The Godfather

January 20, 2017 by Maureen T. Rustandi

Menulis judul di atas,  saya langsung teringat akan kisah film legendaris dengan judul yang sama,  yang dibintangi Marlon Brando dan Al Pacino.  The Godfather.   Kisah film keluarga mafioso Italia yang tinggal di New York  ini  di adaptasi dari novel dengan judul yang sama,   karangan Mario Puzo.

The Godfather Certificates

‘The Godfather Certificates’

Di sini saya tidak menulis tentang film tersebut tetapi saya mau berkisah tentang seorang Godfather bagi anak-anak saya. Godfather yang karakternya berbeda bak langit dan bumi dibanding dengan Vito Corleone atau Michael Corleone.

Saya dan suami mengenal beliau sejak tahun 90an.  Saat itu beliau menjadi ketua lingkungan dan kami melaporkan diri sebagai umat pendatang baru di lingkungan tersebut.  Dengan keramahannya, beliau dengan mudah mengajak dan melibatkan kami untuk ikut terlibat dalam kegiatan-kegiatan lingkungan seperti doa bersama,  kunjungan keluarga,  ceramah kesehatan dan koor lingkungan.

Saya masih ingat saat saya diperkenalkan kepada pimpinan koor,  beliau dengan tulus berkata : ini lho Mas kita bersyukur ada tambahan 1 anggota koor lagi.  Ucapan sederhana yang membuat saya, yang tidak bisa bernyanyi ini,  seperti dianggap penting dan hal ini tentunya menambah rasa percaya diri dan juga tanggung jawab saya untuk tertib berlatih koor.

Suasana lingkungan  dan hubungan antar anggota juga  guyub, akrab,  saling mendukung dan saling menolong,  sehingga timbul rasa persaudaraan di antara kami.  Saya dan suami melihat ini semua adalah berkat leadership beliau sebagai ketua lingkungan yang selalu melayani dengan kebaikan dan tulus hati,  yang semuanya terpancar melalui perilaku dan tutur kata beliau.

Mendampingi saat Mario menerima Sakramen Pembaptisan

Mendampingi saat Mario menerima Sakramen Pembaptisan

Maka dengan tanpa perlu berpikir panjang,  kami meminta beliau untuk menjadi bapa baptis bagi putra pertama kami,  Marcel yang  menerima sakramen pembaptisan  pada tahun 1994.  Pembaptisan dilakukan di Paroki Bintaro,  Gereja St. Matius Penginjil.     Selesai pembaptisan,  beliau sendiri yang mengantar surat baptis ke rumah kami,  dan saat itu beliau berucap: ‘ Oom antar surat baptis Marcel,  ini ada nama Oom di sini sebagai orang tua baptis,  tapi kalau nanti  Marcel menerima sakramen perkawinan… hhmmm mungkin Oom sudah meninggal,  tidak bisa hadir’.

Saat kelahiran anak kami yang kedua,  Mario,  kami masih tinggal di lingkungan yang sama dan saat berkunjung menengok bayi kami,  beliau berujar  kalau kami dianugerahi calon 2 putera altar yang ganteng.

Selang sebulan setelah kelahiran Mario,  kami pindah rumah ke daerah Serpong,  tetapi kepindahan ini tidak merubah keputusan kami untuk tetap meminta beliau sebagai bapa baptis Mario.  Mario menerima sakramen pembaptisan di Paroki Serpong,  Gereja St.Monika pada hari Natal tahun 1997.   Rumah yang berjauhan dengan gereja St. Monika tidak menjadikan halangan bagi beliau untuk datang sebagai bapa baptis.    Maka dengan demikian  kedua anak kami mempunyai Godfather yang sama.

Menggendong Mario bayi setelah pembaptisan

Menggendong Mario bayi setelah pembaptisan

Kepindahan dan juga kesibukan masing-masing membuat kami jarang sekali bertemu sampai akhirnya beberapa tahun terakhir ini, secara rutin kami menerima ucapan selamat dan doa yang beliau kirim kepada kami pada setiap kesempatan ulang tahun kami,  ulang tahun anak-anak, ulang tahun perkawinan,  ucapan Paskah dan ucapan Natal.   Dan kami hanya bisa membalasnya tanpa pernah berhasil mengirimkan ucapan dan doa yang sama pada hari-hari istimewa beliau,  karena kelalaian kami selama ini tidak pernah bertanya.  Sekali waktu kami sempatkan bertanya tapi setelahnya kami lupa mencatatnya dan ini terjadi bertahun-tahun,  demikian juga keinginan kami untuk mengunjungi beliau,  selalu tertunda-tunda sampai berselang tahun.

