Lourdes : Saya Datang Untuk Kembali

November 5, 2017 by Maureen T. Rustandi

Sanctuary of Lourdes view dari Chateau of Pyreneen

Mengutip kalimat dari salah satu biro perjalanan penyelenggara tour ziarah yang menuliskan bahwa ‘kesempatan ziarah adalah berkat luarbiasa yang Tuhan berikan kepada kita’, maka saya ingin membagikan sedikit cerita mengenai ziarah yang saya lakukan pada bulan Agustus lalu saat saya berkesempatan berkunjung ke Lourdes.

Siapa tahu,  cerita saya ini menginspirasi kamu untuk menggali berkat yang mungkin belum kamu sadari kehadirannya…..

Welcome to Sanctuary !

Lourdes,  sebuah kota kecil di lembah pegunungan Pyrenees,  yang terkenal karenkesaksian seorang gadis penggembala,  Bernadette Soubirous,  tentang penampakan Bunda Maria  yang berkali-kali,  sekitar 18 kali, terhadap dirinya pada periode tahun 1858 – 1859.

Bunda Maria menampakkan diri di sebuah lubang batu karang besar,  tempat berteduhnya ternak-ternak, yang dikenal sebagai Grotto Massabielle, dan menyampaikan kepada Bernadette tentang Immaculate Conception,  sehingga  Bernadette harus berjuang mengabarkan dan mempertahankan kesaksian mata jasmani dan mata batinnya akan hal yang tidak ia ketahui sama sekali artinya,  di hadapan para pejabat dan petinggi gereja masa itu.  Perjuangan Bernadette tidak sia-sia karena pada tahun 1862,  Paus Pius IX memberikan persetujuan untuk mengadakan perayaan penghormatan kepada Bunda Maria di Lourdes yang berarti kesaksian Bernadette diterima dan diakui oleh pihak gereja Katolik

Basilika Immaculate Conception yang anggun, domain utama dari Sanctuary

Sejak saat itu  sampai sekarang,   setelah hampir 160 tahun berlalu,  Lourdes tidak pernah sepi dari para peziarah yang datang dari segala penjuru dunia,  sehingga Lourdes dikenal sebagai pusat ziarah dunia terbesar ketiga setelah Roma dan Yerusalem (Holy Land).

Dan ke Lourdes kali ini saya berkunjung setelah sekian lama memendam  keinginan dalam hati.  Sejak  mendarat di Bandara Pyrenees sampai berjalan kaki memasuki pintu gerbang Sanctuary of Our Lady of Lourdes,  yaitu area besar seluas 51 hektar,  yang di dalamnya terdapat Grotto,  beberapa gereja dan basilika,  sumber air suci,  kantor,  jalur jalan salib dan juga pusat pengobatan,    perasaan hati sudah diliputi rasa sangat terberkati bisa tiba dan berjalan di sini menuju ke ‘suatu’ tempat.  ‘Sebentar lagi akan bertemu…..,  sebentar lagi akan bertemu….’  begitu yang bergema di dalam hati ketika  kaki makin mendekat menuju Grotto.

Antri dan berdoa di depan Grotto

Antrian peziarah yang panjang  menuju Grotto tidak menyurutkan niat saya untuk berbaris tertib.  Di saat mengantri  ini, pikiran saya sedikit sibuk untuk mengingat janji-janji saya untuk menyampaikan doa permohonan dari beberapa teman.  Doa permohonan ini mestinya bisa saya tuliskan kemudian saya masukkan dalam sebuah kotak yang ada di sisi kiri Grotto,  tapi saat itu saya berketetapan untuk menyampaikannya langsung kepada Bunda Maria yang telah ‘melihat’ saya datang.

Grotto Massabielle : Salam Maria didaraskan

Dengan mendaraskan doa  Salam Maria dalam hati,  saya berjalan memasuki Grotto dengan  tangan kiri menyentuh  dinding batu karang yang basah dan dingin.  Sumber mata air yang di gali oleh Bernadette atas permintaan  Sang Bunda,  kini masih mengalirkan air dan dibatasi oleh pagar kaca.  Melewati tempat itu,  dinding-dinding batu karang di atasnya makin basah  dan makin basah lagi pada sisi yang berada di bawah tempat Sang Bunda ‘berdiri’.    Di sisi ini saya berhenti sesaat, sendiri saya mencoba merasakan dan meresapi kehadiran Sang Bunda,  telapak tangan yang basah masih menempel pada dinding karang dan batin saya berucap ‘terima kasih Bunda untuk selalu menggenggam erat tangan saya’ dan kemudian saya merasakan kesesakan di dada,  ingin berlama-lama di situ tapi situasi tidak memungkinkan karena akan menghalangi antrian peziarah yang ada di belakang saya, akhirnya saya beranjak melangkah dan tak terasa air mata merambang di pelupuk dan mengalir perlahan di sudut mata.

Oh Bunda, Engkau berdiri di sana memandangku….

Saya melangkah keluar Grotto dan berbalik  pada tempat yang pas untuk memandang ke atas,  di mana Sang Bunda  hadir 160 tahun yang lalu,  Ia ada  ‘di sana’,   bergaun putih dengan pita biru melingkar dipinggangnya,  menggenggam rosario berwarna emas  dan ada dua  bunga mawar berwarna sama dengan warna rosario,  di dekat kakinya;  Ia sedang menatap dengan penuh kasih dan damai.  Saya berhenti  untuk berdoa,  baik doa pribadi maupun doa titipan teman-teman,  semua saya sampaikan di sini.   Saya juga mengucap syukur  karena saya telah ‘diijinkan’ datang dan bertemu di tempat ini,  layaknya Bernadette 160 tahun yang lalu.   Kelegaan dan kehangatan meliputi hati saya.

Setelah selesai berdoa di Grotto,  saya berjalan keliling menyeberangi sungai  dan  memandang Grotto dari kejauhan.  Saya duduk berlama-lama di pinggir sungai ini  masih menikmati berkat yang luar biasa sambil menunggu acara Marian Procession yang akan berlangsung pada jam 21.

Marian Procession

Peziarah yang akan mengikuti Marian Procession

Marian Procession dikenal juga sebagai Torchlight Procession yang diterjemahkan sebagai prosesi lilin,  ide yang dicetuskan pada tahun 1863 oleh Pastor Marie Antoine dari Ordo Capuchin ini diilhami oleh kebiasaan Bernadette yang  setelah penampakan Bunda Maria yang ketiga kali, selalu datang membawa lilin.

