebih dikenal sebagai Jemaat Masehi Depok.

Lonceng gereja GPIBKeunikan lainnya adalah lonceng gereja yang saat ini tergantung di dalam kanopi menara gereja;  lonceng yang merupakan benda donasi yang diberikan pada peringatan Cornelis Chastelein ke 216 pada tahun 1930.  Menurut data yang ada,  lonceng ini dibuat pada tahun 1677  di kota Daventer;  dan pada badan lonceng terukir kutipan ayat Alkitab,  Roma 8:31 dalam Bahasa Latin ’Si Deus Pronobis Quis Contra Nos ? – 1677 Rom 8:31.

Secara keseluruhan bagian dalam gereja tampak bersahaja dengan sentuhan arsitektur yang simpel,  tapi apabila diperhatikan banyak terdapat ’pernak-pernik’ unik di dalamnya.  Beberapa di antaranya bisa di lihat pada foto-foto di bawah ini.

♦ Gedung Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC)

Beberapa langkah dari pintu keluar GPIB ke arah kanan,  kita akan menemukan Gedung YLCC yang memang letaknya bersebelahan halaman dengan gereja.

gedung ylcc depokYayasan yang merupakan perkumpulan 12 marga kaoem Depok ini bertujuan untuk menghormati jasa-jasa dan memelihara peninggalan Cornelis Chastelein berupa lahan tanah dan bangunan yang dulu diwariskan kepada mereka serta memberikan pelayanan sosial pendidikan bagi para ahli waris,  sehingga cita-cita Cornelis Chastelein dulu agar masyarakat Depok hidup sejahtera,  setidaknya tetap bergema dan dirasakan minimal oleh para keturunan 12 marga kaoem Depok .

ruang depan gedung ylccGedung YLCC juga dapat dikatakan berfungsi sebagai museum kecil-kecilan yang memajang foto-foto,  prasasti,  lambang dan beberapa perabot seperti meja kursi,   yang semuanya bisa bercerita tentang sejarah Depok yang tidak bisa dilepaskan dari peran ketokohan Cornelis Chastelein.

Di samping itu,  pada bagian dinding ruang depan  terdapat daftar nama-nama pendeta yang pernah melayani di GPIB Immanuel  mulai dari tahun paling awal yaitu  1713 s/d tahun 1955.  Hal ini seperti ingin menyampaikan sebuah penghormatan dan juga menilai betapa pentingnya peran tokoh agama bagi keberlangsungan umatnya.

♣ Kerkhof – Kompleks Makam

makam cor de graafKompleks makam ini termasuk tempat yang dikunjungi karena keterkaitannya dengan kisah sejarah Depok dan pemakaman ini merupakan milik 12 marga kaoem Depok dan tempat peristirahatan terakhir bagi sanak keluarga mereka.   Lokasinya di luar daerah cagar budaya Depok.

Bila dilihat dari nama-nama yang terpatri pada batu nisan,  sudah banyak nama-nama lain di samping nama 12 marga kaoem Depok,  nama-nama lain tersebut merupakan sanak famili karena adanya hubungan pernikahan.

Pada makam yang cukup padat dan berhimpit-himpitan ini,  terdapat beberapa makam tokoh penting dan juga makam keluarga presiden Depok yang tampaknya kurang terpelihara dengan memadai.

kompleks makam 12 marga kaoem depokDari bentuk makam dan nisan yang ada,  dapat disimpulkan bahwa pemakaman ini sudah ada lebih dari seratus tahun karena  ada beberapa makam dibangun dengan bentuk yang kokoh dan besar layaknya makam jaman dahulu kala dan lainnya adalah makam kebanyakan model jaman sekarang yang bertebaran tanpa pengaturan yang baik.

BONUS   :  SEKILAS INFO

♥ Belanda Depok

Suka mendengarkan julukan ‘Belanda Depok’?  yang terbayang kalau  mendengar ungkapan ini adalah seorang indo hasil kawin campur antara orang Belanda dengan orang Depok.  Tapi kenyataannya,  julukan ini ditujukan kepada 100% asli orang Depok,  yang memilih pindah  dan menjadi warga negara Belanda saat Belanda mengakui kedaulatan Indonesia  dan atau orang Depok yang masih tinggal di Depok tapi sehari-hari fasih berbicara bahasa Belanda.

Almarhum orang tua saya yang karena mendapat pendidikan Belanda,   juga sehari-hari fasih berbahasa Belanda,  kalau dulu mereka tinggal di Depok,  jangan-jangan saya bisa dapat julukan Belanda Depok hahaha….