Beberapa tahun lalu kami menyempatkan diri berkunjung menengok beliau dan istri yang sudah pindah rumah dan tinggal bersama anak perempuan mereka di daerah Kedoya,  Jakarta Barat.  Saat itu beliau dan istri masih tampak gagah dan sehat.  Kami banyak tertawa bersama mengingat cerita lama yang dikisahkan dan kemudian kesibukan kami kembali memisahkan jarak antara kami lebih lama.  Tetapi beliau adalah sosok yang setia menjalin silahturahmi;  SMS beliau tidak pernah terlambat datang menyapa kami di setiap kesempatan/hari-hari istimewa kami;  sehingga kamipun berketetapan untuk menjenguk kembali setelah sekian tahun berlalu.

Saat aasyik berbagi cerita dengan kami

Saat asyik berbagi cerita dengan kami

Puji syukur.. ..pada suasana perayaan Natal 2016 kami bertemu kembali dengan beliau.  Kali ini perubahan fisik tampak nyata,  beliau lebih kurus dengan guratan wajah tua yang lebih nyata.  Banyak cerita tentang  kegiatan beliau aktif di rumah jompo,  melayani sesama lansia, melayani di gereja,  kisah ‘heroik’  saat beliau menjadi bendahara Panitia Pembangunan Gereja Maria Bunda Karmel, dan juga cerita merawat istri yang sakit,  yang sempat koma,  stroke dan kemudian sehat seperti sediakala tanpa meninggalkan bekas2 stroke.  Hebatnya semua cerita,  terutama cerita yang menyedihkan disampaikan beliau dengan santai.  Jelas terlihat bahwa semua kejadian selalu beliau nikmati dan syukuri.

Tuhan sungguh baik hati terhadap istri beliau tetapi setelah menyimak cerita bahwa  beliau yang merawat sendiri istri  : memandikan,  membersihkan, menyuapi,   selalu ada di sisi sang istri dan menjadi ‘tongkat’ tempat sang istri menopang diri;   saat itu kami  disadarkan  bahwa  kami sedang berhadapan dengan seorang  yang berkomitmen tinggi  memegang janji yang pernah diucapkan di hadapan Tuhan untuk selalu setia  dalam segala situasi….terlebih dalam situasi ‘kemalangan’.

Kesetiaan suami sudah tentu memberi kebahagian untuk  istri,  dan ini tampak jelas terpancar dari wajah sang istri  yang saat itu sedang mengalami gangguan penglihatan.  Yaa…sang istri dalam kondisi kurang bisa melihat setelah satu mata mengalami kebutaan karena kesalahan pemakaian obat,  saat ini mata yang satunya juga mengalami gangguan. Percaya pada sang suami yang selalu ada di sisinya,  maka ia dapat bangun dari tempat tidur,  berjalan ke luar kamar dan menyambut kami dengan hangat dan gembira….tidak tampak beliau saat itu sedang tidak dapat melihat dengan baik.

Diapit Mario dan Marcel

Diapit Mario dan Marcel

Kami sungguh bersyukur Tuhan mempertemukan kami dengan beliau dan menunjuk beliau menjadi bapa baptis,  menjadi Godfather bagi anak-anakNYA, anak-anak yang dititipkan kepada kami.

Beliau sosok yang sederhana,  setia dan bertekun melayani istri,  sesama dan melayani Tuhan,  sungguh Godfather yang ideal bagi Marcel dan Mario.  Semoga anak-anak kami yang mendengar langsung kisah kesetiaan beliau dapat mengambil hikmat dan menjadikan beliau patron untuk kehidupan mereka saat ini dan selanjutnya.

Beliau adalah Stephanus Widyartono Rahardjo,  yang bersama istri tercinta,  kami sapa  sebagai ‘Oom dan Tante Wid’,  dan anak-anak kami memanggil mereka : ‘Opa dan Oma Wid’.

