Hello Friends ! :)

February 28, 2012 by Maureen T. Rustandi

Hi !  Welcome to my blog !  hoping you enjoy it and get inspired from it ;))

Halo !  Selamat datang di blog saya …. semoga Anda suka membacanya dan mendapatkan inspirasi dari apa yang saya tulis di sini 😉

Hidup itu indah : rajin itu indah,  pintar itu indah,  tertib itu indah,  rapih itu indah,  cantik itu indah,  jalan-jalan itu indah,  suka membaca itu indah,  memberi itu indah,  toleran itu indah dan …………….bersyukur itu paling indah ! :)

Envy You !!

June 27, 2015 by Maureen T. Rustandi

Adalah normal kalau kebanyakan di antara kita suka sirik/iri  kepada orang lain, apalagi kepada yang kita kenal, yang tampaknya punya banyak kelebihan dibanding diri kita.  Kelebihan yang kasat mata seperti lebih kaya, yang dalam ukuran umum berarti lebih banyak uang,  lebih bagus rumahnya,  lebih  keren mobilnya  atau kelebihan2 material lainnya dibandingkan dengan yang kita miliki.   Kelebihan-kelebihan material seperti ini akan selalu memancing sifat sirik/iri seseorang muncul dan ini menurut saya lumrah saja karena memang pada dasarnya ada ego dalam diri kita masing-masing.

Ego yang mendasari kita suka mau menang sendiri, mau hebat sendiri dan kalau bisa tidak ada yang boleh mengalahkan kita  inilah yang menjadi alasan alamiah,  kenapa kita sirik/iri pada orang lain yang hidupnya tampak melebihi kita dalam segala hal terutama yang kasat mata tersebut.

Apakah baik kalau sifat sirik/iri yang hampir ada didiri semua orang ini, dipelihara ? dibiarkan berkembang tanpa kendali ? Kayaknya akan menjadi tidak baik kalau kita selalu memeliharanya,  karena hal itu akan membuat kita merasa bahwa hidup kita lebih jelek dan terpuruk. Kita akan selalu membanding-bandingkan apa yang kita miliki dengan kepunyaan orang lain dan akhirnya kita jadi tidak tahu berterima kasih dan bersyukur dan kalau kita sampai tidak pernah bisa bersyukur, berarti itu sudah malapetaka namanya.

Jadi…., kita tidak boleh sirik/iri dengan keberhasilan orang lain ? yeaah…boleh-boleh aja sih tapi value-nya yang harus kita olah dengan baik sehingga dapat memacu motivasi kita untuk berusaha dan bekerja lebih baik agar kita dapat menyamai keberhasilan yang dicapai orang lain.  Tetapi …..berarti waktu hidup kita akan dihabisi hanya dengan mengejar bayangan orang lain ? Mau seperti itu ? Wah….kita akan capek dong !

Bagaimana baiknya supaya tidak capek ? Baiknya kita belajar mengolah value kesirikan kita dengan keikhlasan. Ikhlas kalau orang lain bisa punya kelebihan materi dari kita sehingga diharapkan kita bisa ikut merasakan kebahagiaan mereka.  Kalau masih juga susah untuk ikhlas, ingat saja kutipan dari ayat kitab suci ini : ‘mengapa engkau iri hati, karena Aku murah hati?’ Mulailah belajar bertanya pada diri sendiri : ’kenapa aku harus sirik kalau Tuhan memberi rejeki ‘lebih’ kepada orang lain?’ Jawaban monolog dari pertanyaan ini lebih kurang akan menjadi seperti ini : ‘aku kan juga sudah mendapatkannya, aku tidak pernah kekurangan, Tuhan tahu mana yang terbaik buatku ….’ ;  monolog dengan suara hati ini akan mendatangkan  keikhlasan dihati dan  setelahnya kamu pasti bisa tersenyum. #percayalah

Setelah bisa tersenyum, mari kita mulai merancang membuat bayangan kita sendiri; tadi kan sudah tahu kalau mengejar bayangan orang lain itu membuat kita capek,  maka mari sekarang kita balik keadaannya, biar orang lain yang mengejar bayangan kita 😀 Mulailah dengan menekuni apa yang jadi pekerjaan kita, passion kita dan memikirkan karya apa yang bisa kita berikan bagi sesama dan lingkungan kita ? Susunlah rencana, tertiblah menjalaninya dan jangan lupa berdoa.

