‘Suara’ Di Balik (Hashtag) #dirumahaja

April 15, 2020 by Maureen T. Rustandi
Virus Corona

Saya bersyukur,  sungguh sangat bersyukur bisa ikut mengalami masa pandemi virus corona yang sedang terjadi saat ini.   Virus yang ‘menyerang’ manusia di seluruh dunia  sejak akhir Januari 2020 telah memaksa semua pemimpin negara mengambil tindakan penyelamatan untuk masing-masing rakyatnya.

Di Indonesia,  serangan virus sepertinya datang terlambat dan kita sempat pongah menganggap  kita kebal corona, seperti halnya kita kebal SARS,  beberapa belas tahun yang lalu dan itu menjadikan kita seperti sedikit terlena.

Tapi sejak pemerintah mengumumkan ada penderita corona di Indonesia  pada awal Maret 2020,  penularannya sudah tidak terbendung lagi sehingga mengharuskan pemerintah mengambil langkah-langkah pencegahan dengan mewajibkan masyarakat untuk #dirumahaja.   Bekerja dari rumah,  belajar dari rumah,  beribadah dari rumah,  belanja dari rumah,  hangout dari rumah; ya,  semua kegiatan diupayakan dari rumah sebisa mungkin. 

Sampai saya menulis ini, ‘gerakan’ #dirumahaja sudah berjalan  lebih kurang 1 (satu) bulan.   Saya yang memang pada akhir tahun 2019 memutuskan untuk berhenti ngantor dan saat virus mulai merebak di Wuhan, China,  saya masih sangat menikmati hari-hari di rumah,  menyusun jadwal perjalanan/itin liburan, beberes ruangan demi ruangan,  menikmati bangun lebih siang,  menikmati jalan pagi keliling kompleks perumahan,  menikmati kelas yoga,  semangat ikut kursus kitab suci,  membuat jadwal baca buku,  ikut kursus online,   berencana merealisasikan usaha ini itu  dan tentu saja menikmati kumpul-kumpul dengan berbagai teman di hari-hari kerja.

Tetapi total  #dirumahaja hampir 1 (satu) bulan dengan #socialdistancing atau #physicaldistancing yang bagi saya wajib dijalani,  benar-benar mengingatkan saya kepada ungkapan bahwa manusia memang hanya pandai berencana. Begitu banyak kegiatan,  yang saya rancang untuk mengisi waktu luang,  ternyata harus berhenti/ditunda.  Rencana liburan ke Balkan tinggal kenangan yang tidak menarik lagi, kelas yoga berhenti,  kursus kitab suci ditunda,  jalan pagi hanya sebatas muter-muter depan rumah,  janji makan siang hanya tinggal janji,  rencana usaha masih tetap sebagai wacana.  Saya tidak tahu apakah semuanya nanti masih bisa direalisasikan setelah corona berlalu ? Situasi dan kondisi pasti sudah berbeda, dan yang pasti saat ini saya merasa ada ‘kenikmatan’ lain.

Kegiatan rutin,  seperti  ke supermarket, belanja ke tukang sayur,   order go-food,  ke salon bahkan ketemu tetangga,  semua berubah;  semuanya dilakukan dengan dibayangi perasaan parno.  Hampir tidak ada lagi tegur sapa  yang berkepanjangan,  hanya lambaian tangan jarak jauh atau bicara seperlunya dibalik masker dan  kalau bisa tidak bertemu,  rasanya lebih baik. Akhirnya situasi memang mengharuskan saya #dirumahaja,  dan ini benar-benar ‘kenikmatan’ lain itu, yang tidak pernah terbayang sebelumnya. Mengikuti misa dan rangkaian doa novena secara streaming, menitikkan air mata saat pertama kali mengucap doa Komuni Batin, dan mencoba mengisi waktu yang lebih longgar dengan kursus online design template, belajar memasak (benar-benar belajar lho buat makanan ini itu untuk pertama kalinya – seruuuu !), tetiba jadi reseller sebuah produk dan jualan online, punya waktu untuk membaca/menulis dan berkebun di samping asyik juga menyelesaikan episode Madam Secretary yang keren itu, serta keseruan nonton bareng anak dan suami berupa filem2 jadul jaman Ben Afleck,  Alex Baldwin,  Harrison Ford masih kinclong dan ganteng abis 😀

