Dia Tetap Memancarkan Tjahaja Purnama !

December 2, 2017 by Maureen T. Rustandi

Basuki Tjahaja Purnama

‘Di sini saya  baik-baik dan sehat,  cukup makan,  sehari saya BAB 3 sampai 4 kali’,  demikian kalimat pembuka yang disampaikan Ahok pada saat menerima saya dan teman-teman TarQ Ladies yang mengunjunginya di rumah tahanan Mako Brimob,  Kelapa Dua,  Depok pada hari Selasa,  28 November 2017.  Kalimat yang sukses mengundang tawa dan mencairkan suasana 😀

Wajahnya  segar,  badannya tetap tegap dan bicaranya ‘tetap Ahok’,  penuh semangat  tanpa bisa dibendung,  semua hal kecil bisa jadi pembicaraan panjang yang menyenangkan karena banyak hal menarik yang beliau sampaikan yang menambah wawasan.

Menjawab pertanyaan seorang teman mengenai buku yang sedang beliau tulis,  Ahok menyampaikan saat ini sedang menulis jurnal tiap pagi dan sudah mencapai 191 halaman,  menulis ‘the best of me (kalau saya tidak salah ingat),  sudah 199 halaman dan menulis tentang kebijakan dan  Peraturan Gubernur yang beliau terbitkan selama menjabat sebagai Gubernur Jakarta,  lengkap dengan  kisah yang melatarbelakangi  setiap kebijakan dan  Peraturan Gubernur  tersebut.   Buku yang ketiga ini,  sudah mencapai 800 halaman karena dibantu oleh tim yang mengetikkannya.

Banyak ‘cerita pendek’ tentang  kesulitan orang miskin yang tidak mampu beli daging, yang tidak mampu berobat kalau sakit, yang tidak mampu menyekolahkan anak,   menjadi dasar  banyak keputusan yang beliau buat untuk memampukan orang-orang miskin tersebut akan hal-hal yang paling mendasar.  Dan hebatnya semua keputusan itu disertai dengan rambu-rambu agar pelaksanaanya tidak melenceng.

Selama ini kita sudah pernah membaca atau mendengar secara tidak langsung akan hal tersebut tetapi kesannya menjadi sangat berbeda bila kita mendengar langsung dari mulut beliau karena  kita bisa melihat emosi  beliau yang mewarnai setiap kisah,  ketulusan hati beliau untuk membantu orang miskin benar-benar ‘genuine’.

Beliau juga bercerita  beberapa kisah ‘blessing in disguise’  dari  tindakan membantu banyak orang,  sampai ‘blessing’ dapat hukuman 2 tahun.   ‘Gue akan habis, kalau gue dihukum dengan masa percobaan sesuai tuntutan Jaksa’,  demikian beliau berpendapat dengan alasan yang ‘off the record’.     Tapi bagi saya,  apapun alasannya,   saya setuju dengan  ‘blessing’ hukuman 2 tahun ini,  karena  setelah ‘perjuangan’ yang melelahkan,  beliau perlu waktu untuk mengisi ulang batere dirinya untuk menjadi lebih punya value positif,  untuk menjadikan dirinya lebih baik dan lebih baik lagi.

‘Bagaimana perasaan  Ko Ahok difitnah soal gaji dari swasta itu?’  ini pertanyaan saya yang dijawab dengan santai;  ‘ngga pa-pa gue difitnah,  ngga ada perasaan sakit;  gue udah belajar menerima semuanya dengan ikhlas.   Kemudian beliau menambahkan bahwa umumnya banyak orang  cenderung terperangkap pada pola pikir mereka sendiri dalam artian mereka memakai ukuran/barometer diri mereka sendiri untuk menuduh orang lain dan ternyata tuduhan mereka keliru,  karena mereka lupa bahwa tidak semua orang sama dengan mereka,  maka pernyataan yang mereka keluarkan  menjadi tidak berdasar alias fitnah belaka.

Hal yang sama juga dengan jawaban yang beliau berikan waktu saya bertanya soal applikasi Jakarta Smart City apakah bisa diterapkan di semua propinsi ?  ‘Sangat bisa diterapkan,  hanya tergantung pada kemauan para kepala daerah masing-masing saja, mau kerja bener ngga ?’.  Beliau tidak menerapkan ukuran value diri beliau terhadap orang lain. Beliau menjawab hal ini dengan santai padahal saya mengharapkan beliau lebih ‘ngotot’  memaksakan aplikasi yang luar biasa ini dipakai dan diterapkan di semua propinsi,  kalau perlu dengan  Instruksi Presiden.

Inilah  pelajaran penting yang saya dapatkan,  yaitu yang pertama  bahwa kita harus menerima semua kejadian yang menimpa kita dengan ikhlas,  yang saya artikan sebagai berdamai dengan keadaan yang ada dan yang kedua adalah  jangan pernah menilai orang dengan memakai  ukuran/value diri kita,  karena pertama kita akan jadi tukang fitnah atau kita akan menelan kekecewaan. Orang lain itu berbeda dengan diri kita.

