Hello world!

February 28, 2012 by Maureen T. Rustandi

Hi !  Welcome to my blog !  hoping you enjoy to read and get inspired from it :)

Halo !  Selamat datang di blog saya …. semoga Anda suka membacanya dan mendapatkan inspirasi dari apa yang saya tulis di sini :)

Hidup itu indah : rajin itu indah,  pintar itu indah,  tertib itu indah,  rapih itu indah,  cantik itu indah,  jalan-jalan itu indah,  suka membaca itu indah,  memberi itu indah,  toleran itu indah dan …………….bersyukur itu paling indah !

Pilpres 2014 : Masa Pembelajaran Diri

July 9, 2014 by Maureen T. Rustandi

pilpres2014Pilpres 2014 adalah pilpres yang paling banyak menguras energi positif kita;  dengan hanya ada 2 calon pasangan presiden, pertarungan benar-benar sengit, kampanye negatif, kampanye hitam, ejekan, makian, berita bohong, gambar palsu hasil editan, fitnah-fitnah …semuanya bertebaran di sekitar kita dan menjadi santapan mata dan santapan hati selama masa kampanye ini.

Sungguh luar biasa kalau kita tidak terbawa arus negatif selama masa kampanye ini, karena berarti kita telah memenangkan pertarungan intelektual dan moral kita sendiri,  kita berhasil menjaga pikiran, menjaga hati dan menjaga mulut kita untuk tetap positif.   Mungkin sesekali kita tergelincir, tapi bila dengan cepat kita menyadari bahwa kita secara terencana sedang diperalat/dipermainkan oleh pihak –pihak yang mempunyai kepentingan,   maka sungguh masa ini menjadi masa pembelajaran bagi kita semua untuk menjadi lebih dewasa dan lebih bijaksana.

Kelak kita akan lebih tahan menghadapi segala macam issue-issue, kita akan lebih mampu menilai mana yang asli dan palsu, kita tidak akan lagi bertindak ceroboh dan kita akan memenangi kehidupan dengan lebih bermartabat karena kita tetap mempunyai nilai2 agung sebagai manusia yang berakal sehat dan berbudi luhur.

Puji syukur akhirnya kita tiba pada hari pemungutan suara, Rabu, 9 Juli 2014.  Ada baiknya sebelum pergi ke TPS untuk mencoblos, kita perbaiki dulu pertemanan yang mungkin sempat terputus (unfriend, unfollow) dengan saling mengerti dan memaafkan sehingga dengan hati ikhlas kita semua bisa menerima hasil dari pilpres ini  yang harapannya kelak akan menjadi kemenangan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Semoga Indonesia mendapatkan presiden baru yang mampu bekerja untuk rakyat sehingga dapat mendatangkan kesejahteraan, kebahagiaan dan kejayaan Indonesia hebat ! Amin !

Serpong,  9 Juli 2014  jam 00:15

 

Mystical Milford Sound

March 30, 2014 by Maureen T. Rustandi

Ini adalah sepenggal kisah perjalanan bermobil menyusuri pulau bagian selatan New Zealand yang indahnya luar biasa, yaitu sepenggal jalan dari  panjang 2600 km jalan yang kami telusuri ,  yaitu   perjalanan dari Queenstown – Milford Sound – Te Anau (Fiordland region).

IMG_4197ab

Memandang keindahan Wakatipu Lake di pagi yang sepi

Meninggalkan Queenstown yang cantik yang telah kami singgahi selama 2 malam untuk melanjutkan perjalanan yang cukup jauh ke Milford Sound (dalam bahasa Maori,  dikenal sebagai Piopiotahi) , rasanya seperti antara mau dan tidak mau; mau,   karena pengen banget lihat Milford Sound yang menurut alkisah sebagai salah satu tempat terindah di dunia, tidak mau,   karena masih ingin memandang Wakatipu Lake yang begitu memukau.

IMG_4205a

Queenstown City masih sepi di pagi kami beranjak meninggalkannya. Bye..bye kota yang cantik !