Pribadi-pribadi dengan kekayaran spiritual

Pribadi-pribadi dengan kekayaan spiritual

Untuk mendapatkan ide bagaimana menciptakan bayangan sendiri, saya pribadi suka sekali membaca kolom Sosok yang ada di harian Kompas halaman 16. Terus terang saya lebih super duper sirik/iri kepada mereka yang mempunyai kekayaan spiritual seperti kepada pribadi-pribadi yang ditampilkan pada kolom Sosok;  kebanyakan dari mereka bukan pribadi yang kaya raya secara material, tetapi mereka adalah pribadi-pribadi sederhana yang kaya akan kepedulian terhadap sesama, kaya akan kebaikan hati, kaya karena suka menolong dalam keterbatasan dan tanpa pamrih serta kaya karena banyak memberi inspirasi dengan kerja keras, ketabahan, ketekunan dan dedikasi yang berguna bagi banyak orang. Jenis kekayaan seperti ini yang saya sebut sebagai kekayaan spiritual,  yang tidak akan pernah berkurang nilainya dan jauh lebih berarti dibanding dengan kekayaan material yang bersifat sementara.

Kemampuan mereka berkarya dalam keterbatasan kondisi dan tantangan yang ada benar-benar membuat saya iri. Pengen banget jadi pribadi seperti mereka, pribadi dengan kekayaan spiritual ! I envy you, Ibu Endang Supriyati, Bapak Bambang Erbata Kalingga, Bapak Ganie Aries…..dan semua pribadi yang pernah ditampilkan Sosok….. #ienvyyouandiloveyouall! #keepspirit #selalubersinar

Dan pertanyaan  saya sekarang adalah kalau kamu, pilih kekayaan yang mana ? material, spiritual atau dua2nya ?  Yuk….,  bersiap untuk menciptakan bayanganmu dan bersiap juga  untuk disirikin orang lain hahah….

Note : Terima kasih kepada Kompas yang selalu bisa menghadirkan sosok pribadi panutan :)

* Maureen T. Rustandi


Perempuan Itu ‘Aneh’ Banget Sih … ?

June 6, 2015 by Maureen T. Rustandi

Kita itu memang ‘aneh’, maksud saya perempuan itu ‘aneh’.  ‘Aneeeh’ bangeeettt …!

Menganggap diri harus dihormati oleh orang lain, terlebih oleh pria, karena kodratnya sebagai perempuan dan sebagai ibu, dan akan marah bila dilecehkan; tapi kenyataannya mereka lupa kewajiban untuk menghormati dirinya sendiri dan ‘membiarkan’ diri menjadi sasaran pelecehan.

Untuk hal ini ini contohnya seabrek-abrek. Tau dong banyak perempuan bersedia menjadi istri simpanan atau istri yang kesekian dengan cara dikawin siri; bahkan banyak yang bersedia diajak kawin siri hanya dengan iming-iming janji semata, yang paling ampuh keliatannya adalah janji diajak berziarah, udah hakul yakin dah ini calon pasangan kualitas imannya top markotop kalau berani janji yang satu ini.  Di sinilah perempuan yang mengaku pandai itu terbuai-buai, lenyap kecerdasannya dan lupa bahwa dengan menjadi istri kesekian dan dinikah secara siri itu adalah tindakan menyakiti hati sesama perempuan,  merusak hubungan keluarga yang dilakukan dengan kesadaran bahwa tidak ada hak-hak utama istri yang bisa dituntut oleh dirinya  dan yang paling utama adalah tindakan tersebut merupakan pembodohan dan  pelecehan terhadap dirinya sendiri. #koqmausih

Masih ‘fresh’ kan dalam ingatan akan seorang perempuan dewasa dengan status janda yang mencari suami dengan cara menjual rumah ? ‘Beli rumah dapat istri’ begitulah bunyi iklan yang menarik perhatian dan katanya ‘fenomenal’ karena langsung membuat yang bersangkutan menjadi selebritis dadakan yang diundang dan diinterview oleh banyak media tv dan media online. Awalnya yang bersangkutan mengaku merasa tidak nyaman tapi kenyataannya kepopuleran memang enak untuk dinikmati sehingga tanpa malu-malu lagi memenuhi undangan interview baik off air maupun on air;   sampai pada saat datangnya calon pembeli eh…calon suami juga tidak luput di sharing sehingga jadi pemberitaan yang ditayangkan lengkap dengan screenshot dari HP yang bersangkutan ckckck……

Tapi cerita belum selesai, dan ini menjadi hal yang paling penting, bagaimana seseorang sudah berani mengumumkan ke seluruh jagad raya dengan suara mantab mau menikah bulan depan tapi belum pernah bertemu langsung dengan calon pasangan ? Apakah memang sudah cukup mengenal calon pasangan dengan memandang foto yang dikirim dan bercakap2 via chats room di HP sehingga sudah merasa klop dan berjodoh ? Apakah karena sudah terbuai dengan janji rumah mau dibeli #baruminatbeli, dan janji diajak umroh ? #sekalilagibarujanjidoang .  Yang dicari ini adalah pasangan hidup untuk selamanya ….sang belahan jiwa kan ? Dan apa yang terjadi sekarang  setelah istri sang calon, yang ngakunya duda itu, tiba-tiba muncul ?