Para peziarah dari segala penjuru dunia,  baik yang sehat maupun yang dalam keadaan sakit,  datang ke Lourdes  untuk mengikuti prosesi ini,  yang dilakukan dengan cara mengarak Patung Bunda Maria yang diletakkan di atas semacam tandu dan digotong oleh beberapa orang,  kemudian diikuti oleh barisan peziarah yang sakit,  baik yang berjalan dengan tongkat,  dituntun oleh pendamping,  yang naik kursi roda ataupun yang  rebah di atas tempat tidur rumah sakit;  barisan selanjutnya adalah para peziarah yang sehat yang jumlah tak terhitung karena memenuhi semua tempat kosong yang ada.

Suasana saat prosesi : khusuk dan sakral

Prosesi ini dimulai dari area depan Sanctuary yang dikenal sebagai Basilika Rosary  bergerak mengitari bulevar jalan masuk dari sisi kiri ke sisi kanan dan akan berakhir kembali di Basilika Rosary. (*)  Selama berjalan ini  para peziarah membawa llilin mendaraskan doa  sambil mengenang kisah misteri Rosario yang diselingi dengan menyanyikan lagu Ave Maria dalam berbagai bahasa.

Suasana Basililka St. Pius X yang terletak di bawah tanah, saat persiapan misa internasional

(*) Pada musim dingin,  prosesi ini diselenggarakan di Basilika St. Pius X,  sebuah ruang yang sangat besar di bawah tanah, yang terletak di sisi kiri bulevar (dari arah pintu gerbang) Sanctuary.

Suasana selama berlangsungnya prosesi ini sangat khusuk, cahaya lilin yang menyala di temaramnya langit jam 9 malam,  semilir angin yang menyapa wajah,  rangkaian  doa dan nyanyian yang bergema  berulang-ulang dalam hening serta keteguhan  para peziarah,  terlebih mereka yang sakit,   mendukung  semua kekhusukan itu.  Saya yang tidak mengerti bahasa yang dipakai dan hanya bisa ikut menyanyikan refrain lagu Ave Maria,  ikut terbawa suasana yang tercipta,   hanya ada rasa damai dan berserah yang saya rasakan.

Bunda Maria : Bunda Segala Bangsa

Melihat para peziarah yang dalam keadaan sakit masih dengan teguh mengikuti prosesi ini entah sudah yang ke berapa kalinya,  saya belajar tentang iman yang berpasrah  dari mereka akan  Tuhan Yang Maha Rahim. Dalam kepasrahan ternyata kita makin peka akan kehadiranNya sehingga kita tidak pernah kehilangan harapan akan kasihNya.

Sebelum melangkah meninggalkan Sanctuary pada malam itu,   saya teringat akan tulisan yang ada di bawah patung Sang Bunda  ‘Que soy era Immaculada concepciou’  yang berarti  I am the Immaculate Conception, yang dimaknai  oleh Gereja Katolik sebagai  kebijaksanaan Allah yang tak terselami,  yang mengajarkan umat Katolik untuk menghormati Bunda Maria sebagai teladan kekudusan agar umat selalu berjuang hidup kudus setiap hari dengan mengandalkan kerahiman Tuhan yang tidak terbatas.  Bunda Maria adalah contoh dan teladan dalam hal kekudusan.  Ia tanpa noda.  Ia tanpa dosa.

Saya akan kembali ke sini.

Damai dan sukacita Lourdes saya genggam dalam hati dengan erat.  Melangkah menjauh meninggalkan Sanctuary,  sayup-sayup saya mendengar senandung Ave Maria yang ditingkahi dengan bunyi lonceng yang bergema.  Besok saya akan kembali lagi ke sini.

 

Info ! Info ! Info !

*how to get there ?

Jakarta/Soekarno Hatta – Paris/Charles de Gaulle  : by flight (check Saudi Airlines untuk yang termurah,  kalau lagi beruntung,  bisa naik SQ dengan harga murah juga lho)

Paris/Orly – Lourdes/Tarbes/Pyrenees Airport : by flight  (1jam 15 menit),  check di sini

Lourdes/Tarbes/Pyrenees Airport – Lourdes city : by bus Euro 2,  infonya klik ini

Paris/Montparnasse or Austerlitz – Lourdes train station : by train (5 – 7 jam),  check di sini

*where do you stay ?

Ada banyak tempat tinggal bertebaran di Lourdes,  dari hotel kelas bintang 5 sampai  hostel2 untuk para backpacker.  Pilih yang sesuai dengan gaya perjalananmu.   Ada banyak pilihan di booking.com

Bonus ! Bonus ! Bonus!

Ada beberapa teman yang bertanya ke saya,  ‘ngapaian aja di Lourdes, selain bolak-balik ke Sanctuary ?’   Saya mengalokasi 3 hari 2 malam saat berkunjung ke Lourdes,  selama di situ saya menyelesaikan lebih dahulu yang menjadi prioritas ziarah,  seperti : berdoa di Grotto,  mengikuti prosesi2,  mengikuti misa (ada banyak misa dalam berbagai bahasa disetiap lokasi di dalam komplek Sanctuary) dan di tengah waktu senggang,  saya menyempatkan diri mengunjungi beberapa tempat.   Berikut ini adalah beberapa tempat yang saya sarankan,  seperti  :

♥ Rumah Tinggal Orang Tua Bernadette Soubirious

Dikenal sebagai Maison Paternelle Sainte Bernadette,  terletak di 2 Rue Bernadette Soubirous,  65100 Lourdes

Dengan membayar entrance tiket sebesar Euro 2/orang,  kamu bisa melihat suasana dan keadaan rumah yang pernah ditinggali oleh Bernadette bersama orang tuanya.  Bagian rumah terdiri dari : museum & the old house.

Detail info mengenai Maison Paternelle Sainte Bernadette,  dapat kamu klik ini

 

 

♣  Chateau Fort of Pyrenees

Chateau Fort of Pyrenees

Tempat inilah yang tampak jelas dari kejauhan bila kita berdiri dari pelataran Basilika Immaculate Conception yang berlokasi di bagian atas Sanctuary of Lourdes.   Barisan tembok benteng yang tampak kokoh dengan bendera Perancis yang berkibar anggun di puncak tertingginya,  tampak menarik untuk didatangi.

Pintu masuk ke Chateau ini terletak di 25 Rue deFort, 65100 Lourdes  dengan membayar Euro 7 (dewasa) dan Euro 3 (anak-anak),  kamu dapat langsung mendaki tangga mengitari banteng atau langsung naik lift menuju museum pertama yang terletak di sisi kiri.  Sebaiknya untuk mengeksplore banteng ini kamu mengikuti arah jalan yang ditandai dengan penomoran.

