Via Dolorosa : Jalan Keselamatan Yang DIA Bangun Untuk Kita

March 7, 2018 by Maureen T. Rustandi

 

Via Dolorosa : Jalan Salib, Jalan Keselamatan

Bersyukur bisa mengikuti perjalanan ziarah ke Tanah Suci Yerusalem pada bulan Desember 2017 yang lalu.  Begitu banyak hikmat dan nikmat yang tidak bisa dan tidak cukup dijabarkan dalam kata-kata , sehingga saya perlu waktu cukup lama untuk bisa menuliskan pengalaman luar biasa ini.   Saya perlu waktu untuk  memikirkan dan memilah-milah  hal dan kejadian apa yang paling berkesan dan yang mendatangkan berkat perziarahan, tidak hanya untuk saya saja,  tapi juga untuk banyak orang,  terlebih untuk teman-teman yang suka membaca blog saya ini.

Ini kisah yang pertama 😉

Via Dolorosa

Dikenal sebagai Jalan Kesengsaraan atau Jalan Salib (The Way of Cross)  yang dilewati Tuhan Yesus saat memanggul salib dari tempat Ia diadili,  yang sekarang  dikenal sebagai  Church of Flagellation sampai ke Church of  The Holy Sepulchre  (Gereja Makam Kudus),  Golgota.

Lorong sepanjang Via Dolorosa dari Gerbang West Tunnel

Titik perhentian Jalan Salib yang menjadi tradisi umat Katolik untuk mengenang sengsara Tuhan Yesus  (Passion of Christ) ada 14 titik perhentian,  yang  disebut sebagai stasi,  dan di sepanjang Via Dolorosa yang berkelok-kelok ini terdapat 9 stasi,  5 stasi lainnya terletak di dalam komplek Church of Holy Sepulchre.

Biasanya pada hari-hari tertentu dan terlebih pada masa sebelum dan  sesudah Paskah,  peserta ziarah akan mengikuti dan menjalani prosesi Jalan Salib ini lengkap dengan pemanggulan salib,  baik yang diselenggarakan oleh kelompok imam setempat (Ordo Fransiskan) ataupun oleh kelompok peziarah yang didampingi oleh pembimbing rohani.

Menyusuri Via Dolorosa melalui Western Wall Tunnel yang terletak di sebelah barat Tembok Ratapan,  saya berjalan  pada sebuah

Pasar di Via Dolorosa

lorong panjang dengan lebar yang berbeda-beda;   di sepanjang lorong  ini pada bagian kanan dan kirinya berjejer  toko-toko, pedagang  kaki lima dan juga pasar.  Bagian atas lorong dilengkapi dengan lengkungan-lengkungan yang menghubungi sisi kiri dan sisi kanan.

Entah mengapa pada saat menyusuri lorong Via Dolorosa ini saya tiba-tiba teringat akan  potongan lirik dari sebuah lagu ini :  ♥Yesus,  Tuhanku karena kasihMu,  Kau panggul salib ke Golgota♥ dan perasaan hati saya langsung merasakan kesedihan yang sedikit mencekam yang kemudian menjalar ke seluruh tubuh seperti saya melakukan suatu kesalahan fatal yang tidak dapat saya perbaiki lagi.

Perasaan ini terus menggayuti hati  sampai setibanya saya di  beberapa titik perhentian Jalan Salib yang semuanya penuh dengan kerumunan  peziarah.

Walaupun saya tidak mengikuti prosesi Jalan Salib,  tapi saya sangat terkesan pada  stasi-stasi yang saya kunjungi dan  lewati,  yaitu :

Stasi I  :  Komplek Monastery Fransiskan –  Church of Flagellation :  Tempat  Yesus Dijatuhi Hukuman Mati dan Dimahkotai.

Tempat kejadian asli saat  Yesus divonis mati

Pada bagian dinding luar monastery ini,  terdapat sebuah pintu gerbang kecil yang telah ditutup permanen dengan batu kapur dan apabila kita tidak teliti memperhatikannya,  maka kita akan begitu saja melewatinya tanpa sadar bahwa disitulah tempat  kejadian Yesus divonis hukuman mati,  dicambuk pertama kali dan dimahkotai rangkaian duri.  Mungkin karena keperluan akan jalan untuk peziarah,  tempat ini seakan dipindah ke dalam kompleks monastery.

Di dalam komplek monastery  dibangun gereja,  Church of Flagellation (Gereja Penderaan), yang pada bagian interiornya  dilengkapi dengan kisah Ponsius Pilatus membasuh tangan,  Yesus didera dan dimahkotai  serta kegembiraan Barabas,  yang semuanya terlukis pada dinding kaca bagian atas yang mengitari altar.

Interior Altar Church of Flagellation *pic by BibleWalk

Lukisan pada langit-langit kubah gereja ini secara artistik menggambarkan mahkota duri yang secara langsung mengingatkan para peziarah akan mahkota duri yang dikenakan Yesus.

Stasi II : Church of Condemnation :  Titik Awal Yesus Memanggul Salib

Terletak  dalam satu komplek monastery yang sama dengan Church of Flagellation yang ada di sisi kanan,  Church of Condemnation (Kapel Penghukuman) terletak di sisi kiri  dan secara letak bersisian dengan pintu  gerbang kecil yang telah ditutup secara permanen tersebut,  yang merupakan tempat asli Yesus dijatuhi hukuman mati.

Church of Comdemnation dengan kubah yang sebagian terlihat

Gereja ini tampak lebih indah dengan menara 5 kubah yang  tingginya tidak beraturan.  Kubah-kubah ini secara jelas terlihat dari luar monastery.  Pada latar dari altar gereja ini terdapat lukisan artistik yang memperlihat Yesus dengan jubah berwarna merah sedang dipersilahkan oleh seorang algojo untuk segera memanggul salibnya.  Ya.  di tempat ini, Yesus mulai memanggul salib,  memanggul semua dosa-dosa manusia dan dosa-dosa saya.

Ya…Yesus, karena kasihMu,  Kau panggul salib ke Golgota……♥  sepenggal lirik ini bergema kembali dihati saya tanpa bisa saya hentikan.

Stasi IV : Saat Yesus Berjumpa Dengan IbuNya.

Stasi IV : Yesus Bertemu dengan IbuNya

Kerumunan peziarah ada di depan pintu gerbang Church of Our Lady of the Spasm atau dikenal sebagai Gereja Duka Bunda Maria, yang dibangun pada tahun 1881.  Gereja ini  menjadi perhentian keempat dari perjalanan sengsara,  menandai  saat Yesus berjumpa dengan IbuNya.  Gereja ini milik Armenian Catholic,  dilengkapi dengan kapel yang didedikasikan buat Bunda Maria.     Perjumpaan yang sangat mengharukan ini   digambarkan dengan indah dalam bentuk patung yang sangat bagus.

