Ronda !

September 5, 2018 by Maureen T. Rustandi

The legend Puente Nuevo

Ronda !  Kata ini bergema di sanubari tiada henti sejak saya mulai merencanakan perjalanan  ke Spanyol  awal Desember 2017 sampai saat kaki menginjak stasiun kereta api di kota dengan nama yang sama pada tanggal 8 Mei 2018.  Sepotong gambar sebuah jembatan yang menjadi landmark kota ini,  telah menggebukan hati untuk mampir  ke sini.  Puente Nuevo  yang berarti New Bridge,  nama jembatan itu.  Sebuah  ‘jembatan baru’  yang dibangun selama 42 tahun dan selesai pada tahun 1793 😉

Ronda kids welcome me 😉

Ronda ! Stasiun kecil yang dipadati anak-anak SD kelas 1 or 2 dengan pendamping

masing-masing pagi itu begitu riuh rendah seakan ikut ‘menyambut’ kedatangan saya dan keluarga.  Wajah2 ceria dengan celotehan yang ramai begitu antusias saat kereta api datang dan dengan tidak sabar mereka berbaris untuk menaiki kereta api.  Wah….rupanya anak-anak tersebut mau jalan-jalan dengan para guru mereka.

Ronda ! Sekejap setelah kepergian anak-anak dengan kereta api,  para orang tua pengantar meninggalkan stasiun dan  stasiun kecil itu berangsur-angsur  sepi.  Segera saya langkahkan kaki menyeberang menuju Hotel Andalucia untuk menitipkan koper-koper.   Memang penitipan koper hanya ada di hotel ini bukan di stasiun  sebagaimana biasanya.

Hotal Andalucia, tempat penitipan koper ada di sini

Ronda ! Bertemu dengan Francisco yang cekatan menangani koper-koper dan menyimpannya di gudang terpisah dari tempat koper-koper tamu hotel,  katanya supaya lebih aman.   Saya sempat juga bersantap makan pagi sebentar di kafetaria yang bersebelahan dengan hotel,  karena sewaktu pagi-pagi berangkat dari Granada belum sempat sarapan.  Sepotong roti dengan segelas jus jeruk Valencia yang fresh,  yang pohon jeruknya bertebaran di sepanjang jalan dengan buah bergelayutan,  cukup memberi kekuatan baru.   Note : untuk 1 gelas jus jeruk,  diperlukan 7 buah jeruk segar yang di jus dalam waktu kurang dari 1 menit !

Parador de Turismo

Ronda ! Bersemangat menyusuri jalan lurus arah ke kanan  dari pintu keluar Hotel Andalucia,  sesuai petunjuk Fransisco,  yang katanya hanya  15 menit berjalan kaki untuk sampai ke pusat atraksi yang menjadi incaran para turis,  yaitu si jembatan baru,  Puente Nuevo.   Saya melewati jalan yang merupakan jantung kota Ronda,  bertemu dengan pasar,   pusat perbelanjaan,  toko-toko keren dengan brand lokal maupun brand internasional,  resto/café yang menjual makanan khas,  salah satunya berupa roti berlapis-lapis smoked pork dan juga gereja yang tampak depannya sangat menarik perhatian karena bercat warna putih dan kuning.

Balcon del Cono

Ronda ! Tiba dipertigaan dan tanpa melihat direktori,  kaki saya melangkah ke arah kiri dan kemudian menyebrang,  berjalan di teras sebuah bangunan kuno yang dulu berfungsi sebagai Balai Kota dan saat ini sebagai hotel dan juga pusat pusat informasi turis,  sebagaimana terbaca dengan jelas tulisan yang terpatri pada bagian atas atap ‘ Parador de Turismo de Ronda’;  kemudian saya berbelok ke kanan,  dan…..berhenti di sana sambil menoleh ke kiri,  di sana terbentang dalam jarak dekat,  Puento Nuevo !   Bergeser lebih jauh ke arah kanan,   menuju ke bagian belakang  Parador de Turismo,  selain masih bisa memandang Puento Nuevo  dengan lebih leluasa,   terhampar juga  lembah hijau yang menyejukan mata,  bukit-bukit landai di kejauhan,  langit biru cerah dan awan-awan putih berarakan.  Pemandangan yang sama ini bisa juga dilihat dari balkon khusus yang disediakan,  yaitu Balcon del Cono Viewpoint atau Mirador de Aldehuela.

Keindahan yang menyejukan mata

Ronda ! Kota kecil di Selatan Spanyol yang langsung memberi aura nyaman kepada saya;  hhmm,  saya seperti mencium wangi surga di sini.   Bergegas untuk mereguk wangi sepuasnya,  saya melanjutkan langkah melewati  Puente Nuevo dan berbelok ke kanan menyusuri Camino de Los Molinos,  sebuah jalan kecil yang sisi kiri dan kanannya berjejer rapat bangunan kuno.  Jalan ini  menuju lembah hijau yang saya lihat dari belakang Parador de Turismo,  untuk melihat  keanggunan dan kesakralan Puente Nuevo dari arah bawah. Bangunan di sepanjang jalan ini tampil rapih,  bersih dan beberapa dilengkapi dengan keunikan daun pintu atau teralis jendela.

Flowers along the path

Ronda ! Berjalan turun menyusuri jalan setapak yang penuh bunga warna warni memang serasa berjalan menuju gerbang surga dan bila sesekali mendongak ke atas,  di sisi kanan kita akan melihat keindahan dinding bangunan warna putih yang berjajar rapih  ditepi tebing dan bila memandang kejauhan,  akan tampak anggunnya bangunan tua berwarna kuning kuno bekas Balai Kota,  yang tegak kokoh di ujung tebing.   Jalan setapak serasa masih panjang berkelok,  terlintas rasa capai yang akan kami alami saat mendaki pulang tapi ‘suara nyanyian’ dari lembah  yang elok meneguhkan langkah kami untuk terus berjalan turun.

Ronda ! Woowwww ! mulut terperangah, mata terbelalak,  hati berdegu,  di depan mata memandang,  berdiri dengan megah dan perkasa si jembatan baru yang menghubungkan kota tua Moorish dan kota baru El Mercadillo;  dan……. ‘ayo foto segera Ma’ suara anak saya menyadarkan saya untuk segera berpose karena sayup-sayup sudah terdengar suara ramai serombongan turis yang sedang turun.  Bila sudah terlalu ramai pengunjung maka sudah pasti kami akan kesulitan mendapatkan posisi/spot yang baik untuk mengabadikan Puente Nuevo lengkap dengan situasi di sekelilingnya yang tampil benar-benar luarbiasa dilihat dari arah lembah.

Wooiiii ….this is Puente Neuvo !

Ronda ! Menghabiskan sedikit waktu untuk berlama-lama memandang ke segala penjuru,  yang saya dapati adalah ketakjuban betapa pemandangan ini sungguh langka,  dinding tinggi tebing  El Tajo yang berkelok-kelok  memancarkan nuansa kekar,  berpadu manis dengan pondasi kokoh Puente Nuevo setinggi 120 meter disertai hamparan ‘permadani’ hijau bercahaya gemerlap bunga liar warna kuning dan pancuran air sungai Guadelevin yang mengalir melewati dasar Puente Nuevo serta bangunan-bangunan kuno yang bertengger di atas tebing yang dipayungi dengan langit biru tua yang bersih,  sungguh merupakan panorama indah yang membuat  saya merasa sangat kecil dan sangat tidak berdaya.  Di mana gerangan saya berada ?