Detail mengenai Chateau Fort de Lourdes dapat kamu intip di sini

♦ Paroisse de Lourdes

Tampak depan Paroisse de Lourdes

Ini Gereja Katolik yang terletak di Place de l’Église, 65100 Lourdes;  menaranya yang menjulang tinggi menjadikan bangunan gereja ini sangat ‘eye-catching’,  terlihat jelas dari atas Chateau de Fort  dan memanggil kita untuk turun dari Chateau,  menyusuri Rue le Bondidier – Rue Baron Duprat,  kemudian menyebrangi Rue Basse,  melewati bagian belakang Pusat Informasi Turis,  menyeberangi jalan utama Rue Saint-Pierre dan masuk menyusuri Rue d’Elgise yang pendek untuk tiba di Place de l’Eglise.  Hanya kurang dari 10 menit dari pintu keluar Chateau untuk tiba di sini.

Saat saya tiba di sini Agustus 2017 lalu,  saya disambut oleh banner raksasa St. Bernadette yang digantung di pilar sisi kiri dan kanan tangga utama.

Interior gereja yang indah dengan pilar-pilar batu marmer menopang kemegahan langit2 yang berbentuk lengkungan simetris sisi kiri dan kanan.   Kamu dapat menyusuri bagian dalam gereja dengan mulai berjalan dari sisi kiri,  memutar di depan altar,  menuju sisi kanan.  Di kedua sisi ini kamu bisa berhenti di setiap kapel kecil untuk berdoa.    Kalau kamu sudah di Lourdes,  silahkan sekalian  mengunjungi gereja ini.

♥ Tarbes

Salah satu sudut kota Tarbes, foto diambil dari atas delman 🙂

Punya waktu senggang selama di  Lourdes ?  Ayo jalan-jalan ke Tarbes,  kota terdekat dengan Lourdes.

Kamu bisa naik bus dengan karcis seharga Euro 2 menempuh 45 menit perjalanan, melewati jalan yang mulus dan pemandangan yang asri atau naik kereta api  yang sangat nyaman,   selama 15 menit dengan tiket antara Euro 8 – 12.    Setiba di Tarbes,  kamu bisa keliling kota dengan delman gratis lho 😉

Info mengenai mengenai Tarbes kamu bisa lihat dikeker di sini.

 

♣ Vielle-Aure

Pemandangan cantik di Vielle Aure

Desa cantik yang berjarak 41Km dari Lourdes akan memberikan pesona yang lain untuk kamu yang datang berlibur ke sini.  Selain alam yang indah,  udara yang bersih,  suasana tenang layaknya pedesaan di banyak negara, Vielle Aure juga memberikan banyak pilihan kegiatan yang dapat dilakukan,   dari wisata alam,  wisata budaya dan sampai aktvitas balap sepeda,  terjun payung dan arung jeram.

 

Info menarik tentang Vielle-Aure, bisa kamu dapatkan di link ini

Kisah ziarah sudah,  info penting sudah dan bonus juga sudah,  apalagi ya yang bisa saya bagikan ? Satu hal yang kalau boleh saya ingatkan adalah jangan pernah menunda kesempatan ziarah yang datang padamu;  tidak perlu menunggu bisa datang ke Lourdes,  Fatima atau pergi ke Holy Land atau ke tempat lainnya yang jauh,  tapi ziarah iman dapat juga kamu lakukan dengan berkunjung ke goa-goa Bunda Maria yang tersebar di semua gereja Katolik.    Memandang wajah Bunda yang penuh kasih dan bersyukur akan ketaatannya yang menyelamatkan,  niscaya kamu akan selalu datang untuk kembali dan ‘kembali’ lagi,  baik  secara fisik dan maupun terlebih secara ‘hati’.   Cinta Bunda Maria selalu bersamamu.

Selamat ziarah temans ! ♥♥♥

*Maureen T. Rustandi

Jakarta,  30 Oktober 2017

A Grateful Rosary Moment

November 1, 2017 by Maureen T. Rustandi

Bulan Mei dan Oktober bagi penganut Katolik adalah bulan khusus untuk lebih memuliakan Bunda Maria,  Perawan Tanpa Noda Dosa yang dipilih untuk mengandung dari Roh Kudus dan melahirkan Yesus,  Sang Juru Selamat.

Biasanya pada bulan-bulan itu,  umat Katolik berkumpul melakukan doa berantai selama 9 hari berturut-turut pada jam yang sama setiap harinya,  zikir ini dikenal sebagai Novena.  Novena juga dapat dilakukan secara pribadi setiap saat tanpa perlu menunggu bulan Mei dan Novena.

Selain berkumpul berdoa Novena,  banyak umat juga melakukan ziarah dengan mengunjungi goa-goa Bunda Maria yang umumnya menyatu dengan kehadiran gereja…

Berikut ini beberapa lokasi goa Bunda Maria yang bisa kamu kunjungi di sekitar Jakarta.

♥ Paroki Kosambi Baru – Gereja St.Matias Rasul
Taman Kosambi Barat blok A ext 1 no.120
Perumahan Kosambi Baru, Jakarta Barat 11750

Telp (021) 5411509 – 54375687
Fax (021) 54393323
sekretariat@parokikosambibaru.org

email : komsos@parokikosambibaru.or.id


Paroki Pantai Indah Kapuk – Gereja St.  Regina Caeli

 Jl. Mediterania Boulevard No. 1, Pantai Indah Kapuk, Jakarta 14460
Telp. (021) 5596-4379
Fax. (021) 5596-4380
Website: http://reginacaeli.org


♥ Paroki Pluit – Gereja Stella Maris
Jl.Taman Pluit Permai Timur no.17, Jakarta Utara 14450
Telp. (021) 669-1642 , 669-4557
Fax. (021) 667 93 85

♥ Paroki Kelapa Gading – Gereja St. Yakobus

JL. Pulo Bira Besar kompleks TNI-AL Kodamar
Kelapa Gading Barat -Jakarta Utara 14240
Telp. 021-4501028 (hunting) fax. 021-45841432

Email:
parokiyakobus@yahoo.com
parokisantoyakobus@yahoo.com
sekretariat@yakobus.or.id


♥ St. Andreas Kim Tae Gon, Kelapa Gading

Jl. Puspa Gading Blok HI No. 16,  Jakarta 14240


Paroki Pulo Mas – Gereja St. Bonaventura

Jl. Pacuan Kuda Pulomas, Jakarta – 13210
Telp: +62214897347, +62214754780, +622147869546
Fax: +62214703339
Email: Sekretariat@bonaventura-pulomas.org