♥ Asal Muasal Nama Margo City

margo city complexMargo City,  sebuah pusat perbelanjaan besar dan megah yang terletak di Jln. Margonda Raya,  Depok.  Bisa ditebak bahwa kata Margo di sini diambil dari nama jalannya. Tetapi tahu kah kamu kalau Margonda itu nama seorang pahlawan?

Ia seorang pemuda yang pernah mendapat pelatihan sebagai penerbang cadangan dan bergabung dengan para pejuang melawan Belanda  dan gugur sebagai pahlawan Angkatan Muda Republik Indonesia.

♥ Makanan Unik khas Belanda Depok

2016-05-12 17.36.43_resizedUntuk kamu yang punya lidah bercita rasa bule,  kamu wajib ke Depok dan mencicipi masakan yang dihidangkan dengan penuh cinta oleh Tante Thea,  seorang keturunan dari 12 marga kaoem Depok,  Jonathans.

Di rumah Tante Thea yang berlokasi di Jalan Sumur Batu No. 10 Depok,  kamu akan disuguhi jenis-jenis makanan enak,  lezat,  yummy,  maknyus dan sejenisnya itu,   seperti :  Frikadel Bakar,  Huzaren Sla, Bruinen Bonen Soup,  Ikan Pindang Kenari.  Di sini juga kamu bisa bawa pulang – tapi pakai bayar ya-   macaroni panggang dan klapper tart yang enak banget ! 😀

♥ Ke Depok :  Mudah,  Murah dan Meriah

20160430_153046aHikmah mengikuti tour Jelajah Depok bersama Komunitas Love Our Heritage adalah bisa mengenal sedikit apa,  siapa dan bagaimana  Depok itu dan juga  cara mengunjunginya dengan mudah.

Pengalaman naik KRL dari Serpong ke Depok dengan harga tiket kereta Rp. 7.000,- bahkan hanya Rp. 2.000,- kalau kamu berangkat dari stasiun Tanah Abang Jakarta,  dengan fasilitas kereta yang bersih, nyaman dari ber A/C super dingin,   membuat kunjungan wisata ke Depok merupakan kunjungan yang mudah, murah dan meriah !

Yuk ke Depok ….naik kereta api ! Tut….tut…tut 😀

Salam!

* Maureen T. Rustandi

Note :   Terima kasih kepada team Komunistas Love Our Heritage,  Mas Adjie Hadipriawan,  juga kepada Oom Yano Jonathans yang telah banyak bercerita tentang Depok,  baik secara langsung maupun cerita lewat buku : ‘Potret Kehidupan Sosial & Budaya Masyarakat Depok Tempo Doeloe’.

Terima kasih juga kepada teman-teman dan fotografer andalan yang banyak memberikan foto-fotonya :  Erika Sianturi,   Margaretha Sazzcha, Rita,   Noverly Liem dan Budi Wongso.  Yuk nikmati sebagian di sini :)

legs togethernes

Kebersamaan di atas keramik vintage @The Old House

sudut jalan kota depok

Salah satu sudut kota Depok : kabel telpon dan PLN saling salib

jembatan baru depok

Jembatan baru pengganti Jembatan Panus : sungai Ciliwung mengalir di bawahnya

diatas jembatan panus

Foto seru di atas Jembatan Panus

 

 

 

 

 

 

 

 

 

buah atap

Pohon buah atap : inget kebon Engkong dulu ada pohon ini.

Keliling Depok naik bus

Wajah2 gembira peserta Jelajah Depok

beranda rumah presiden depok

7 orang buta dengan 1 pemandu 😀 @ Beranda rumah presiden Depok

Foto bareng cucu presiden depok

Bersama cucu presiden Depok dan Mas Adjie @ teras rumah presiden Depok

rumah tua depok

Rumah tua yang tampak terpelihara dengan baik dan beralih fungsi sebagai resto

salah satu rumah tua depok

Asri, sederhana dan bersahaja : missing the old days in my hometown, suasananya mirip

didepan gereja gpib depok

Foto bareng Oom Yano di depan GPIB Immanuel

lampu unik gereja gpib depok

Tangkai unik lampu dinding @ GPIB Immanuel

kaca patri

Window glass cantik @GPIB Immanuel

1 keping keramik bata Depok : kokoh, besar dan beraaattt

1 keping keramik bata Depok : kokoh, besar dan beraaattt

 

 

 

Foto bareng Tante Thea

Foto bareng Tante Thea @de indo keuken

Cinta Yang Tertinggal di Budapest

April 29, 2016 by Maureen T. Rustandi

Selembar foto dari sebuah bangunan klasik yang terletak diketinggian bukit mampir menyapa pandangan saya secara tidak sengaja saat saya mencari informasi di Google…..’woww cantik sekali !’ ‘Suatu saat mau saya datangi…..’  demikian suara hati berbisik.