Note : Kamu yang hobby nonton pasti tahu ini cerita detektif karangan siapa. 😉

#dirumahaja dengan pakaian ‘kebesaran’ yang nyaman berupa t-shirt dan celana pendek, tidak perlu make up,  cukup pakai pelembab wajah,  lebih banyak bersandal jepit,  bila keluar sebentar cukup bawa tote bag kain karena bisa sekalian untuk bawa barang  yang mungkin dibeli mendadak,  rambut yang untungnya sudah dipotong pendek,  sekarang lebih ber ‘warna warni’,  jingga, coklat,  hitam dan uban nongol merebak 😉

Suatu waktu saat memandang cermin,  saya bersuara kepada pantulan wajah di sana :  ‘kamu tahu sepanjang hidupmu,  selalu ada rencana baik Tuhan dibalik semua kejadian, tapi saat ini rencana Tuhan yang dahsyat sedang direalisasikan terhadapmu dibalik (hashtag) #dirumahaja.  DIA yang dari tahun 2019 sudah ‘mengatur’mu untuk berhenti bekerja,  saat ini sedang memintamu untuk lebih bersyukur, untuk memikirkan ulang dengan jujur semua keinginanmu,  memintamu mereposisi diri di mana seharusnya kamu berada,  mengetuk hatimu dengan lebih keras agar kamu lebih bisa mendengar apa kebutuhan orang lain dan juga untuk lebih memperhatikan hal-hal yang tampaknya dulu kamu anggap remeh temeh.  Kamu tahu,  Dia menunggu ‘komen’ mu sekarang ?’

#dirumahaja

Kenyataanya dengan #dirumahaja,  saya menyadari bahwa saya tidak perlu pakaian selemari penuh,  tidak perlu sepatu dengan puluhan kotak penyimpan,  tidak butuh branded bag untuk ditenteng ke tukang sayur,  tidak perlu bedak kinclong,  tidak perlu parfum semerbak,   tidak butuh perhiasan berkilau2an  dan banyak lagi ketidakperluan lainnya.  ‘Suara’ itu meminta saya untuk tampil lebih ’polos’,  sederhana dan  bersahaja,  dan saya tahu,  Dia menunggu ‘penampilan baru’ dari saya.

Selama #dirumahaja,  saat tidak memungkinkan bertemu/berkumpul dengan teman,  sahabat dan saudara,   saya jadi punya banyak waktu untuk memikirkan segala tingkah laku,  ucapan, sikap saya kepada mereka. Singkatnya ada ‘suara’ yang meminta saya mereview semua kelakuan saya dan sejauh mana saya mempertanggungjawabkannya termasuk juga mereview hati saya. Sudahkah selama ini saya menjalin hubungan pertemanan dan persaudaraan dengan tulus, apakah sapaan saya sekedarnya saja, jabat tangan saya seperlunya saja asal nempel, pelukan saya berjarak, cipika cipiki saya tanpa rasa ? Dan saya tahu,  Dia menunggu ‘sesuatu’ yang baru dari saya.

Ya,  ‘suara’ itu sedang meminta pertanggungjawaban saya  atas semua milikNya yang Dia titipkan kepada saya,  apakah saya sudah menggunakannya dengan baik,  termasuk waktu yang Dia berikan?  Apakah saya hanya melakukan pemborosan yang tiada berkesudahan? Apakah saya sudah memperlakukan anggota keluarga,  teman, sahabat dan saudara dengan pantas dan tulus ? Apakah saya sudah berdamai dengan siapapun yang pernah menyakiti hati atau dengan orang-orang yang tidak saya sukai tanpa alasan jelas ? Apakah saya sudah menjadi berkat bagi orang lain? Apakah saya sudah lebih rendah hati dan menghargai peran orang lain yang selama ini tampak biasa saja? Apakah saya bisa menjadi lebih sabar? Apakah saya sudah turut merawat alam tempat tinggal? Hhmm,  tadi pagi,  saat berjemur matahari,  saya menengok sejenak kepada tanaman di halaman rumah,   rasanya kegiatan berkebun harus lebih sering saya lakukan karena sudah begitu lama saya abaikan.  Dan saya tahu,  Dia menunggu.