Paroki Rawamangun – Gereja Keluarga Kudus

Jl. Balai Pustaka Baru, RT.6/RW.7,

Rawamangun, Pulo Gadung, Kota Jakarta Timur,

Jakarta 13220

Telp : (021) 4892346

♥ Paroki St. Theresia

Jl. Gereja Theresia No. 2 Menteng,  Jakarta Pusat

Phone : 021 3917708 Fax : 021 3917709

e-mail :sekretariat@gerejatheresia.org


♥ Paroki Santa Maria Regina, Bintaro Jaya
Jl. MH. Thamrin kav. B2 No. 03
CBD Bintaro Jaya Sektor 7,
Tangerang Selatan 15224
Telp. 021-745 9715, 745 9716
Fax. 021-745 9717
sekretariat@parokisanmare.or.id


Paroki Cilangkap – St. Yohanes Maria Vianney
Jl. Bambu Wulung No.60, Kel. Bambu Apus RT 033/05, Cipayung, Jakarta 13890
Telp. (021) 844-4893
Fax. (021) 8430-7905
E-mail: info@paroki-cilangkap.com
Website: www.paroki-cilangkap.com

Paroki Lubang Buaya – Kalvari
Gereja: Jl. Pelita, RT 001/02, Lubang Buaya, Jakarta, 13810
Pastoran: Jl. Masjid Al. Umar No.1B, Lubang Buaya, Jakarta 13810
Telp./Fax. (021) 8779-1911
Website: www.kalvari.org , www.santacatharina.org

Paroki Bintaro – St. Matius Penginjil
Jl. Utama I Pondok Karya, Aren
Tangerang Selatan
Website: http://www.parokimatius.org/

 

♥ Paroki Ciputat – St. Nikodemus
Jl. Wijayakusuma II/V.388, Kompleks MABAD, Rempoa, Ciputat, Tangerang 15412
Telp. (021) 742-9616


♥ Paroki Cilincing – Salib Suci
Jl. Raya Tugu 12, RT 003/014, Semper, Koja, Jakarta 14260
Telp. (021) 440-5740
Fax. (021) 440-0769


♥ Paroki Kemakmuran – Bunda Hati Kudus
Jl.K.H Hasyim Ashari 28, Jakarta 10130
Telp. (021) 633-7363 dan (021) 633-9343
Fax. (021) 633-9348
E-mail: parbhk@centrin.net.id

Paroki Katedral – St. Maria Diangkat ke Surga
Jl.Katedral 7b, Jakarta 10710
Telp. (021) 345-7746 dan (021) 351-9186
Fax. (021) 350-9952
Website: www.katedraljakarta.or.id

Kiranya informasi mengenai goa-goa Bunda Maria di sekitar Jakarta ini dapat bermanfaat dan memudahkan kamu untuk memilih dan mengatur jadwal ziarahmu.  Salam Maria … penuh rahmat !♥♥♥

*Maureen T. Rustandi

29 Oktober 2017

Kamar Itu Kosong ……

October 23, 2017 by Maureen T. Rustandi

Berbagai wajah dan gaya : usia 0 – 17 tahun

Sudah lebih 2 bulan berlalu sejak bungsu saya pergi melanjutkan sekolah ke Perancis.   Iyaaa….ke Perancis,  tepatnya di kota Rennes.  Tempat yang dia pilih sendiri dan dia perjuangkan dengan semangat pantang mundur  demi bisa diterima di salah satu universitas negeri Perancis yang biaya kuliahnya free.

Dia yang selama lebih kurang 4 tahun terakhir ini hanya sendiri di rumah karena sang kakak lagi menuntut ilmu di Jepang,  menjadi lebih dekat,  menjadi tempat curhat,  menjadi  anak yang diandalkan dan dimintai tolong  dari urusan remeh temeh,  urusan antar jemput,  urusan bersih-bersih,  urusan masak,  sampai urusan menemani mama kondangan dan bahkan menemani mama mertua (oma-nya) di Bandung selama papa mertua pergi ke luar kota.

Bungsu saya yang periang,  lucu,  baik hati,  perhatian,  suka menolong,  suka galau juga ,  sensitive tapi expressive ,   saat ini lagi belajar dan berjuang hidup mandiri untuk mencapai mimpi-mimpinya.

Dulu….. sejak  ia mulai belajar tidur di kamar sendiri di usia balita dan karena ia bungsu juga  maka kamar tidur dibuat berhubungan dengan kamar tidur saya,  dengan maksud supaya  saya lebih mudah menjenguknya di  malam hari dan sebaliknya juga untuk memudahkan dia pindah tidur ke kamar saya bila sedang rewel.

Bersama Marcel, kakak yang dari kecil dijadikan panutan

Kamar yang sama,   ia tempati sampai  ia lulus SMA;  jadi bisa dibayangkan betapa seringnya saya bolak balik menengok dia setiap saat, apalagi  kebiasaan saya,  sejak ia dan kakaknya masih kecil,  selalu menengok mereka  pada saat sebelum tidur atau pada saat saya terbangun di tengah malam ;  kebiasaan ini  berlanjut terus sampai mereka besar.   Dan 4 tahun terakhir ini karena ia yang masih di rumah,  maka  sasaran saya setiap malam adalah menengok ke kamarnya atau sekedar mengintipnya kalau ia sedang  sibuk.    Saya selalu  merasa nyaman setelah melakukan ritual ini karena saya tahu,  ia ada di sana,  di kamarnya.

Sekarang kamar itu kosong,   saya tidak lagi mendapati dia sedang tidur atau lagi bertekun di meja belajar atau lagi bermain gitar atau  lagi cekikikan menonton ulah baby Tatan di IG;  saya tidak bisa lagi berhimpitan tidur memeluknya di tempat tidur single-nya atau ikutan menempel duduk dikursi belajarnya sambil menonton film Thailand kesukaannnya.

Kamar itu lengang,   tempat tidurnya selalu rapih,  dingin, meja belajarnya bersih dan tidak ada kemeja, topi atau celana jeans bertebaran.   Berulang kali kalau terbangun malam hari untuk ke toilet,  secara tidak sengaja saya masih membuka pintu ke kamar itu ….dan kemudian menyadari kalau ia tidak ada di situ.

Foto favorit yang dipandang kalau sedang kangen 😉

Kalau kangen dengannya, selain melihat-lihat foto,   saya suka tidur-tiduran di situ,  walaupun  seprei dan sarung bantalnya bersih tapi rasanya saya masih merasakan bau badannya yang khas.    Kalau sedang di kamar itu,  saya suka ingat si bungsu bilang kalau kamarnya boleh saya jadikan wardrobe dan ruang hias.  Hhmm…saya jadi tersenyum sendiri mengingat hal itu,  ingat akan keinginannya menyenangkan hati emaknya yang pengen punya ruang rias layaknya ruang rias punya Rosa,  sang Diva 😀

Sekarang kami berkomunikasi via LINE,  ia rajin menyapa dan mengirim kabar juga mengirim foto-foto.  Banyak bercerita tentang kota tempat tinggalnya yang pernah kami datangi pada saat mengantarnya,  juga bercerita tentang aktifitasnya bersama PPI di sana.  Setiap hari Minggu, sepulang gereja,   ia rutin mengirim foto kutipan bacaan injil bahasa Perancis untuk Opanya,   Hidayat Rustandi,  yang memang sedang menekuni bahasa Perancis.