Enam bulan kemudian,  dipenghujung tahun 2014  saat musim salju,  kesempatan berkunjung itu datang…..dan lengkap bersama keluarga ! Horeee….. Budapest, I’m coming ! 😀

Pada tanggal 28 Desember,  dengan berkereta kami tiba di stasiun Budapest Keleti jam 9:53 ;  perjalanan selama 2,5 jam yang penuh salju kami nikmati dari sejak meninggalkan Wien Hbf,  Austria pukul 7:12.

IMG_1670

A lonely chair

IMG_1694

Hamparan salju sepanjang perjalanan

IMG_1717

Info jam tiba di Stasiun Keleti

Stasiun kereta Budapest Keleti seperti layaknya stasiun kereta api tua dengan bentuk bangunan kuno bergaya ekletik,  lengkap dengan pilar-pilar pintu yang tinggi dan anggun.   Menurut informasi,  stasiun ini dibangun pada tahun 1840-an dan merupakan salah satu stasiun modern di Eropa saat itu;  dan dari sinilah petualangan liburan saya dan keluarga di kota Budapest dimulai…… yihaaa ! 😀

IMG_0078

Keleti : Stasiun Kereta Api di Budapest

* Info mengenai tarif dan jadwal kereta dari stasiun ini bisa kamu klik di sini.

Buda Castle Complex

Karena kami tiba di hotel lebih awal dan belum bisa check-in,  maka setelah menitipkan koper-koper,  kami segera memutuskan untuk mengunjungi Buda Castle yang gambar cantiknya menjadi pemicu alam bawah sadar  saya untuk berkunjung ke Budapest.

Buda Castle terletak di daerah ketinggian dan merupakan pusat pariwisata Budapest,   dapat dicapai dengan menggunakan transportasi bus yang selalu padat penumpang;   maka saat itu pun kamipun ikut berjejal-jejalan di bus yang berjalan di bawah rintik-rintik salju.  Terus terang saat itu saya teringat akan bus PPD  di Jakarta yang sama padatnya,  tapi beda aromanya 😉

Setelah melewati jembatan Szechenyi,  lebih dikenal sebagai Chain Bridge yang menghubungkan antara sisi barat kota,  yaitu Buda dan sisi timur kota,  yaitu Pest,  di mana diantara kedua kota itu terpisahkan oleh aliran sungai Danube,   maka kami tiba di kaki Buda Castle.

IMG_0114a

Chain Bridge di atas sungai Danube yang menghubungkan kota Buda dan Pest.

Memandang dari arah bawah pada pagi yang berselimut kabut,  kami  masih bisa menangkap keindahan alami bangunan tersebut yang membuat kami bergegas untuk mencapainya.  Tetapi melihat antrian pengunjung yang begitu panjang untuk menumpang kereta naik ke atas,   maka kami memutuskan untuk menyusuri jalan setapak yang diselimuti salju.  Keputusan yang tidak kami sesali karena pada setiap belokan jalan setapak tersebut,   kami bisa memandang ke bawah ke arah sisi timur kota dan melihat bangunan yang berjejer indah menghadap sungai Danube lengkap dengan keanggunan Chain Bridge yang berdiri di depan dan cuaca yang berkabut saat itu menyempurnakan suasana kota Budapest menjadi lebih sacred beautiful.

IMG_0095a

Antrian panjang untuk naik kereta ke Buda Castle

Jalan tangga mendaki menuju Buda Castle

Jalan tangga mendaki menuju Buda Castle

Buda Castle dulu dikenal sebagai Royal Castle yaitu kompleks istana para raja Hungaria yang didirikan pada tahun 1265 dengan bangunan bergaya baroque juga sentuhan gothic.   Pada tahun 1987,  Buda Castle tercatat sebagai Heritage World Site.

Tampak depan Buda Castle

Tampak depan Buda Castle

IMG_0135

Halaman depan Buda Castle

Hamparan salju di halaman depan Buda Castle

Hamparan salju di halaman depan Buda Castle

Di bagian belakang kompleks kastil kita bisa melihat pemandangan cantik kota Budapest sebelah Barat.