Stasi V :  Simon dari Kirene Membantu Memanggul Salib

Kerumunan peziarah di depan Chapel of Simon of Cyrene

Ini adalah perhentian kelima dari Via Dolorosa.   Saat melewati tempat ini,  saya bertemu dengan beberapa peziarah dari Indonesia yang sedang mengantri masuk bergantian.   Di perhentian ini dibangun sebuah kapel milik Fransiskan,  yang diberi nama Chapel of Simon of Cyrene (Kapel Simon dari Kirene) sebagai penghormatan kepada Simon yang bersedia membantu Yesus memanggul salib.

Setelah berkunjung  dan melewati beberapa stasi Jalan Salib ini dengan sesekali menyenandungkan sepenggal lirik lagu,  akhirnya secara begitu saja,   saya dapat mengingat  utuh lirik lagu yang memilukan hati ini :

Oh,  Yesusku,  Sang Penebus bermahkotakan duri; Oh,  Tuhanku, betapa jahat dosa yang kubuat

Yesus Tuhanku karena kasihMu;  Kau panggul salib ke Golgota

Oh Yesusku,  Sang Anak Domba yang menanggung dosa;  Kau relakan,  Kau disesah demi keselamatanKu

Yesus Tuhanku karena kasihMu; Kau panggul salib ke Golgota

Paving stone asli dari zaman Herodes

Menyenandungkan lagu ini dalam diam  sambil berjalan memandang ke arah  paving stone yang menurut informasi  adalah asli dari jaman Herodes,  langsung  terbayang di pelupuk mata bahwa di jalan ini 2000 tahun yang lalu,  Yesus memanggul salib dalam derita yang mendalam,  dihina,  didera,  dicambuk,  berdarah-darah dan terjatuh berulang kali dalam perjalanan sengsaranya ke Bukit Golgota.  Membayangkan ini semua,  rasanya tidak kuat untuk menahan air mata yang mulai merembes di pelupuk mata.  Membayangkan darahNya yang berceceran di sepanjang jalan yang sekarang saya lewati dengan segala sifat kemanusiaan saya yang lemah.  Klik link ini untuk mendengarkan lagu yang menyayat hati ini.

Kembali terlintas juga saat malam sebelumnya saya dan rombongan berkunjung ke komplek Church of Sepulchre  yang terletak di Bukit Golgota, berdesak-desakan dengan para peziarah dari seluruh dunia untuk  mengunjungi titik-titik perhentian menjelang akhir Jalan Salib,  yaitu :

Stasi  XI  :  Yesus Dipaku Pada Kayu Salib

Gambaran Yesus Dipaku Pada Kayu Salib : lukisan dinding yang indah

Memandang lukisan  yang dibuat sangat indah dengan paduan warna hijau lembut dan kuning keemasan  ini,  saya mendapatkan wajah Yesus yang begitu damai dan penuh kasih padahal Ia sedang terlentang di atas salib yang rebah  dengan kaki dan tangan yang  sudah dipaku. Sepertinya lukisan ini mau  menyampaikan pesan bahwa kesengsaraan sama sekali tidak berarti bagiNya karena kasihNya yang demikian besar yang mengalahkan semua penderitaan. KasihNya telah mengajarkan kepada saya dan kita semua untuk tidak perlu takut berkorban karena damai akan diberikan kepada kita  bila kita melakukannya dengan rela.

Stasi  XII : Yesus Wafat Pada Kayu Salib

Begitu banyaknya peziarah yang berkerumun di sekitar tempat ini karena masih menunggu selesainya ritual yang sedang berlangsung,  saya mendapati keheningan yang mendalam,  hampir tidak ada suara berbisik yang terdengar di sini.  Sepertinya suasana kesedihan secara otomatis terbangun di sini.

Bukit Golgota : DIA wafat di sini

‘Ya Yesusku,  dua ribu tahun yang lalu Engkau tergantung di sini,  salibMu tertancap di sini hanya untuk menebus dosaku yang umumnya terjadi karena aku terlalu egois, tinggi hati, iri hati dan selalu lupa bersyukur.  Aku bersimpuh di sini dengan kesesakan  hati yang membuncah  mengingat penderitaanMu dan airmataku bergulir mengingat semua kasihMu.  Terima kasih Yesus! Terpujilah Engkau selama-lamanya !’  Demikian kalimat yang sempat saya bisikan saat saya bersimpuh di Golgota.  Ya,  tempat ini adalah Golgota.

Tempat yang ditemukan oleh Helena,  ibu dari Raja Konstantin,  yang mendapat ‘pesan’ untuk mencari tempat ini setelah ia dan putranya menjadi Kristen.  Berkat Helena (yang kemudian menjadi Santa Helena),  kita semua,   para peziarah,  dapat bersimpuh di sini.

Stasi XIII : Pengurapan Jenazah Yesus

Wajah Bunda yang bersedih hadir di sini

Begitu banyak peziarah yang berlutut,  menangis sambil mencium dan membersihkan potongan batu yang secara tradisi dipercaya sebagai tempat pengurapan jenazah Yesus sesaat telah diturunkan dari kayu salib,  sebelum dimakamkan.   Berlutut di sisi batu ini,  saya seperti melihat wajah Bunda Maria yang penuh duka,  memeluk tubuh anaknya yang penuh dengan luka dan sudah tidak bernyawa.  Wajah Bunda yang sedih berkali-kali terlintas di sini :'(

Stasi XIV : Yesus Dibaringkan Dalam Lubang Kubur

Di tempat ini adalah antrian panjang kedua yang saya alami,  setelah pagi harinya selama 1 jam lebih berdesak-desakan dengan para peziarah dari seluruh dunia di Gereja Nativity,  gereja yang dibangun di atas tempat kelahiran Yesus;  maka sore ini,  saya dan rombongan kembali antri dengan tertib dan mengikuti arahan dari para petugas  yang berulang kali ‘menggiring’ kami untuk mendekat ,  menjauh,  dan mendekat lagi sampai seperti dipepet ke bangunan makam karena lebar jalur antrian bisa diatur fleksibel dengan memindahkan pagar besi yang mobile.