Terima kasih Oom Wid,  doa kami  semoga Oom dan Tante selalu sehat  dan panjang umur sehingga masih  berkesempatan suatu saat menghadiri pernikahan Marcel dan Mario 😉    God bless you all the way !♥♥♥

Note :

Oh ya… Oom,  ada beberapa hal yang saat kita bertemu lupa kami sampaikan,   yaitu Marcel menjadi Putera Altar saat kuliah di Jepang;  Mario tertarik untuk menjadi Pemazmur (semoga suatu saat terwujud),   Sunardi saat ini aktif di Dewan Paroki Administratif St. Ambrosius dan melayani juga sebagai Prodiakon dan saya sendiri melayani sebagai Ketua Lingkungan dan Lektor.  Semoga kiranya kami juga dapat meneladani semangat pelayanan yang Oom berikan.  Amin!

* Maureen T. Rustandi

20 Januari 2017

__________________________________________________________________________

SPONSOR !

Cemas tiap kali bercermin karena melihat garis-garis tanda penuaan mulai tampak jelas ?  Ini cellular rejuvenation serum terbaik yang kamu perlukan untuk mengurangi keriput dan mengencangkan kulit wajah.

Luminesce Serum

Luminesce Serum

 

SIZE: 15 mL  – Price Rp. 1.184.500,- + ongkos kirim.  

Untuk pemesanan,  hubungi : admin@maureenrustandi.com

 

 

 

 

 

 

From Sophie Grace : 5 Beauty Tips You Have To Do in 2017

December 30, 2016 by Maureen T. Rustandi

Wow,   how time flies !  Just a few days ago we were celebrating Christmas and now we are 2 days away from the new year.

And you know what most of us like to do in the begining of the new year?

Planning our New Year Resolution of course.

And today, I want to share with you 5 beauty resolutions you can make in 2017 to become more beautiful and of course, more confident.

You may know some some of these tips already but I bet that you either don’t do it or do it frequently.

Trust me, if you do just ONE of them in 2017, you will definitely have a glowing, youthful ski by the year end.

  • Take Off Your Makeup Every Night

Ask any dermatologist: Cleansing your face on a daily basis is crucial for a clear complexion.

If left on overnight, makeup and free radicals (from bus exhaust, the sun, germs on your cell phone) cause dead skin cells to build up, clogging pores and creating an uneven canvas for makeup application.

Instead of waiting until you’re half-asleep and the bathroom feels miles away, wash your face as soon as you get home.

And because we’re all about shortcuts to success: Keep cleansing wipes in your bedside table as an insurance policy for even the latest nights.

  • Start Using Retinol

This ingredient, a vitamin-A derivative, packs a major anti-aging punch: It fights wrinkles, dark spots and dullness.

It boosts collagen and makes your skin cells turn over more quickly, making skin plumper and fresher-looking. So slap some on before you go to work every day.

  • Wear SPF Everyday

Sunscreen is hands-down required for everyone, year-round, whether you’re going outdoor or staying indoor.

Broad-spectrum sunscreens protect skin from skin cancer and aging (UVA rays) and sunburns (UVB rays).

The simplest way to get accustomed to using SPF (you need one of at least 30spf) consistently is to work it into your regular morning routine by using a moisturizer with a built-in sunscreen.

Get one this weekend so you can begin your New Year strong!

  • Test-Drive a New Color Each Month

With all the beautiful shades out there right now, why stick with your same old neutral brown shadow and dark berry gloss?

Experiment across the board. Try different colors of shades and you might be suprise what colors look good on you.

  • Find Your Perfect Blush

The whole idea is to mimic a healthy glow.

For example, fair-skinned women should pick apricots or pale pinks; beige-roses and tawny shades flatter medium complexions; and punchy fuchsias and tangerines warm up deeper complexions.

Cream blush is best for dry skin—it almost acts as an extra layer of moisturizer.

On oily skin, a powder formula will last longer.

Experiment with matte formulas to find the right shade—shimmery pigments can be tough to match to your skin tone though.

There you have it.

5 New Year beauty Resolution for you to work on in 2017.

Though these tips will help you look more radiant and beautiful for the New Year, it will take a few weeks to months to see effect.

Regards,
Sophie Grace

————————————————————————————————————————-

SPONSOR !

If you want to look 10 years younger within minutes,  try use Instantly Ageless™ .   Instantly Ageless is a powerful anti-wrinkle microcream that works quickly and effectively to diminish the visible signs of aging.

instantly-agelessSIZE: 50 – 0.3 mL sachets (15 mL total) – Price Rp. 678.500,- + delivery cost.  