Memandang hamparan kota Budapest

Memandang hamparan kota Budapest

IMG_0159

Tampak belakang Buda Castle

IMG_1809

Sisi bagian belakang kompleks Buda Castle

* untuk info lebih detail mengenai Buda Castle dapat di lihat di sini

St. Mathias Church

Udara dingin lebih menerpa setiba kami di pelataran kastil sehingga satu-satunya kedai kopi yang terletak di sisi kiri pagar halaman menjadi sasaran para pengunjung,  termasuk kami.   Secangkir kopi panas dalam genggaman itulah yang menemani kami berjalan mengeliling kompleks kastil yang demikian luas,  yang kemudian membawa kami berjalan menuju St. Mathias Church,   yang awal pada tahun berdirinya bernama ‘The Church of Virgin Mary’;   gereja ini  merupakan ‘jantung’ dari kompleks Buda Castle.

IMG_0210

St. Mathias Church

IMG_0177

Interior anggun Gereja St. Mathias

Kami menghabiskan waktu agak lama di St. Mathias Church karena setelah selesai berdoa,  kami menyempatkan berkunjung ke ruangan khusus di mana terdapat patung Black Madonna dan kami juga ikut baris mengantri tertib bersama pengunjung lainnya menuju museum seni, The Ecclesiastical yang terletak di lantai atas gereja untuk melihat berbagai benda-benda suci yang berkaitan dengan sejarah gereja.  Di samping itu kami juga berlama-lama  di sini dengan maksud untuk menghangatkan badan 😉

IMG_0199

Patung Black Madonna @Gereja St. Mathias

Berbeda dengan kebanyakan gereja di Eropa Barat yang membebaskan pengunjung untuk masuk tanpa bayar,  maka untuk masuk ke St. Mathias,  pengunjung wajib membeli tiket walaupun tidak ingin mengunjungi museumnya.

*Info mengenai St. Mathias Church klik di sini

Fisherman Bastion Terrace

Energi yang terkumpul di St. Matthias Church akhirnya kami luapkan kembali dengan mengunjungi Fisherman Bastion yang seluruh areanya tebal berselimutkan salju dan dari sinilah kami kembali dengan leluasa memandang ke arah timur,  yaitu ke arah kota Pest.

Fisherman Bastion adalah berupa teras dengan ciri khas bangunan bergaya neo gothic dan neo romanesque,  lengkap dengan 7 menara yang tingginya bervariasi.  Dari teras yang terletak di perbukitan sekompleks dengan Buda Castle ini,  pengunjung dapat mereguk keindahan kota Budapest secara menyeluruh.   Sulung saya mengingatkan untuk tidak tergesa-gesa meninggalkan teras ini minimal sampai lampu dari gedung-gedung yang di seberang sana menyala.  Demi menerima usulan tersebut,  maka sayapun bertahan di hamparan teras Fisherman Bastion dengan suhu mendekati nol derajat Celcius.

Fisherman Bastion

Fisherman Bastion

Tidak lama kemudian…..voilaaaa……lampu sebuah gedung mulai menyala dan diikuti oleh beberapa gedung lainnya dan tampaklah pemandangan yang sangat indah…..di bawah langit biru yang kelabu jingga tampak dikejauhan di seberang sungai yang membentang tenang…bangunan2  indah elok mulai menebarkan pesona yang serta merta merampas cintaku.   Oh…Budapest !

IMG_0240

Hungarian Parliament Building : cantik !

IMG_0238

Pamer kecantikan kota

Dalam sekejap teras Fisherman Bastion dipenuhi  pengunjung yang berebut tempat strategis untuk mengabadikan keindahan ini.  Kami mencari-cari kesempatan untuk menemukan seseorang yang dapat dimintai tolong untuk memotret kami berempat dan kami cukup beruntung menemukan  seorang Korea yang ramah menolong kami (walaupun hasilnya kurang memuaskan,  tapi cukuplah).   Dua  fotonya ada di sini :)

IMG_0230

Latar belakang kota Pest yang cantik

IMG_0229

Gereja St. Mathias juga mulai berkilauan !

Hanya gelap malam yang turun lebih cepat sajalah yang membuat kami harus meninggalkan teras Fisherman Bastion,  mata dan hati kami terpaksa harus sudah cukup dipuaskan.

Dengan tujuan mendatangi salah satu bangunan indah bercahaya yang kami lihat jelas dari teras Fisherman’s Bastion,  maka kami berjalan kaki menyusuri sisi Chain Bridge dan sebelum menyeberang jalan,  sekali lagi saya menengok ke belakang dan ……….. tampilan Buda Castle yang benderang cantik, sama persis dengan foto yang saya temukan di Google,   menyergap mata dan membuat hati jadi lebih kasmaran

IMG_0248

Buda Castle + Chain Bridge : keanggunan yang menyihir

Danube Promenade

Untuk mencapai Hungarian Parliament Building yang kami tuju,   kami melewati jalur pedestrian di sisi sungai Danube,   yang dikenal sebagai Danube Promenade di mana terdapat monumen memorial berupa jejeran sepatu-sepatu yang disusun tepat di bibir sungai Danube.

