Cinta Yang Tertinggal di Budapest

April 29, 2016 by Maureen T. Rustandi

Selembar foto dari sebuah bangunan klasik yang terletak diketinggian bukit mampir menyapa pandangan saya secara tidak sengaja saat saya mencari informasi di Google…..’woww cantik sekali !’ ‘Suatu saat mau saya datangi…..’ demikian suara hati berbisik.

Enam bulan kemudian,  dipenghujung tahun 2014 saat musim salju,  kesempatan berkunjung itu datang…..dan lengkap bersama keluarga ! Budapest, I’m coming ! :)

Pada tanggal 28 Desember,  dengan berkereta kami tiba di stasiun Budapest Keleti jam 9:53 ; perjalanan selama 2,5 jam yang penuh salju kami nikmati dari sejak meninggalkan Wien Hbf,  Austria pukul 7:12.

IMG_1670

A lonely chair

IMG_1694

Hamparan salju sepanjang perjalanan

IMG_1717

Info jam tiba di Stasiun Keleti

Stasiun kereta Budapest Keleti seperti layaknya stasiun kereta api dengan bentuk bangunan kuno bergaya ekletik,  lengkap dengan pilar-pilar pintu yang tinggi dan anggun.  Menurut informasi, stasiun ini dibangun pada tahun 1840 an dan merupakan salah satu stasiun modern di Eropa. Dari sinilah petualangan liburan di kota Budapest kami mulai…… yihaaa !

IMG_0078

Keleti : Stasiun Kereta Api di Budapes

* Info mengenai tarif dan jadwal kereta dari stasiun ini bisa kamu klik di sini.

Buda Castle Complex

Karena kami tiba di hotel lebih awal dan belum bisa check-in, maka setelah menitipkan koper-koper,  kami segera memutuskan untuk mengunjungi Buda Castle yang gambar cantiknya menjadi pemicu adrenalin saya untuk berkunjung ke Budapest.

Buda Castle terletak di daerah ketinggian dan merupakan pusat pariwisata Budapest,   dapat dicapai dengan menggunakan transportasi bus yang selalu padat penumpang;   maka saat itu pun kamipun ikut berjejal-jejalan di bus yang berjalan di bawah rintik-rintik salju.  Terus terang saat itu saya jadi teringat kepada bus PPD  di Jakarta.

Setelah melewati jembatan Szechenyi,  lebih dikenal sebagai Chain Bridge yang menghubungkan antara sisi barat kota,  yaitu Buda dan sisi timur kota, yaitu Pest,  di mana diantara kedua kota itu terpisahkan oleh aliran sungai Danube,  maka kami tiba di kaki Buda Castle.

IMG_0114a

Chain Bridge di atas sungai Danube yang menghubungkan kota Buda dan Pest.

Memandang dari arah bawah pada pagi yang berselimut kabut,  kami  masih bisa menangkap keindahan alami bangunan tersebut yang membuat kami bergegas untuk mencapainya.  Tetapi melihat antrian pengunjung yang begitu panjang untuk menumpang kereta naik ke atas, maka kami memutuskan untuk menyusuri jalan setapak yang diselimuti salju.  Keputusan yang tidak kami sesali karena pada setiap belokan jalan setapak tersebut,  kami bisa memandang ke bawah ke arah sisi timur kota dan melihat bangunan yang berjejer indah menghadap sungai Danube lengkap dengan anggunnya Chain Bridge yang berdiri di depan dan cuaca yang berkabut lebih melengkapi suasana kota Budapest menjadi lebih sacred beautiful.

IMG_0095a

Antrian panjang untuk naik kereta ke Buda Castle

Jalan tangga mendaki menuju Buda Castle

Jalan tangga mendaki menuju Buda Castle

Buda Castle dulu dikenal sebagai Royal Castle yaitu kompleks istana para raja Hungaria yang didirikan pada tahun 1265 dengan bangunan bergaya baroque juga sentuhan gothic.   Pada tahun 1987, Buda Castle tercatat sebagai Heritage World Site.

Tampak depan Buda Castle

Tampak depan Buda Castle

IMG_0135

Halaman depan Buda Castle

Hamparan salju di halaman depan Buda Castle

Hamparan salju di halaman depan Buda Castle

Di bagian belakang kompleks kastil kita bisa melihat pemandangan cantik kota Budapest sebelah Barat.