Tapi apa boleh buat semua alasan untuk pergi atau tidak pergi akhirnya harus kalah dengan yang namanya jadwal perjalanan. Dan di awal hari yang masih sepi kami beranjak perlahan memutar pusat kota Queenstown sekali lagi menyusuri sepenggal sisi pendek Wakatipu, melewati Fred Burger yang masih tutup…sangat kontras dengan suasana kemaren sore dimana pembeli mengular mengantri, melintas Queenstown Mall yang lengang dan akhirnya membelokkan mobil ke arah jalan menuju keluar kota Queenstown.

IMG_4209

Siap menyusuri jalan panjang menuju Milford Sound; mata dipuaskan dengan pemandangan indah

Pemandangan indah di sisi kanan kami membentang danau Wakatipu yang luas, tenang dan tampak anggun dengan warna biru yang ditingkah kilauan cahaya matahari pagi. Saya berketetapan untuk tidak tidur di sepanjang perjalanan ini karena ingin melahap sepenuh-penuhnya keindahan yang membentang di depan mata.

Bila kami melewati suatu daerah dan tak kuasa menahan ketakjuban melihat pemandangan yang indah, maka kami memutuskan untuk berhenti, keluar dari mobil,  menghirup udara segar, meregangkan kaki dan yang ngga ketinggalan adalah berfoto ! hal ini kami lakukan berulang kali….di beberapa titik

1. Walking track @Drift Bay,  baru jalan sekitar 30′ keluar Queenstown,  sudah berhenti di sini :)

IMG_4219

Petunjuk ‘walking track’ di Drift Bay

IMG_4215

Indahnya Wakatipu Lake masih bisa dinikmati dari Drift Bay

IMG_4217

Sayangnya ngga sempet piknik di sini….jadi foto aja dah :D

2. The Eglinton Valley,  lebih kurang  30 menit menjelang Te Anau City

IMG_4236

Sejauh mata memandang hanya rerumputan hijau dengan hiasan bunga warna kuning – putih. Sejuknya semilir angin di Eglinton Valley

IMG_4240a

Wowww ! I’m free :D

IMG_4243a

Gunung berselimut es dan mendung mulai menaungi

3. Lavender Farming

IMG_4267a

Cantiknya lavender warna-warni dan harumnya langsung menyerang hidung, unforgettable !

IMG_4265a

Salah satu foto favorit dengan latar belakang sungai, lavender, pinus dan bukit batu.

IMG_4284a

Sekalil lagi : cantiknya lavender !

Untuk menuliskan keindahan tempat2 yang kami lalui rasanya udah ngga ada kata-kata yang cocok untuk mendeskripsikannya dengan detail, bener2 speechless ! Mudah2an beberapa foto yang saya posting di sini bisa mewakili tentang keindahan yang saya maksudkan.

IMG_4317a

Hommer Tunnel

Milford Sound dikenal sebagai daerah yang paling basah diujung South Island sehingga tidak heran sepanjang perjalanan kami selalu disertai dengan hujan rintik-rintik sehingga perjalanan pergi pulang ke dan dari Milford Sound, saya ngga bertugas sebagai supir…ha..ha.. rupanya suami saya kuatir kalo co-driver yang pegang kemudi karena kondisi jalan yang basah dan agak berkelok-kelok menjelang Milford Sound.   Apalagi ada terowongan, Homer Tunnel sepanjang 1.2 km yang hanya bisa di lalui satu jalur kendaraan dengan penerangan yang redup, yang harus dilalui untuk tiba di Milford Sound.

IMG_4310a

Pemandangan indah lain yang langsung menyergap mata begitu keluar dari Hommer Tunnel

Sambil menunggu giliran masuk Homer Tunnel ada baiknya kita menghentikan kendaraan sebentar kira-kira 200 M sebelum mulut terowongan, karena di sisi kanan anda akan melihat sebuah keindahan mistis alam yang luar biasa bagusnya…..

Keluar dari Hommer Tunnel, pemandangan indah menyergap indera penglihatan kita,  aliran air terjun dalam jumlah yang banyak mengalir di lereng bukit2 dan gerombolan asap kabut meningkahi di bagian puncaknya, membuat pemandangan jadi lebih luar biasa  dan seperti kita memasuki sebuah dunia yang lain.