Hanya cahaya lilin ini yang menerangi makam Yesus

Gereja Makam Yesus yang dikenal sebagai Gereja Makam Suci atau The Church of Sepulchre,   menaungi empat situs teramat penting bagi perziarahan orang Kristen  yang dijabarkan sebagai perhentian 11 s/d 14 pada  perenungan atau devosi ritual Jalan Salib.

Setelah antri lumayan lama,  akhirnya sampai pada giliran saya untuk masuk ke dalam makam;  kami diatur maksimal 4 peziarah masuk  bersamaan dengan waktu yang sangat terbatas mengingat antrian masih mengular di luar.   Saat berlutut di samping  batu yang 2000 tahun lalu menjadi alas bagi jenazah Yesus,  perasaan saya seperti hampir tidak percaya saya bisa sampai di situ;  perasaan campur aduk seperti anak yang hilang yang selama ini hanya mendengar kabar  seseorang yang mengasihinya  tapi tidak pernah berkunjung kerumahNYA;  dan ketika berkesempatan itu datang,  yang didapat hanya makamNYA.

Oh Yesusku betapa jahat dosa yang kubuat♥  …. saat menuliskan alinea ini,  sepotong lirik lagu itu tiba-tiba bergema kembali dan…..kali ini saya hati saya serasa tercabik-cabik mengenang perziarahan saya di Via Dolorosa.

Kubah Gereja Makam Kudus tepat di atas makam Yesus

Kenyataannya menuliskan kisah Via Dolorosa ini tidak semudah saya menuliskan cerita perjalanan  lainnya.  Berulang kali  mendengar ‘seseorang’ menyanyikan lagu ♥Oh Yesusku♥  di saat-saat saya mengenang perziarahan ini  membuat saya merenungkan kembali arti perziarahan ini,  sehingga bagi saya,  Via Dolorosa adalah sebuah jalan keselamatan yang ‘dibangun’  Tuhan Yesus dengan darahNya buat kita semua.   Bukan sekedar jalan dengan kelokan dan paving stone yang vintage serta lengkungan-lengkungan yang menawan,  di mana para peziarah mestinya melewati jalan ini dengan kesadaran iman yang murni.   Ini sungguh sebuah perziarahan yang sangat indah yang mendatangkan banyak berkat bagi saya.

Semoga teman-teman yang mempunyai keinginan untuk melakukan perziarahan yang sama dapat segera melakukannya  dan untuk teman-teman yang belum memikirkannya sama sekali,  mulailah untuk membuka hati …. Dia memanggil !

*Maureen T. Rustandi

3 Maret 2018

** Ucapan syukur dan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Baik yang telah membisakan saya bersama suami dan ayah mertua melakukan ziarah ini. Terima kasih juga kepada Pastor Garbito Pamboaji,  Marisa Winata dan semua teman2 rombongan ziarah Christour, EHP 123012-2017😊

*** Bonus – Bonus – Bonus

Tampak Depan Church of Sepulchre

Kubah Church of Sepulchre yang anggun, tepat di atas makam Yesus

Tampak Depan Church of Our Lady of Spasm
* pic by Bible Walk

Perjumpaan yang mengharukan di kapel Stasi IV – Church of Our Lady of Spasm *pic by Bible Walk

Yesus dengan jubah merah. lukisan di Church of Condemnation

Tampak depan bagian atas Church of Flagellaltion

Saya bersama Marisa Winata, Tour Leader yang mengurus dan mendampingi peserta ziarah.

Teman2 seperjalanan ziarah yang menyenangkan

 

God’s Calling

February 14, 2018 by Maureen T. Rustandi

Memasuki awal tahun 2017 saya sudah berniat untuk merealisasikan perjalanan ziarah ke Tanah Suci (Holy Land),  dengan cara mulai mencari beberapa informasi dari biro-biro perjalanan,  membanding-bandingkan program dan harga yang ditawarkan,  mencari waktu yang tepat agar tidak berhimpitan dengan rencana perjalanan lainnya,  menyesuaikan dengan hari cuti yang  tersedia dan mengabarkan rencana perjalanan ziarah ini ke beberapa teman dekat;  hal yang terakhir ini,  menurut saya yang paling paling penting,  karena setidaknya saya seperti mengucapkan janji kepada seseorang agar bisa menepatinya.

Apakah demikian berniatkah saya untuk berangkat sejak dari awal tahun? Hmm…

Sepanjang tahun 2017 itu saya sebenarnya agak terombang-ambing mengambil keputusan  antara apakah benar-benar mau ziarah dan kapan waktu yang tepat untuk berangkat.  Apalagi setelah pilihan pertama berangkat pada libur lebaran, tidak lagi menjadi pilihan karena informasi cuaca yang panas,  maka rencana ini terabaikan karena saya fokus kepada urusan lain.

God’s Calling

Setelah musim panas berlalu dan mulai memasuki bulan  September,  ingatan akan janji pergi ziarah ke Tanah Suci kembali datang,  seakan-akan seperti ‘panggilan’ yang datang dari berbagai arah,  ada yang datang dari teman,  dari mantan pacar,  dan yang paling jelas adalah yang arahnya  datang  dari  ‘hati’,  suatu panggilan yang tidak bisa disembunyikan,  seakan selalu ada di belakang saya :  menegur dan menuntut.

Setelah cukup lama melakukan ‘perdebatan’ dalam batin  mengenai hal-hal yang secara manusiawi akan menjadi ganjalan dalam perjalanan ziarah,  seperti keterikatan dengan rombongan,  keterbatasan waktu,  kemampuan menyesuaikan diri dengan peserta ziarah atau dengan tata tertib lainnya;  maka setelah berjuang ‘memenangkan’ perdebatan batin ini,   rasanya sudah tidak ada lagi yang dapat  menghalangi realisasi perjalanan ziarah ini.

Sedikit godaan masih menghampiri saat group tour pilihan pertama menginformasikan bahwa sudah tidak ada tempat bagi saya karena mereka sudah fully booked,  saat itu saya sempat ‘mengintip’ program ziarah mereka yang ke lain tujuan yang lebih banyak leisure-nya dibanding dengan kegiatan pilgrim;  tapi kembali suara hati bergema ‘selesaikan Holy Land’.   Saya tahu ini yang disebut sebagai God’s Calling.  Saya tidak bisa menghindarinya.