Mengambil hikmah dari semua kejadian,  tampaknya juga  mewarnai nada bicara Ahok.   Beliau memang  masih bicara dengan antusias dan semangat yang  tidak pudar,  tapi dibalik nada-nada itu ada nada lain yang meredamnya,  nada-nada yang lebih damai karena ada kebijaksanaan dan keikhlasan dibalik semua cerita-ceritanya yang seru.

Ucapan untuk Marcel & Mario, ditulis langsung oleh Ahok. ‘Gue belajar nulis lurus’

Batere baru lainnya yang beliau isi adalah kesabaran;  dengan sambil bercerita,  beliau dengan sabar menuliskan ucapan-ucapan  dan  menandatangani setiap buku-buku, kartu-kartu dan juga t-shirt2  yang  saya dan teman-teman bawa,  walaupun waktu  berkunjung sudah habis tapi beliau tetap mau menyelesaikan  ‘PR’ dari kami.  ‘Ya,  saya menjadi lebih sabar,  mama saya aja menggerutu kalau lihat banyak buku-buku yang harus saya tandatangani’,  begitu celotehnya.

Dan yang memang tidak  berubah dari Ahok adalah spontanitas dalam berkomentar,    ada beberapa  komentar  lucu yang secara spontan beliau ucapkan untuk kisah-kisah yang mestinya cukup menyedihkan,    tapi itulah Ahok yang pandai meramu kegetiran dan kemudian menghibur dengan ‘ending’ yang manis sehingga membuat orang yang mendengarnya akan merasa lega dan tertawa.

Buku mewarnai untuk terapi anti stress,  souvenir buat Ahok

Sebuah buku mewarnai tingkat lanjut  lengkap dengan pensil warna,  saya sampaikan sebagai souvenir untuk beliau,  ‘ loe mau ngerjain gue ya?’  hahaha… begitu komentarnya dan  saat saya meminta beliau menuliskan namanya  pada kolom ‘this book belongs to’,  Ahok langsung nyeletuk ‘heran,  ngga percaya amat ama gue’  hahaha….tapi beliau  tetap menuliskan namanya secara lengkap dengan ‘full capital letters’.   Sebuah ciri nyata dari seorang yang berkarakter percaya diri.

Sukses mendapatkan semua  ucapan yang ditulis tangan  lengkap dengan tanda tangan  dan terlebih lagi pelajaran berharga dari kisah-kisah yang disampaikan,  saya dan teman-teman juga sukses memeluk Ahok,  karena beliau mengijinkannya,  setelah seorang teman meminta ijin ‘boleh peluk ngga?’ #maafyabuvero  #dilarangiri 😉

Sungguh sebuah kunjungan yang manis sebagai pelepas rindu kepada seseorang yang menjadi idola dan patron kejujuran,  kerja keras dan kepedulian terhadap orang miskin.

Pertemuan ini telah  memastikan saya bahwa sang Basuki tetap memancarkan Tjahaja Purnama-nya di manapun dia berada.  Tuhan selalu memberkatimu,  Koko !

*Maureen T. Rustandi

29 November 2017

Note : Terima kasih untuk Rini Roosdiarti,  seorang teman yang mengatur kunjungan ini dengan seksama dan juga untuk semua teman yang ikut berkunjung : Rini, Elly, Lany, Win, Rosemary, Yenny, Tuty, Anna, Chika, Erika dan Ria.  Seru ya pengalaman kita 😀

Lourdes : Saya Datang Untuk Kembali

November 5, 2017 by Maureen T. Rustandi

Sanctuary of Lourdes view dari Chateau of Pyreneen

Mengutip kalimat dari salah satu biro perjalanan penyelenggara tour ziarah yang menuliskan bahwa ‘kesempatan ziarah adalah berkat luarbiasa yang Tuhan berikan kepada kita’, maka saya ingin membagikan sedikit cerita mengenai ziarah yang saya lakukan pada bulan Agustus lalu saat saya berkesempatan berkunjung ke Lourdes.

Siapa tahu,  cerita saya ini menginspirasi kamu untuk menggali berkat yang mungkin belum kamu sadari kehadirannya…..

Welcome to Sanctuary !

Lourdes,  sebuah kota kecil di lembah pegunungan Pyrenees,  yang terkenal karenkesaksian seorang gadis penggembala,  Bernadette Soubirous,  tentang penampakan Bunda Maria  yang berkali-kali,  sekitar 18 kali, terhadap dirinya pada periode tahun 1858 – 1859.

Bunda Maria menampakkan diri di sebuah lubang batu karang besar,  tempat berteduhnya ternak-ternak, yang dikenal sebagai Grotto Massabielle, dan menyampaikan kepada Bernadette tentang Immaculate Conception,  sehingga  Bernadette harus berjuang mengabarkan dan mempertahankan kesaksian mata jasmani dan mata batinnya akan hal yang tidak ia ketahui sama sekali artinya,  di hadapan para pejabat dan petinggi gereja masa itu.  Perjuangan Bernadette tidak sia-sia karena pada tahun 1862,  Paus Pius IX memberikan persetujuan untuk mengadakan perayaan penghormatan kepada Bunda Maria di Lourdes yang berarti kesaksian Bernadette diterima dan diakui oleh pihak gereja Katolik

Basilika Immaculate Conception yang anggun, domain utama dari Sanctuary

Sejak saat itu  sampai sekarang,   setelah hampir 160 tahun berlalu,  Lourdes tidak pernah sepi dari para peziarah yang datang dari segala penjuru dunia,  sehingga Lourdes dikenal sebagai pusat ziarah dunia terbesar ketiga setelah Roma dan Yerusalem (Holy Land).