Memandang hamparan kota Budapest

Memandang hamparan kota Budapest

IMG_0159

Tampak belakang Buda Castle

IMG_1809

Sisi bagian belakang kompleks Buda Castle

* Detail mengenai Buda Castle dapat di lihat di sini

Udara dingin lebih menerpa setiba kami di pelataran kastil sehingga satu-satunya kedai kopi yang terletak di sisi kiri pagar halaman menjadi sasaran para pengunjung,  termasuk kami.   Secangkir kopi panas dalam genggaman itulah yang menemani kami berjalan mengeliling kompleks kastil yang demikian luas,  yang kemudian membawa kami berjalan menuju St. Mathias Church yang awal berdiri bernama The Church of Virgin Mary’;   gereja ini  merupakan ‘jantung’ dari kompleks Buda Castle.

IMG_0210

St. Mathias Church

IMG_0177

Interior anggun Gereja St. Mathias

Kami menghabiskan waktu agak lama di St. Mathias Church karena setelah selesai berdoa,  kami menyempatkan berkunjung ke ruangan khusus di mana terdapat patung Black Madonna dan kami juga ikut baris mengantri tertib bersama pengunjung lainnya menuju museum seni, The Ecclesiastical yang terletak di lantai atas gereja untuk melihat berbagai benda-benda suci yang berkaitan dengan sejarah gereja.  Di samping itu kami juga berlama-lama  di sini dengan maksud untuk menghangatkan badan.

IMG_0199

Patung Black Madonna @Gereja St. Mathias

*Info mengenai St. Mathias Church klik di sini

Energi yang terkumpul di St. Matthias Church akhirnya kami luapkan kembali dengan mengunjungi Fisherman Bastion yang seluruh areanya tebal berselimutkan salju dan dari sinilah kami kembali dengan leluasa memandang ke arah timur,  yaitu ke arah kota Pest.   Sulung saya mengingatkan untuk tidak tergesa-gesa meninggalkan area ini minimal sampai lampu dari gedung-gedung yang di seberang sana menyala.  Demi menerima usulan tersebut,  maka sayapun bertahan di hamparan teras Fisherman Bastion dengan suhu mendekati 0 derajat Celcius.

Fisherman Bastion

Fisherman Bastion

Tidak lama kemudian…..voilaaaa……lampu sebuah gedung mulai menyala dan diikuti oleh beberapa gedung lainnya dan tampaklah pemandangan yang sangat indah…..di bawah langit biru yang kelabu jingga tampak dikejauhan di seberang sungai yang membentang tenang…bangunan2  indah elok mulai menebarkan pesona yang serta merta merampas cintaku.  Oh…Budapest !

IMG_0240

Hungarian Parliament Building : cantik !

IMG_0238

Pamer kecantikan kota

Dalam sekejap teras Fisherman Bastion dipenuhi  pengunjung yang berebut tempat strategis untuk mengabadikan keindahan ini.  Kami mencari-cari kesempatan untuk menemukan seseorang yang dapat dimintai tolong untuk memotret kami berempat dan kami cukup beruntung menemukan  seorang Korea yang ramah menolong kami (walaupun hasilnya kurang memuaskan,  tapi cukuplah).   Dua  fotonya ada di sini :)

IMG_0230

Latar belakang kota Pest yang cantik

IMG_0229

Gereja St. Mathias juga mulai berkilauan !

Hanya gelap malam yang turun lebih cepat sajalah yang membuat kami harus meninggalkan teras Fisherman Bastion,  mata dan hati kami terpaksa harus cukup dipuaskan.

Dengan tujuan mendatangi salah satu bangunan indah bercahaya yang kami lihat jelas dari teras Fisherman’s Bastion,  maka kami berjalan kaki menyusuri sisi Chain Bridge dan sebelum menyeberang jalan,  sekali lagi saya menengok ke belakang dan ……….. tampilan Buda Castle yang benderang cantik, sama persis dengan foto yang saya temukan di Google,   menyergap mata dan membuat hati jadi lebih kasmaran.

IMG_0248

Buda Castle + Chain Bridge : keanggunan yang menyihir

Promenade Danube

Untuk mencapai Hungarian Parliament Building yang kami tuju,  kami melewati jalur pedestrian di sisi sungai Danube yang dikenal sebagai Danube Promenade di mana terdapat monumen memorial berupa jejeran sepatu-sepatu yang disusun tepat di bibir sungai Danube.