Karena saya tidak mau terlambat untuk kedua kalinya,  maka dengan segera saya mendaftar ke group tour pilihan kedua,  dan selanjutnya semua urusan persiapan berjalan lancar.  Doa yang saya mohonkan setiap malam selama lebih kurang 1 bulan sebelum keberangkatan adalah mohon keikhlasan hati agar selama perjalanan ziarah, saya tidak menemukan kendala yang mungkin saja akan membuat saya bad mood karena jengkel dan sebal.   Dalam periode doa ini,  saya juga tiba-tiba berkeinginan untuk mengajak papa mertua,  Hidajat Rustandi,  untuk ikut bersama.   Saya tahu ini Tuhan yang berkeinginan.  Bukan saya.

Selamat Datang di Yerusalem !

Puji Tuhan, perjalanan ziarah saya yang berlangsung dari tanggal 19 Desember  s/d 30 Desember 2017 berlangsung dengan lancar, walaupun menjelang keberangkatan banyak sekali berita  mengenai perselisihan (baca : pertempuran)  antara Palestina dan Israel akibat pernyataan Presiden Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, sehingga sampai adanya himbauan dari Kedutaan RI di Mesir untuk menunda perjalanan ke daerah yang diperebutkan oleh kedua belah pihak tersebut.

Tapi ternyata perjalanan ziarah rombongan saya tidak menemukan kendala apapun, bahkan kami tidak melihat atau merasakan adanya aura peperangan di Yerusalem yang cantik.  Demikian juga bagi saya pribadi, semua berlangsung lancar dan menyenangkan. Saya dapat dengan mudah menyesuaikan diri dengan situasi yang ada  walaupun situasi tersebut bukan situasi yang baik,  seperti halnya saat tidak ada wifi,   saat waktu menunggu terlalu lama,  saat harus berjalan kaki cukup jauh,  saat diburu-buru untuk segera melanjutkan perjalanan,  saat mendapatkan kamar hotel yang kurang nyaman atau saat hidangan yang tersedia kurang memenuhi selera.  Rasanya semua itu hal yang biasa-biasa saja yang dengan sendirinya dapat saya jalani dengan gembira.   Saya tahu Tuhan menjawab doa yang  saya mohonkan  : keikhlasan hati.

Selama tour berlangsung,  setiap hari kegiatan kami diisi dengan doa bersama dan ibadat sabda atau misa;  saya mencatat ada 7  misa dan 1 Doa Rosario yang terselenggara dengan lancar dan khusuk,  yaitu misa di :

  1. Kapel Francescanne Elisabettine, Kairo 22 Des 2017
  2. Kapel Padang Gembala, Bethlehem 24 Des 2017 jam 8 pagi
  3. Gereja Notredame, Yerusalem, Misa Malam Natal, 24 Des 2017 jam 8 malam
  4. Function Room Hotel Orient Palace, Bethlehem,  Misa Natal 25 Des2017 jam 7 pagi
  5. Taman Bukit Sabda Bahagia, Galilea,  27 Des 2017
  6. Kapel di Kana, Nazaret, Misa Peneguhan Janji Perkawinan,   28 Des 2017
  7. Gereja Memorial of Moses, Gunung Nebo – Yordania, 29 Des 2017

dan 1 Doa Rosario,  Lembah Sinai,  23 Des 2017 untuk mendoakan teman-teman yang malam itu mendaki Gunung Sinai.

Dalam setiap  kesempatan misa tersebut,  Pastor pendamping,  RD Garbito Pamboaji,  selalu memohonkan agar doa-doa kami dan doa-doa orang yang kami doakan dapat dikabulkan Tuhan.  Tapi di samping itu,  ada hal lain yang selalu diingatkan oleh Pastor pendamping yaitu untuk merenungkan apa buah-buah perziarahan yang didapat dari perjalanan ini.

Setelah kembali dari perjalanan,  ada beberapa kejadian yang memerlukan keputusan saya,    baik di tempat kerja maupun di bidang pelayanan,  yang mengingatkan saya akan buah-buah perziarahan apa yang telah saya dapatkan,  yang kiranya dapat meneguhkan langkah saya untuk mengambil keputusan-keputusan penting.  Beberapa saat,  hampir sebulan setelah perjalanan selesai,  saya merasa bahwa saya tidak mendapat apa-apa kecuali foto,  foto dan foto.

Bukit Golgota

Bersimpuh di Bukit Golgota

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sekali waktu saat saya sudah merasa jenuh merenungkan  perziarahan ini,  secara iseng saya membuka file-file foto yang isinya ribuan foto itu dan satu persatu foto-foto itu saya perhatikan sambil melakukan ‘napak tilas’ dalam benak saya dan tiba-tiba saya melihat sebuah foto yang tidak terlalu terang dan jelas karena memang lokasi tempat foto itu aslinya redup.    Foto itu yang memperlihatkan saya sedang berlutut mencium lantai.   Seketika,  setelah melihat foto itu,  saya tahu apa yang saya dapatkan dari perziarahan ini.

Tak terasa air mata saya kembali bergulir melihat foto itu,  situasi yang sama saat foto itu diambil dari belakang saya,  saat itu air mata saya sedang bergulir.  Itu bukan sembarang lantai yang saya cium.  Lantai berlubang itu adalah tempat di mana salib Yesus tegak berdiri,   salib tempat Ia digantung menderita, dicambuk, dipaku, dirajam;  salib tempat Ia  meregang nyawa karena kasihNya yang tiada berbatas kepada manusia,  kepada saya.

Foto itu masih saya pandangi dan saya ingat akan  gema suara di hati saat itu  yang mengingatkan saya untuk  membalas kasihNya,  ‘sedikit saja’,  kata suara itu,  ‘masa sih kamu tidak bisa?’ tuntut suara itu.    Semuanya begitu menjadi jelas kembali dan saya sadar bahwa ini suaraNya.  Ia berbicara kepada saya,  mengingatkan saya bahwa permohonan keikhlasan hati yang Ia kabulkan,   tidak hanya untuk perjalanan ini saja,  tetapi juga untuk ‘perjalanan-perjalanan’ hidup selanjutnya.   Saya menjadi lebih jelas mendengarNya,   dengan keikhlasan hati akan lebih ‘memudahkan’  saya untuk menjadi lebih baik,  lebih  berbuat baik,  lebih bersikap baik,  menjadi lebih rendah hati dan lebih punya perhatian akan keadaan sekitar sehingga saya mampu sedikit saja membalas kasihNya.

Kandang Natal Gereja Notredame Yerusalem

Ya Tuhan,  maafkan saya yang demikian mudah melupakan hal ini. Hal yang menjadi inti panggilan Mu ! Ijinkan saya untuk selalu mempunyai senyum seperti yang tampak pada foto di depan kandang Natal lantai dasar Gereja Notredame ini.  Foto yang di ambil pada malam yang sama setelah saya mengerti arti panggilanMu saat Kau ‘bicara’ di Bukit Golgota, tepat di malam kelahiran PutraMu terkasih.