Kartu-kartu ucapan yang dikirim dari Perancis

Perhatian yang diberikannya juga tidak berkurang,  ia seperti biasa rajin membuat desain khusus untuk kartu-kartu ucapan ulang tahun pernikahan dan ulang tahun kelahiran,  masih bersekongkol dengan kakaknya untuk memberi surprise dan setelah itu ia juga masih menyempatkan diri untuk menelpon pada hari-hari spesial keluarga.

Kemarin,  tanggal 15 Oktober 2017 adalah hari ulang tahunnya yang ke 20, pintu gerbang usia dewasa,  periode menyelesaikan kuliah,  periode mencapai cita-cita,  periode berkarya nyata dan juga  periode pernyataan diri dengan lebih bertannggung jawab.   Saya senang teman2nya di PPI merayakan ulang tahunnya walaupun secara sederhana.  Pada tanggal yang sama,  kebetulan kami menjadi host untuk lingkungan berdoa Rosario dan Novena 3 Salam Maria;  pada kesempatan itu,   seorang sahabat mendoakan kesehatan,  keselamatan dan keberhasilan untuknya.  Sebuah doa yang lengkap dan saya hanya mampu untuk mengamininya.    Saya percaya Tuhan berkenan  mengabulkannya.    Selamat ulang tahun,  sayang…… selalu sehat, bahagia,  panjang umur serta mulia !

Hai…. Mario,  di atas adalah sedikit cerita tentang rindu kepadamu yang  acapkali hadir di hati  dan baru bisa mama tuliskan sekarang  :*)   dan berikut ini adalah cerita terselubung tentang  bangga kepadamu ……

Berdua, duduk di depan kampusnya, Universite Rennes 2, Bretagne, Perancis

Usaha  yang kamu tunjukan selama  mengkuti intensive course bahasa Perancis setiap hari Senin-Jum’at,  dari jam 8 – 15 selama 9 bulan, kemudian dilanjutkan dengan belajar menggambar,  kursus fotografi,  diselingi dengan menyelesaikan  kelas piano,  kelas gitar,  mendesain t-shirt dan menjualnya,  kemudian mengurus  pendaftaran kuliah dan melengkapi sendiri semua persyaratan yang diminta,  menyiapkan portofolio desain-desain,  menulis motivation letters dan beberapa essay,  menjalankan test wawancara,    bolak-balik ke CampusFrance/IFI dengan naik kereta dan ojeg (pernah terserempet bajaj,  ditolong sama satpam kereta api yang baik hati) dan disela-sela kesibukan itu,  kamu masih ‘menyenangkan’ diri dengan ikut kursus vocal (karena kamu senang bernyanyi)  dan juga ikut kelas percakapan bahasa Perancis bersama ‘oma-oma’;  semuanya kamu lakukan tanpa mengeluh dan itu telah menunjukan  determinasi dirimu  yang tangguh.

Liburan lengkap berempat di Labuan Bajo sebelum ke Perancis,  Mei 2017

Di depan,   jalan yang kamu tempuh tidak akan selalu rata,  cuaca yang kamu rasakan tidak selalu nyaman,   semua yang kamu temui,  tidak selalu membuatmu tersenyum;   suatu saat kamu perlu mendaki,  suatu saat kamu harus berkeringat,   suatu saat kamu mungkin perlu menangis;  tapi mama tidak merasa kuatir akan semua itu karena mama percaya kamu mampu menjalani semuanya seperti yang telah kamu buktikan  di saat kamu berjuang untuk mendapatkan  1 tempat di universitas negeri Perancis.  Dan……..kejutannya  ternyata kamu mendapatkan 2 (dua)  tempat di sana.

Tetap semangat dan tetap berjuang  Gregorius Mario Averdi  ! Keep and grow all good attitudes,   keep faith and keep fighting spirit.

Biarkan kamarmu di rumah tetap kosong,    kelak  kamu pulang,  kamu pasti mengisinya dengan banyak cerita hebat dan mama akan mendengarkannya dengan antusias.  God bless you all the way!  Love you much ! ♥♥♥

 

 

 

 

 

 

 

 

*Maureen T. Rustandi

Jakarta, 17 Oktober 2017

** Berikut ini adalah beberapa foto yang kamu kirimkan 😉

‘Tempat aku jogging sore di sepanjang sungai dekat Republique’

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Les Halle Market, Rennes
‘Mama pasti suka ke sini’

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

‘Pertama kali masak nasi’

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Palais Saint George, Rennes
‘Mama pasti juga suka kalau ke sini’ 🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

Altar @Cathedral Renne

 

 

 

 

 

 

 

 

 

‘Aku bikin salad, Ma’

 

 

 

 

 

 

 

 

 

‘Jalan sore aku ke taman ini yang dekat Katedral’

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Parc du Thabor, Rennes
‘Waktu itu kita ngga sempat ke sini’

 

Ikut main di Coupe Du Mondo, Rennes

 

Chatting time with you : Priceless

A Blessed Lovely Trip to Bruges

September 28, 2017 by Maureen T. Rustandi

Cantiknya kota Bruges

Pertama kali saya jatuh cinta pada Bruges  atau Brugge (bahasa Belanda)  adalah saat saya menonton film India yang berjudul PK  (Pee Kay) dua tahun yang lalu (2015),   di mana beberapa adegan love-love-annya  menampilkan beberapa sudut kota Bruges yang cantik.   Ada adegan menyusuri sungai dengan perahu lengkap dengan latar belakang jembatan yang melengkung atau adegan berjalan di tengah kota yang sebelah kiri kanannya berupa bangunan-bangunan tua berseni,  rasanya itu  telah cukup untuk menambahkan Bruges dalam daftar tempat yang wajib dikunjungi.

Kesempatan mengunjungi Bruges datang secara tidak direncanakan karena tujuan utama saya ke Perancis akhir bulan Agustus lalu adalah untuk mengantar si bungsu kuliah.   Saat menyusun jadwal perjalanan pulang setelah urusan si bungsu selesai,  saya mendapatkan  1 hari kosong yang bisa dimanfaatkan untuk berkunjung ke sebuah kota.  Ada 2  kota yang ingin saya kunjungi,  yaitu Colmar di Perancis  dan Bruges di Belgia.   Karena hari kosong yang tersedia hanya satu hari,  maka pergulatan batinpun dimulai ! 😉

Bruges yang tenang dan menyenangkan

Dengan mempertimbangkan bahwa Colmar bisa dikunjungi  di waktu-waktu mendatang saat kami nanti berkunjung kembali ke Perancis untuk menengok si bungsu,  dan memperhatikan informasi berharga lainnya dari sulung saya yang mengatakan bahwa di Bruges ada relikui The Holy Blood of Jesus,   maka dengan hati mantab pilihan jatuh pada Bruges !