Sepotong Ronda yang akan selalu dikenang

Ronda ! Ini surga dunia.  Segala keanggunan,  segala keagungan dan segala kehebatan memang hanya milikNya.  Terima kasih Tuhan untuk kesempatan saya dan keluarga berkunjung ke sini.   Dengan hati penuh syukur, perjalanan pulang yang mendaki kembali jalan setapak serasa ringan dan saya bisa melihat lebih banyak bunga-bunga di kiri kanannya.  Sesekali saya menoleh ke belakang dan mencoba menyimpan di benak saya gambaran terakhir Puente Nuevo yang tertangkap mata.

With my best partner in crimes 😉 at the bullring – Plaza de Torros

Ronda ! Perjalanan mereguk nikmatmu belum selesai dan kaki saya terus melangkah…..

Ronda ! Terkenal juga sebagai ‘rumah’ dari seni adu banteng (bullfighting) yang modern,  maka  saya menyempatkan berkunjung ke arena bullring,  Plaza de Torros,  arena adu banteng  yang  terkenal di Ronda  yang didirikan pada tahun 1785 oleh arsitek Jose Martin Aldehuela,  arsitek yang sama yang membangun Puente Nuevo.   Menyempatkan masuk ke museumnya,  membaca sejarah bullfighting dan mengenal Francisco Romero sebagai pembaharu aturan adu banteng  dan mengenal sang cucu,  Pedro Romero (1754 – 1839) sebagai penakluk banteng yang kesohor di Spanyol.   Di toko museum saya membeli beberapa cendera mata sebagai kenang-kenangan akan Ronda.

Plaza del Socorro

Ronda !   Plaza del Socorro  yang berlokasi di Calle Nueva,  a New Street yang saat pagi hari saya lewat masih sepi,  situasinya sudah jauh berbeda saat saya melewatinya pada siang hari.  Resto dan café yang bertebaran di depan Plaza ini menggelar kursi-kursi di luar,   sangat ramai dan penuh warna.  Patung Hercules dengan 2 domba menjadi penandanya dan gereja kecil dengan tampilan warna putih kuning yang cemerlang mengundang saya masuk;  sejenak terpesona dengan tampilan warna dinding kombinasi pink, biru dan putih.  Interior gereja  yang bernama Parroquia de Nuestra Señora del Socorro ini cantik dan berbeda dari umumnya gereja.  Di bagian dinding belakang altar,  tampak Bunda Maria menggendong bayi Yesus dalam gambar yang indah.

Parroquia de Nuestra Señora del Socorro

Ronda ! Bila suatu saat kamu berada di kota ini dan punya lebih banyak waktu,  berikut saya informasikan beberapa situs yang bisa kamu kunjungi :

** Gereja The Santa Maria del Mayor yang terletak di Plaza Duquesa de Parcent,  gereja dengan bangunan gaya Gothic, Renaissance dan Baroque ini pembangunannya memakan waktu lebih dari 200 tahun dari abad 14 – 17.   Di sini tersimpan sejarah kejayaan Islam berupa lengkungan mihrab di balik tabernakel-nya.

** Almocabar Gate,  letaknya yang berdekatan dengan Plaza del Soccoro memungkinkan kamu untuk mengunjunginya walau dalam waktu yang terbatas. Di sini  kamu akan disambut dengan bangunan benteng kokoh layaknya kota-kota kerajaan jaman dulu yang digambarkan dalam film-film kolosal.  Almocabar  menjadi 1 dari beberapa city walls yang melindungi Ronda.

Cuenca Garden

** Cuenca Gardens,  terletak di tepi tebing El Tajo pada sisi sebelah dari Puente Nuevo,  tanah dengan struktur bersusun membentuk teras  alam yang indah.  Bila kamu kembali dari lembah Puente Nuevo keluar dari Camino de Los Molinos,  segeralah menyeberang untuk mendapatkan pemandangan indah ini dan jangan lupa untuk menengok kebawah untuk melihat dasar sungai Guadelevin,  karena saat itulah pandanganmu akan tersihir dengan kekokohan dinding tebing El Tajo.

Ronda ! kunjungan singkat,  kurang dari 1 hari,  yang tak akan pernah terlupakan.  Sepotong surga ada di sini, di Propinsi Malaga,  100 kilometer sebelah Barat kota Malaga,  Spanyol;    tempat yang hanya berpenduduk 35.000 jiwa,  yang beruntung memiliki alam yang indah,  infrastruktur  megah yang mengundang jutaan pelancong datang,  yang mewarisi bangunan2 kuno yang bercerita tentang kejayaan masa lalu  dan yang memelihara ketenangan alami bagi kenyamanan yang hadir.  Klik ini untuk mencari tahu bagaimana mencapai Ronda dari berbagai kota di Spanyol.

The girl who fall in love with Ronda 😉

Ronda ! kenangan akanmu selalu melekat,  melihat kembali foto-foto dirimu yang luar biasa memberi kebahagiaan tersendiri betapa saya pernah bertemu denganmu dan rasa syukur saya akan kembali terucap dari hati yang terdalam.

Ronda !

*Maureen T. Rustandi

Agustus 2018

Note :  Bonus foto-foto lain mengenai Ronda,  silahkan klik di sini

Teman, Sampaikan Salamku Kepada Sevilla Yang Cantik :)

July 21, 2018 by Maureen T. Rustandi

Di kesempatan penghujung musim semi, awal Mei 2018 yang baru lalu, saya berkunjung ke Sevilla,  sebuah kota cantik di Spanyol,  yang letaknya ‘berdekatan’ dengan kota lainnya seperti : Granada, Cordoba dan Malaga.   Saya sebut berdekatan karena ke empat kota tersebut berada di bagian  yang sama,  yaitu bagian Selatan Spanyol  dan keempatnya berada di kawasan otonomi yang sama , yaitu Andalusia.

Yang membedakan adalah Sevilla merupakan ibukota dari otonomi Andalusia dan merupakan kota terbesar ke empat di Spanyol; sedangkan Granada,  Cordoba dan Malaga masing-masing merupakan ibukota dari propinsi dengan nama yang sama  yang  berada di kawasan otonomi  tersebut.      Sehingga  dari kedudukan sebagai ibukota,  bisa dikatakan Sevilla yang menjadi ‘kepala’  di antara ketiga kota lainnya.     Bila kamu ingin berkunjung ke salah satu kota tersebut,  silahkan sisihkan waktu dan atur jadwal untuk mengunjungi ke empatnya.  Biar hemat dan sekalian jalan gitu 🙂

Khusus ditulisan ini  saya  mau berkisah sedikit tentang Sevilla yang saya kunjungi hanya dalam yang cukup singkat, yaitu  1 hari 1 malam saja dan tentunya saya harus membuat pilihan dan prioritas tempat-tempat  apa saja yang baiknya saya kunjungi;   dan ini  yang saya lakukan sesaat setelah tiba di Sevilla yaitu bergegas pergi ke  Plaza Virgen de los Reyes dan Plaza del Triunfo.