Terima kasih Tuhan atas panggilanMu ini.  Terima kasih atas waktu perenungan yang saya lalui dan mampukan saya untuk selalu  mengingat hal ini.   Saya percaya bahwa Engkau selalu mengasah hati saya untuk selalu menjadi lebih ikhlas dan lebih peka sehingga dapat  lebih mengerti mengenai apa yang Kau kehendaki untuk saya jalani bukan hanya untuk kebaikan saya semata tapi untuk kebaikan banyak orang.

Gloria…. Praise The Lord !

*Maureen T. Rustandi

31 Januari 2018

Dia Tetap Memancarkan Tjahaja Purnama !

December 2, 2017 by Maureen T. Rustandi

Basuki Tjahaja Purnama

‘Di sini saya  baik-baik dan sehat,  cukup makan,  sehari saya BAB 3 sampai 4 kali’,  demikian kalimat pembuka yang disampaikan Ahok pada saat menerima saya dan teman-teman TarQ Ladies yang mengunjunginya di rumah tahanan Mako Brimob,  Kelapa Dua,  Depok pada hari Selasa,  28 November 2017.  Kalimat yang sukses mengundang tawa dan mencairkan suasana 😀

Wajahnya  segar,  badannya tetap tegap dan bicaranya ‘tetap Ahok’,  penuh semangat  tanpa bisa dibendung,  semua hal kecil bisa jadi pembicaraan panjang yang menyenangkan karena banyak hal menarik yang beliau sampaikan yang menambah wawasan.

Menjawab pertanyaan seorang teman mengenai buku yang sedang beliau tulis,  Ahok menyampaikan saat ini sedang menulis jurnal tiap pagi dan sudah mencapai 191 halaman,  menulis ‘the best of me (kalau saya tidak salah ingat),  sudah 199 halaman dan menulis tentang kebijakan dan  Peraturan Gubernur yang beliau terbitkan selama menjabat sebagai Gubernur Jakarta,  lengkap dengan  kisah yang melatarbelakangi  setiap kebijakan dan  Peraturan Gubernur  tersebut.   Buku yang ketiga ini,  sudah mencapai 800 halaman karena dibantu oleh tim yang mengetikkannya.

Banyak ‘cerita pendek’ tentang  kesulitan orang miskin yang tidak mampu beli daging, yang tidak mampu berobat kalau sakit, yang tidak mampu menyekolahkan anak,   menjadi dasar  banyak keputusan yang beliau buat untuk memampukan orang-orang miskin tersebut akan hal-hal yang paling mendasar.  Dan hebatnya semua keputusan itu disertai dengan rambu-rambu agar pelaksanaanya tidak melenceng.

Selama ini kita sudah pernah membaca atau mendengar secara tidak langsung akan hal tersebut tetapi kesannya menjadi sangat berbeda bila kita mendengar langsung dari mulut beliau karena  kita bisa melihat emosi  beliau yang mewarnai setiap kisah,  ketulusan hati beliau untuk membantu orang miskin benar-benar ‘genuine’.

Beliau juga bercerita  beberapa kisah ‘blessing in disguise’  dari  tindakan membantu banyak orang,  sampai ‘blessing’ dapat hukuman 2 tahun.   ‘Gue akan habis, kalau gue dihukum dengan masa percobaan sesuai tuntutan Jaksa’,  demikian beliau berpendapat dengan alasan yang ‘off the record’.     Tapi bagi saya,  apapun alasannya,   saya setuju dengan  ‘blessing’ hukuman 2 tahun ini,  karena  setelah ‘perjuangan’ yang melelahkan,  beliau perlu waktu untuk mengisi ulang batere dirinya untuk menjadi lebih punya value positif,  untuk menjadikan dirinya lebih baik dan lebih baik lagi.

‘Bagaimana perasaan  Ko Ahok difitnah soal gaji dari swasta itu?’  ini pertanyaan saya yang dijawab dengan santai;  ‘ngga pa-pa gue difitnah,  ngga ada perasaan sakit;  gue udah belajar menerima semuanya dengan ikhlas.   Kemudian beliau menambahkan bahwa umumnya banyak orang  cenderung terperangkap pada pola pikir mereka sendiri dalam artian mereka memakai ukuran/barometer diri mereka sendiri untuk menuduh orang lain dan ternyata tuduhan mereka keliru,  karena mereka lupa bahwa tidak semua orang sama dengan mereka,  maka pernyataan yang mereka keluarkan  menjadi tidak berdasar alias fitnah belaka.

Hal yang sama juga dengan jawaban yang beliau berikan waktu saya bertanya soal applikasi Jakarta Smart City apakah bisa diterapkan di semua propinsi ?  ‘Sangat bisa diterapkan,  hanya tergantung pada kemauan para kepala daerah masing-masing saja, mau kerja bener ngga ?’.  Beliau tidak menerapkan ukuran value diri beliau terhadap orang lain. Beliau menjawab hal ini dengan santai padahal saya mengharapkan beliau lebih ‘ngotot’  memaksakan aplikasi yang luar biasa ini dipakai dan diterapkan di semua propinsi,  kalau perlu dengan  Instruksi Presiden.

Inilah  pelajaran penting yang saya dapatkan,  yaitu yang pertama  bahwa kita harus menerima semua kejadian yang menimpa kita dengan ikhlas,  yang saya artikan sebagai berdamai dengan keadaan yang ada dan yang kedua adalah  jangan pernah menilai orang dengan memakai  ukuran/value diri kita,  karena pertama kita akan jadi tukang fitnah atau kita akan menelan kekecewaan. Orang lain itu berbeda dengan diri kita.

Mengambil hikmah dari semua kejadian,  tampaknya juga  mewarnai nada bicara Ahok.   Beliau memang  masih bicara dengan antusias dan semangat yang  tidak pudar,  tapi dibalik nada-nada itu ada nada lain yang meredamnya,  nada-nada yang lebih damai karena ada kebijaksanaan dan keikhlasan dibalik semua cerita-ceritanya yang seru.

Ucapan untuk Marcel & Mario, ditulis langsung oleh Ahok. ‘Gue belajar nulis lurus’

Batere baru lainnya yang beliau isi adalah kesabaran;  dengan sambil bercerita,  beliau dengan sabar menuliskan ucapan-ucapan  dan  menandatangani setiap buku-buku, kartu-kartu dan juga t-shirt2  yang  saya dan teman-teman bawa,  walaupun waktu  berkunjung sudah habis tapi beliau tetap mau menyelesaikan  ‘PR’ dari kami.  ‘Ya,  saya menjadi lebih sabar,  mama saya aja menggerutu kalau lihat banyak buku-buku yang harus saya tandatangani’,  begitu celotehnya.