Dan ke Lourdes kali ini saya berkunjung setelah sekian lama memendam  keinginan dalam hati.  Sejak  mendarat di Bandara Pyrenees sampai berjalan kaki memasuki pintu gerbang Sanctuary of Our Lady of Lourdes,  yaitu area besar seluas 51 hektar,  yang di dalamnya terdapat Grotto,  beberapa gereja dan basilika,  sumber air suci,  kantor,  jalur jalan salib dan juga pusat pengobatan,    perasaan hati sudah diliputi rasa sangat terberkati bisa tiba dan berjalan di sini menuju ke ‘suatu’ tempat.  ‘Sebentar lagi akan bertemu…..,  sebentar lagi akan bertemu….’  begitu yang bergema di dalam hati ketika  kaki makin mendekat menuju Grotto.

Antri dan berdoa di depan Grotto

Antrian peziarah yang panjang  menuju Grotto tidak menyurutkan niat saya untuk berbaris tertib.  Di saat mengantri  ini, pikiran saya sedikit sibuk untuk mengingat janji-janji saya untuk menyampaikan doa permohonan dari beberapa teman.  Doa permohonan ini mestinya bisa saya tuliskan kemudian saya masukkan dalam sebuah kotak yang ada di sisi kiri Grotto,  tapi saat itu saya berketetapan untuk menyampaikannya langsung kepada Bunda Maria yang telah ‘melihat’ saya datang.

Grotto Massabielle : Salam Maria didaraskan

Dengan mendaraskan doa  Salam Maria dalam hati,  saya berjalan memasuki Grotto dengan  tangan kiri menyentuh  dinding batu karang yang basah dan dingin.  Sumber mata air yang di gali oleh Bernadette atas permintaan  Sang Bunda,  kini masih mengalirkan air dan dibatasi oleh pagar kaca.  Melewati tempat itu,  dinding-dinding batu karang di atasnya makin basah  dan makin basah lagi pada sisi yang berada di bawah tempat Sang Bunda ‘berdiri’.    Di sisi ini saya berhenti sesaat, sendiri saya mencoba merasakan dan meresapi kehadiran Sang Bunda,  telapak tangan yang basah masih menempel pada dinding karang dan batin saya berucap ‘terima kasih Bunda untuk selalu menggenggam erat tangan saya’ dan kemudian saya merasakan kesesakan di dada,  ingin berlama-lama di situ tapi situasi tidak memungkinkan karena akan menghalangi antrian peziarah yang ada di belakang saya, akhirnya saya beranjak melangkah dan tak terasa air mata merambang di pelupuk dan mengalir perlahan di sudut mata.

Oh Bunda, Engkau berdiri di sana memandangku….

Saya melangkah keluar Grotto dan berbalik  pada tempat yang pas untuk memandang ke atas,  di mana Sang Bunda  hadir 160 tahun yang lalu,  Ia ada  ‘di sana’,   bergaun putih dengan pita biru melingkar dipinggangnya,  menggenggam rosario berwarna emas  dan ada dua  bunga mawar berwarna sama dengan warna rosario,  di dekat kakinya;  Ia sedang menatap dengan penuh kasih dan damai.  Saya berhenti  untuk berdoa,  baik doa pribadi maupun doa titipan teman-teman,  semua saya sampaikan di sini.   Saya juga mengucap syukur  karena saya telah ‘diijinkan’ datang dan bertemu di tempat ini,  layaknya Bernadette 160 tahun yang lalu.   Kelegaan dan kehangatan meliputi hati saya.

Setelah selesai berdoa di Grotto,  saya berjalan keliling menyeberangi sungai  dan  memandang Grotto dari kejauhan.  Saya duduk berlama-lama di pinggir sungai ini  masih menikmati berkat yang luar biasa sambil menunggu acara Marian Procession yang akan berlangsung pada jam 21.

Marian Procession

Peziarah yang akan mengikuti Marian Procession

Marian Procession dikenal juga sebagai Torchlight Procession yang diterjemahkan sebagai prosesi lilin,  ide yang dicetuskan pada tahun 1863 oleh Pastor Marie Antoine dari Ordo Capuchin ini diilhami oleh kebiasaan Bernadette yang  setelah penampakan Bunda Maria yang ketiga kali, selalu datang membawa lilin.