IMG_0275

Shoes on Danube Promenade

Monumen ini dikenal sebagai Shoes on the Danube Bank,  dibuat tahun 2005 untuk mengenang para korban pembantaian (holocaust) yang terjadi antara tahun 1944 – 1945.  Para korban umumnya adalah orang-orang Yahudi Hongaria, yang dieksekusi dengan cara ditembak setelah mereka berdiri berjejer menghadap sungai Danube dengan bertelanjang kaki.  Sepatu-sepatu mereka diambil karena pada saat itu sepatu merupakan benda berharga.  Total ada 60 pasang replika sepatu gaya tahun 1940 yang dibuat dari besi oleh pematung Hungaria, Gyula Pauer dan Can Togay.

Duduk sejenak di sini,   memandang deretan sepatu-sepatu dan sesekali melihat keanggunan Chain Bridge dan Buda Castle dikejauhan,  membuat hati bercampur rasa antara perih,  sedih,  terhibur dan berpengharapan bahwa sejarah kelam mestinyatelah berlalu dan masa depan harusnya akan lebih baik sejalan dengan kemajuan cara berpikir yang lebih plural dan memandang perbedaan sebagai hal yang melengkapi untuk  memperkaya pengetahuan dan budaya manusia demi kemuliaan Sang Pencipta.

IMG_0252

View dari Danube Promenade

IMG_0288

Hungarian Parliament Building dari sisi belakang

Jam baru menunjukan pukul 5 sore ketika kami tiba di Hungarian Parliament Building tapi gelap yang pekat membuat suasana sudah seperti jam 10 malam,   membuat kami jadi tambah tergesa-gesa;   setelah dikejar rasa dingin,  sekarang kami dikejar gelap !  Hhhm…. memang ‘rugi’  jalan-jalan di Eropa yang langit malamnya datang lebih cepat,    coba bandingkan dengan waktu di Selandia Baru,    di mana pukul 10 malam langit masih terang seperti pukul 4 sore …kan jadi bisa lebih lama kelayapan 😀

Menikmati Budapest di Malam Hari

Maksud hati ingin mengikuti misa hari Minggu mengingat tanggal kami tiba di Budapest adalah tanggal 28 Desember yang jatuh pada hari Minggu,  maka setelah mandi (ini kebiasaan orang Indonesia,  sedingin apapun harus tetap mandi) kami bergegas menuju gereja Katolik dengan harapan bisa mengikuti misa walaupun sedikit terlambat.  Tapi sayangnya saat kami tiba,  misa  sudah menjelang selesai.  Apa hendak dikata ya ….turis tanpa informasi seperti orang buta tanpa tongkat 😉

Akhirnya kami memutuskan untuk menikmati sedikit sisi kota Budapest dengan menyusuri daerah pertokoan yang kebanyakan toko-tokonya sudah tutup hanya tersisa beberapa restoran yang buka,  padahal saat itu masih jam 7 malam.   Akhirnya kami memutuskan untuk makan malam di sebuah restoran yang menyajikan menu lokal Budapest seperti gulas,  paprika powder dan beberapa lainnya yang lupa dicatat secara manual.

Sayangnya  foto-foto dan catatan dari makanan tersebut tersimpan di handphone,   yang pada malam terakhir kami di Eropa,  handphone tersebut digondol copet kota Roma.  Hiks….hiks….

Santai di trotoar pertokoan

Santai di trotoar pertokoan

Gedung Opera Budapest

Gedung Opera Budapest : Foldalatti

Setelah perut terisi,  kami melanjutkan berkeliling sehingga akhirnya tiba di Gedung Opera Budapest, yang saat itu sedang tidak ada pementasan.   Setelah puas berfoto di dalam gedung opera,  kami melanjutkan JJM ini dengan kereta menuju kota tua Budapest di mana di sana terdapat Gereja Katedral,   Basilika St. Stephen.   Setiba di sana,  gereja dalam keadaan tertutup dan kios-kios pasar malam natal yang banyak terhampar di halaman basilika juga sudah tutup.  Tetapi walaupun keadaan sudah tutup,  pengunjung tetap bisa menikmati cantiknya dekorasi lampu-lampu hias yang dipasang seolah melayang di udara dan membayangi suasana syahdu damai kelahiran bayi Yesus lewat kandang Natal.