Kedua plaza yang letaknya bersebelahan ini  merupakan jantungnya kota Sevilla,  tempat berpusatnya beberapa bangunan yang bernilai historis dan artistik.   Sedikitnya ada 3 situs wisata utama yang bisa dikunjungi di sini,  yaitu :

1.Menara Giralda

Berupa  ‘bell tower’  setinggi 100 meter yang merupakan landmark kota Sevilla dan juga termasuk salah satu menara indah di dunia  Dibangun pada abad 12 awalnya sebagai minaret mesjid agung Almohad;  setelah mengalami beberapa kali kerusakan akibat gempa,  saat ini Menara Giralda dilengkapi dengan lonceng  dan  pada puncaknya  bertengger dengan megah patung seorang wanita yang berdiri diatas bola dunia  memegang semacam layar kapal. Patung ini disebut sebagai representasi dari Triumph of Faith dan berfungsi sebagai penunjuk arah angin dan dinamai El Giraldillo yang bangunannya merupakan kesatuan dengan menara ini.

View from Giralda

Bila punya banyak waktu di Sevilla,  silahkan menyempatkan diri untuk naik ke menara ini sehingga kamu bisa melihat kecantikan  kota Sevilla dari ketinggian.

Pada saat saya berkunjung ke sini,  Menara Giralda sedang dalam proses restorasi, banyak tiang-tiang penyangga disekililingnya dan  ada pembatasan bagi pengunjung yang ingin naik.   Tampilan Giralda saat restorasi ini membuat saya tidak mempunyai fotonya yang anggun.  So,  saya jadi  punya alasan ya untuk kembali ke Sevilla suatu saat nanti 😉

2.Katedral Sevilla

Cathedral de Sevilla

Informasi yang ada menyebutkan ini adalah katedral terbesar ke tiga di dunia setelah Basilika St. Petrus di Vatican City dan Basilika Our Lady of Aparecida di Brasil,  tetapi karena keduanya tidak menjadi tempat kedudukan Uskup,  maka Katedral Sevilla,  yang bernama lengkap Cathedral of Saint Mary of the See,   disebut sebagai katedral terbesar di dunia.  Menduduki area seluas 23.500 M2,  dengan bangunan bergaya Gothic – Renaissance seluas  10.500 M2,  cukup kiranya menjadi alasan mengapa saya batal berjalan  mengitari katedral ini 😉  hhmm,   suatu kemalasan yang mungkin akan saya sesali suatu saat nanti.

St. Christopher Door

Sebelum menjadi Katedral Sevilla,  dulu di tempat yang sama berdiri bangungan besar berupa mesjid,  yang bernama Mesjid Almohad (abad 12);  seiring dengan pergantian kekuasaan yang terjadi di Sevilla,  maka pada periode abad 13 – 14 terjadi perubahan fungsi atas bangunan masjid  yang sebagian bangunannya  hancur karena gempa besar yang melanda Sevilla di pertengahan abad 13,  menjadi katedral.   Bangunan baru dan tambahan bangunan dibuat sekitar selama 100 tahun  sehingga menjadi katedral seperti saat ini.

Daya tarik utama yang membuat para pelancong  sebaiknya bergegas membeli tiket secara online (daripada kehabisan) dan rela mengantri panjang untuk masuk ke Katedral ini adalah untuk melihat keindahan altar utama  dan ingin melihat makam ChristophenColumbus,  sang penemu Benua Amerika.

Katedral ini memiliki 15 pintu masuk yang tersebar di semua sisi,  tapi tidak semua pintu masuk bisa membawa pengunjung ke area utama katedral karena beberapa di antaranya hanya mengantar kita masuk ke sebuah kapel.   Ada lebih kurang 30 kapel terdapat di katedral ini yang semuanya dilengkapi dengan  interior dan karya seni yang indah.    Pintu utama katedral adalah The Door Assumption yang terletak di tengah  sisi Barat,  sedangkan pengunjung biasanya mengantri masuk dari pintu Selatan,  The Door of Saint Christopher,  yang di area depannya terdapat replika patung El Giraldillo.

Capilla Mayor

Bila kita ada di sisi timur Katedral,  kita bisa menikmati kerimbunan pohon2 jeruk  di Patio of the Orange Trees (Patio de los Naranjos),  berupa taman yang luas dengan  pusat sebuah kolam air mancur yang letaknya sejajar dengan lorong gerbang menuju Katedral.

Memasuki ruang dalam Katedral, maka mata kita dalam sekejap dihadang oleh keindahan yang luar biasa,  pilar penyangga yang berbaris rapih dan menjulang indah membentuk kubah2,  karya seni  yang artistik, rumit dan halus berupa patung-patung,   lukisan kaca patri dan dekorasi lainnya.  Bila waktu terbatas,  maka bergegaslah menuju ke altar utama atau Capilla Mayor atau Chapel High di mana kita bisa melihat sebuah altar piece berukuran 20 meter X 13 meter dengan 45 panel dan lebih dari seribu tokoh (patung) sebagai pelakon  yang mengisahkan tentang Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.      Altar piece ini dikerjakan selama 50 tahun lebih sejak tahun 1482 – 1533 oleh berbagai seniman berdasarkan design asli Pierre Dancart.  Patung Our Lady or Saint Mary of the See menempati posisi terhormat di sini.

Tomb of Christopher Colombus

Hal penting lainnya yang wajib dilihat di Katedral ini adalah Mouseleum Christopher Columbus yang  terletak di bagian timur katedral ini. Makam dan lebih tepatnya mummy Columbus diletakkan pada sebuah peti dan dipanggul empat orang pengawal dengan masing-masing memakai empat elemen lambang Spanyol yakni Kerajaan Kastilia, Kerajaan León, Mahkota Aragon dan Kerajaan Navarre seperti yang terdapat di bendera Spanyol.

Mengunjungi katedral ini saat kamu di Sevilla adalah keharusan;  keindahannya akan  membuka wawasan dan menambah kebijakan kita bahwa kemampuan manusia  memang  luar biasa dan Tuhan Sang Pencipta manusia sudah pasti lebih luar biasa lagi. Segala kemuliaan memang hanya untukNya.

3.The Reales Alcazares, lebih dikenal sebagai Alcazar.

Lion’s Gate

Sebuah komplek kastil yang terdiri dari beberapa bangunan dengan interior asli bergaya Moorish dan menjadi lokasi shooting filem fantasi Game of Throne yang popular itu.   Didirikan oleh dinasti Almohad, seperti halnya menara Giralda,  pada abad 12  dan  pada perkembangannya sejalan dengan pergantian penguasa/dinasti,  beberapa bangunan tambahan dibuat dengan gaya yang berbeda,  seperti gaya Gotic Renaissance,  yang tetap menggunakan elemen struktur asli Moorish.