Para peziarah dari segala penjuru dunia,  baik yang sehat maupun yang dalam keadaan sakit,  datang ke Lourdes  untuk mengikuti prosesi ini,  yang dilakukan dengan cara mengarak Patung Bunda Maria yang diletakkan di atas semacam tandu dan digotong oleh beberapa orang,  kemudian diikuti oleh barisan peziarah yang sakit,  baik yang berjalan dengan tongkat,  dituntun oleh pendamping,  yang naik kursi roda ataupun yang  rebah di atas tempat tidur rumah sakit;  barisan selanjutnya adalah para peziarah yang sehat yang jumlah tak terhitung karena memenuhi semua tempat kosong yang ada.

Suasana saat prosesi : khusuk dan sakral

Prosesi ini dimulai dari area depan Sanctuary yang dikenal sebagai Basilika Rosary  bergerak mengitari bulevar jalan masuk dari sisi kiri ke sisi kanan dan akan berakhir kembali di Basilika Rosary. (*)  Selama berjalan ini  para peziarah membawa llilin mendaraskan doa  sambil mengenang kisah misteri Rosario yang diselingi dengan menyanyikan lagu Ave Maria dalam berbagai bahasa.

Suasana Basililka St. Pius X yang terletak di bawah tanah, saat persiapan misa internasional

(*) Pada musim dingin,  prosesi ini diselenggarakan di Basilika St. Pius X,  sebuah ruang yang sangat besar di bawah tanah, yang terletak di sisi kiri bulevar (dari arah pintu gerbang) Sanctuary.

Suasana selama berlangsungnya prosesi ini sangat khusuk, cahaya lilin yang menyala di temaramnya langit jam 9 malam,  semilir angin yang menyapa wajah,  rangkaian  doa dan nyanyian yang bergema  berulang-ulang dalam hening serta keteguhan  para peziarah,  terlebih mereka yang sakit,   mendukung  semua kekhusukan itu.  Saya yang tidak mengerti bahasa yang dipakai dan hanya bisa ikut menyanyikan refrain lagu Ave Maria,  ikut terbawa suasana yang tercipta,   hanya ada rasa damai dan berserah yang saya rasakan.

Bunda Maria : Bunda Segala Bangsa

Melihat para peziarah yang dalam keadaan sakit masih dengan teguh mengikuti prosesi ini entah sudah yang ke berapa kalinya,  saya belajar tentang iman yang berpasrah  dari mereka akan  Tuhan Yang Maha Rahim. Dalam kepasrahan ternyata kita makin peka akan kehadiranNya sehingga kita tidak pernah kehilangan harapan akan kasihNya.

Sebelum melangkah meninggalkan Sanctuary pada malam itu,   saya teringat akan tulisan yang ada di bawah patung Sang Bunda  ‘Que soy era Immaculada concepciou’  yang berarti  I am the Immaculate Conception, yang dimaknai  oleh Gereja Katolik sebagai  kebijaksanaan Allah yang tak terselami,  yang mengajarkan umat Katolik untuk menghormati Bunda Maria sebagai teladan kekudusan agar umat selalu berjuang hidup kudus setiap hari dengan mengandalkan kerahiman Tuhan yang tidak terbatas.  Bunda Maria adalah contoh dan teladan dalam hal kekudusan.  Ia tanpa noda.  Ia tanpa dosa.

Saya akan kembali ke sini.

Damai dan sukacita Lourdes saya genggam dalam hati dengan erat.  Melangkah menjauh meninggalkan Sanctuary,  sayup-sayup saya mendengar senandung Ave Maria yang ditingkahi dengan bunyi lonceng yang bergema.  Besok saya akan kembali lagi ke sini.

 

Info ! Info ! Info !

*how to get there ?

Jakarta/Soekarno Hatta – Paris/Charles de Gaulle  : by flight (check Saudi Airlines untuk yang termurah,  kalau lagi beruntung,  bisa naik SQ dengan harga murah juga lho)

Paris/Orly – Lourdes/Tarbes/Pyrenees Airport : by flight  (1jam 15 menit),  check di sini

Lourdes/Tarbes/Pyrenees Airport – Lourdes city : by bus Euro 2,  infonya klik ini

Paris/Montparnasse or Austerlitz – Lourdes train station : by train (5 – 7 jam),  check di sini

*where do you stay ?

Ada banyak tempat tinggal bertebaran di Lourdes,  dari hotel kelas bintang 5 sampai  hostel2 untuk para backpacker.  Pilih yang sesuai dengan gaya perjalananmu.   Ada banyak pilihan di booking.com

Bonus ! Bonus ! Bonus!

Ada beberapa teman yang bertanya ke saya,  ‘ngapaian aja di Lourdes, selain bolak-balik ke Sanctuary ?’   Saya mengalokasi 3 hari 2 malam saat berkunjung ke Lourdes,  selama di situ saya menyelesaikan lebih dahulu yang menjadi prioritas ziarah,  seperti : berdoa di Grotto,  mengikuti prosesi2,  mengikuti misa (ada banyak misa dalam berbagai bahasa disetiap lokasi di dalam komplek Sanctuary) dan di tengah waktu senggang,  saya menyempatkan diri mengunjungi beberapa tempat.   Berikut ini adalah beberapa tempat yang saya sarankan,  seperti  :

♥ Rumah Tinggal Orang Tua Bernadette Soubirious

Dikenal sebagai Maison Paternelle Sainte Bernadette,  terletak di 2 Rue Bernadette Soubirous,  65100 Lourdes

Dengan membayar entrance tiket sebesar Euro 2/orang,  kamu bisa melihat suasana dan keadaan rumah yang pernah ditinggali oleh Bernadette bersama orang tuanya.  Bagian rumah terdiri dari : museum & the old house.