Saya percaya bukan hanya saya saja yang boleh mendapat pembelajaran melalui ‘suara-suara’ yang terus bergema di sanubari selama #dirumahaja, kamu dan kita semua pasti mendapat hikmat kebijaksanaan masing-masing. Oleh karenanya saya mengharapkan bahwa saya, kita semua dan  dunia tempat  kita tinggal akan menjadi lebih baik setelah pandemi ini berlalu, karena kalau tidak,  rasanya sia-sia belaka pembelajaran dibalik (hashtag) #dirumahaja,  sia-sia hanya karena kebebalan dan kepongahan kita semua,  seperti yang selama ini berulang terjadi; setelah ‘maut’ seakan pergi menjauh,  kita kembali lupa kalau waktu kita adalah sekarang.  Kita menyia-nyiakan pembelajaran yang diberikanNya.

Daripada kita kembali bebal dan pongah,  baiknya kita ingat akan pesan untuk selalu ‘berjaga-jaga’ dengan tetap memelihara iman, kasih dan pengharapan,  sehingga nanti pada saatnya pandemi ini berlalu dan saat kita boleh saling bertemu lagi,  maka diri kita telah menjadi lebih baru dan updated,  sehingga jabat tangan kita akan menjadi lebih erat,  pelukan kita menjadi lebih hangat,  cipika cipiki kita menjadi lebih tulus dan topik pembicaraan kita lebih bermakna/bermanfaat,   karena kita telah berjuang dan menang, tidak hanya melawan virus corona, tetapi lebih kepada kita telah : menerima, mengerti dan melaksanakan semua pembelajaran melalui ‘suara-suara’ selama #dirumahaja.

Selesai membaca tulisan di atas, daraskanlah seuntai doa sesuai dengan keyakinanmu masing-masing. Saya pribadi mendaraskannya secara sederhana seperti ini : ‘Bapa kami yang ada di surga,  dimuliakanlah namaMu. …….. janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat,  Amin!’

Ibarat sehelai rumput rapuh yang bersinar tertimpa sinar matahari, kita masih bisa berkarya baik karena kasihNya untuk menyongsong terang yang mengintip malu.

*Maureen T. Rustandi

13 April 2020

TERSAYANG dan TERBODOH

January 6, 2020 by Maureen T. Rustandi

Berkaitan dengan banjir yang melanda Jabodetabek, dan khususnya yang melanda Jakarta, saya jadi inget beberapa percakapan singkat dengan supir taksi di beberapa kota yang akhir tahun 2019, saya kunjungi.

1.Semarang

‘Kami senang sekarang banyak turis ke Semarang karena Pak Gub dan jajarannya berhasil membangun kembali Kota Lama Semarang, itu Lawang Sewu sekarang yang kerubutin turis2 bukan tuyul2 lagi’, begitu sambutan sang supir.🤣😂

Hahaaaa…. jadi inget dulu sekitar 15 tahun yang lalu, saya dan anak2 berkunjung ke Lawang Sewu dan baru sampai di depan pagarnya , mereka sudah berlari balik sambil ketakutan karena membaca peringatan yang dipasang di balik pagar ‘disini tempat tuyul2 berkumpul’.😁

Dan Kota Lama Semarang sekarang benar2 berkilau sebagai pusat keramaian.

2. Surabaya

‘Sepanjang jalan ini dulu kumuh, kotor dan jorok karena banyak warga buang hajat di kali, kemudian di tata Bu Risma, jadi seperti ini, rapi, rimbun dan bersih. Yang ketauan buang hajat kena denda, tapi sekarang udah ngga bisa juga karena udah dipagar beton sepanjang kali. Bu Risma kerja hebat padahal fisik beliau kadang kurang fit’.

Beneran terpesona lewat jalan tersebut saat saya menuju jembatan Suramadu, dan hati ikut menyayangkan saat Pak Supir bilang, ‘sayang Bu Risma akan selesai tugas bulan Oktober 2020’. Yeaahh….😢😢

3. Banyuwangi

‘Dulu mana ada yang mau datang ke Banyuwangi, penduduknya aja jarang ada yang mau ngaku orang Banyuwangi, bilangnya pasti dari Jember karena malu, Banyuwangi dulu terkenal dengan prostitusi dan santetnya, sekarang udah beda, kita bangga dengan Banyuwangi’ Melongo saya mendengar Pak Supir bicara seperti ini.