Saya membeli tiket kereta  rute Paris – Bruges pp via online seharga 150 Euro per orang di Rail Europe,  agak mahal karena  saya memang mau menikmati  kereta kelas 1 saat bepergian berdua dengan suami 😉  Ssst,  bisa repot nih kalau tulisan ini dibaca sama anak2 saya 😀

Hari Sabtu,  tanggal 5 Agustus 2017 jam 7:15 kami bergegas meninggalkan hotel setelah secara kilat menikmati sarapan croissant dan hot choco untuk menuju stasiun Paris du Nord yang hanya melewati 2 stasiun dari daerah Montmartre.  Ketergesaan kami disebabkan karena kami harus mampir dulu di konter Thalys,   operator kereta api,  untuk mencetak tiket.  Ada kesulitan yang kami hadapi karena tiket kereta tidak bisa di cetak dari notifikasi e-mail saat setelah pembayaran dilakukan.  Dan ternyata memang menurut  petugas konter Thalys,  tiket sudah tidak perlu dicetak.    Jadi pada saat menaiki kereta,  saya hanya memperlihatkan  kode booking yang tercantum pada e-mail dan petugas mengecek pada portable machine yang dia bawa.

Pemandangan cantik Paris – Bruges yang bisa dilihat dari kereta api

Kereta tepat berangkat jam 7:55 dari Paris du Nord dan tiba di Brussel untuk ganti kereta ke Bruges jam 9:17.  Sebagai penumpang kelas 1,  kami mendapat pelayanan layaknya penumpang pesawat terbang,  diberi makan pagi yang lengkap dengan pilihan minum kopi, susu atau teh.   Setelah selesai sarapan,  kami bisa menikmati pemandangan  indah sepanjang perjalanan  :  tanah perkebunan jagung yang bunganya sedang menguning, rumah-rumah penduduk yang asri,  ternak-ternak yang sedang berjemur atau sekedar barisan rapih pohon-pohon.   Kami tiba di Bruges jam  10:26  disambut dengan cuaca mendung dan hujan rintik-rintik,  yang membuat kami mampir di Carefour  yang ada di sisi kiri pintu keluar stasiun untuk membeli payung.

Di depan stasiun,  sisi sebelah kiri berjejer banyak bus,  dan kami memilih bus dengan jurusan city center untuk menuju tempat yang jadi prioritas pertama kami datangi yaitu Basilica of The Holy Blood (Katedral Darah Suci Yesus).  Tarif bus/orang adalah 1,50 Euro.

Interior bergaya Dutch Gereja St. Salvatore

Sebagai orang ‘ndeso’ yang tidak punya map dan tidak terhubung dengan wifi saat baru tiba di Bruges,   kami sama sekali tidak menduga akan ada banyaknya gereja dengan menara-menara  yang menjulang  tinggi nan indah di Bruges;   sehingga pada pemberhentian pertama bus yang kami tumpangi,  kami sudah turun karena melihat sebuah gereja dengan menara yang indah dan kami menduga….inilah katedralnya. Hahaha….akhirnya kami tertipu karena ke-ndeso-an kami;  gereja pertama ini adalah Gereja St. Salvator yang interiornya sangat bergaya Dutch,  tetap indah dengan atap/plafon yang lebih bersih tanpa ornamen.

Supaya kesalahan tidak berulang,  maka map gratis yang ada di pintu masuk Gereja St. Salvator segera kami ambil dan dengan berbekal map ini,   kami mulai berjalan menyusuri  sisi dalam kota Bruges yang benar-benar indah dan unik.  Banyak sekali sudut jalan dengan rumah-rumah bergaya khas di sisi kiri kanan jalan yang wajib untuk     diabadikan.    Berjalan menuju ke tujuan utama kami yang terletak di Burg Square,  kami menyusuri Mariastraat dan melewati beberapa  tempat menarik,  seperti  Museum  Archaeological,  Gereja dan Museum  Onze-Lieve-Vrouwekerk (dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Church of Our Lady) dan Museum Sint Janshospitaal  (St. John’s Hospital),  yang urung kami masuki karena antrian yang cukup panjang;    kemudian kami berbelok melewati Arentshof,  sebuah mansion abad 17 lengkap dengan  taman  yang dihiasi beberapa patung perunggu  penunggang  berkuda dengan berbagai pose.

Rosary Quay dengan keanggunan menara Church of Our Lady

Di ujung jalan kami  menyebrangi Gruuthusestraat untuk menyusuri  street market  yang banyak menjual barang-barang antik dan pernak-pernik lucu yang bernilai historis,  dan kemudian  tiba di persimpangan Rozenhoedkai yang dikenal sebagai Quay of the Rosary.

Di persimpangan ini,  pada  sisi Hotel deOrangeri  yang terletak di tepi sungai  Reie,  sungai yang membelah dan mengitari kota Bruges,  terdapat  Boottochten,  yaitu dermaga tempat naik dan turun penumpang motor boat yang menyusuri keindahan kota Bruges melalui kanal-kanal sungai Reie.  Boottochten ini terdapat di 3 tempat yang terpencar-pencar sehingga memudahkan pengunjung untuk mendatanginya.  Saya dan suami memang sudah memutuskan untuk  meng’explore’ kota Bruges by boat.   Setelah melihat di semua Boottochten,  pengunjung antri mengular, sehingga akhirnya kami memutuskan untuk antri di tempat ini.

Rasa bosan dan lelah mengantri sekitar hampir 1 jam lebih untuk mendapat giliran naik ke boat dan  kemudian menikmati ‘cruising’ selama 30 menit ,  layak terbayar lunas saat melihat keindahan kota Bruges dari sudut yang berbeda.   Rute pertama, boat yang saya tumpangi bersama dengan wisatawan berbagai bangsa,  menuju arah selatan,  ke arah balik tempat saya datang,  dan saya mendapatkan pemandangan yang berbeda,   anggunnya  Church of Our Lady yang menaranya  menjulang   setinggi 122 meter   atau sisi belakang Museum Sint Janshospitaal yang tampak mengapung dan sudut-sudut cantik lainnya di mana angsa –angsa putih berenang  gembira  melewati bawah  jembatan-jembatan yang ‘atap’nya melengkung unik lengkap dengan ranting-ranting pohon yang menjuntai indah di atas permukaan sungai.