IMG_4329

Pemandangan indah siap menyergap mata begitu keluar dari Hommer Tunnel

Ini berbeda dengan yangpernah kami lihat saat kami menyusuri Dzangmu menuju Nyalam di Tibet.           Air terjun di sana mengalir di lereng gunung di antara belantara hutan, sama indahnya tapi sensasinya sangat berbeda dengan yang kami lihat di sini.

Suasana tenang sedikit mencekam menyambut kami saat tiba di pusat kota, walaupun menjadi tujuan wisata dunia, Milford Sound yang berpenduduk lebih kurang 170 jiwa jauh dari hingar bingar; sedikit keramaian hanya ditemui di dalam gedung yang menjual tiket cruise karena di sana juga terdapat cafe,  sehingga menjadi satu2nya tempat makan untuk para turis sebelum atau

IMG_4480a

Takjubkan melihat ini di depan mata ?

sesudah mengikuti cruise. Kehebohan kecil sedikit terjadi saat kami keluar dari mobil,  jenis serangga kecil halus2 (dikenal sebagai ‘sand fly’ ) beterbangan ‘menyerbu’ lubang hidung…hi..hi… sepertinya hidung menjadi tempat yang paling kotor bagi rombongan serangga di Milford Sound ini. Jadi ada baiknya kita menyiapkan obat semprot pencegah serangga2 ini.

IMG_4333a

Welcome to Milford Sound

Cruise di Milford Sound adalah sensasi lain yang wajib diikuti karena tanpa mengikuti cruise sangat tidak sempurna perjalanan untuk menikmati Milford Sound; dengan mengikuti cruise kita dibawa menyusuri aliran air yang berwarna biru tua jernih yang berkilau2an bak berlian mengapung, melihat para anjing laut bermain dan bermalas2an, menyusuri tepian tebing mengunjungi lokasi air terjun yang indah dan kalau beruntung kita bisa juga menikmati lumba2 yang menari gembira. Untuk menambah wawasan mengenai Milford Sound, mampir ke museum apungnya,  juga OK :)

Walaupun  hampir sepanjang perjalanan cruise kami diwarnai dengan hujan rintik2 tapi kami tetap dapat menikmati semua keindahan Milford Sound dengan gembira,  mungkin yang kurang adalah tidak semua foto hasilnya baik.

IMG_4447a

Museum apung @Milford Sound

Hal kecil yang kami kenang adalah ‘bau  khas Indonesia’ yang kami temui di atas cruise.  Di tengah kepungan turis asal India,  indra penciuman kami mengendus bau minyak tawon dan akhirnya kami mengenali dari mana bau itu berasal,   seorang ibu muda dengan 2 anak balita yang sejak awal memang melihat kami dengan wajah tersipu dan seakan ‘mohon pengertian’ akan bau yang digelorakan ;) Walaupun kami tidak sempat bertegur sapa,  tapi kami saling melempar senyum ‘tau sama tau’ ;)    Saya menduga si ibu muda tersebut membalurkan minyak tawon ke anak balitanya untuk menghindari serangan ‘sand-fly’.

Rasanya rasa letih berkendara dan letih berlari2 menuju dermaga karena kesantaian kami sebelumnya dengan banyak berfoto sehingga tidak memperhatikan jam  keberangkatan cruise ,  terbayar lunas oleh pemandangan alam Milford Sound benar2 memberikan penyegaran jasmani dan juga penyegaran rohani.    Kami diingatkan akan kebesaran Sang Pencipta dan rasa syukur kami untuk dapat menikmatinya….Milford Sound,   the eighth wonder of the world,  begitu para pelancong dunia menjuluki-nya.

IMG_4428

Alam menyimpan rahasianya sendiri

Perjalanan kembali dari Milford Sound terasa lengang….hujan rintik2 tetap mengiringi;  menyadari bahwa sepanjang perjalanan tidak ada stasiun pengisian bensin,  maka hati sedikit was-was akan persediaan bensin di mobil apakah cukup untuk mencapai Te Anau;     untung alam yang indah masih bisa menghibur hati dan juga ampuh mencegah kantuk yang melambai2 di pelupuk mata…..yeah setelah 2,5 jam perjalanan,   menjelang malam yang masih terang benderang kami tiba di Te Anau  dengan selamat !