‘Bupati yang sekarang bener2 membangun Banyuwangi yang baru, pariwisata (yang instagenic) digenjot dan juga pemerataan ekonomi, sudah ngga ada ijin buat Alfa Mart dan Indo Mart untuk buka di sini’ Oalah…pantes aja di sepanjang jalan banyaknya warung/toko2 tradisional milik warga setempat.

‘Udah berapa periode Beliau menjabat?’
‘Ini udah periode ke dua Bu, udah ngga bisa dipilih lagi….’ jawab Pak Supir dengan nada suara rada sedih dan saya jadi ikutan sedih juga.😢😢

Sekilas terlintas video yang saya tonton di pameran arsitektur ‘Pr1hal Andramatin’ beberapa waktu lalu, Pak Azwar Anas menyampaikan pemikirannya menjalin kerja sama dengan team arsitek kaliber nasional untuk membangun Banyuwangi agar bisa memberikan semangat, contoh dan berkolaborasi dengan jajaran pejabat Pemda agar bisa bekerja profesional.

Terpesona dengan bandara Banyuwangi yang unik ? Itu salah satu hasil kolaborasi yang beliau lakukan.

4. Jakarta

Saya kembali ke Jakarta pada tanggal 1 Januari 2020, tiba di Bandara Soekarno Hatta jam 17.00, setelah mengurus bagasi, keluar jam 19.00 kurang, mengantri taksi dapat nomor 1167 dengan jumlah antrian sekitar 275 nomor🤦‍♀. Berupaya untuk naik moda transportasi lain seperti bus, tapi belum ada jadwal kedatangan karena kabarnya terhadang banjir, oh yaa… Jakarta sedang banjir, jadi kudu maklum dan siap sabar pada saat menunggu dan akhirnya dapat taksi setelah 2 jam lebih. Letih.

‘Banjir di mana-mana Bu, untung Ibu ke BSD kalo ke Puri mah saya ngga bisa antar. Mobil ngga bisa ke daerah situ’ dan meluncurlah dari mulut sang supir sederetan nama lokasi yang kena banjir di Jakarta. Ah…badan saya tiba2 menjadi lebih letih mendengarnya, pengen cepat tiba di rumah, beberes dan tidur.

Besoknya, tanggal 2 Jan dan kemudian sampai pagi ini masih viral terdengar sebutan gubernur terbodoh…. duuhhh Jakarta!😪😓😫

*Catatan untuk para pejabat publik, terlebih yang di Banten 😉, Anda itu dipilih (rakyat) untuk melayani dengan baik, benar dan bertanggung jawab. Keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan rakyat harus Anda perjuangkan. Contohlah pejabat2 yang amanah, sukses dan menjadi kesayangan rakyatnya, jangan contoh sosok yang baru 2 tahun menjabat tapi udah disuruh mundur dengan caci maki sebagai yang terbodoh.🤦‍♀🤦‍♀

*Maureen T. Rustandi
6 Januari 2020

Antara Sayang, Cinta dan Kasih

December 13, 2019 by Maureen T. Rustandi

‘Apa sih perbedaan antara sayang, cinta dan kasih?’  Apakah kamu pernah bertanya  atau ditanya mengenai hal ini ? Pernahkah kamu memikirkannya secara serius ? 

Beberapa tahun lalu  saya  pernah mendengar pertanyaan ini dari seorang Bapak yang usianya sudah cukup lanjut dan beliau bilang bahwa belum pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan.   Sejak saat itu,  saya menyadari bahwa bahwa ke tiga hal tersebut memang berbeda tapi belum tahu bagaimana menjelaskannya.  Berbeda  bukan semata-mata karena kosa kata bahasa Indonesia yang lebih beragam dibanding dengan bahasa Inggris,  yang menterjemahkan kata sayang, kasih  cinta dalam satu kata,  yaitu LOVE,  tetapi berbeda karena suatu value/nilai yang saat itu secara ringkas saya putuskan untuk menerima alasan tersebut tanpa lagi menuntut penjelasan.