Pemandangan saat ‘explore’ Bruge by boat

Pada bagian sungai lain,  saya melihat keunikan rumah-rumah yang berjejer rapih di kiri kanan jalan;  rumah-rumah dengan tampak depan yang khas yang bagian depan atapnya menyerupai undakan tangga dari kedua sisi dan bertemu pada undakan paling tinggi di tengah yang ditandai dengan ornamen2  unik.  Bangunan rumah-rumah ini didirikan pada abad 16 yang semuanya tampak kokoh terawat sampai saat ini.

Kemudian kapten boat juga membawa kami menyusuri sisi-sisi rumah yang seperti mengapung,  rumah-rumah dengan dinding batu bata warna terakota ataupun rumah-rumah berdinding kayu mahoni yang kokoh.  Pemandangan ini serta merta mengingatkan saya akan kota Venezia.   Yaah…kota Bruges memang dijuluki sebagai  Venice of the North.   Cantik !  Waktu 30 menit rasanya cepat berlalu,   walaupun mata dan hati rasanya belum cukup puas tapi kami harus turun dari boat.

Kembali berjalan kaki,  kami melanjutkan langkah menuju katedral  The Holy Blood of Jesus.    Beberapa tempat yang kami lewati dan sempat mampir  berlama-lama  adalah di Tintin Kingdom,  sebuah toko souvenir yang menjual pernak pernik Tintin secara lengkap;   selain Tintin,  toko ini juga menjual sovenir  tokoh komik lainnya serta tidak ketinggalan coklat-coklat dan juga beer Belgia yang terkenal enak itu dapat ditemui di toko ini.   Khusus untuk beer,  malahan ada ruang khusus di lantai bawah,  di mana pengunjung dapat melihat,  mempelajari  sejarah beer Belgia secara singkat dan jelas. Di sini suami saya membeli 2 botol beer yang katanya buat oleh-oleh untuk ayahandanya 😉

Tintin Adventure in Egypt – miniatur toy

Setelah membeli boneka miniatur Tintin pesanan si sulung,   langkah kaki kami mengayun kembali menyusuri trotoar toko-toko sepanjang jalan menuju Markt Square sambil mata melakukan window shopping  melalui etalase toko yang memajang jualan unik mereka :  coklat-coklat yang dibentuk berbagai macam benda,  dari  kepala anjing sampai payudara 😀  atau renda-renda cantik dalam bentuk taplak meja,  serbet makan atau juga teko-teko unik aneka warna yang menarik perhatian.   Yaaa… ini hanya sebagian barang dagangan yang bisa saya sebutkan di antara barang-barang unik lainnya.

*Khusus untuk renda,  Bruges adalah renda karena renda telah menjadi bagian kehidupan sehari2 di kota ini.   Pada perjalanan pulang,  saya sempat melewati sebuah rumah yang pintu depannya penuh dengan kerubungan orang-orang yang ‘menonton’ kemahiran seorang nenek merenda dengan  perangkat tradisional khas Bruges.     Renda Bruges menjadi sebuah ‘art’ yang saat ini banyak dipelajari oleh para pengrajin renda dari seluruh dunia.

Untuk kamu yang tertarik akan renda Bruges,  bisa mengunjungi Kantcentrum atau Lace Centre,  sebuah rumah yang direnovasi menjadi pusat pembelajaran membuat renda yang juga dilengkapi dengan museum renda.    Detail informasi mengenai  Kantcentrum dapat di klik di link ini.

Markt Square

Belfry Tower dari depan Tintin Kingdom

Langkah kaki terus mengayun sampai akhirnya kami tiba di satu alun-alun besar  yang sangat ramai dan disekelilingnya berderet bangunan/gedung aneka warna dan gaya. Di tengah alun-alun ini berdiri teguh sebuah patung yang pada bagian bawahnya menjadi tempat pengunjung ‘nongkrong’  bercengkerama atau berfoto ria.   Tapi yang paling menonjol  di sini adalah sebuah bangunan setinggi 83 meter,  yang kemudian saya ketahui sebagai Belfort atau Belfry Tower atau dikenal juga sebagai museum Salvador Dali,  pelukis surealis yang kesohor  dengan gaya kumis uniknya.  Kemudian ada bangunan warna putih dengan tampak depan yang ‘meriah’,  dikenal  sebagai ……..dan di sebelahnya juga ada satu bangunan  yang merupakan museum  bergaya modern karena dilengkapi dengan gerak dan suara yang membawa pengunjung  kembali ke abad pertengahan dengan cara yang menarik.

Historium

Museum ini dikenal sebagai Historium.   Karena terbatasnya waktu,  di sini saya hanya sempat berpose dengan gaya ratu yang duduk di singgasana dengan jubah dan mahkota yang kedodoran. 😀

Alun-alun besar ini bernama Markt Square yang merupakan jantung kota Bruges,  tempat ini merupakan tempat yang wajib dikunjungi,  apalagi bila masih banyak waktu,  dengan membayar Euro 8-10/orang,  kita bisa mendaki 366 undakan ke lantai paling atas Belfry Tower dan view yang luar biasa indah akan menjadi reward yang setimpal.

Burg Square

Terletak berdekatan dengan Markt Square dan saat kami tiba di sini,  suasananya tidak sehiruk-pikuk seperti di Markt Square walaupun sebuah panggung pertunjukan musik sedang dipersiapkan,  tampaknya semua pengunjung punya tujuan utama untuk berziarah di sini  yaitu masuk ke Basilica of the Holy Blood yang terletak di sudut  dan tampak luar bangunannya tidak semegah bangunan gereja lainnya.

Altar Basilica The Holy Blood of Jesus

Tuhan memang selalu  baik  karena menuntun  kami  tiba ke  sini -setelah sempat mengikuti boat tour,  berlama2 di Tintin Kingdom,  mampir ke beberapa toko,  makan siang dan berfoto ria di Markt Square-   tepat waktu saat berlangsung prosesi pribadi penghormatan relikui (veneration) sesi sore hari,  jam 14 – 16,   sehingga saya dan suami bisa langsung masuk dalam antrian para peziarah.

Sungguh saya merasa menjadi orang yang  sangat terberkati saat saya bisa berdoa dan mencium relikui darah suci Tuhan Yesus,  tidak banyak  doa yang terucap selain ungkapan terima kasih,  syukur dan cinta yang sempat saya ‘bisikan’ dengan suara samar bergetar saat mencium relikui ini.