Tugas perempuan untuk membuat dirinya dihargai

Tugas perempuan untuk membuat dirinya dihargai

Helloowww ….perempuan yang katanya pandai, bagaimana kita harus bersikap terhadap kenyataan ini ? Ngga ada yang salah dengan niat cari pasangan hidup, ngga ada yang salah dengan niat untuk menjual rumah, tapi menurut saya yang keliru adalah menggabungkan kedua hal tersebut karena tujuan dari dua kegiatan tersebut sangat berbeda. Mencari pasangan hidup dengan tujuan yang lebih abadi untuk dapat pasangan yang cocok sampai maut memisahkan dan menjual  rumah tujuannya adalah secara cepat untuk mendapatkan uang . Bedakan esensinya?

Saya pribadi tidak tahu apakah kisah ‘beli rumah dapat istri’ ini bener-bener kisah beneran atau setting-an media yang memang selalu perlu menciptakan sensasi untuk masyarakat yang katanya butuh hiburan; kalo memang berita setting-an, kita sebagai anggota masyarakat mestinya sadar untuk tidak mau dilecehkan dengan berita hiburan yang ngga cerdas. Atau kita memang ‘aneh’ ? Tapi walau apapun, berita setting-an atau tidak, saya mengharapkan tidak ada lagi perempuan2 lain yang mau diperlakukan atau melakukan hal yang sama dan sejenis walaupun dikemas secara berbeda. Dan kalaupun ada, baiknya kita menjadi bagian dari masyarakat yang cerdas dalam menanggapinya #nggausahhebohditanggapi

Yuk kita jadi perempuan cerdas yang mampu menghargai diri kita sendiri sebelum menuntut orang lain menghargai diri kita.  Mari kita perlakukan diri kita dengan pantas sebagai sehingga kita nyaman dan pantas juga untuk dihargai  sehingga tidak ada lagi orang-orang yang bersungut-sungut sambil menggerutu  ‘perempuan itu ‘aneh’ banget sih…..!’   #stopkawinsiri #stopjadiistrisimpanan #stoppembodohandiri #stopmelecehkandirisendiri

Note :  kata ‘aneh’ di sini dapat dibaca sebagai ‘tolol’   #duhnggategasayanulisnya

* Maureen T. Rustandi


Sombong

June 3, 2015 by Maureen T. Rustandi

Renungan tentang kesombongan di bawah ini saya dapatkan dari postingan seorang teman di group WA.  Saya posting di blog ini untuk mengingatkan diri saya supaya selalu BELAJAR  rendah hati dan semoga juga berguna buat kamu yang membacanya.

MUTIARA HATI,  sebuah renungan tentang kesombongan

Seorang pria yang bertamu ke rumah Sang Guru tertegun keheranan. Dia melihat Sang Guru sedang sibuk bekerja;  ia mengangkuti air dengan ember & menyikat lantai rumahnya keras-keras.  Pria itu bertanya:  ‘Apa yang sedang Anda lakukan?’   Sang Guru menjawab: ‘Tadi saya kedatangan serombongan tamu yang meminta nasihat.  Saya memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka.   Mereka pun tampak puas sekali.
Namun,  setelah mereka pulang tiba-tiba saya MERASA menjadi orang yang hebat.   Kesombongan saya mulai bermunculan.   Karena itu,  saya melakukan ini untuk membunuh perasaan sombong saya.’

Saudaraku….
Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, benih-benihnya kerap muncul tanpa kita sadari.

Di tingkat pertama, sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih kaya,  lebih rupawan,  dan lebih terhormat daripada orang lain.

Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain.

Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh faktor kebaikan. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah,  dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.

Yang menarik…. Semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita mendeteksinya.

Sombong karena materi sangat mudah terlihat,  namun sombong karena pengetahuan,  apalagi sombong karena kebaikan,  sulit terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.

Cobalah setiap hari,  kita memeriksa hati kita. Karena setiap hal yang baik dan yang bisa kita lakukan, semua karena ANUGERAH Allah semata.

Kita ini manusia hanya seperti debu,  yang suatu saat akan hilang dan lenyap.  Kesombongan hanya akan membawa kita pada kejatuhan yang dalam.

Mari kita renungkan…God Bless You !

 

 

 

 

 

 

 

 

Note : terima kasih untuk  Ibu Ani Gunawan yang sudah memposting ini  di Group Lektor/Lektris St. Monika,  pada tanggal 30 Mei 2015 :)