Tunggu cerita selanjutnya tentang kota ini ya….. :D

Note : 

Info detail mengenai Milford Sound,  dapat Anda review di sini;

Info cruise Milford Sound,  klik link ini

Mau review tentang Fiordland,  ada di sini

atau bisa juga klik  link ini untuk tahu Milford Sound khususnya dan New Zealand umumnya  :)

Beberapa foto di bawah ini juga bisa Anda nikmati ;)

IMG_4351

Milford Sound City Center

IMG_4377a

Salah satu waterfall yang dijumpai saat cruising

IMG_4379a

Seakan ada tembok raksasa di laut

IMG_4393

Anjing laut yang sedang santai :D

IMG_4467

Jepretan foto sekali lagi dari selasar dek …bye2 Milford Sound !

IMG_4344

Mau menyibak rahasia hutan Milford Sound ?

IMG_4341a

Tetep senyum demi foto yang bagus….padahal sand-fly lagi beterbangan di sekitar hidung lho :D

 

Thamel Yang Percaya Diri

February 20, 2014 by Maureen T. Rustandi

Masih seputar kisah singgah 2 malam di Kathmandu…..ini hanya sekelumit kisah yang mudah2an cocok untuk dibaca sebagai pengantar tidur :)

Menempuh penerbangan dari Bangkok dengan Thai Airways….kami, saya, suami dan 2 putra remaja,   Marcel dan Mario, menuju sebuah negeri yang dikenal sebagai ‘nagari di awan’, Nepal.

Laksana surga :)

Laksana surga :)

Di sambut dengan bangunan bandara berbata merah dan udara bulan September yang agak kering, kami tiba di Tribhuvan International Airport, Kathmandu dan langsung serta merta mengambil barisan untuk mendapat visa on arrival.   Tidak pernah terbayangkan sebuah bandara internasional dengan situasi seperti terminal bus kota yang kumuh, dengan penerangan seadanya, petunjuk seperlunya dan orang-orang yang berseliweran juga dengan tampilan ‘akan pulang ke kampung’ di banding tampilan ‘akan berangkat ke luar negeri’. Tapi inilah yang saya dapatkan dari Tribhuvan.

61575_1568843175521_5510395_n

Tribhuvan International Airport

Keadaan kota tidak jauh berbeda dengan sambutan yang kami terima saat datang, tapi kami cukup senang dengan keramahtamahan staf biro travel yang menjemput kami, demikian juga dengan si pemilik travel, Mr. Rajendra yang sederhana dan cukup pede membantu kami untuk mengeksplore kota Kathmandu dalam 2 hari.

61346_1568846895614_4983409_n

Suasana Thamel di sore hari

Sore hari pertama kami berjalan kaki mengitari area turisme yang sekilas mirip Kuta jaman 10 tahunan yang lalu !  Thamel ….place to hang out….semua ada di sini :  toko kelontong, toko sovenir, pashmina, budget hotel, perlengkapan trekking, travel biro, sewa sepeda, money changer, internet cafe sampe….resto pizza yang rasanya kayak pizza di Pepenero dan….ada Everest Best Steak, steak terenak di dunia…ada di Thamel ! Semua berhimpitan dan sepertinya semua tampil pede.

61346_1568846935615_7421106_n

Thamel area, Kathmandu

Keunikan Thamel yang lain adalah jalan di bagian dalamnya yang berupa jalan kecil dan berlubang2,  hanya bisa dilalui oleh 1 mobil sejenis Suzuki Life tapi agak besar dikit,   di Kathmandu dikenal sebagai Suzuki Maruti sehingga sangat bisa dimengerti kalo hujan turun,  maka roda ban akan menggilas air yang ada di lubang2 jalan dan cipratannya akan sampai ke toko2,   .begitu juga bila tidak hujan,  pasti debu2 akan berterbangan ke dalam toko sehinggatidak mengherankan bila kita menyentuh barang yang dijajakan,  maka tangan akan menyentuh barang yang terasa ‘ngeres’…entah itu dilapisi dengan pembungkus atau tidak.   Kalo udah begini…bagaimana orang mau membeli ya ? Saya sendiri sampai beberapa kali mengurungkan niat untuk membeli.   Tapi koq penjualnya pede aja ya ?