IMG_0275

Shoes on Danube Promenade

Monumen ini dikenal sebagai Shoes on the Danube Promenade,  dibuat tahun 2005 untuk mengenang para korban pembantaian (holocaust) yang terjadi antara tahun 1944 – 1945.  Para korban umumnya adalah orang-orang Yahudi Hongaria, yang dieksekusi dengan cara ditembak setelah mereka berdiri berjejer menghadap sungai Danube dengan bertelanjang kaki.  Sepatu-sepatu mereka diambil karena pada saat itu sepatu merupakan benda berharga.  Total ada 60 pasang replika sepatu gaya tahun 1940 yang dibuat dari besi oleh pematung Hungaria, Gyula Pauer dan Can Togay.

Duduk sejenak di sini, memandang deretan sepatu-sepatu dan sesekali melihat keanggunan Chain Bridge dan Buda Castle dikejauhan,  membuat hati bercampur rasa antara perih, sedih, terhibur dan berpengharapan bahwa sejarah kelam telah berlalu dan masa depan harusnya akan lebih baik sejalan dengan kemajuan cara berpikir yang lebih plural dan memandang perbedaan sebagai hal yang biasa saja.

IMG_0252

View dari Danube Promenade

IMG_0288

Hungarian Parliament Building dari sisi belakang

Jam baru menunjukan pukul 5 sore ketika kami tiba di Hungarian Parliament Building tapi gelap yang pekat membuat suasana sudah seperti jam 10 malam, membuat kami jadi tambah tergesa-gesa;   setelah dikejar rasa dingin,  sekarang dikejar malam !  Hhhm…. memang ‘rugi’ jalan-jalan di Eropa yang langit malamnya datang lebih cepat, coba bandingkan dengan waktu di Selandia Baru, di mana pukul 10 malam langit masih terang seperti pukul 4 sore …kan jadi bisa lebih lama kelayapan 😀

Menikmati Budapest di Malam Hari

Maksud hati ingin mengikuti misa hari Minggu mengingat tanggal kami tiba di Budapest adalah tanggal 28 Desember yang jatuh pada hari Minggu, maka setelah mandi (ini kebiasaan orang Indonesia, sedingin apapun harus tetap mandi) kami bergegas menuju gereja Katolik dengan harapan bisa mengikuti misa walaupun sedikit terlambat. Tapi sayangnya saat kami tiba malah sudah menjelang selesai. Apa hendak dikata ya ….turis tanpa informasi seperti orang buta tanpa tongkat 😀

Akhirnya kami memutuskan untuk menikmati sedikit sisi kota Budapest dengan menyusuri daerah pertokoan yang kebanyakan toko-tokonya sudah tutup hanya tersisa beberapa restoran yang buka,  padahal saat itu masih jam 7 malam. Akhirnya kami memutuskan untuk makan malam di sebuah restoran yang menyajikan menu lokal Budapest seperti gulas,  paprika powder dan beberapa lainnya yang lupa dicatat.

Sayang foto-foto dari makanan tersebut tersimpan di handphone, yang pada malam terakhir kami di Eropa,  handphone tersebut digondol copet kota Roma :’)

Santai di trotoar pertokoan

Santai di trotoar pertokoan

Gedung Opera Budapest

Gedung Opera Budapest : Foldalatti

Setelah perut terisi,  kami melanjutkan berkeliling sehingga akhirnya tiba di Gedung Opera Budapest, yang saat itu sedang tidak ada pementasan.   Setelah puas berfoto di dalam gedung opera, kami melanjutkan JJM ini dengan kereta menuju kota tua Budapest di mana di sana terdapat Gereja Katedral,   Basilika St. Stephen.   Setiba di sana,  gereja dalam keadaan tertutup dan kios-kios pasar malam Natal yang banyak terhampar di halaman basilika juga sudah tutup.  Jadi yang bisa kami lakukan di sana hanyalah adalah ber photo session dengan latar belakang St. Stephen 😉

Didepan Gedung Opera Budapest

Didepan Gedung Opera

IMG_0308

Lobby Gedung Opera

Christmas market yang sudah tutup

Christmas market yang sudah tutup

Tampak depan Gereja Katedral St. Stephen

Tampak depan Gereja Katedral St. Stephen

Foto wajib!

Foto wajib!