Pintu masuk ke dalam kompleks Alcazar melalui Puerte del Leon atau Lion Gate, sebuah bangunan menyerupai benteng pertahanan sebuah kota,  merupakan bagian penting peninggalan dinasti Almohad,   dengan dinding tebal berwarna merah dan di atas pintu masuknya terpatri gambar seekor singa yang sedang memegan sebuah salib.  Saat saya tiba di sini,  antrian dari pengunjung yang belum mempunyai tiket,  sudah mengular dan luber ke Plaza del Triunfo.

Patio de las Doncellas

Note : Penting untuk saya ingatkan kembali,   bila kamu ingin berkunjung ke sini,  sebaiknya membeli tiket secara online.   Karena tanpa tiket online,  mungkin perlu waktu 1 s/d 2 jam untuk sampai di depan Lion Gate ini,  karena petugas mengatur maksimal 25 orang untuk masuk secara berkelompok hampir setiap 8-10 menit dan memberikan prioritas masuk kepada pengunjung yang sudah membeli tiket online dan juga  kepada pengunjung yang bergabung dengan licensed tour guide berbagai bahasa yang menawarkan jasa mereka secara berkeliling. Jadi bila kamu dalam antrian dan ingin potong kompas,  alternatif yang bisa diambil adalah bergabung dengan kelompok tour dadakan ini,  dengan membayar fee yang lumayan mahal,  sekitar 25-30 Euro/orang tergantung kepada bahasa pengantar yang digunakan.

Melewati pintu gerbang singa,  di sisi kiri kita akan menemui Chamber of Justice yang menyimpan kisah dramatis tentang pembunuhan,  di sisi kanan kita akan melihat bangunan dengan tampak depan yang sangat eye-catching,  yaitu Istana dari King Don Pedro,  yang merupakan masterpiece dari Mudejar Art;  dan di hadapan kita Patio de la Monteria yang menjadi identitas dari bangunan bergaya Moorish.

Inside Alcazar

Memasuki Monteria,  kita segera akan bertemu dengan  Patio de las Doncellas yang menjadi obyek para pengunjung berfoto.  Gaya bangunan unik ini mengingatkan saya kepada Alhambra,  kastil bergaya Moorish lainnya yang terletak di Granada,  kota yang saya kunjungi sebelum Sevilla.  Konon kisahnya tukang ukir yang sama didatangkan khusus dari Granada.  Doncellas, berupa bangunan 2 lantai mengelilingi  taman di bagian tengah,  dengan pilar-pilar berukir yang unik dan indah.   Dinding dari setiap ruangan di Doncellas juga bertekstur indah khas Moorish.

Berjalan kenarah sisi kiri dari Doncellas menuju bagian dalam Alcazar kita akan menemukan banyak ruangan dengan ukiran  keramik yang indah pada bagian dinding yang berkisah  tentang  cerita dari kitab suci, atau hanya sekedar ukiran khas seni Mudejar dan pesan penting lainnya untukmu adalah jangan lupa untuk mendongakkan kepala untuk melihat ukiran dengan tekstur yang indah berkilau pada beberapa bagian langi-langit khususnya  langit-langit dome.

Wall and ceiling of Ambassador’s Hall

Ada satu ruangan  yang menjadi pusat kekaguman pengunjung,  yaitu  Hall of the Ambassadors (Salon de Embajadores)  yang memperlihatkan keindahan dan keanggunan seni Mudejar pada bagian seluruh dinding,  arches,  dan pintu-pintunya.   Langit2 dome-nya sungguh indah yang konon merupakan peninggalan abad 15.  Disamping  The Ambassadors,  kamu juga akan  menjumpai King’s Gallery yang di dalamnya terdapat 56 panel lukisan para raja/ksatria yang dibuat oleh Diego de Esquivel sekitar abad 16.   Selanjutnya pada bagian akhir sebelum menuju ke taman di bagian belakang,  ada sebuah ruangan yang cukup besar lainnya yang bernama Tapestry Room.  Di ruangan ini tergantung dengan baik koleksi Flemish tapestry.

Setelah selesai menjelah ruangan-ruangan di Alcazar,  sempatkan juga untuk mengunjungi  taman,  yang bisa dinikmati keindahannya dari sedikit ketinggian bila kita menaiki lorong yang memanjang yang berada di sisi kiri taman.  Taman indah ini dilengkapi dengan  beberapa air mancur,  patung-patung  dan juga labirin.  Taman ini juga menyatu dengan ruang mandi terbuka Maria de Padilla dan Prince’s Garden.

Alcazar Garden

Mengunjungi Alcazar bila kamu sudah berada di Sevilla,  juga merupakan hal yang wajib.  Keindahan gabungan beberapa seni seperti Moorish,  Mudejar dan juga  Renaissance akan memperkuat pengertian kita bahwa keberagaman itu sesungguhnya indah.  Gabungan ke tiga seni ini bisa dilihat dari bentuk bangunan,  interior,  lukisan kaca,  corak langit-langit bahkan sampai ke penataan taman.

Setelah selesai seharian berkunjung ke 3 lokasi ini,  bila masih punya waktu di sore/malam hari atau pagi keesokan harinya,  sempatkan untuk berkunjung ke :

The Mushrooms of the Incarnation (Las Setas de la Encarnacion)

Panorama Deck – The Mushrooms

Bangunan kanopi modern karya arsitek Jerman,  Jurgen Mayer-Hermann ini lebih dikenal dengan nama Metropol Parasol,  didirikan di atas reruntuhan bangunan kuno,  menjadikan tempat ini sebagai salah satu tujuan wisata di Sevilla.  Metropol Parasol merupakan struktur  bangunan terbesar di dunia yang dibuat dari material kayu yang tampak dari kejauhan seperti jamur raksasa dan apabila dilihat dari dekat tampak material kayu yang dirakit secara indah ini seperti sarang lebah.

Struktur ini merupakan kubah atau kanopi yang memayungi area plaza yang banyak terdapat toko,  restoran,  museum dan ruang pameran di sekitarnya.   Ada tangga landai pada bagian sisinya yang mengantarkan pengunjung  mencapai ‘panorama deck’,  dan kamu harus menyediakan waktu untuk sampai di dek ini agar bisa melihat  sisi lain kota Sevilla dari ketinggian sekitar 25 meter.

Plaza de Espana

Plaza de Espana

Beberapa ulasan mengenai Plaza de Espana menyebutkan bahwa bangunan ini merupakan ‘the2nd most impressive’ setelah Katedral Sevilla,  berbentuk separuh lingkaran berwarna bata dan bergaya campuran antara Moorish dan Renaissance,  dilengkapi dengan dua menara di sisi utara dan selatan yang menambah daya kemegahannya.

Plaza ini dibangun untuk keperluan Expo 29 tahun 1929 di lokasi taman Maria Luisa sebagai pernyataan diri Sevilla sebagai kota industri dan pusat kerajinan.  Plaza ini juga dipergunakan lagi pada tahun 1992 saat Expo 92 diselenggarakan kembali di Sevilla.

Detail bangunan ini sangat indah dengan banyak ornamen keramik sebagai bagian dari struktur atau sebagai penghias dinding.  Lukisan keramik berwarna-warni cemerlang yang mewakili lambang  48 propinsi yang ada di Spanyol  bisa dijumpai di sini.    Sempatkan dirimu mengelilingi plaza ini dan mengakhiri kunjungan di sini dengan menyelusuri kanal yang terbentang bersisian dengan Plaza ini  seperti layaknya kamu berada di ‘mini Venice in Sevilla ;).