Detail info mengenai Maison Paternelle Sainte Bernadette,  dapat kamu klik ini

 

 

♣  Chateau Fort of Pyrenees

Chateau Fort of Pyrenees

Tempat inilah yang tampak jelas dari kejauhan bila kita berdiri dari pelataran Basilika Immaculate Conception yang berlokasi di bagian atas Sanctuary of Lourdes.   Barisan tembok benteng yang tampak kokoh dengan bendera Perancis yang berkibar anggun di puncak tertingginya,  tampak menarik untuk didatangi.

Pintu masuk ke Chateau ini terletak di 25 Rue deFort, 65100 Lourdes  dengan membayar Euro 7 (dewasa) dan Euro 3 (anak-anak),  kamu dapat langsung mendaki tangga mengitari banteng atau langsung naik lift menuju museum pertama yang terletak di sisi kiri.  Sebaiknya untuk mengeksplore banteng ini kamu mengikuti arah jalan yang ditandai dengan penomoran.

Detail mengenai Chateau Fort de Lourdes dapat kamu intip di sini

♦ Paroisse de Lourdes

Tampak depan Paroisse de Lourdes

Ini Gereja Katolik yang terletak di Place de l’Église, 65100 Lourdes;  menaranya yang menjulang tinggi menjadikan bangunan gereja ini sangat ‘eye-catching’,  terlihat jelas dari atas Chateau de Fort  dan memanggil kita untuk turun dari Chateau,  menyusuri Rue le Bondidier – Rue Baron Duprat,  kemudian menyebrangi Rue Basse,  melewati bagian belakang Pusat Informasi Turis,  menyeberangi jalan utama Rue Saint-Pierre dan masuk menyusuri Rue d’Elgise yang pendek untuk tiba di Place de l’Eglise.  Hanya kurang dari 10 menit dari pintu keluar Chateau untuk tiba di sini.

Saat saya tiba di sini Agustus 2017 lalu,  saya disambut oleh banner raksasa St. Bernadette yang digantung di pilar sisi kiri dan kanan tangga utama.

Interior gereja yang indah dengan pilar-pilar batu marmer menopang kemegahan langit2 yang berbentuk lengkungan simetris sisi kiri dan kanan.   Kamu dapat menyusuri bagian dalam gereja dengan mulai berjalan dari sisi kiri,  memutar di depan altar,  menuju sisi kanan.  Di kedua sisi ini kamu bisa berhenti di setiap kapel kecil untuk berdoa.    Kalau kamu sudah di Lourdes,  silahkan sekalian  mengunjungi gereja ini.

♥ Tarbes

Salah satu sudut kota Tarbes, foto diambil dari atas delman 🙂

Punya waktu senggang selama di  Lourdes ?  Ayo jalan-jalan ke Tarbes,  kota terdekat dengan Lourdes.

Kamu bisa naik bus dengan karcis seharga Euro 2 menempuh 45 menit perjalanan, melewati jalan yang mulus dan pemandangan yang asri atau naik kereta api  yang sangat nyaman,   selama 15 menit dengan tiket antara Euro 8 – 12.    Setiba di Tarbes,  kamu bisa keliling kota dengan delman gratis lho 😉

Info mengenai mengenai Tarbes kamu bisa lihat dikeker di sini.

 

♣ Vielle-Aure

Pemandangan cantik di Vielle Aure

Desa cantik yang berjarak 41Km dari Lourdes akan memberikan pesona yang lain untuk kamu yang datang berlibur ke sini.  Selain alam yang indah,  udara yang bersih,  suasana tenang layaknya pedesaan di banyak negara, Vielle Aure juga memberikan banyak pilihan kegiatan yang dapat dilakukan,   dari wisata alam,  wisata budaya dan sampai aktvitas balap sepeda,  terjun payung dan arung jeram.

 

Info menarik tentang Vielle-Aure, bisa kamu dapatkan di link ini

Kisah ziarah sudah,  info penting sudah dan bonus juga sudah,  apalagi ya yang bisa saya bagikan ? Satu hal yang kalau boleh saya ingatkan adalah jangan pernah menunda kesempatan ziarah yang datang padamu;  tidak perlu menunggu bisa datang ke Lourdes,  Fatima atau pergi ke Holy Land atau ke tempat lainnya yang jauh,  tapi ziarah iman dapat juga kamu lakukan dengan berkunjung ke goa-goa Bunda Maria yang tersebar di semua gereja Katolik.    Memandang wajah Bunda yang penuh kasih dan bersyukur akan ketaatannya yang menyelamatkan,  niscaya kamu akan selalu datang untuk kembali dan ‘kembali’ lagi,  baik  secara fisik dan maupun terlebih secara ‘hati’.   Cinta Bunda Maria selalu bersamamu.