Dan yang memang tidak  berubah dari Ahok adalah spontanitas dalam berkomentar,    ada beberapa  komentar  lucu yang secara spontan beliau ucapkan untuk kisah-kisah yang mestinya cukup menyedihkan,    tapi itulah Ahok yang pandai meramu kegetiran dan kemudian menghibur dengan ‘ending’ yang manis sehingga membuat orang yang mendengarnya akan merasa lega dan tertawa.

Buku mewarnai untuk terapi anti stress,  souvenir buat Ahok

Sebuah buku mewarnai tingkat lanjut  lengkap dengan pensil warna,  saya sampaikan sebagai souvenir untuk beliau,  ‘ loe mau ngerjain gue ya?’  hahaha… begitu komentarnya dan  saat saya meminta beliau menuliskan namanya  pada kolom ‘this book belongs to’,  Ahok langsung nyeletuk ‘heran,  ngga percaya amat ama gue’  hahaha….tapi beliau  tetap menuliskan namanya secara lengkap dengan ‘full capital letters’.   Sebuah ciri nyata dari seorang yang berkarakter percaya diri.

Sukses mendapatkan semua  ucapan yang ditulis tangan  lengkap dengan tanda tangan  dan terlebih lagi pelajaran berharga dari kisah-kisah yang disampaikan,  saya dan teman-teman juga sukses memeluk Ahok,  karena beliau mengijinkannya,  setelah seorang teman meminta ijin ‘boleh peluk ngga?’ #maafyabuvero  #dilarangiri 😉

Sungguh sebuah kunjungan yang manis sebagai pelepas rindu kepada seseorang yang menjadi idola dan patron kejujuran,  kerja keras dan kepedulian terhadap orang miskin.

Pertemuan ini telah  memastikan saya bahwa sang Basuki tetap memancarkan Tjahaja Purnama-nya di manapun dia berada.  Tuhan selalu memberkatimu,  Koko !

*Maureen T. Rustandi

29 November 2017

Note : Terima kasih untuk Rini Roosdiarti,  seorang teman yang mengatur kunjungan ini dengan seksama dan juga untuk semua teman yang ikut berkunjung : Rini, Elly, Lany, Win, Rosemary, Yenny, Tuty, Anna, Chika, Erika dan Ria.  Seru ya pengalaman kita 😀

Lourdes : Saya Datang Untuk Kembali

November 5, 2017 by Maureen T. Rustandi

Sanctuary of Lourdes view dari Chateau of Pyreneen

Mengutip kalimat dari salah satu biro perjalanan penyelenggara tour ziarah yang menuliskan bahwa ‘kesempatan ziarah adalah berkat luarbiasa yang Tuhan berikan kepada kita’, maka saya ingin membagikan sedikit cerita mengenai ziarah yang saya lakukan pada bulan Agustus lalu saat saya berkesempatan berkunjung ke Lourdes.

Siapa tahu,  cerita saya ini menginspirasi kamu untuk menggali berkat yang mungkin belum kamu sadari kehadirannya…..

Welcome to Sanctuary !

Lourdes,  sebuah kota kecil di lembah pegunungan Pyrenees,  yang terkenal karenkesaksian seorang gadis penggembala,  Bernadette Soubirous,  tentang penampakan Bunda Maria  yang berkali-kali,  sekitar 18 kali, terhadap dirinya pada periode tahun 1858 – 1859.

Bunda Maria menampakkan diri di sebuah lubang batu karang besar,  tempat berteduhnya ternak-ternak, yang dikenal sebagai Grotto Massabielle, dan menyampaikan kepada Bernadette tentang Immaculate Conception,  sehingga  Bernadette harus berjuang mengabarkan dan mempertahankan kesaksian mata jasmani dan mata batinnya akan hal yang tidak ia ketahui sama sekali artinya,  di hadapan para pejabat dan petinggi gereja masa itu.  Perjuangan Bernadette tidak sia-sia karena pada tahun 1862,  Paus Pius IX memberikan persetujuan untuk mengadakan perayaan penghormatan kepada Bunda Maria di Lourdes yang berarti kesaksian Bernadette diterima dan diakui oleh pihak gereja Katolik

Basilika Immaculate Conception yang anggun, domain utama dari Sanctuary

Sejak saat itu  sampai sekarang,   setelah hampir 160 tahun berlalu,  Lourdes tidak pernah sepi dari para peziarah yang datang dari segala penjuru dunia,  sehingga Lourdes dikenal sebagai pusat ziarah dunia terbesar ketiga setelah Roma dan Yerusalem (Holy Land).

Dan ke Lourdes kali ini saya berkunjung setelah sekian lama memendam  keinginan dalam hati.  Sejak  mendarat di Bandara Pyrenees sampai berjalan kaki memasuki pintu gerbang Sanctuary of Our Lady of Lourdes,  yaitu area besar seluas 51 hektar,  yang di dalamnya terdapat Grotto,  beberapa gereja dan basilika,  sumber air suci,  kantor,  jalur jalan salib dan juga pusat pengobatan,    perasaan hati sudah diliputi rasa sangat terberkati bisa tiba dan berjalan di sini menuju ke ‘suatu’ tempat.  ‘Sebentar lagi akan bertemu…..,  sebentar lagi akan bertemu….’  begitu yang bergema di dalam hati ketika  kaki makin mendekat menuju Grotto.

Antri dan berdoa di depan Grotto

Antrian peziarah yang panjang  menuju Grotto tidak menyurutkan niat saya untuk berbaris tertib.  Di saat mengantri  ini, pikiran saya sedikit sibuk untuk mengingat janji-janji saya untuk menyampaikan doa permohonan dari beberapa teman.  Doa permohonan ini mestinya bisa saya tuliskan kemudian saya masukkan dalam sebuah kotak yang ada di sisi kiri Grotto,  tapi saat itu saya berketetapan untuk menyampaikannya langsung kepada Bunda Maria yang telah ‘melihat’ saya datang.