For order,  kindly contact : admin@maureenrustandi.com

It can get rid of eye bags or wrinkles in just 2 minutes less !

Belajar Menjadi Saluran Berkat

December 28, 2016 by Maureen T. Rustandi

Masih jelas dipelupuk mata kebahagian wajah-wajah tua yang tinggal di sebuah panti jompo,  saat mereka menyambut kedatangan serombongan tamu yang datang berkunjung.  Dengan badan yang ringkih dan keterbatasan bergerak,  mereka duduk tertib berderet rapih.

Demikian juga keceriaan kasat mata dari sekelompok anak-anak yang badan kurus dan kepala botak,  mereka berlarian di lantai beralas  permadani kusam, asik bermain dan tertawa riang bersama beberapa tamu yang mengunjungi mereka di rumah singgah untuk anak pengidap kanker.

blessing-to-othersSebenarnya apa sih yang dilakukan para tamu itu sehingga orang-orang yang mereka kunjungi,  yang tua renta dan yang sedang sakit,  sangat antusias dan riang gembira ? Umumnya para tamu itu datang dengan kelompok atau komunitas mereka untuk melakukan apa yang namanya bakti sosial (baksos).  Mereka datang membawa makanan, bingkisan dan juga uang.    Di samping hal-hal material tersebut,  mereka juga siap  menghibur melalui nyanyian,  permainan atau bercerita.   Intinya mereka siap berbagi berkat,  yaitu kegembiraan.

Lalu bagaimana dengan  sekumpulan anak-anak muda yang antusias bernyanyi dan berjoget di panggung sederhana pada sebuah aula ?  mereka tidak asal bernyanyi atau berjoget tetapi mereka juga  ‘berteriak’  kepada ‘penonton’ nya.

Anak-anak muda ini rupanya sedang ber ‘ice-breaking’,   berbagi kegembiraan dan semangat kepada para peserta rapat karya.   Di tengah kantuk yang menyerang para peserta rapat,  kiranya hiburan dari para anak-anak muda itu tetap bisa membuat mata melek dan pikiran segar.

‘Berbagi’,  menjadi kata yang secara tidak sengaja sering saya sebut di atas,  yang makna sederhananya adalah memberikan atau mengalihkan sebagian dari yang kita miliki kepada orang lain yang kebetulan tidak memilikinya,  dengan tujuan agar orang tersebut bisa merasakan kegembiraan yang sama karena memiliki sesuatu tersebut.

Apakah tujuan berbagi kegembiraan ini selalu tercapai dengan kegiatan-kegiatan bakti sosial ?  Saya pribadi meragukannya.   Apa yang terjadi pada penghuni panti jompo setelah rombongan tamu-tamu pulang meninggalkan mereka ?  bagaimana situasi anak-anak penderita kanker setelah bingkisan dibagikan dan mereka kembali ke kamar masing-masing?  Saya yakin orang-orang tua jompo itu akan kembali kesepian dan anak-anak penderita kanker itu kembali sendirian  berjuang menjalani pengobatan.  Jadi sia-sia kah baksos yang kita jalankan ?

Baksos yang kita jalankan tidak pernah sia-sia walaupun tujuannya tidak tercapai sepenuhnya  karena kita tahu bahwa kegembiraan yang  kita bagikan itu sesaat sifatnya dan bukan sesuatu yang abadi.  Karena tidak ada kegembiraan yang abadi,  maka yang harus kita lakukan adalah tidak pernah berhenti untuk terus berbagi,  tidak harus berbagi dengan melakukan baksos, tetapi berbagi dengan cara-cara yang sederhana.  Contohnya seperti yang dilakukan oleh anak-anak muda yang menghibur dengan nyanyian atau jogetannya tersebut di atas.   Anak-anak  itu  secara sederhana sedang beraksi menjadi saluran berkat bagi orang lain.

Kita sering berucap ’saya bersyukur’ atau ’ I am blessed’ atas berkat yang kita terima dan berapa sering blessed-to-be-a-blessing kita melanjutkannya dengan membagi berkat yang kita syukuri itu kepada orang lain ?   Maafkan saya, kalau saya bilang,  umumnya  ucapan syukur kita berhenti hanya sampai dibibir saja karena secara tidak sadar kita menyimpan berkat kita sendiri hanya untuk kita,  kita kuatir berkat kita cepat habis kalau dibagikan.    Kita belum  ikhlas.