Didepan Gedung Opera Budapest

Didepan Gedung Opera

IMG_0308

Lobby Gedung Opera

Christmas market yang sudah tutup

Christmas market yang sudah tutup

Tampak depan Gereja Katedral St. Stephen

Tampak depan Gereja Katedral St. Stephen

Foto wajib!

Foto wajib di depan Basilika St. Stephen

Kembali dari St. Stephen,  kami berjalan kaki menuju ke hotel menyusuri lorong-lorong jalan pertokoan yang diterangi  lampu berpendar kuning sambil menikmati dekor etalase cantik unik toko-toko yang dilewati.    Perjalanan pulang dengan berjalan kaki ini memberi waktu yang cukup buat kami menikmati  dinginnya Budapest :  cukup -3 derajat Celcius saja 😉    Sempurna untuk membuat cinta menjadi lebih membeku abadi :)   Koq jadi inget kisah cinta Edward Cullen dan Bella Swan ya ?  #ngganyambungdeh 😀

IMG_0346

Dingin yang sempurna

Berikut  bonus foto-foto yang  menjadi alasan kenapa  saya meninggalkan sepotong cinta di Budapest ♥♥♥

IMG_0087a

Pohon natal unik yang disusun dari gelondongan kayu

IMG_1754

This is the real winter

IMG_1753

The city wheel

IMG_0081

Pest city corner

IMG_0107

My two lions …..roar !

IMG_1789

Cruise on Danube river

IMG_1828

Sulaman2 cantik bikin emak-emak histeris

IMG_0239

St. Mathias Church dan Fisherman Bastion Terrace  yang berkilau

IMG_0284

Keanggunan Buda Castle ….never die !

IMG_0266

Danube Promenade : asyik utk JJM

IMG_0260

Cahaya mengapung di atas sungai Danube

IMG_0345

Hhmm…ada gembok cinta juga di Budapest

Note : Untuk semua teman yang sempat membaca tulisan ini,  saya doakan suatu saat kamu dapat berkunjung/berkunjung kembali ke Budapest dan  saya mau titip  untuk mencari apakah gembok cinta saya masih ada di sana 😉

Cerita ini saya tulis pada bulan Februari 2015,  sempat terlupakan…..dan ketika cinta akan Budapest bergema kembali,   saya mempostingnya hari ini :)   Enjoy !

Luv,

* Maureen T. Rustandi

 

 

 

Penyakit Kritis

April 9, 2016 by Maureen T. Rustandi

Dua kata ini mestinya sering kita dengar bukan dari mulut seorang dokter,  tapi dari mulut para agen asuransi,  yang menurut saya mereka menawarkan produk kepada orang sehat dengan ‘iming-iming’ penyakit kritis.  Walaupun iming-iming di sini bertujuan baik karena berupa perlindungan atas resiko,  tapi tak ayal kata ‘penyakit kritis’ yang sering diucapkan pada saat presentasi produk,  kadang membuat perasaan hati yang mendengar tidak nyaman.

Sayangnya dalam tulisan ini saya tidak membahas perihal penyakit kritis seperti yang tertera pada daftar panjang penyakit yang katanya ada 100 jenis itu,   tetapi ‘ penyakit kritis’ yang saya mau tulis adalah ‘sesuatu’  yang ada di pikiran  yang kita refleksikan dalam bentuk  ucapan dan perilaku kita.

6-minimize-posiBeberapa tahun silam saya pernah mengikuti sesi pelatihan kekuatan pikiran yang diselenggarakan oleh Mahadibya Nurcahyo Chakrasana pimpinan Mas Nurcahyo Adi Kusumo.  Di salah satu sesi,  beliau pernah berujar pentingnya untuk kita selalu menyadari dahsyatnya kekuatan pikiran yang kita miliki,  karena kekuatan pikiran itu sama dengan kekuatan doa.  ‘Jadi hati-hati, bila anda berfikir (negatif) tentang penyakit kanker dan menjadi kuatir karenanya,  maka dalam waktu 3 bulan, penyakit itu sudah ada di tubuh anda.’ #serem

Kemudian beliau menyarankan bila mendengar atau menghadapi sesuatu yang buruk,  sikap yang harus kita ambil adalah sikap waspada yang lebih bersifat positif dibanding dengan sikap kuatir yang bersifat negatif.