Selamat ziarah temans ! ♥♥♥

*Maureen T. Rustandi

Jakarta,  30 Oktober 2017

A Grateful Rosary Moment

November 1, 2017 by Maureen T. Rustandi

Bulan Mei dan Oktober bagi penganut Katolik adalah bulan khusus untuk lebih memuliakan Bunda Maria,  Perawan Tanpa Noda Dosa yang dipilih untuk mengandung dari Roh Kudus dan melahirkan Yesus,  Sang Juru Selamat.

Biasanya pada bulan-bulan itu,  umat Katolik berkumpul melakukan doa berantai selama 9 hari berturut-turut pada jam yang sama setiap harinya,  zikir ini dikenal sebagai Novena.  Novena juga dapat dilakukan secara pribadi setiap saat tanpa perlu menunggu bulan Mei dan Novena.

Selain berkumpul berdoa Novena,  banyak umat juga melakukan ziarah dengan mengunjungi goa-goa Bunda Maria yang umumnya menyatu dengan kehadiran gereja…

Berikut ini beberapa lokasi goa Bunda Maria yang bisa kamu kunjungi di sekitar Jakarta.

♥ Paroki Kosambi Baru – Gereja St.Matias Rasul
Taman Kosambi Barat blok A ext 1 no.120
Perumahan Kosambi Baru, Jakarta Barat 11750

Telp (021) 5411509 – 54375687
Fax (021) 54393323
sekretariat@parokikosambibaru.org

email : komsos@parokikosambibaru.or.id


Paroki Pantai Indah Kapuk – Gereja St.  Regina Caeli

 Jl. Mediterania Boulevard No. 1, Pantai Indah Kapuk, Jakarta 14460
Telp. (021) 5596-4379
Fax. (021) 5596-4380
Website: http://reginacaeli.org


♥ Paroki Pluit – Gereja Stella Maris
Jl.Taman Pluit Permai Timur no.17, Jakarta Utara 14450
Telp. (021) 669-1642 , 669-4557
Fax. (021) 667 93 85

♥ Paroki Kelapa Gading – Gereja St. Yakobus

JL. Pulo Bira Besar kompleks TNI-AL Kodamar
Kelapa Gading Barat -Jakarta Utara 14240
Telp. 021-4501028 (hunting) fax. 021-45841432

Email:
parokiyakobus@yahoo.com
parokisantoyakobus@yahoo.com
sekretariat@yakobus.or.id


♥ St. Andreas Kim Tae Gon, Kelapa Gading

Jl. Puspa Gading Blok HI No. 16,  Jakarta 14240


Paroki Pulo Mas – Gereja St. Bonaventura

Jl. Pacuan Kuda Pulomas, Jakarta – 13210
Telp: +62214897347, +62214754780, +622147869546
Fax: +62214703339
Email: Sekretariat@bonaventura-pulomas.org


Paroki Rawamangun – Gereja Keluarga Kudus

Jl. Balai Pustaka Baru, RT.6/RW.7,

Rawamangun, Pulo Gadung, Kota Jakarta Timur,

Jakarta 13220

Telp : (021) 4892346

♥ Paroki St. Theresia

Jl. Gereja Theresia No. 2 Menteng,  Jakarta Pusat

Phone : 021 3917708 Fax : 021 3917709

e-mail :sekretariat@gerejatheresia.org


♥ Paroki Santa Maria Regina, Bintaro Jaya
Jl. MH. Thamrin kav. B2 No. 03
CBD Bintaro Jaya Sektor 7,
Tangerang Selatan 15224
Telp. 021-745 9715, 745 9716
Fax. 021-745 9717
sekretariat@parokisanmare.or.id


Paroki Cilangkap – St. Yohanes Maria Vianney
Jl. Bambu Wulung No.60, Kel. Bambu Apus RT 033/05, Cipayung, Jakarta 13890
Telp. (021) 844-4893
Fax. (021) 8430-7905
E-mail: info@paroki-cilangkap.com
Website: www.paroki-cilangkap.com

Paroki Lubang Buaya – Kalvari
Gereja: Jl. Pelita, RT 001/02, Lubang Buaya, Jakarta, 13810
Pastoran: Jl. Masjid Al. Umar No.1B, Lubang Buaya, Jakarta 13810
Telp./Fax. (021) 8779-1911
Website: www.kalvari.org , www.santacatharina.org

Paroki Bintaro – St. Matius Penginjil
Jl. Utama I Pondok Karya, Aren
Tangerang Selatan
Website: http://www.parokimatius.org/

 

♥ Paroki Ciputat – St. Nikodemus
Jl. Wijayakusuma II/V.388, Kompleks MABAD, Rempoa, Ciputat, Tangerang 15412
Telp. (021) 742-9616


♥ Paroki Cilincing – Salib Suci
Jl. Raya Tugu 12, RT 003/014, Semper, Koja, Jakarta 14260
Telp. (021) 440-5740
Fax. (021) 440-0769