Informasi sejarah mengenai relikui ini dapat dibaca di sini

Setelah penghormatan pribadi selesai, kami melanjutkan dengan perenungan singkat dengan duduk dalam hening memandang relikui dari kejauhan.  Bila suatu saat kamu tiba di sini dan rada nge-blank mau berdoa apa,  berikut adalah ‘contekan’ doa yang umumnya  didaraskan oleh para peziarah 😉

Prayer (*)

Lord,
Your Precious Blood reminds us of your suffering, your death and resurrection.
You relieved us of a nonsensical life and of an eternal death.
Give courage to those who bow down under oppression.
Give life to those who are living an empty life.
Give strength and resistance to those who work for peace and security.
Revive the fire of love among men and the flame of unity and tolerance among Christians.

Lord,
Your Precious Blood reminds us of the New alliance between God and men.
It is the sign of your liking for us.
May this alliance grow every day.
Open my heart and my mind for every man You put on my road.
That Your Precious Blood give me the courage to bear witness to God.

*sumber : www.holyblood.com

Facade Basilica The Holy Blood of Jesus

Setelah  perenungan selesai,  hati rasanya lega karena tujuan utama datang ke Bruges sudah tercapai;  segala pengalaman yang didapat dari perjalanan 1 hari menuju Basilica of The Holy Blood di Bruges menjadi pelengkap kisah perjalanan hidup kami.

Walaupun kaki cukup letih tapi kami membawa pulang hati yang penuh syukur dan suka cita kembali ke Paris;  kereta yang kami tumpangi dari Bruges berangkat jam 17:30 dan kami tiba kembali di stasiun Paris du Nord jam 20:05.   Sebagai pelengkap kenikmatan  yang telah kami rasakan sepanjang hari,  malam itu kami sempurnakan dengan makan malam  chinese food yang lezat di Montmartre 😉  What a blessed lovely day ! ♥♥♥

 

*******

Bonus ! Bonus ! Bonus!

To Be in Bruges

Banyak hal dari Bruges yang bisa saya jadikan bonus info untuk kamu,  dari info mengenai museum,  café,  souvenir sampai best photo spots;  tapi setelah memikirkannya sekali lagi,  maka bonus yang akan saya berikan adalah informasi mengenai berbagai cara menjelajah kota Bruges.  Silahkan pilih moda transportasi yang paling cocok dengan kamu 😉

Bruges by Boat

Menyusuri sungai Reie, melihat Bruges dari sisi yang berbeda

 

Moda  ini adalah yang paling banyak diminati dan menjadi sebuah keharusan.  Tersedia pada periode Maret s/d pertengahan November,  setiap hari dari jam 10 pagi – 6 sore.   Tiket untuk dewasa Euro 8 dan Euro 4 untuk anak usia 4 – 11 tahun. Informasi detail mengenai Bruges by boat dapat dilihat di sini.

 

 

 

Bruges by Walk

Menjelajah Bruges sampai ke relung hatinya

Menyenangkan apabila kita berjalan di sebuah kota asing yang menarik dengan ditemani oleh tuan rumah yang ramah dan menguasai cerita tentang kota itu,  baik cerita yang berat seperti sejarah kota dan bangunan2nya maupun cerita2 ringan mengenai kebiasaan penduduk setempat.  Bila kamu berminat,  silahkan bergabung dengan kelompok Bruges by heart dan informasinya dapat kamu peroleh dari pusat informasi yang ada di Gedung Historium,  Markt Square atau bisa kamu intip di  link ini.

Bruges by Horse-drawn Carriage 

Kereta kuda di Bruges, siap membawamu dengan gaya bangsawan jaman dulu. pic by visit-bruges.be

Selama 30 menit kamu bisa duduk dengan anggun diatas kereta yang ditarik kuda layaknya bangsawan jaman dulu.  Kusir kereta akan bercerita mengenai tempat-tempat menarik yang dilewati.   Dari informasi yang saya dapat,  tiket berkereta kuda cukup mahal kalau kamu hanya ingin sendiri atau berduaan saja,  yaitu sekitar Euro 50 untuk max. 5 penumpang;   jadi untuk mensiasatinya supaya murah,  kamu harus mencari teman.

Info tentang kereta kuda di Bruges,  klik ini.

Bruges by Bike

Gowes yuuukk !
pic by visit-bruges.be

Untuk kamu para jagoan gowes,  ini cara yang paling pas buatmu menjelajah kota Bruges dengan bersepeda.  Pasti akan menyenangkan karena kamu bisa melewati jalan-jalan kecil yang yang punya cerita tentang gaya bangunan abad pertengahan yang unik.

Tiket :  Euro 30 untuk dewasa dan untuk pelajar Euro 28;  harga ini termasuk jasa pemandu,  sewa sepeda,  jas hujan  dan beer Belgia di salah satu lokal bar.  Apabila kamu membawa sepeda sendiri,  harga tiket menjadi Euro 18 dan pelajar Euro 16.  Tour dengan sepeda ini untuk orang dewasa dibatasi usia maksimal 26 tahun.   Intip info bersepeda ini di sini.

Bruges by ‘Becak’ 

Becak di Bruges, Abangnya cakep 😀
pic by visit-bruges.be

Mau cara unik lainnya untuk keliling kota Bruges ?  kamu bisa pilih moda transportasi yang ramah lingkungan yaitu dengan naik becak berkeliling mengunjungi situs2 sejarah juga tempat2 yang romantis  selama 30 menit dengan abang becak yang merangkap pemandu.  Kapasitas becak untuk 3 orang dengan ongkos  Euro 24.

Cari tahu info becak di Bruges pada situs ini

 

Bruges by balloon

Memandang cantiknya Bruges sambil mengudara. pic by bruges-ballooning.com

Bukan hanya di Cappadocia,  Turki saja kamu bisa naik balon udara mengangkasa memandang cantiknya kota dari ketinggian,  karena di Bruges kamu bisa melakukan hal yang sama.   Terbang dengan balon udara mungkin merupakan cara yang paling adventure dan sekaligus romantis karena kamu bisa menikmatinya sambil  minum sampanye atau makan malam.  Asyikkan ? 😉

Tiket : Euro 180 untuk dewasa dan Euro 110 untuk anak-anak usia 4 s/d 12 tahun. Info menarik tentang balon udara Bruges dapat kamu dapatkan di situs ini.

Nah… itu bonusnya,  kalo bonus lainnya,  berupa foto-foto,  bisa kamu  intip  di album ‘Bruges,  Waiting For Me….Please! ada di FB atau foto lainnya di IG saya 😉 😀

Kiranya kisah perjalanan 1 hari ke Bruges ini bisa memberikan inspirasi buatmu untuk melakukan perjalanan yang sama dengan lebih komplit.   Selamat berlibur ke Bruges ya … !

Salam !

Maureen T. Rustandi

Bergaya di Bruges yang cantik, jadi ikutan cantik 😉