Kembali dari St. Stephen dengan berjalan kaki menuju ke hotel,  dengan menyusuri lorong-lorong jalan pertokoan yang diterangi  lampu berpendar kuning,  kami  sempat menikmati dekor etalase  cantik toko-toko yang kami lewati.    Perjalanan pulang dengan berjalan kaki ini memberi waktu yang cukup buat kami menikmati  dinginnya Budapest : -3 derajat Celcius saja.

IMG_0346

Dingin yang sempurna

Berikut bonus foto-foto yang  membuat saya meninggalkan sepotong cinta di Budapest ♥♥♥

IMG_0087a

Pohon natal unik yang disusun dari gelondongan kayu

 

IMG_1754

This is the real winter

 

IMG_1753

The city wheel

IMG_0081

Pest city corner

IMG_0107

My two lions …..roar !

IMG_1789

Cruise on Danube river

IMG_1828

Sulaman2 cantik bikin emak-emak histeris

IMG_0239

Gereja St. Mathias dan Fisherman Bastion yang berkilau

IMG_0284

Keanggunan Buda Castle ….never die !

IMG_0266

Danube Promenade : asyik utk JJM

IMG_0260

Cahaya mengapung di atas sungai Danube

IMG_0345

Hhmm…ada gembok cinta juga di Budapest

Note :  untuk semua teman yang sempat membaca tulisan ini,  saya doakan suatu saat kamu berkunjung/berkunjung kembali ke Budapest dan  saya mau titip  untuk mencari apakah gembok cinta saya masih ada di sana 😉    Cerita ini saya tulis pada bulan Februari 2015,  sempat terlupakan…..dan ketika cinta akan Budapest bergema kembali,  saya mempostingnya hari ini :)   Enjoy !

Luv,

* Maureen T. Rustandi

 

 

 

Penyakit Kritis

April 9, 2016 by Maureen T. Rustandi

Dua kata ini mestinya sering kita dengar bukan dari mulut seorang dokter,  tapi dari mulut para agen asuransi,  yang menurut saya mereka menawarkan produk kepada orang sehat dengan ‘iming-iming’ penyakit kritis.  Walaupun iming-iming di sini bertujuan baik karena berupa perlindungan atas resiko,  tapi tak ayal kata ‘penyakit kritis’ yang sering diucapkan pada saat presentasi produk,  kadang membuat perasaan hati yang mendengar tidak nyaman.

Sayangnya dalam tulisan ini saya tidak membahas perihal penyakit kritis seperti yang tertera pada daftar panjang penyakit yang katanya ada 100 jenis itu,   tetapi ‘ penyakit kritis’ yang saya mau tulis adalah ‘sesuatu’  yang ada di pikiran  yang kita refleksikan dalam bentuk  ucapan dan perilaku kita.

6-minimize-posiBeberapa tahun silam saya pernah mengikuti sesi pelatihan kekuatan pikiran yang diselenggarakan oleh Mahadibya Nurcahyo Chakrasana pimpinan Mas Nurcahyo Adi Kusumo.  Di salah satu sesi,  beliau pernah berujar pentingnya untuk kita selalu menyadari dahsyatnya kekuatan pikiran yang kita miliki,  karena kekuatan pikiran itu sama dengan kekuatan doa.  ‘Jadi hati-hati, bila anda berfikir (negatif) tentang penyakit kanker dan menjadi kuatir karenanya,  maka dalam waktu 3 bulan, penyakit itu sudah ada di tubuh anda.’ #serem

Kemudian beliau menyarankan bila mendengar atau menghadapi sesuatu yang buruk,  sikap yang harus kita ambil adalah sikap waspada yang lebih bersifat positif dibanding dengan sikap kuatir yang bersifat negatif.

Kekuatiran yang terus menerus dan menjadi kecemasan yang berlebih-lebihan sudah merupakan buah dari pikiran negatif yang membelenggu dan yang akan menuntun langkah pikiran ke arah pernyataan dan tindakan yang aneh, tanpa alasan,  berlebihan,  sulit dimengerti dan mengacaukan.  Nah, bila sudah seperti ini,  maka orang lain akan dengan mudah memberi predikat kepada kita sebagai orang yang negatif,  yang sebaiknya dihindari saja.  ‘ Daripada gue ketularan jadi negatif’,  demikian sering kita dengar seseorang berucap.

Duh…kalau sudah seperti itu,  kesannya kita dengan pikiran negatif yang ada,  sudah dianggap  seperti salah satu  jenis penyakit menular dan teman-teman akan mengambil jarak untuk tidak mempunyai urusan dengan segala keanehan ‘penyakit’ kita.  Inilah sebenarnya penyakit kritis yang kita idap;   kita dengan pikiran-pikiran negatif yang berbahaya dan membahayakan  diri kita dan juga orang lain.   Mau punya penyakit kritis seperti ini ?