Foto-foto yang bagus  bisa kamu dapatkan bila datang pada waktu yang tepat seperti di pagi hari atau pada sore yang temaram saat matahari terbenam.   Yang saya sertakan di sini adalah foto hasil jepretan my youngest son 🙂

So,  jangan lupa tulis Plaza de Espana dalam daftar  tempat yang ingin kamu kunjungi di Sevilla.  Don’t miss it !

Inilah sekilas kisah tentang Sevilla yang bisa saya bagikan untukmu,  bila saya ingat perjalanan saya ke kota ini,  maka segala kenangan akan selalu mengulik perasaan saya untuk segera mengunjunginya kembali.   So,  bila kamu mengunjunginya segera dalam waktu dekat,  sampaikan salam saya padanya ya,  pada Sevilla yang cantik 😉

Jakarta, 20 Juli 2018

Maureen T. Rustandi

Sekilas info :

How to get Sevilla ?  Saya berkunjung ke Sevilla dari Granada via Cordoba dengan kereta api AVE by Renfe yang nyaman dan tepat waktu,  check di sini jadwal kereta api.

Punya banyak waktu di Sevilla ?  check website ini untuk informasi tempat2 menarik di Sevilla.

Bonus Foto-foto :

Detail of Capilla Mayor at Seville Cathedral : ada lebih 1000 patung di sini

Patio de las Doncellas : view dari bagian tengah

Altar Madonna @Alcazar

Ceiling of the dome of Ambassador’s Hall

Colourful ceramic painting @Alcazar

Patio de Banderas,  Sevilla

Plaza del Calbido, Sevilla

Santa Catalina Chapel, Sevilla

View dari Plaza de Espana

Central tourist attraction, Sevilla

Yang punya blog ini di depan Monteria, Alcazar 🙂

Via Dolorosa : Jalan Keselamatan Yang DIA Bangun Untuk Kita

March 7, 2018 by Maureen T. Rustandi

 

Via Dolorosa : Jalan Salib, Jalan Keselamatan

Bersyukur bisa mengikuti perjalanan ziarah ke Tanah Suci Yerusalem pada bulan Desember 2017 yang lalu.  Begitu banyak hikmat dan nikmat yang tidak bisa dan tidak cukup dijabarkan dalam kata-kata , sehingga saya perlu waktu cukup lama untuk bisa menuliskan pengalaman luar biasa ini.   Saya perlu waktu untuk  memikirkan dan memilah-milah  hal dan kejadian apa yang paling berkesan dan yang mendatangkan berkat perziarahan, tidak hanya untuk saya saja,  tapi juga untuk banyak orang,  terlebih untuk teman-teman yang suka membaca blog saya ini.

Ini kisah yang pertama 😉

Via Dolorosa

Dikenal sebagai Jalan Kesengsaraan atau Jalan Salib (The Way of Cross)  yang dilewati Tuhan Yesus saat memanggul salib dari tempat Ia diadili,  yang sekarang  dikenal sebagai  Church of Flagellation sampai ke Church of  The Holy Sepulchre  (Gereja Makam Kudus),  Golgota.

Lorong sepanjang Via Dolorosa dari Gerbang West Tunnel

Titik perhentian Jalan Salib yang menjadi tradisi umat Katolik untuk mengenang sengsara Tuhan Yesus  (Passion of Christ) ada 14 titik perhentian,  yang  disebut sebagai stasi,  dan di sepanjang Via Dolorosa yang berkelok-kelok ini terdapat 9 stasi,  5 stasi lainnya terletak di dalam komplek Church of Holy Sepulchre.

Biasanya pada hari-hari tertentu dan terlebih pada masa sebelum dan  sesudah Paskah,  peserta ziarah akan mengikuti dan menjalani prosesi Jalan Salib ini lengkap dengan pemanggulan salib,  baik yang diselenggarakan oleh kelompok imam setempat (Ordo Fransiskan) ataupun oleh kelompok peziarah yang didampingi oleh pembimbing rohani.

Menyusuri Via Dolorosa melalui Western Wall Tunnel yang terletak di sebelah barat Tembok Ratapan,  saya berjalan  pada sebuah

Pasar di Via Dolorosa

lorong panjang dengan lebar yang berbeda-beda;   di sepanjang lorong  ini pada bagian kanan dan kirinya berjejer  toko-toko, pedagang  kaki lima dan juga pasar.  Bagian atas lorong dilengkapi dengan lengkungan-lengkungan yang menghubungi sisi kiri dan sisi kanan.

Entah mengapa pada saat menyusuri lorong Via Dolorosa ini saya tiba-tiba teringat akan  potongan lirik dari sebuah lagu ini :  ♥Yesus,  Tuhanku karena kasihMu,  Kau panggul salib ke Golgota♥ dan perasaan hati saya langsung merasakan kesedihan yang sedikit mencekam yang kemudian menjalar ke seluruh tubuh seperti saya melakukan suatu kesalahan fatal yang tidak dapat saya perbaiki lagi.

Perasaan ini terus menggayuti hati  sampai setibanya saya di  beberapa titik perhentian Jalan Salib yang semuanya penuh dengan kerumunan  peziarah.

Walaupun saya tidak mengikuti prosesi Jalan Salib,  tapi saya sangat terkesan pada  stasi-stasi yang saya kunjungi dan  lewati,  yaitu :

Stasi I  :  Komplek Monastery Fransiskan –  Church of Flagellation :  Tempat  Yesus Dijatuhi Hukuman Mati dan Dimahkotai.

Tempat kejadian asli saat  Yesus divonis mati

Pada bagian dinding luar monastery ini,  terdapat sebuah pintu gerbang kecil yang telah ditutup permanen dengan batu kapur dan apabila kita tidak teliti memperhatikannya,  maka kita akan begitu saja melewatinya tanpa sadar bahwa disitulah tempat  kejadian Yesus divonis hukuman mati,  dicambuk pertama kali dan dimahkotai rangkaian duri.  Mungkin karena keperluan akan jalan untuk peziarah,  tempat ini seakan dipindah ke dalam kompleks monastery.

Di dalam komplek monastery  dibangun gereja,  Church of Flagellation (Gereja Penderaan), yang pada bagian interiornya  dilengkapi dengan kisah Ponsius Pilatus membasuh tangan,  Yesus didera dan dimahkotai  serta kegembiraan Barabas,  yang semuanya terlukis pada dinding kaca bagian atas yang mengitari altar.

Interior Altar Church of Flagellation *pic by BibleWalk

Lukisan pada langit-langit kubah gereja ini secara artistik menggambarkan mahkota duri yang secara langsung mengingatkan para peziarah akan mahkota duri yang dikenakan Yesus.

Stasi II : Church of Condemnation :  Titik Awal Yesus Memanggul Salib

Terletak  dalam satu komplek monastery yang sama dengan Church of Flagellation yang ada di sisi kanan,  Church of Condemnation (Kapel Penghukuman) terletak di sisi kiri  dan secara letak bersisian dengan pintu  gerbang kecil yang telah ditutup secara permanen tersebut,  yang merupakan tempat asli Yesus dijatuhi hukuman mati.