Kekuatiran yang terus menerus dan menjadi kecemasan yang berlebih-lebihan sudah merupakan buah dari pikiran negatif yang membelenggu dan yang akan menuntun langkah pikiran ke arah pernyataan dan tindakan yang aneh, tanpa alasan,  berlebihan,  sulit dimengerti dan mengacaukan.  Nah, bila sudah seperti ini,  maka orang lain akan dengan mudah memberi predikat kepada kita sebagai orang yang negatif,  yang sebaiknya dihindari saja.  ‘ Daripada gue ketularan jadi negatif’,  demikian sering kita dengar seseorang berucap.

Duh…kalau sudah seperti itu,  kesannya kita dengan pikiran negatif yang ada,  sudah dianggap  seperti salah satu  jenis penyakit menular dan teman-teman akan mengambil jarak untuk tidak mempunyai urusan dengan segala keanehan ‘penyakit’ kita.  Inilah sebenarnya penyakit kritis yang kita idap;   kita dengan pikiran-pikiran negatif yang berbahaya dan membahayakan  diri kita dan juga orang lain.   Mau punya penyakit kritis seperti ini ?

Bila kita biarkan,  saya kuatir  dampak yang ditimbulkan bisa menjadi  lebih buruk;   karena begitu kuatnya pikiran negatif membelenggu dan tidak adanya teman yang mau mendekat atau mendengarkan kita,  bukan tidak mungkin penyakit kritis jenis ini akan membawa kita menjadi pasien dokter jiwa. #lebihserem

Apa yang harus kita perbuat untuk menepis segala unsur negatif yang kemungkinan akan betah menetap di pikiran kita ?  Menurut saya tidak ada cara lain,  selain untuk terus mengupayakan agar kita fokus mempunyai dan memelihara pikiran positif dengan cara memandang sesuatu hal terjadi karena ada hikmahnya,   sesuatu hal terjadi karena suatu alasan baik dan memahami bahwa kita hidup hanya menjalani rencana Tuhan;  setelah mengerjakan segala sesuatu yang menjadi bagian kita,  maka janganlah menuntut hasil berlebih-lebihan,  tapi bersyukurlah!

powerofpositivethinkingKembali kepada penawaran oleh para agen asuransi yang selalu menggunakan kata penyakit kritis sebagai ‘marketing tools’,   mari kita belajar untuk menghadapinya bukan dengan rasa cemas dan takut seperti akan kena teror penyakit A,   penyakit B,  penyakit C, D, E dan lain sebagainya,  tetapi hadapilah dengan waspada.   Bila kamu merasa perlu dan mampu,  teliti dan belilah produknya.      Untuk kamu yang sementara ini merasa gamang,  bingung antara perlu tidak perlu atau belum mampu membeli produknya,  ingatlah untuk tetap menjaga pikiran positifmu bahwa kamu akan sehat dan baik-baik saja.

Tanamkanlah hal ini pada pikiran yang akan menuntunmu melakukan hal-hal yang positif, -termasuk menjalankan pola hidup sehat-, dan setelah itu bersyukurlah atas segala hikmat hidupmu sehingga kamu bisa selalu gembira.   Ingat,  hati yang gembira adalah obat yang paling mujarab ! ♥♥♥

#nopikirannegatif #saynotopenyakitkritis #bersyukur

*Maureen T. Rustandi

Who Am I Really ?

March 25, 2016 by Maureen T. Rustandi

Sering dalam sesi wawancara kerja, kepada kita diajukan pertanyaan sebagai berikut : gambarkan dirimu minimal dalam 5 kata; maka dengan segeralah kita menuliskan kata-kata yang menurut kita paling mewakili diri kita seperti : rajin, dapat dipercaya, teliti, rapih, disiplin, bertanggung jawab, ramah, suka menolong dan lain sebagainya.   Umumnya semua kata yang bernilai positif mau kita tuliskan agar meyakinkan bahwa kita adalah pribadi yang baik dan kadang hal ini membuat kita menjadi lebih percaya diri.

Tetapi selain sifat-sifat positif yang ada pada masing-masing pribadi kita, pernahkah kita sadari bahwa ada juga sifat-sifat negatif yang enggan kita akui dan biasanya yang negatif-negatif ini menjadi bagian dari penilaian orang lain terhadap kita dan kalau mendengarnya, kita menjadi tidak nyaman dan bisa bikin baper. Bener nggak begitu ? coba introspeksi deh 😉

Adakah di antara kita menyadari dan berani mendeskripsikan diri dengan menuliskan hal-hal yang negatif tentang diri kita ? Pernah saya temui jawaban dari seorang calon pekerja pada sesi wawancara saat saya meminta dia menyebutkan sifat-safat jelek yang dimiliki,   jawabannya adalah : ‘saya perfeksionis, ambisius, gila kerja….’   Woow, jawaban yang sangat standar yang mungkin hasil nyontek dari sebuah buku teori bagaimana menjalani wawancara kerja yang berhasil.

who am I ?

who am I ?