Setelah sekian lama berlalu dan saya sudah tidak pernah lagi memikirkan perbedaan tersebut,  sampailah pada suatu siang di hari Sabtu tanggal 28 September 2019,  saat saya menghadiri misa sakramen perkawinan putri seorang sahabat. Pastor Andang Gunawan yang memimpin misa tersebut memberikan homili yang bagus ,yang disampaikan dengan cara yang sederhana sehingga mudah dimengerti,   yaitu menjelaskan apa perbedaan antara sayang,  cinta dan kasih,  sebagai wejangan kepada pasangan pengantin baru.  Waah,  saya jadi langsung teringat bahwa saya juga memerlukan penjelasan mengenai perbedaan ketiga hal tersebut.

Yuukkk mari kita simak…..

Sayang

Rasa pada saat  pacaran, saat sejak tahap PDKT,  saat mulai saling suka dan akhirnya memutuskan jadian,  rasa yang dominan adalah sayang,  keduanya *saling sayang*.   Kondisi ini dicontohkan semisal sang  pacar belum jawab WA, maka hati akan kesal;  rasa  kesalnya seperti kehilangan barang yang disayangi.  Porsi nilai sayang di tahap ini  masih besar memikirkan kepentingan diri sendiri.  Menyayangi pacar tapi masih lebih mementingkan kepentingan diri sendiri,  gitu deh kesimpulannya.

Cinta

Seiring berjalannya waktu,  rasa sayang berganti menjadi rasa cinta.  Sampai pada tahap ini biasanya pasangan yang pacaran akan  memutuskan untuk menikah,  tahapannya sudah *saling cinta*,  karena masing-masing sudah bisa saling memberi dan menerima.  Porsi nilainya sudah seimbang, memikirkan kepentingan diri sendiri dan juga memikirkan kepentingan pasangan.

Kasih

Saat mengarungi hidup sebagai pasutri, rasa saling cinta sudah tidak cukup dipertahankan untuk memberi kebahagiaan kepada pasangan,  rasa saling cinta harus tumbuh dan ‘berubah’ menjadi  *saling mengasihi*.  Pada tahap ini masing-masing sudah tidak memikirkan memberi dan menerima (secara seimbang),   tetapi hanya memikirkan  ‘apa yang bisa atau akan atau sudah saya berikan buat pasangan tanpa mengharap apa imbalannya’.   Porsi nilainya lebih besar kepada  kepentingan atau kebahagiaan pasangan.

Apabila kedua belah pihak sama-sama berpikir dan bersikap seperti ini,  yaitu saling memberi kasih,  maka pernikahan yang bahagia bukan sekedar impian.

Dasar dari semua kemampuan memberi kasih adalah teladan yang dicontohkan oleh Tuhan Yesus,  kasihNya yang besar yang menyelamatkan umatNya,  kasihNya yang besar sampai Ia rela mati di kayu salib.   

Sungguh ini homili yang tidak hanya bagus  tapi juga indah dan sangat cocok disampaikan pada misa penerimaan sakramen perkawinan.   Saya sungguh beruntung boleh mendengarkannya dan bisa menulisnya di note HP supaya tidak lupa untuk catatan saya pribadi.  Semoga teman2 yang membacanya juga bisa memahami perbedaan ketiga kata tersebut dan bisa mencapai  jenjang tertinggi  ‘saling mengasihi’ untuk kebahagiaan hidup perkawinan.

Apabila suatu saat kita ada berada pada  situasi ‘panas’ dalam rumah tangga dan memikirkan keadaan yang mungkin sudah tidak ada cinta,  janganlah cepat memutuskan untuk berpisah.  Pikirkanlah,  mungkin benar bahwa cinta sudah tidak ada, karena ia sudah berganti menjadi kasih…..dan di sinilah kehidupan perkawinan yang bahagia berawal kembali.

Dan ucapkan ‘ Aku mengasihimu…… ‘ You will feel the difference !

Jakarta,  13 Desember 2019

Maureen T. Rustandi

Bagi Senyummu, Jangan Bagi Susahmu !

October 29, 2019 by Maureen T. Rustandi
Talk about blessings more than talk about problem

Beberapa hari yang lalu saya berkesempatan ketemu dengan teman-teman lama yang jarang ketemu dan jarang juga berinteraksi lewat media sosial.   Layaknya orang bertemu,  pasti yang ditanya adalah kabar,    ‘apa kabarmu ?’  dan belum sempat saya menjawab,  mereka melanjutkan :  ‘enak ya loe,  gue liat senang terus,  jalan-jalan mulu,  ngga pernah susah deh loe, pantes awet muda.’  Waaah,  rupanya selama ini secara diam-diam mereka suka ngintip-ngintip postingan saya di FB/IG.  Dan setelah nyerocos,  pertanyaan akhirnya adalah ‘apa resepnya?’