63826_1568846975616_7568720_n

@Salah satu sudut Thamel

61346_1568847055618_1266547_n

Jajanan khas Nepal, momo

Karena sore saat berjalan tadi kami dengan pede sempat mencicipi jenis jajanan khas Nepal, dengan nama ‘momo’,  yang secara kasat mata kelihatan enak (tampilan seperti kuo tie Medan yang kesohor itu)   tapi begitu dirasakan ….yeaaak sangat menyengat baunya karena aroma minyak yang khas,   maka malam pertama di Kathmandu kami memutuskan untuk makan enak .

Pizza

Bacon pizza yang lezatos @Pizza Cafe, Thamel

Pilihan kami menghantar kaki menuju  sebuah resto pizza dengan bangunan yang tampaknya lebih bagus dan modern dibanding dengan bangunan di kiri kanannya.  Yihaaa….pizza yang lumayan enak  akhirnya kami santap disantap lengkap dengan tingkahan mati lampu  !   serius lho terjadi …dan yang punya resto cukup pede untuk tetap melayani kami dalam temaram cahaya lilin.

Jadwal hari kedua agak padat dan pagi itu kami bangun sedikit mengantuk karena kenyenyakan tidur yang terganggu dengan insiden mati lampu di hotel…  yaah terus terang baru kali ini kami mengalami mati lampu di hotel dan sebagai ganti kegelapan, kami benar-benar hanya diberi lilin ;) tetapi walaupun mengantuk, semangat kami, terutama 2 putra remaja kami tampaknya tetap bergelora untuk menikmati Kathmandu dengan segala keunikannya.

* Baca  tulisan tentang :  A Spiritual Lesson @Pashupati Temple di sini

Everest Steak

A delicious grilled chicken steak @Everest Best Steak, Thamel

Seperti di malam terakhir ini , satu kepedean Thamel yang kcoba kami buktikan,  yaitu berkunjung ke resto Everest Best Steak,  yang sejak hari pertama kedatangan kami,   telah menarik perhatian dengan tulisan di depan resto yang  menggelitik senyum dan rasa penasaran kami : The Best Steak in the World is here !

Dikelilingi interior resto yang banyak dihiasi dengan fotocopy memorabilia beberapa legenda musik, penerangan remang-remang, musik yang sedikit menghentak dan celoteh para tamu dari berbagai suku bangsa….. malam itu lidah kami dengan pede menikmati steak yang memang cukup enak.   Horee !  Keluar dari Everest…..rasanya koq lega juga bisa membuktikan kepedean sebuah kalimat……  Akhirnya,  saya tidak salah bisa berucap :  ‘di Thamel lho saya menemukan steak terbaik di dunia !’   ha..ha..ha..

Everest Steak1

Irisan daging beraroma lezat disajikan diatas sandwich bakar….yummy ! @Everest Best Steak, Thamel

 

 

A Spiritual Moment @Pashupati Temple : Arti Hidup dan Mati

January 20, 2014 by Maureen T. Rustandi

Liburan yang menyenangkan itu yang bagaimana ya ? yang banyak shopping…banyak beli oleh-oleh buat diri sendiri or yang banyak foto-foto serunya ?   Atau liburan yang menambah pengetahuan diri tentang sesuatu yang baru ? atau bahkan liburan yang memberi pencerahan akan sebuah makna hidup ?

Perjalanan singkat saya ke Kathmandu,  Nepal mestinya bukan merupakan tujuan liburan yang utama, karena singgah di Kathmandu 2 malam hanya merupakan sebagian kecil dari perjalanan besar ke Tibet.

Kisah 2 malam di Kathmandu sungguh memberikan pencerahan batin dan pencerahan pikiran kami sekeluarga betapa di sebuah ibukota dari negara terbelakang kami belajar arti hidup dan mati bagi sebuah raga ….tanpa kami duga sebelumnya.