Grotto Massabielle : Salam Maria didaraskan

Dengan mendaraskan doa  Salam Maria dalam hati,  saya berjalan memasuki Grotto dengan  tangan kiri menyentuh  dinding batu karang yang basah dan dingin.  Sumber mata air yang di gali oleh Bernadette atas permintaan  Sang Bunda,  kini masih mengalirkan air dan dibatasi oleh pagar kaca.  Melewati tempat itu,  dinding-dinding batu karang di atasnya makin basah  dan makin basah lagi pada sisi yang berada di bawah tempat Sang Bunda ‘berdiri’.    Di sisi ini saya berhenti sesaat, sendiri saya mencoba merasakan dan meresapi kehadiran Sang Bunda,  telapak tangan yang basah masih menempel pada dinding karang dan batin saya berucap ‘terima kasih Bunda untuk selalu menggenggam erat tangan saya’ dan kemudian saya merasakan kesesakan di dada,  ingin berlama-lama di situ tapi situasi tidak memungkinkan karena akan menghalangi antrian peziarah yang ada di belakang saya, akhirnya saya beranjak melangkah dan tak terasa air mata merambang di pelupuk dan mengalir perlahan di sudut mata.

Oh Bunda, Engkau berdiri di sana memandangku….

Saya melangkah keluar Grotto dan berbalik  pada tempat yang pas untuk memandang ke atas,  di mana Sang Bunda  hadir 160 tahun yang lalu,  Ia ada  ‘di sana’,   bergaun putih dengan pita biru melingkar dipinggangnya,  menggenggam rosario berwarna emas  dan ada dua  bunga mawar berwarna sama dengan warna rosario,  di dekat kakinya;  Ia sedang menatap dengan penuh kasih dan damai.  Saya berhenti  untuk berdoa,  baik doa pribadi maupun doa titipan teman-teman,  semua saya sampaikan di sini.   Saya juga mengucap syukur  karena saya telah ‘diijinkan’ datang dan bertemu di tempat ini,  layaknya Bernadette 160 tahun yang lalu.   Kelegaan dan kehangatan meliputi hati saya.

Setelah selesai berdoa di Grotto,  saya berjalan keliling menyeberangi sungai  dan  memandang Grotto dari kejauhan.  Saya duduk berlama-lama di pinggir sungai ini  masih menikmati berkat yang luar biasa sambil menunggu acara Marian Procession yang akan berlangsung pada jam 21.

Marian Procession

Peziarah yang akan mengikuti Marian Procession

Marian Procession dikenal juga sebagai Torchlight Procession yang diterjemahkan sebagai prosesi lilin,  ide yang dicetuskan pada tahun 1863 oleh Pastor Marie Antoine dari Ordo Capuchin ini diilhami oleh kebiasaan Bernadette yang  setelah penampakan Bunda Maria yang ketiga kali, selalu datang membawa lilin.

Para peziarah dari segala penjuru dunia,  baik yang sehat maupun yang dalam keadaan sakit,  datang ke Lourdes  untuk mengikuti prosesi ini,  yang dilakukan dengan cara mengarak Patung Bunda Maria yang diletakkan di atas semacam tandu dan digotong oleh beberapa orang,  kemudian diikuti oleh barisan peziarah yang sakit,  baik yang berjalan dengan tongkat,  dituntun oleh pendamping,  yang naik kursi roda ataupun yang  rebah di atas tempat tidur rumah sakit;  barisan selanjutnya adalah para peziarah yang sehat yang jumlah tak terhitung karena memenuhi semua tempat kosong yang ada.

Suasana saat prosesi : khusuk dan sakral

Prosesi ini dimulai dari area depan Sanctuary yang dikenal sebagai Basilika Rosary  bergerak mengitari bulevar jalan masuk dari sisi kiri ke sisi kanan dan akan berakhir kembali di Basilika Rosary. (*)  Selama berjalan ini  para peziarah membawa llilin mendaraskan doa  sambil mengenang kisah misteri Rosario yang diselingi dengan menyanyikan lagu Ave Maria dalam berbagai bahasa.

Suasana Basililka St. Pius X yang terletak di bawah tanah, saat persiapan misa internasional

(*) Pada musim dingin,  prosesi ini diselenggarakan di Basilika St. Pius X,  sebuah ruang yang sangat besar di bawah tanah, yang terletak di sisi kiri bulevar (dari arah pintu gerbang) Sanctuary.

Suasana selama berlangsungnya prosesi ini sangat khusuk, cahaya lilin yang menyala di temaramnya langit jam 9 malam,  semilir angin yang menyapa wajah,  rangkaian  doa dan nyanyian yang bergema  berulang-ulang dalam hening serta keteguhan  para peziarah,  terlebih mereka yang sakit,   mendukung  semua kekhusukan itu.  Saya yang tidak mengerti bahasa yang dipakai dan hanya bisa ikut menyanyikan refrain lagu Ave Maria,  ikut terbawa suasana yang tercipta,   hanya ada rasa damai dan berserah yang saya rasakan.

Bunda Maria : Bunda Segala Bangsa

Melihat para peziarah yang dalam keadaan sakit masih dengan teguh mengikuti prosesi ini entah sudah yang ke berapa kalinya,  saya belajar tentang iman yang berpasrah  dari mereka akan  Tuhan Yang Maha Rahim. Dalam kepasrahan ternyata kita makin peka akan kehadiranNya sehingga kita tidak pernah kehilangan harapan akan kasihNya.

Sebelum melangkah meninggalkan Sanctuary pada malam itu,   saya teringat akan tulisan yang ada di bawah patung Sang Bunda  ‘Que soy era Immaculada concepciou’  yang berarti  I am the Immaculate Conception, yang dimaknai  oleh Gereja Katolik sebagai  kebijaksanaan Allah yang tak terselami,  yang mengajarkan umat Katolik untuk menghormati Bunda Maria sebagai teladan kekudusan agar umat selalu berjuang hidup kudus setiap hari dengan mengandalkan kerahiman Tuhan yang tidak terbatas.  Bunda Maria adalah contoh dan teladan dalam hal kekudusan.  Ia tanpa noda.  Ia tanpa dosa.

Saya akan kembali ke sini.

Damai dan sukacita Lourdes saya genggam dalam hati dengan erat.  Melangkah menjauh meninggalkan Sanctuary,  sayup-sayup saya mendengar senandung Ave Maria yang ditingkahi dengan bunyi lonceng yang bergema.  Besok saya akan kembali lagi ke sini.

 

Info ! Info ! Info !

*how to get there ?

Jakarta/Soekarno Hatta – Paris/Charles de Gaulle  : by flight (check Saudi Airlines untuk yang termurah,  kalau lagi beruntung,  bisa naik SQ dengan harga murah juga lho)

Paris/Orly – Lourdes/Tarbes/Pyrenees Airport : by flight  (1jam 15 menit),  check di sini

Lourdes/Tarbes/Pyrenees Airport – Lourdes city : by bus Euro 2,  infonya klik ini

Paris/Montparnasse or Austerlitz – Lourdes train station : by train (5 – 7 jam),  check di sini

*where do you stay ?