Church of Comdemnation dengan kubah yang sebagian terlihat

Gereja ini tampak lebih indah dengan menara 5 kubah yang  tingginya tidak beraturan.  Kubah-kubah ini secara jelas terlihat dari luar monastery.  Pada latar dari altar gereja ini terdapat lukisan artistik yang memperlihat Yesus dengan jubah berwarna merah sedang dipersilahkan oleh seorang algojo untuk segera memanggul salibnya.  Ya.  di tempat ini, Yesus mulai memanggul salib,  memanggul semua dosa-dosa manusia dan dosa-dosa saya.

Ya…Yesus, karena kasihMu,  Kau panggul salib ke Golgota……♥  sepenggal lirik ini bergema kembali dihati saya tanpa bisa saya hentikan.

Stasi IV : Saat Yesus Berjumpa Dengan IbuNya.

Stasi IV : Yesus Bertemu dengan IbuNya

Kerumunan peziarah ada di depan pintu gerbang Church of Our Lady of the Spasm atau dikenal sebagai Gereja Duka Bunda Maria, yang dibangun pada tahun 1881.  Gereja ini  menjadi perhentian keempat dari perjalanan sengsara,  menandai  saat Yesus berjumpa dengan IbuNya.  Gereja ini milik Armenian Catholic,  dilengkapi dengan kapel yang didedikasikan buat Bunda Maria.     Perjumpaan yang sangat mengharukan ini   digambarkan dengan indah dalam bentuk patung yang sangat bagus.

Stasi V :  Simon dari Kirene Membantu Memanggul Salib

Kerumunan peziarah di depan Chapel of Simon of Cyrene

Ini adalah perhentian kelima dari Via Dolorosa.   Saat melewati tempat ini,  saya bertemu dengan beberapa peziarah dari Indonesia yang sedang mengantri masuk bergantian.   Di perhentian ini dibangun sebuah kapel milik Fransiskan,  yang diberi nama Chapel of Simon of Cyrene (Kapel Simon dari Kirene) sebagai penghormatan kepada Simon yang bersedia membantu Yesus memanggul salib.

Setelah berkunjung  dan melewati beberapa stasi Jalan Salib ini dengan sesekali menyenandungkan sepenggal lirik lagu,  akhirnya secara begitu saja,   saya dapat mengingat  utuh lirik lagu yang memilukan hati ini :

Oh,  Yesusku,  Sang Penebus bermahkotakan duri; Oh,  Tuhanku, betapa jahat dosa yang kubuat

Yesus Tuhanku karena kasihMu;  Kau panggul salib ke Golgota

Oh Yesusku,  Sang Anak Domba yang menanggung dosa;  Kau relakan,  Kau disesah demi keselamatanKu

Yesus Tuhanku karena kasihMu; Kau panggul salib ke Golgota

Paving stone asli dari zaman Herodes

Menyenandungkan lagu ini dalam diam  sambil berjalan memandang ke arah  paving stone yang menurut informasi  adalah asli dari jaman Herodes,  langsung  terbayang di pelupuk mata bahwa di jalan ini 2000 tahun yang lalu,  Yesus memanggul salib dalam derita yang mendalam,  dihina,  didera,  dicambuk,  berdarah-darah dan terjatuh berulang kali dalam perjalanan sengsaranya ke Bukit Golgota.  Membayangkan ini semua,  rasanya tidak kuat untuk menahan air mata yang mulai merembes di pelupuk mata.  Membayangkan darahNya yang berceceran di sepanjang jalan yang sekarang saya lewati dengan segala sifat kemanusiaan saya yang lemah.  Klik link ini untuk mendengarkan lagu yang menyayat hati ini.

Kembali terlintas juga saat malam sebelumnya saya dan rombongan berkunjung ke komplek Church of Sepulchre  yang terletak di Bukit Golgota, berdesak-desakan dengan para peziarah dari seluruh dunia untuk  mengunjungi titik-titik perhentian menjelang akhir Jalan Salib,  yaitu :

Stasi  XI  :  Yesus Dipaku Pada Kayu Salib

Gambaran Yesus Dipaku Pada Kayu Salib : lukisan dinding yang indah

Memandang lukisan  yang dibuat sangat indah dengan paduan warna hijau lembut dan kuning keemasan  ini,  saya mendapatkan wajah Yesus yang begitu damai dan penuh kasih padahal Ia sedang terlentang di atas salib yang rebah  dengan kaki dan tangan yang  sudah dipaku. Sepertinya lukisan ini mau  menyampaikan pesan bahwa kesengsaraan sama sekali tidak berarti bagiNya karena kasihNya yang demikian besar yang mengalahkan semua penderitaan. KasihNya telah mengajarkan kepada saya dan kita semua untuk tidak perlu takut berkorban karena damai akan diberikan kepada kita  bila kita melakukannya dengan rela.

Stasi  XII : Yesus Wafat Pada Kayu Salib

Begitu banyaknya peziarah yang berkerumun di sekitar tempat ini karena masih menunggu selesainya ritual yang sedang berlangsung,  saya mendapati keheningan yang mendalam,  hampir tidak ada suara berbisik yang terdengar di sini.  Sepertinya suasana kesedihan secara otomatis terbangun di sini.

Bukit Golgota : DIA wafat di sini

‘Ya Yesusku,  dua ribu tahun yang lalu Engkau tergantung di sini,  salibMu tertancap di sini hanya untuk menebus dosaku yang umumnya terjadi karena aku terlalu egois, tinggi hati, iri hati dan selalu lupa bersyukur.  Aku bersimpuh di sini dengan kesesakan  hati yang membuncah  mengingat penderitaanMu dan airmataku bergulir mengingat semua kasihMu.  Terima kasih Yesus! Terpujilah Engkau selama-lamanya !’  Demikian kalimat yang sempat saya bisikan saat saya bersimpuh di Golgota.  Ya,  tempat ini adalah Golgota.

Tempat yang ditemukan oleh Helena,  ibu dari Raja Konstantin,  yang mendapat ‘pesan’ untuk mencari tempat ini setelah ia dan putranya menjadi Kristen.  Berkat Helena (yang kemudian menjadi Santa Helena),  kita semua,   para peziarah,  dapat bersimpuh di sini.

Stasi XIII : Pengurapan Jenazah Yesus

Wajah Bunda yang bersedih hadir di sini

Begitu banyak peziarah yang berlutut,  menangis sambil mencium dan membersihkan potongan batu yang secara tradisi dipercaya sebagai tempat pengurapan jenazah Yesus sesaat telah diturunkan dari kayu salib,  sebelum dimakamkan.   Berlutut di sisi batu ini,  saya seperti melihat wajah Bunda Maria yang penuh duka,  memeluk tubuh anaknya yang penuh dengan luka dan sudah tidak bernyawa.  Wajah Bunda yang sedih berkali-kali terlintas di sini :'(

Stasi XIV : Yesus Dibaringkan Dalam Lubang Kubur

Di tempat ini adalah antrian panjang kedua yang saya alami,  setelah pagi harinya selama 1 jam lebih berdesak-desakan dengan para peziarah dari seluruh dunia di Gereja Nativity,  gereja yang dibangun di atas tempat kelahiran Yesus;  maka sore ini,  saya dan rombongan kembali antri dengan tertib dan mengikuti arahan dari para petugas  yang berulang kali ‘menggiring’ kami untuk mendekat ,  menjauh,  dan mendekat lagi sampai seperti dipepet ke bangunan makam karena lebar jalur antrian bisa diatur fleksibel dengan memindahkan pagar besi yang mobile.