Nah ini dia pertanyaannya,  ‘apa resepnya?’ Apakah ini sebuah pertanyaan  serius apa cuma basa basi ?  saya juga kurang jelas,  tapi saya mau jawab serius di sini 🙂

Kelihatan senang terus ? ya jelas,   karena saya  hanya membagikan kegembiraan saya yang menurut saya pantas saya bagikan dan berusaha dengan sesadar-sadarnya untuk tidak membagikan kegundahan,  keluhan, kesedihan dan kesusahan serta masalah2 yang sedang saya hadapi  kepada teman-teman apalagi dengan nyerocos di sosial media.  Rasanya ngga penting untuk teman-teman yang membacanya.  Setiap orang pasti menanggung permasalahannya masing-masing,  maka janganlah kita menambahkannya dengan masalah kita.  Itu prinsip saya.

Prinsip ini bukan berarti saya harus hidup dengan cara yang palsu atau bersandiwara atau berpura-pura;     pura-pura senang atau pura-pura tidak punya masalah.  Hidup apa adanya saja,  senang, susah, masalah datang dan pergi,  semuanya wajar.   Yang menjadikan tidak wajar biasanya adalah sikap kita sendiri.  Banyak orang yang bersikap kalau sedang punya masalah,  hal pertama yang dilakukan adalah update status,  lapor dulu ke dunia maya;  padahal tidak semua teman kita bisa berempati dengan tulus dengan permasalahan yang kita hadapi. Mungkin saja mereka bersorak di belakang kita. Who knows ? Pertimbangan ini umumnya tidak berlaku bagi para ‘sekuter’  yang perlu mencari dan atau menciptakan sensasi.

Para sekuter yang suka posting-posting masalah mereka, umumnya punya tujuan jelas yang untuk ‘menelanjangi’ diri mereka sendiri di medsos selama itu bisa memperpanjang masa eksistensi mereka atau syukur-syukur harapannya bisa membuat mereka jadi ‘naik kelas’.  Tipe-tipe seperti ini biasanya posting status atau menulis caption tanpa memikirkan apakah dampaknya bisa merugikan orang lain atau bahkan mempermalukan diri sendiri,   pokoknya semua masalah tumplek-plek  dulu di status timeline demi sedikit popularitas.    Tapi kalo bagi kita yang kaum awam/kaum jelata/bukan selebrities, baiknya kita  berpikir panjang dulu sebelum curhat semua masalah di sosmed.   Intinya, kita ngga perlu caper di medsos dengan permasalahan kita.

Never tell your problems to anyone !

Jadi sebagai orang yang biasa-biasa saja, bukan jenis sekuter,  baiknya kita menyikapi semua permasalahan dengan cara yang baiknya lebih rendah hati,  menjadikan permasalahan itu benar-benar urusan kita pribadi,  tidak mengumbarnya di sosmed,  menyadari dengan sepenuhnya bahwa  setiap masalah yang ada, akan membuat kita ingat untuk tidak menjadi sombong,  dan membuat kita menjadi lebih toleran terhadap orang lain;  dari segi spiritual,  dengan adanya masalah,  kita juga lebih bisa membuktikan keimanan kita dengan memberi kesempatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk menyatakan kuasaNya atas diri kita.

Punya masalah?   keep it private, cari solusi yang terbaik dengan mohon pertolongan orang terdekat yang dapat dipercaya dan bawalah selalu setiap permasalahan dalam doa dan pakai kesempatan ini untuk lebih memperteguh iman kita sehingga  kita selalu bisa terlihat senang terus,  ngga pernah susah dan awet muda pastinya  hahhaha.

Nah itu resep saya……mudah2an jadi resep yang awet sepanjang hidup saya.

Note : by the way, sekuter itu apa-an ya? sekuter itu artinya ‘selebriti kurang terkenal’ 😉

Jakarta, 14 Oktober 2019

Maureen T. Rustandi