Ada banyak tempat tinggal bertebaran di Lourdes,  dari hotel kelas bintang 5 sampai  hostel2 untuk para backpacker.  Pilih yang sesuai dengan gaya perjalananmu.   Ada banyak pilihan di booking.com

Bonus ! Bonus ! Bonus!

Ada beberapa teman yang bertanya ke saya,  ‘ngapaian aja di Lourdes, selain bolak-balik ke Sanctuary ?’   Saya mengalokasi 3 hari 2 malam saat berkunjung ke Lourdes,  selama di situ saya menyelesaikan lebih dahulu yang menjadi prioritas ziarah,  seperti : berdoa di Grotto,  mengikuti prosesi2,  mengikuti misa (ada banyak misa dalam berbagai bahasa disetiap lokasi di dalam komplek Sanctuary) dan di tengah waktu senggang,  saya menyempatkan diri mengunjungi beberapa tempat.   Berikut ini adalah beberapa tempat yang saya sarankan,  seperti  :

♥ Rumah Tinggal Orang Tua Bernadette Soubirious

Dikenal sebagai Maison Paternelle Sainte Bernadette,  terletak di 2 Rue Bernadette Soubirous,  65100 Lourdes

Dengan membayar entrance tiket sebesar Euro 2/orang,  kamu bisa melihat suasana dan keadaan rumah yang pernah ditinggali oleh Bernadette bersama orang tuanya.  Bagian rumah terdiri dari : museum & the old house.

Detail info mengenai Maison Paternelle Sainte Bernadette,  dapat kamu klik ini

 

 

♣  Chateau Fort of Pyrenees

Chateau Fort of Pyrenees

Tempat inilah yang tampak jelas dari kejauhan bila kita berdiri dari pelataran Basilika Immaculate Conception yang berlokasi di bagian atas Sanctuary of Lourdes.   Barisan tembok benteng yang tampak kokoh dengan bendera Perancis yang berkibar anggun di puncak tertingginya,  tampak menarik untuk didatangi.

Pintu masuk ke Chateau ini terletak di 25 Rue deFort, 65100 Lourdes  dengan membayar Euro 7 (dewasa) dan Euro 3 (anak-anak),  kamu dapat langsung mendaki tangga mengitari banteng atau langsung naik lift menuju museum pertama yang terletak di sisi kiri.  Sebaiknya untuk mengeksplore banteng ini kamu mengikuti arah jalan yang ditandai dengan penomoran.

Detail mengenai Chateau Fort de Lourdes dapat kamu intip di sini

♦ Paroisse de Lourdes

Tampak depan Paroisse de Lourdes

Ini Gereja Katolik yang terletak di Place de l’Église, 65100 Lourdes;  menaranya yang menjulang tinggi menjadikan bangunan gereja ini sangat ‘eye-catching’,  terlihat jelas dari atas Chateau de Fort  dan memanggil kita untuk turun dari Chateau,  menyusuri Rue le Bondidier – Rue Baron Duprat,  kemudian menyebrangi Rue Basse,  melewati bagian belakang Pusat Informasi Turis,  menyeberangi jalan utama Rue Saint-Pierre dan masuk menyusuri Rue d’Elgise yang pendek untuk tiba di Place de l’Eglise.  Hanya kurang dari 10 menit dari pintu keluar Chateau untuk tiba di sini.

Saat saya tiba di sini Agustus 2017 lalu,  saya disambut oleh banner raksasa St. Bernadette yang digantung di pilar sisi kiri dan kanan tangga utama.

Interior gereja yang indah dengan pilar-pilar batu marmer menopang kemegahan langit2 yang berbentuk lengkungan simetris sisi kiri dan kanan.   Kamu dapat menyusuri bagian dalam gereja dengan mulai berjalan dari sisi kiri,  memutar di depan altar,  menuju sisi kanan.  Di kedua sisi ini kamu bisa berhenti di setiap kapel kecil untuk berdoa.    Kalau kamu sudah di Lourdes,  silahkan sekalian  mengunjungi gereja ini.

♥ Tarbes

Salah satu sudut kota Tarbes, foto diambil dari atas delman 🙂

Punya waktu senggang selama di  Lourdes ?  Ayo jalan-jalan ke Tarbes,  kota terdekat dengan Lourdes.

Kamu bisa naik bus dengan karcis seharga Euro 2 menempuh 45 menit perjalanan, melewati jalan yang mulus dan pemandangan yang asri atau naik kereta api  yang sangat nyaman,   selama 15 menit dengan tiket antara Euro 8 – 12.    Setiba di Tarbes,  kamu bisa keliling kota dengan delman gratis lho 😉

Info mengenai mengenai Tarbes kamu bisa lihat dikeker di sini.

 

♣ Vielle-Aure

Pemandangan cantik di Vielle Aure

Desa cantik yang berjarak 41Km dari Lourdes akan memberikan pesona yang lain untuk kamu yang datang berlibur ke sini.  Selain alam yang indah,  udara yang bersih,  suasana tenang layaknya pedesaan di banyak negara, Vielle Aure juga memberikan banyak pilihan kegiatan yang dapat dilakukan,   dari wisata alam,  wisata budaya dan sampai aktvitas balap sepeda,  terjun payung dan arung jeram.

 

Info menarik tentang Vielle-Aure, bisa kamu dapatkan di link ini

Kisah ziarah sudah,  info penting sudah dan bonus juga sudah,  apalagi ya yang bisa saya bagikan ? Satu hal yang kalau boleh saya ingatkan adalah jangan pernah menunda kesempatan ziarah yang datang padamu;  tidak perlu menunggu bisa datang ke Lourdes,  Fatima atau pergi ke Holy Land atau ke tempat lainnya yang jauh,  tapi ziarah iman dapat juga kamu lakukan dengan berkunjung ke goa-goa Bunda Maria yang tersebar di semua gereja Katolik.    Memandang wajah Bunda yang penuh kasih dan bersyukur akan ketaatannya yang menyelamatkan,  niscaya kamu akan selalu datang untuk kembali dan ‘kembali’ lagi,  baik  secara fisik dan maupun terlebih secara ‘hati’.   Cinta Bunda Maria selalu bersamamu.

Selamat ziarah temans ! ♥♥♥

*Maureen T. Rustandi

Jakarta,  30 Oktober 2017