Di samping itu kita juga acap lupa akan berkat-berkat yang selalu ada dalam diri kita yaitu berupa bakat-bakat yang kita miliki,  keseharian kita yang ’biasa-biasa’ saja dan waktu yang kita miliki juga merupakan berkat yang sudah tersedia.  Kita cenderung melihat berkat dalam sesuatu yang material dan yang luar biasa.  Menurut saya ungkapan ’counting your blessings’ itu sebuah kekeliruan karena kenyataannya kita tidak mampu menghitung berkat kita,  karena berkat yang kita terima mengalir sepanjang kita masih bernapas.

Dalam keseharian kita yang sendiri dan ‘biasa-biasa’ saja,  kita tetap bisa menjadi saluran berkat bagi orang lain.   Kita hanya perlu sedikit bekerja sama dengan hati kita untuk ’mendengar’ apa maunya Tuhan.  Biasanya Tuhan hanya ingin kita melakukan hal yang sederhana saja dengan sesuatu yang Dia berikan.   Seperti anak-anak muda yang bernyanyi dan berjoget itu,  kita juga bisa berbagi sesuai  dengan kebisaan kita sekecil apapun itu.

Mari kita mulai  belajar sendiri  tanpa perlu menunggu kelompok atau komunitas,  dengan memanfaatkan waktu yang ada dan  bakat-bakat kecil yang kita miliki,   untuk dengan ikhlas tanpa henti menjadi saluran berkat bagi orang lain,   tidak hanya untuk menjadikan hidup kita lebih berarti tetapi lebih kepada kepentingan orang lain yang menerima manfaatnya.

Percayalah dengan segala keikhlasan berbagi,  maka berkat kegembiraan tanpa putus yang kita berikan juga akan kita nikmati.

Note :

Tulisan ini merupakan catatan akhir tahun 2016,  sebagai ‘reminder’ untuk diri  sendiri,   setelah selama ini jatuh bangun belajar menjadi saluran berkat.   Kata ‘kita’  bisa dibaca sebagai ‘saya’.    Semoga bermanfaat bagi teman-teman yang sempat membacanya :)

Terima kasih kepada mantan pacar yang  tidak pernah mengeluh dalam pelayanan dan menjadi inspirasi catatan akhir tahun ini.

Salam dan Selamat Tahun Baru 2017 … God bless us to be a blessing to others ! 😉

*Maureen T. Rustandi

Jakarta,  28 Desember 2016

————————————————————————————————————————

SPONSOR ! 😉

If you want to look 10 years younger within minutes,  try use Instantly Ageless™ .   Instantly Ageless is a powerful anti-wrinkle microcream that works quickly and effectively to diminish the visible signs of aging.

instantly-agelessSIZE: 50 – 0.3 mL sachets (15 mL total) – Price Rp. 678.500,- + delivery cost.  

For order,  kindly contact : admin@maureenrustandi.com

It can get rid of eye bags or wrinkles in just 2 minutes less !

 

Umur 70 Jadi Presiden

November 18, 2016 by Maureen T. Rustandi

Seminggu yang lalu saya menulis di timeline saya sebagai berikut : ‘Di usia 70 tahun ada yang bisa jadi presiden….nah loe yang masih muda ngapain aja?’ #tanyakepada dirisendiri

Donald Trump dan Hillary Clinton, sama tuanya.

Donald Trump dan Hillary Clinton, sama tuanya.

Status tersebut memang saya tulis sehubungan dengan terpilihnya Mr. Donald Trump sebagai presiden ke 45 Amerika Serikat di saat usia beliau 70 tahun.  Terlepas dari segala keonaran masa kampanye kedua kandidat presiden AS,  ada hal yang menarik perhatian saya,  yaitu usia kedua kandidat yang  sudah tidak muda,  apalagi bila dibandingkan dengan usia Presiden Obama saat pertama kali beliau menjabat sebagai presiden,  yaitu di usia 47 tahun,   keduanya tentu berbeda generasi.   Bila Hillary Clinton yang memenangkan pilpres,  maka ia juga  akan menjadi presiden di usia 70 tahun.  Sama tuanya dengan Trump.