Hanya cahaya lilin ini yang menerangi makam Yesus

Gereja Makam Yesus yang dikenal sebagai Gereja Makam Suci atau The Church of Sepulchre,   menaungi empat situs teramat penting bagi perziarahan orang Kristen  yang dijabarkan sebagai perhentian 11 s/d 14 pada  perenungan atau devosi ritual Jalan Salib.

Setelah antri lumayan lama,  akhirnya sampai pada giliran saya untuk masuk ke dalam makam;  kami diatur maksimal 4 peziarah masuk  bersamaan dengan waktu yang sangat terbatas mengingat antrian masih mengular di luar.   Saat berlutut di samping  batu yang 2000 tahun lalu menjadi alas bagi jenazah Yesus,  perasaan saya seperti hampir tidak percaya saya bisa sampai di situ;  perasaan campur aduk seperti anak yang hilang yang selama ini hanya mendengar kabar  seseorang yang mengasihinya  tapi tidak pernah berkunjung kerumahNYA;  dan ketika berkesempatan itu datang,  yang didapat hanya makamNYA.

Oh Yesusku betapa jahat dosa yang kubuat♥  …. saat menuliskan alinea ini,  sepotong lirik lagu itu tiba-tiba bergema kembali dan…..kali ini saya hati saya serasa tercabik-cabik mengenang perziarahan saya di Via Dolorosa.

Kubah Gereja Makam Kudus tepat di atas makam Yesus

Kenyataannya menuliskan kisah Via Dolorosa ini tidak semudah saya menuliskan cerita perjalanan  lainnya.  Berulang kali  mendengar ‘seseorang’ menyanyikan lagu ♥Oh Yesusku♥  di saat-saat saya mengenang perziarahan ini  membuat saya merenungkan kembali arti perziarahan ini,  sehingga bagi saya,  Via Dolorosa adalah sebuah jalan keselamatan yang ‘dibangun’  Tuhan Yesus dengan darahNya buat kita semua.   Bukan sekedar jalan dengan kelokan dan paving stone yang vintage serta lengkungan-lengkungan yang menawan,  di mana para peziarah mestinya melewati jalan ini dengan kesadaran iman yang murni.   Ini sungguh sebuah perziarahan yang sangat indah yang mendatangkan banyak berkat bagi saya.

Semoga teman-teman yang mempunyai keinginan untuk melakukan perziarahan yang sama dapat segera melakukannya  dan untuk teman-teman yang belum memikirkannya sama sekali,  mulailah untuk membuka hati …. Dia memanggil !

*Maureen T. Rustandi

3 Maret 2018

** Ucapan syukur dan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Baik yang telah membisakan saya bersama suami dan ayah mertua melakukan ziarah ini. Terima kasih juga kepada Pastor Garbito Pamboaji,  Marisa Winata dan semua teman2 rombongan ziarah Christour, EHP 123012-2017😊

*** Bonus – Bonus – Bonus

Tampak Depan Church of Sepulchre

Kubah Church of Sepulchre yang anggun, tepat di atas makam Yesus

Tampak Depan Church of Our Lady of Spasm
* pic by Bible Walk

Perjumpaan yang mengharukan di kapel Stasi IV – Church of Our Lady of Spasm *pic by Bible Walk

Yesus dengan jubah merah. lukisan di Church of Condemnation

Tampak depan bagian atas Church of Flagellaltion

Saya bersama Marisa Winata, Tour Leader yang mengurus dan mendampingi peserta ziarah.

Teman2 seperjalanan ziarah yang menyenangkan

 

God’s Calling

February 14, 2018 by Maureen T. Rustandi

Memasuki awal tahun 2017 saya sudah berniat untuk merealisasikan perjalanan ziarah ke Tanah Suci (Holy Land),  dengan cara mulai mencari beberapa informasi dari biro-biro perjalanan,  membanding-bandingkan program dan harga yang ditawarkan,  mencari waktu yang tepat agar tidak berhimpitan dengan rencana perjalanan lainnya,  menyesuaikan dengan hari cuti yang  tersedia dan mengabarkan rencana perjalanan ziarah ini ke beberapa teman dekat;  hal yang terakhir ini,  menurut saya yang paling paling penting,  karena setidaknya saya seperti mengucapkan janji kepada seseorang agar bisa menepatinya.

Apakah demikian berniatkah saya untuk berangkat sejak dari awal tahun? Hmm…

Sepanjang tahun 2017 itu saya sebenarnya agak terombang-ambing mengambil keputusan  antara apakah benar-benar mau ziarah dan kapan waktu yang tepat untuk berangkat.  Apalagi setelah pilihan pertama berangkat pada libur lebaran, tidak lagi menjadi pilihan karena informasi cuaca yang panas,  maka rencana ini terabaikan karena saya fokus kepada urusan lain.

God’s Calling

Setelah musim panas berlalu dan mulai memasuki bulan  September,  ingatan akan janji pergi ziarah ke Tanah Suci kembali datang,  seakan-akan seperti ‘panggilan’ yang datang dari berbagai arah,  ada yang datang dari teman,  dari mantan pacar,  dan yang paling jelas adalah yang arahnya  datang  dari  ‘hati’,  suatu panggilan yang tidak bisa disembunyikan,  seakan selalu ada di belakang saya :  menegur dan menuntut.

Setelah cukup lama melakukan ‘perdebatan’ dalam batin  mengenai hal-hal yang secara manusiawi akan menjadi ganjalan dalam perjalanan ziarah,  seperti keterikatan dengan rombongan,  keterbatasan waktu,  kemampuan menyesuaikan diri dengan peserta ziarah atau dengan tata tertib lainnya;  maka setelah berjuang ‘memenangkan’ perdebatan batin ini,   rasanya sudah tidak ada lagi yang dapat  menghalangi realisasi perjalanan ziarah ini.

Sedikit godaan masih menghampiri saat group tour pilihan pertama menginformasikan bahwa sudah tidak ada tempat bagi saya karena mereka sudah fully booked,  saat itu saya sempat ‘mengintip’ program ziarah mereka yang ke lain tujuan yang lebih banyak leisure-nya dibanding dengan kegiatan pilgrim;  tapi kembali suara hati bergema ‘selesaikan Holy Land’.   Saya tahu ini yang disebut sebagai God’s Calling.  Saya tidak bisa menghindarinya.

Karena saya tidak mau terlambat untuk kedua kalinya,  maka dengan segera saya mendaftar ke group tour pilihan kedua,  dan selanjutnya semua urusan persiapan berjalan lancar.  Doa yang saya mohonkan setiap malam selama lebih kurang 1 bulan sebelum keberangkatan adalah mohon keikhlasan hati agar selama perjalanan ziarah, saya tidak menemukan kendala yang mungkin saja akan membuat saya bad mood karena jengkel dan sebal.   Dalam periode doa ini,  saya juga tiba-tiba berkeinginan untuk mengajak papa mertua,  Hidajat Rustandi,  untuk ikut bersama.   Saya tahu ini Tuhan yang berkeinginan.  Bukan saya.