♥ Paroki Kemakmuran – Bunda Hati Kudus
Jl.K.H Hasyim Ashari 28, Jakarta 10130
Telp. (021) 633-7363 dan (021) 633-9343
Fax. (021) 633-9348
E-mail: parbhk@centrin.net.id

Paroki Katedral – St. Maria Diangkat ke Surga
Jl.Katedral 7b, Jakarta 10710
Telp. (021) 345-7746 dan (021) 351-9186
Fax. (021) 350-9952
Website: www.katedraljakarta.or.id

Kiranya informasi mengenai goa-goa Bunda Maria di sekitar Jakarta ini dapat bermanfaat dan memudahkan kamu untuk memilih dan mengatur jadwal ziarahmu.  Salam Maria … penuh rahmat !♥♥♥

*Maureen T. Rustandi

29 Oktober 2017

Kamar Itu Kosong ……

October 23, 2017 by Maureen T. Rustandi

Berbagai wajah dan gaya : usia 0 – 17 tahun

Sudah lebih 2 bulan berlalu sejak bungsu saya pergi melanjutkan sekolah ke Perancis.   Iyaaa….ke Perancis,  tepatnya di kota Rennes.  Tempat yang dia pilih sendiri dan dia perjuangkan dengan semangat pantang mundur  demi bisa diterima di salah satu universitas negeri Perancis yang biaya kuliahnya free.

Dia yang selama lebih kurang 4 tahun terakhir ini hanya sendiri di rumah karena sang kakak lagi menuntut ilmu di Jepang,  menjadi lebih dekat,  menjadi tempat curhat,  menjadi  anak yang diandalkan dan dimintai tolong  dari urusan remeh temeh,  urusan antar jemput,  urusan bersih-bersih,  urusan masak,  sampai urusan menemani mama kondangan dan bahkan menemani mama mertua (oma-nya) di Bandung selama papa mertua pergi ke luar kota.

Bungsu saya yang periang,  lucu,  baik hati,  perhatian,  suka menolong,  suka galau juga ,  sensitive tapi expressive ,   saat ini lagi belajar dan berjuang hidup mandiri untuk mencapai mimpi-mimpinya.

Dulu….. sejak  ia mulai belajar tidur di kamar sendiri di usia balita dan karena ia bungsu juga  maka kamar tidur dibuat berhubungan dengan kamar tidur saya,  dengan maksud supaya  saya lebih mudah menjenguknya di  malam hari dan sebaliknya juga untuk memudahkan dia pindah tidur ke kamar saya bila sedang rewel.

Bersama Marcel, kakak yang dari kecil dijadikan panutan

Kamar yang sama,   ia tempati sampai  ia lulus SMA;  jadi bisa dibayangkan betapa seringnya saya bolak balik menengok dia setiap saat, apalagi  kebiasaan saya,  sejak ia dan kakaknya masih kecil,  selalu menengok mereka  pada saat sebelum tidur atau pada saat saya terbangun di tengah malam ;  kebiasaan ini  berlanjut terus sampai mereka besar.   Dan 4 tahun terakhir ini karena ia yang masih di rumah,  maka  sasaran saya setiap malam adalah menengok ke kamarnya atau sekedar mengintipnya kalau ia sedang  sibuk.    Saya selalu  merasa nyaman setelah melakukan ritual ini karena saya tahu,  ia ada di sana,  di kamarnya.

Sekarang kamar itu kosong,   saya tidak lagi mendapati dia sedang tidur atau lagi bertekun di meja belajar atau lagi bermain gitar atau  lagi cekikikan menonton ulah baby Tatan di IG;  saya tidak bisa lagi berhimpitan tidur memeluknya di tempat tidur single-nya atau ikutan menempel duduk dikursi belajarnya sambil menonton film Thailand kesukaannnya.

Kamar itu lengang,   tempat tidurnya selalu rapih,  dingin, meja belajarnya bersih dan tidak ada kemeja, topi atau celana jeans bertebaran.   Berulang kali kalau terbangun malam hari untuk ke toilet,  secara tidak sengaja saya masih membuka pintu ke kamar itu ….dan kemudian menyadari kalau ia tidak ada di situ.

Foto favorit yang dipandang kalau sedang kangen 😉

Kalau kangen dengannya, selain melihat-lihat foto,   saya suka tidur-tiduran di situ,  walaupun  seprei dan sarung bantalnya bersih tapi rasanya saya masih merasakan bau badannya yang khas.    Kalau sedang di kamar itu,  saya suka ingat si bungsu bilang kalau kamarnya boleh saya jadikan wardrobe dan ruang hias.  Hhmm…saya jadi tersenyum sendiri mengingat hal itu,  ingat akan keinginannya menyenangkan hati emaknya yang pengen punya ruang rias layaknya ruang rias punya Rosa,  sang Diva 😀

Sekarang kami berkomunikasi via LINE,  ia rajin menyapa dan mengirim kabar juga mengirim foto-foto.  Banyak bercerita tentang kota tempat tinggalnya yang pernah kami datangi pada saat mengantarnya,  juga bercerita tentang aktifitasnya bersama PPI di sana.  Setiap hari Minggu, sepulang gereja,   ia rutin mengirim foto kutipan bacaan injil bahasa Perancis untuk Opanya,   Hidayat Rustandi,  yang memang sedang menekuni bahasa Perancis.