Berkaitan dengan masalah  usia ini,  saya,   pada setiap kesempatan selalu menyarankan jagoan saya yang kedua dan yang paling muda,  Mario,   untuk  berani mengejar dan mewujudkan segala keinginannya.   ‘Cita-cita tidak cukup hanya ditulis tapi harus diupayakan untuk mencapainya’.  Dan biasanya akhir dari ‘kotbah’ saya kepadanya adalah seperti ini ‘……..ayo ikut marathon, mumpung masih muda,  kan keren banget kalau bisa tampil  di Boston,  di London,  di Tokyo…..’  dan dia akan  menjawab sambil tersenyum  : ‘Mama aja yang ikut…kan mama yang suka lari….lari dari kenyataan hahaa’ .

‘Lari dari kenyataan’,  sebuah komentar becandaan yang nyeleneh tapi membuat saya me review sejenak perjalanan hidup yang telah saya lalui,  sekalian mencari jawaban dari pertanyaan kepada diri sendiri,  ‘ngapain aja?’.  Dari review sejenak ini ternyata saya banyak menemukan moment-moment di mana saya lari dari kenyataan;  bukan lari dari kenyataan yang pahit atau menyedihkan tapi kenyataan berupa kesempatan yang harusnya bisa saya ambil,  tapi saat itu sepertinya tidak  terlalu saya pedulikan.

Seingat saya dulu tidak ada teman-teman yang meributkan ide bekerja/berkarir sesuai passion, membicarakan kemampuan berpikir out of the box  atau mendiskusikan pentingnya berusaha sendiri daripada jadi  kuli kantoran.    Sepertinya saat itu kita sudah dianggap berhasil bila dapat pekerjaan setelah lulus kuliah dan dianggap sukses bila mendapat gaji sekian juta rupiah.   Dan semua anggapan seperti ini tampaknya meninabobokan kita (baca : saya) dan sedikit melumpuhkan ambisi (?)

Bukannya saya mau menyalahkan keadaan tapi harus diakui jaman memang berubah :  kemajuan teknologi dan ketersediaan informasi memberi dampak dahsyat terhadap pola pengasuhan,   metoda pendidikan,  dan pola pikir anak-anak generasi millennial sekarang ini  dibanding dengan anak-anak jaman dulu.   Anak-anak sekarang lebih berani memperjuangkan apa yang mereka mau : mau punya karir seperti apa dan mau menjadi apa.   Sesuatu yang sangat positif.

Lihat saja saat ini bagaimana repotnya orang tua sekarang bila menghadapi keinginan anak-anak masa kininya memilih jurusan kuliah yang begitu beragam,  detail dan fokus.  Kerepotan orang tua akan bertambah dengan ketidakmengertian saat disodorkan  nama-nama program study yang beragam dan kedengaran asing  yang membuat orang tua kadang terbata-bata menjelaskan apa yang dipelajari anaknya bila ada kenalan yang bertanya.

Marathon Moscow : hanya bisa nonton

Oleh karenanya,  kepada  anak-anak masa kini atau yang kekinian,  terlebih untuk jagoan-jagoan saya,  Marcel dan Mario,  berteguhlah mencapai cita-cita dan passion mu,  berjuanglah untuk apa yang kamu inginkan,  raih impianmu,   petik pengalaman hidup orang tua tapi  jangan terlalu  terlena pada ‘pikiran’ mereka yang masih level ‘nokia’,  sehingga  kelak diharapkan tidak ada kekecewaan di masa tuamu karena kamu  tidak  melakukan hal yang ingin kamu lakukan di saat kamu muda dan kuat;   jangan  seperti  ibumu yang menyesal tidak pernah ikut marathon selagi ia muda dan bisa :'(   Lihatlah sekarang ia hanya bisa nyengir kalau nonton lomba marathon 😀

Dan kalau memang kamu bercita-cita jadi presiden,  janganlah menunggu sampai usiamu 70 tahun karena kamu akan kehilangan ketampanan/kecantikan masa muda dan itu  membuat foto-fotomu jadi tidak enak dilihat rakyat karena wajahmu sudah keriput dan rambutmu menipis.  Di samping itu,  usia yang tua juga akan membuatmu nyinyir dan kadang bertingkah seperti anak-anak lagi  kecuali….  kamu bercermin dan ingat pada nasihat-nasihat yang diberikan oleh orang tua dan guru-gurumu betapa pentingnya menjadi orang yang bijaksana :)

OK,   selamat berjuang dan sukses untukmu ! :*)

*Maureen T. Rustandi

Jakarta,  18 November 2016