Bila kita biarkan,  saya kuatir  dampak yang ditimbulkan bisa menjadi  lebih buruk;   karena begitu kuatnya pikiran negatif membelenggu dan tidak adanya teman yang mau mendekat atau mendengarkan kita,  bukan tidak mungkin penyakit kritis jenis ini akan membawa kita menjadi pasien dokter jiwa. #lebihserem

Apa yang harus kita perbuat untuk menepis segala unsur negatif yang kemungkinan akan betah menetap di pikiran kita ?  Menurut saya tidak ada cara lain,  selain untuk terus mengupayakan agar kita fokus mempunyai dan memelihara pikiran positif dengan cara memandang sesuatu hal terjadi karena ada hikmahnya,   sesuatu hal terjadi karena suatu alasan baik dan memahami bahwa kita hidup hanya menjalani rencana Tuhan;  setelah mengerjakan segala sesuatu yang menjadi bagian kita,  maka janganlah menuntut hasil berlebih-lebihan,  tapi bersyukurlah!

powerofpositivethinkingKembali kepada penawaran oleh para agen asuransi yang selalu menggunakan kata penyakit kritis sebagai ‘marketing tools’,   mari kita belajar untuk menghadapinya bukan dengan rasa cemas dan takut seperti akan kena teror penyakit A,   penyakit B,  penyakit C, D, E dan lain sebagainya,  tetapi hadapilah dengan waspada.   Bila kamu merasa perlu dan mampu,  teliti dan belilah produknya.      Untuk kamu yang sementara ini merasa gamang,  bingung antara perlu tidak perlu atau belum mampu membeli produknya,  ingatlah untuk tetap menjaga pikiran positifmu bahwa kamu akan sehat dan baik-baik saja.

Tanamkanlah hal ini pada pikiran yang akan menuntunmu melakukan hal-hal yang positif, -termasuk menjalankan pola hidup sehat-, dan setelah itu bersyukurlah atas segala hikmat hidupmu sehingga kamu bisa selalu gembira.   Ingat,  hati yang gembira adalah obat yang paling mujarab ! ♥♥♥

#nopikirannegatif #saynotopenyakitkritis #bersyukur

*Maureen T. Rustandi

Who Am I Really ?

March 25, 2016 by Maureen T. Rustandi

Sering dalam sesi wawancara kerja, kepada kita diajukan pertanyaan sebagai berikut : gambarkan dirimu minimal dalam 5 kata; maka dengan segeralah kita menuliskan kata-kata yang menurut kita paling mewakili diri kita seperti : rajin, dapat dipercaya, teliti, rapih, disiplin, bertanggung jawab, ramah, suka menolong dan lain sebagainya.   Umumnya semua kata yang bernilai positif mau kita tuliskan agar meyakinkan bahwa kita adalah pribadi yang baik dan kadang hal ini membuat kita menjadi lebih percaya diri.

Tetapi selain sifat-sifat positif yang ada pada masing-masing pribadi kita, pernahkah kita sadari bahwa ada juga sifat-sifat negatif yang enggan kita akui dan biasanya yang negatif-negatif ini menjadi bagian dari penilaian orang lain terhadap kita dan kalau mendengarnya, kita menjadi tidak nyaman dan bisa bikin baper. Bener nggak begitu ? coba introspeksi deh 😉

Adakah di antara kita menyadari dan berani mendeskripsikan diri dengan menuliskan hal-hal yang negatif tentang diri kita ? Pernah saya temui jawaban dari seorang calon pekerja pada sesi wawancara saat saya meminta dia menyebutkan sifat-safat jelek yang dimiliki,   jawabannya adalah : ‘saya perfeksionis, ambisius, gila kerja….’   Woow, jawaban yang sangat standar yang mungkin hasil nyontek dari sebuah buku teori bagaimana menjalani wawancara kerja yang berhasil.

who am I ?

who am I ?