Selamat Datang di Yerusalem !

Puji Tuhan, perjalanan ziarah saya yang berlangsung dari tanggal 19 Desember  s/d 30 Desember 2017 berlangsung dengan lancar, walaupun menjelang keberangkatan banyak sekali berita  mengenai perselisihan (baca : pertempuran)  antara Palestina dan Israel akibat pernyataan Presiden Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, sehingga sampai adanya himbauan dari Kedutaan RI di Mesir untuk menunda perjalanan ke daerah yang diperebutkan oleh kedua belah pihak tersebut.

Tapi ternyata perjalanan ziarah rombongan saya tidak menemukan kendala apapun, bahkan kami tidak melihat atau merasakan adanya aura peperangan di Yerusalem yang cantik.  Demikian juga bagi saya pribadi, semua berlangsung lancar dan menyenangkan. Saya dapat dengan mudah menyesuaikan diri dengan situasi yang ada  walaupun situasi tersebut bukan situasi yang baik,  seperti halnya saat tidak ada wifi,   saat waktu menunggu terlalu lama,  saat harus berjalan kaki cukup jauh,  saat diburu-buru untuk segera melanjutkan perjalanan,  saat mendapatkan kamar hotel yang kurang nyaman atau saat hidangan yang tersedia kurang memenuhi selera.  Rasanya semua itu hal yang biasa-biasa saja yang dengan sendirinya dapat saya jalani dengan gembira.   Saya tahu Tuhan menjawab doa yang  saya mohonkan  : keikhlasan hati.

Selama tour berlangsung,  setiap hari kegiatan kami diisi dengan doa bersama dan ibadat sabda atau misa;  saya mencatat ada 7  misa dan 1 Doa Rosario yang terselenggara dengan lancar dan khusuk,  yaitu misa di :

  1. Kapel Francescanne Elisabettine, Kairo 22 Des 2017
  2. Kapel Padang Gembala, Bethlehem 24 Des 2017 jam 8 pagi
  3. Gereja Notredame, Yerusalem, Misa Malam Natal, 24 Des 2017 jam 8 malam
  4. Function Room Hotel Orient Palace, Bethlehem,  Misa Natal 25 Des2017 jam 7 pagi
  5. Taman Bukit Sabda Bahagia, Galilea,  27 Des 2017
  6. Kapel di Kana, Nazaret, Misa Peneguhan Janji Perkawinan,   28 Des 2017
  7. Gereja Memorial of Moses, Gunung Nebo – Yordania, 29 Des 2017

dan 1 Doa Rosario,  Lembah Sinai,  23 Des 2017 untuk mendoakan teman-teman yang malam itu mendaki Gunung Sinai.

Dalam setiap  kesempatan misa tersebut,  Pastor pendamping,  RD Garbito Pamboaji,  selalu memohonkan agar doa-doa kami dan doa-doa orang yang kami doakan dapat dikabulkan Tuhan.  Tapi di samping itu,  ada hal lain yang selalu diingatkan oleh Pastor pendamping yaitu untuk merenungkan apa buah-buah perziarahan yang didapat dari perjalanan ini.

Setelah kembali dari perjalanan,  ada beberapa kejadian yang memerlukan keputusan saya,    baik di tempat kerja maupun di bidang pelayanan,  yang mengingatkan saya akan buah-buah perziarahan apa yang telah saya dapatkan,  yang kiranya dapat meneguhkan langkah saya untuk mengambil keputusan-keputusan penting.  Beberapa saat,  hampir sebulan setelah perjalanan selesai,  saya merasa bahwa saya tidak mendapat apa-apa kecuali foto,  foto dan foto.

Bukit Golgota

Bersimpuh di Bukit Golgota

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sekali waktu saat saya sudah merasa jenuh merenungkan  perziarahan ini,  secara iseng saya membuka file-file foto yang isinya ribuan foto itu dan satu persatu foto-foto itu saya perhatikan sambil melakukan ‘napak tilas’ dalam benak saya dan tiba-tiba saya melihat sebuah foto yang tidak terlalu terang dan jelas karena memang lokasi tempat foto itu aslinya redup.    Foto itu yang memperlihatkan saya sedang berlutut mencium lantai.   Seketika,  setelah melihat foto itu,  saya tahu apa yang saya dapatkan dari perziarahan ini.

Tak terasa air mata saya kembali bergulir melihat foto itu,  situasi yang sama saat foto itu diambil dari belakang saya,  saat itu air mata saya sedang bergulir.  Itu bukan sembarang lantai yang saya cium.  Lantai berlubang itu adalah tempat di mana salib Yesus tegak berdiri,   salib tempat Ia digantung menderita, dicambuk, dipaku, dirajam;  salib tempat Ia  meregang nyawa karena kasihNya yang tiada berbatas kepada manusia,  kepada saya.

Foto itu masih saya pandangi dan saya ingat akan  gema suara di hati saat itu  yang mengingatkan saya untuk  membalas kasihNya,  ‘sedikit saja’,  kata suara itu,  ‘masa sih kamu tidak bisa?’ tuntut suara itu.    Semuanya begitu menjadi jelas kembali dan saya sadar bahwa ini suaraNya.  Ia berbicara kepada saya,  mengingatkan saya bahwa permohonan keikhlasan hati yang Ia kabulkan,   tidak hanya untuk perjalanan ini saja,  tetapi juga untuk ‘perjalanan-perjalanan’ hidup selanjutnya.   Saya menjadi lebih jelas mendengarNya,   dengan keikhlasan hati akan lebih ‘memudahkan’  saya untuk menjadi lebih baik,  lebih  berbuat baik,  lebih bersikap baik,  menjadi lebih rendah hati dan lebih punya perhatian akan keadaan sekitar sehingga saya mampu sedikit saja membalas kasihNya.

Kandang Natal Gereja Notredame Yerusalem

Ya Tuhan,  maafkan saya yang demikian mudah melupakan hal ini. Hal yang menjadi inti panggilan Mu ! Ijinkan saya untuk selalu mempunyai senyum seperti yang tampak pada foto di depan kandang Natal lantai dasar Gereja Notredame ini.  Foto yang di ambil pada malam yang sama setelah saya mengerti arti panggilanMu saat Kau ‘bicara’ di Bukit Golgota, tepat di malam kelahiran PutraMu terkasih.

Terima kasih Tuhan atas panggilanMu ini.  Terima kasih atas waktu perenungan yang saya lalui dan mampukan saya untuk selalu  mengingat hal ini.   Saya percaya bahwa Engkau selalu mengasah hati saya untuk selalu menjadi lebih ikhlas dan lebih peka sehingga dapat  lebih mengerti mengenai apa yang Kau kehendaki untuk saya jalani bukan hanya untuk kebaikan saya semata tapi untuk kebaikan banyak orang.

Gloria…. Praise The Lord !

*Maureen T. Rustandi

31 Januari 2018