Sebenarnya pada saat melontarkan pertanyaan itu, saya berharap ada sedikit keberanian dari calon pekerja untuk menampilkan sisi yang paling manusiawi dari dirinya yaitu ‘sifat-sifat yang kurang baik’ misalnya dengan memberi jawaban : saya kurang sabar,   saya mudah marah, saya suka iri hati atau saya terlalu rakus dan lain-lainnya.   Sayangnya, setelah sekian lama mewawancarai banyak calon pekerja, saya belum pernah mendapatkan jawaban yang seperti ini atau mirip-mirip seperti ini.

Mengapa ? Pertanyaan yang saya coba untuk menjawabnya sendiri setelah saya mendapat sedikit ‘pencerahan’ 😉

Seperti yang sudah saya tulis di alinea kedua di atas, bahwa sifat-sifat jelek yang kita miliki umumnya kita ketahui dari orang lain dan biasanya jarang sekali kita mau dengan lapang hati menerima pendapat/masukan yang kurang menyenangkan, karena pada dasarnya kita begitu berat mengakui sifat-sifat buruk kita yang mungkin sudah kita ketahui dan sebaliknya kita asyik membicarakan keburukan orang lain;   seperti pepatah mengatakan ‘semut di seberang laut tampak, gajah dipelupuk mata tak tampak’. Hal ini terjadi pada diri saya dan untungnya saya punya sahabat baik yang mengingatkan saya akan hal ini, ini pencerahan yang saya maksudkan.

Jadi mestinya kita berterima kasih kepada suara-suara yang menyatakan kenegatifan kita karena kenyataannya mereka telah membantu kita untuk menyadari bahwa selain sifat-sifat baik yang kita miliki, kita juga punya sifat-sifat buruk. Hal yang sangat manusiawi karena kenyataannya tidak ada manusia yang sempurna. Dengan bisa menyadari bahkan bisa mengakui sifat-sifat buruk yang ada, kita diharapkan bisa lebih waspada untuk tidak terseret lebih jauh, dalam arti membiarkan sifat-sifat buruk kita berkembang sehingga merugikan nilai-nilai spiritual yang mau atau sedang kita bangun.

Untuk menghindari ketidaknyamanan hati,  baiknya  kita selalu berusaha untuk mengingat  sifat-sifat buruk yang biasanya keluar dalam bentuk perilaku/kata-kata kasar, akan  menyakiti orang lain dan pada saat terlambat menyadarinya,  kita seperti sudah terperosok.  Tanpa mampu menahannya maka segala sifat buruk kita akan merajalela karena untuk menjadi sombong atau irihati (misalnya) tidak perlu kita pelajari atau kita latih,  karena itu semua merupakan kecenderungan manusia melakukannya dengan instan bahkan kadang tanpa disadari.   Ngga percaya ? Coba deh secara jujur teliti kembali reaksi spontan alamiah hati  kita dalam sepersekian detik,  saat kita melihat sesuatu atau seseorang yang ‘melebihi’ kita.

Yuk mulai melakukan ‘perjalanan memeriksa batin’ untuk lebih berani mengenal ‘who am I really’ sehingga kita lebih bisa menahan, memahami atau bahkan mengendalikan segala perilaku kecenderungan sifat-sifat buruk -yang walaupun munculnya cuma sepersekian detik, tapi kalau dibiarkan tidak terarah bisa jadi sangat merusak-; di samping itu dengan memeriksa batin,   tentunya kita diharapkan lebih bisa memupuk, mengembangkan dan memaksimalkan semua sifat-sifat baik kita untuk kematangan pribadi dan spiritual kita demi pemanfaatannya bagi orang banyak.

Sehingga nanti …..  suatu saat pada kesempatan wawancara,   saya mendapatkan jawaban hal-hal yang negatif  seperti ini : ‘saya kurang sabar kalau rekan kerja saya lamban’,   ‘saya akan marah kalau pekerjaan tidak diselesaikan dengan baik ‘, ‘saya akan iri hati kepada team yang lebih berhasil’ atau ‘saya rakus akan pujian maka saya akan bekerja baik’,    maka  saya tahu  rekomendasi apa yang harus saya tuliskan pada lembar penilaian.

#beraniberprosesmenjadilebihbaik

Selamat berakhir pekan….teman !  Salam !😊

*Maureen T. Rustandi