Kartu-kartu ucapan yang dikirim dari Perancis

Perhatian yang diberikannya juga tidak berkurang,  ia seperti biasa rajin membuat desain khusus untuk kartu-kartu ucapan ulang tahun pernikahan dan ulang tahun kelahiran,  masih bersekongkol dengan kakaknya untuk memberi surprise dan setelah itu ia juga masih menyempatkan diri untuk menelpon pada hari-hari spesial keluarga.

Kemarin,  tanggal 15 Oktober 2017 adalah hari ulang tahunnya yang ke 20, pintu gerbang usia dewasa,  periode menyelesaikan kuliah,  periode mencapai cita-cita,  periode berkarya nyata dan juga  periode pernyataan diri dengan lebih bertannggung jawab.   Saya senang teman2nya di PPI merayakan ulang tahunnya walaupun secara sederhana.  Pada tanggal yang sama,  kebetulan kami menjadi host untuk lingkungan berdoa Rosario dan Novena 3 Salam Maria;  pada kesempatan itu,   seorang sahabat mendoakan kesehatan,  keselamatan dan keberhasilan untuknya.  Sebuah doa yang lengkap dan saya hanya mampu untuk mengamininya.    Saya percaya Tuhan berkenan  mengabulkannya.    Selamat ulang tahun,  sayang…… selalu sehat, bahagia,  panjang umur serta mulia !

Hai…. Mario,  di atas adalah sedikit cerita tentang rindu kepadamu yang  acapkali hadir di hati  dan baru bisa mama tuliskan sekarang  :*)   dan berikut ini adalah cerita terselubung tentang  bangga kepadamu ……

Berdua, duduk di depan kampusnya, Universite Rennes 2, Bretagne, Perancis

Usaha  yang kamu tunjukan selama  mengkuti intensive course bahasa Perancis setiap hari Senin-Jum’at,  dari jam 8 – 15 selama 9 bulan, kemudian dilanjutkan dengan belajar menggambar,  kursus fotografi,  diselingi dengan menyelesaikan  kelas piano,  kelas gitar,  mendesain t-shirt dan menjualnya,  kemudian mengurus  pendaftaran kuliah dan melengkapi sendiri semua persyaratan yang diminta,  menyiapkan portofolio desain-desain,  menulis motivation letters dan beberapa essay,  menjalankan test wawancara,    bolak-balik ke CampusFrance/IFI dengan naik kereta dan ojeg (pernah terserempet bajaj,  ditolong sama satpam kereta api yang baik hati) dan disela-sela kesibukan itu,  kamu masih ‘menyenangkan’ diri dengan ikut kursus vocal (karena kamu senang bernyanyi)  dan juga ikut kelas percakapan bahasa Perancis bersama ‘oma-oma’;  semuanya kamu lakukan tanpa mengeluh dan itu telah menunjukan  determinasi dirimu  yang tangguh.

Liburan lengkap berempat di Labuan Bajo sebelum ke Perancis,  Mei 2017

Di depan,   jalan yang kamu tempuh tidak akan selalu rata,  cuaca yang kamu rasakan tidak selalu nyaman,   semua yang kamu temui,  tidak selalu membuatmu tersenyum;   suatu saat kamu perlu mendaki,  suatu saat kamu harus berkeringat,   suatu saat kamu mungkin perlu menangis;  tapi mama tidak merasa kuatir akan semua itu karena mama percaya kamu mampu menjalani semuanya seperti yang telah kamu buktikan  di saat kamu berjuang untuk mendapatkan  1 tempat di universitas negeri Perancis.  Dan……..kejutannya  ternyata kamu mendapatkan 2 (dua)  tempat di sana.

Tetap semangat dan tetap berjuang  Gregorius Mario Averdi  ! Keep and grow all good attitudes,   keep faith and keep fighting spirit.

Biarkan kamarmu di rumah tetap kosong,    kelak  kamu pulang,  kamu pasti mengisinya dengan banyak cerita hebat dan mama akan mendengarkannya dengan antusias.  God bless you all the way!  Love you much ! ♥♥♥

 

 

 

 

 

 

 

 

*Maureen T. Rustandi

Jakarta, 17 Oktober 2017

** Berikut ini adalah beberapa foto yang kamu kirimkan 😉

‘Tempat aku jogging sore di sepanjang sungai dekat Republique’

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Les Halle Market, Rennes
‘Mama pasti suka ke sini’

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

‘Pertama kali masak nasi’

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Palais Saint George, Rennes
‘Mama pasti juga suka kalau ke sini’ 🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

Altar @Cathedral Renne

 

 

 

 

 

 

 

 

 

‘Aku bikin salad, Ma’

 

 

 

 

 

 

 

 

 

‘Jalan sore aku ke taman ini yang dekat Katedral’

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Parc du Thabor, Rennes
‘Waktu itu kita ngga sempat ke sini’

 

Ikut main di Coupe Du Mondo, Rennes

 

Chatting time with you : Priceless