Sebenarnya pada saat melontarkan pertanyaan itu, saya berharap ada sedikit keberanian dari calon pekerja untuk menampilkan sisi yang paling manusiawi dari dirinya yaitu ‘sifat-sifat yang kurang baik’ misalnya dengan memberi jawaban : saya kurang sabar,   saya mudah marah, saya suka iri hati atau saya terlalu rakus dan lain-lainnya.   Sayangnya, setelah sekian lama mewawancarai banyak calon pekerja, saya belum pernah mendapatkan jawaban yang seperti ini atau mirip-mirip seperti ini.

Mengapa ? Pertanyaan yang saya coba untuk menjawabnya sendiri setelah saya mendapat sedikit ‘pencerahan’ 😉

Seperti yang sudah saya tulis di alinea kedua di atas, bahwa sifat-sifat jelek yang kita miliki umumnya kita ketahui dari orang lain dan biasanya jarang sekali kita mau dengan lapang hati menerima pendapat/masukan yang kurang menyenangkan, karena pada dasarnya kita begitu berat mengakui sifat-sifat buruk kita yang mungkin sudah kita ketahui dan sebaliknya kita asyik membicarakan keburukan orang lain;   seperti pepatah mengatakan ‘semut di seberang laut tampak, gajah dipelupuk mata tak tampak’. Hal ini terjadi pada diri saya dan untungnya saya punya sahabat baik yang mengingatkan saya akan hal ini, ini pencerahan yang saya maksudkan.

Jadi mestinya kita berterima kasih kepada suara-suara yang menyatakan kenegatifan kita karena kenyataannya mereka telah membantu kita untuk menyadari bahwa selain sifat-sifat baik yang kita miliki, kita juga punya sifat-sifat buruk. Hal yang sangat manusiawi karena kenyataannya tidak ada manusia yang sempurna. Dengan bisa menyadari bahkan bisa mengakui sifat-sifat buruk yang ada, kita diharapkan bisa lebih waspada untuk tidak terseret lebih jauh, dalam arti membiarkan sifat-sifat buruk kita berkembang sehingga merugikan nilai-nilai spiritual yang mau atau sedang kita bangun.

Untuk menghindari ketidaknyamanan hati,  baiknya  kita selalu berusaha untuk mengingat  sifat-sifat buruk yang biasanya keluar dalam bentuk perilaku/kata-kata kasar, akan  menyakiti orang lain dan pada saat terlambat menyadarinya,  kita seperti sudah terperosok.  Tanpa mampu menahannya maka segala sifat buruk kita akan merajalela karena untuk menjadi sombong atau irihati (misalnya) tidak perlu kita pelajari atau kita latih,  karena itu semua merupakan kecenderungan manusia melakukannya dengan instan bahkan kadang tanpa disadari.   Ngga percaya ? Coba deh secara jujur teliti kembali reaksi spontan alamiah hati  kita dalam sepersekian detik,  saat kita melihat sesuatu atau seseorang yang ‘melebihi’ kita.

Yuk mulai melakukan ‘perjalanan memeriksa batin’ untuk lebih berani mengenal ‘who am I really’ sehingga kita lebih bisa menahan, memahami atau bahkan mengendalikan segala perilaku kecenderungan sifat-sifat buruk -yang walaupun munculnya cuma sepersekian detik, tapi kalau dibiarkan tidak terarah bisa jadi sangat merusak-; di samping itu dengan memeriksa batin,   tentunya kita diharapkan lebih bisa memupuk, mengembangkan dan memaksimalkan semua sifat-sifat baik kita untuk kematangan pribadi dan spiritual kita demi pemanfaatannya bagi orang banyak.

Sehingga nanti …..  suatu saat pada kesempatan wawancara,   saya mendapatkan jawaban hal-hal yang negatif  seperti ini : ‘saya kurang sabar kalau rekan kerja saya lamban’,   ‘saya akan marah kalau pekerjaan tidak diselesaikan dengan baik ‘, ‘saya akan iri hati kepada team yang lebih berhasil’ atau ‘saya rakus akan pujian maka saya akan bekerja baik’,    maka  saya tahu  rekomendasi apa yang harus saya tuliskan pada lembar penilaian.

#beraniberprosesmenjadilebihbaik

Selamat berakhir pekan….teman !  Salam !😊

*Maureen T. Rustandi

Togetherness : Kisah Tempat Tidur di Akhir Pekan

March 4, 2016 by Maureen T. Rustandi

Hari Sabtu adalah hari yang paling saya nantikan karena hanya pada hari Sabtu saya mempunyai waktu khusus diri sendiri yang sering disebut sebagai ‘me-time’.   Sebagai ibu bekerja yang berkantor di Jakarta, hari-hari saya dari Senin s/d Jum’at memang untuk menjalankan tugas, pergi pagi jam 6:30 dan kembali ke rumah sekitar jam 20:00. Rutinitas seperti itu sudah saya jalani selama hampir 27 tahun, sejak sebelum menikah sampai saat ini, menjelang usia pernikahan ke 21. Kejenuhan dan kelelahan pasti saya alami apalagi saat ini ditambah dengan kemacetan Jakarta yang makin membuat waktu saya di rumah menjadi berkurang.

Dengan demikian tidak heran bila hari Sabtu menjadi hari idaman karena hari itu saya bebas bangun lebih siang dan bisa menjalankan kegiatan-kegiatan yang menjadi kesukaan saya seperti menata pernak-pernik pajangan rumah , merotasi foto dan hiasan dinding atau bahkan sekedar menghabiskan waktu di tempat tidur dengan menonton film-film menarik bersama 2 remaja idaman saya,   Marcel 18 tahun dan Mario 13 tahun.

Suami, yang karena tugas pekerjaan dan aktifitas sosialnya,   seringkali tidak bisa ikut menikmati hari Sabtu secara penuh bersama saya dan anak-anak. Tapi hal ini tidaklah membuat kami kehilangan akan kehadirannya karena ada saja hal-hal yang dikerjakan suami yang akan membuat kami mengingatnya dan merindukannya untuk segera pulang.

Biasanya pada hari Sabtu setelah selesai berolah raga,  suami punya waktu luang sebentar untuk mulai berkreasi dari mulai menyediakan nasi goreng yang lezat, memperbaiki rak sepatu atau daun pintu yang macet sampai dengan menata satu dua tangkai bunga yang dipetik dari halaman belakang rumah pada sebuah vas dan meletakkannya di ruang keluarga. Hal-hal seperti inilah yang membuat kami mengingat kehadirannya di sepanjang hari Sabtu itu.

Dengan kegiatan hari Sabtu seperti yang saya ceritakan di atas, maka tidak mengherankan bila hari Minggu menjadi satu-satunya hari yang membuat kami berkumpul secara lengkap.   Di mulai dari Sabtu malam, setelah selesai makan malam, dua remaja kami akan membebaskan kami untuk berduaan saja dan biasanya kami akan memilih tempat tidur sebagai tempat yang paling nyaman.

togetherness

yang tak akan terulang…..

Tempat tidur yang bersih dengan wangi yang segar sepertinya menjadi tempat favorit kami sekeluarga, setelah siangnya saya dan anak-anak menonton film di situ,  malamnya menjadi tempat saya dan suami berbagi cerita mulai dari berita-berita koran,  urusan pekerjaan,  kegiatan sekolah anak,  rencana liburan sampai hal-hal yang menjadi impian kami bersama.

Dan … tempat tidur yang sama juga akan menjadi tujuan kami untuk menghabiskan sisa siang hari Minggu.  Belum terbayang akan bagaimana sepinya tempat tidur ini setelah nanti si sulung pergi kuliah,  kemudian beberapa tahun lagi akan menyusul si bungsu juga pergi kuliah….

* ditulis pada Mei 2012

NOTE :

Menemukan dan membaca tulisan lama yang  masih belum selesai  ditulis ini,   saya jadi  ingin berpesan untuk kamu yang masih lengkap berkumpul dengan anak-anak,  nikmatilah sepenuhnya waktu yang ada,  jangan merusak kebersamaan yang berharga hanya karena urusan2  sepele yang tidak penting karena ‘resiko’ nya terlalu besar …… nanti kamu akan menyesalinya.

Bila ingatan kembali ke tahun 2012 ,   saya tidak pernah menyesali kalau setiap akhir pekan saya melonggarkan aturan/disiplin  yang sehari-hari berlaku.  Saya membiarkan tempat tidur yang bersih dan wangi menjadi berantakan, berubah menjadi sedikit kotor yang bercampur bau badan kami masing-masing di sepanjang akhir pekan saat itu  karena disitulah terciptanya kebersamaan kami.

Sekarang ini,   setelah hampir 4 tahun berlalu sulung saya pergi kuliah ke Jepang dan tempat tidur itu menjadi tidak terlalu ‘ramai’ tanpanya,    saya tetap mempunyai kenangan indah akan suasana dan bau berantakannya.   #priceless

Togetherness

Togetherness

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Maureen T. Rustandi