63818_1568858695909_3702001_n

Sebagian bangunan candi di kompleks Candi Pashupati, Kathmandu

Kompleks Candi Pashupati, yang merupakan kompleks candi Hindu berlokasi di tepi Sungai Bagmati, berada jauh dari jalan raya sehingga ketika tiba di area parkir kita belum bisa melilhat seperti apa bentuk bangunannya atau ada aktifitas apa di dalamnya, apakah ramai pengunjung ? semuanya belum bisa diduga karena yang tampak dari luar hanya keheningan di tengah rerumputan liar yang tidak terawat.

Memasuki area kompleks candi dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak sepanjang 200 meteran yang di salah satu sisinya berjejer beberapa bedeng yang menjual sovenir, diujungnya saya  menemukan area luas dengan lantai beton dan aliran sungai Bagmati ada di sisi kiri.   Saya datang ke Pashupati tanpa bekal informasi apapun mengenai tempat ini. sehingga, saat mata saya melihat barisan semacam tungku dari batu batu tersusun empat persegi panjang pada jarak tertentu di sepanjang aliran sungai yang melintasi kompleks candi ini, pikiran saya tidak menyuarakan apapun, walaupun sebagian dari tungku tersebut ada yang seperti baru saja dipakai karena masih terdapat sisa bara api, kepulan asap atau sisa-sisa benda berupa kain-kain, buah2an/tanaman yang biasa dipakai untuk sembahyang.

61308_1568854815812_1957453_n

Jejeran tungku yang dipergunakan untuk pembakaran jenazah

Melewati barisan tungku-tungku yang ada di seberang aliran sungai di sisi kiri dengan mengikuti alur yang ada saya  berjalan memasuki area lebih dalam dari kompleks candi ini,  sempat memasuki beberapa bangunan yang hampir semuanya penuh asap dupa dan para peziarah, akhirnya saya dan keluarga berhenti pada titik keramaian orang-orang berkumpul yang semuanya memandang ke arah seberang aliran sungai dengan ekspresi wajah diam paduan antara kaget, terkesima, takut dan mungkin shock.

60893_1568859975941_2896809_n

Terpaku melihat upacara pembakaran jenazah yang sedang berlangsung ….cepatnya hidup berlalu !

Apa yang dilihat oleh orang-orang tersebut, akhirnya juga saya lihat….jenazah baru datang, tampak dari kejauhan kondisinya masih segar dan sedang dipersiapkan untuk diletakkan di atas tungku yang bagian atasnya telah disusun beberapa palang kayu, dan disekelilingnya dilapisi dengan kain berwarna terang dengan dominasi kuning merah.  Kemudian raga yang telah kaku itu diletakkan pada bagian teratas tumpukan sehingga beralaskan kain kuning merah….. dan mulailah upacara doa dilakukan oleh seorang yang kami duga pendeta.

60893_1568859895939_2221156_n

Sungai Bagmati yang mengalir melintasi kompleks Candi Pashupati

Sepanjang ritual doa dilakukan dan dilafalkan dalam bahasa Hindu terhadap jenazah tersebut tapi saya tidak melihat adanya anggota keluarga yang ikut dalam ritual ini;  sampai akhirnya semua ritual selesai dan kemudian muncul seseorang yang saya duga adalah salah satu anggota keluarga. Mengenakan pakaian warna putih dengan ikat kepala, orang tersebut mendekati jenazah sambil memegang kayu yang ujungnya ada nyala api. Oh….dalam keheningan disiang hari yang mulai menyengat,  saya menyadari dengan serta merta bahwa saat itu kami berempat  sedang menyaksikan upacara pembakaran jenazah secara tradisional Hindu.  Dengan cepat api yang disundutkan pada salah satu sisi tungku di bagian lapisan kayu segera mengepakan lidah-lidahnya melebar memenuhi ruangan tungku mulai menjilati badan kayu,  merambat ke atas, menyambar ujung2 kain dan kemudian membungkus raga yang terbujur di atasnya.

63818_1568858735910_7173594_n

Memandang ke seberang tempat berlangsungnya upacara pembakaran jenazah : speechless

Yeaah….tanpa saya rencanakan hari ini saya menyaksikan upacara pembakaran jenazah umat Hindu di kompleks canti Pashupati,  Kathmandu. Datang ke kompleks candi ini dengan kondisi hati seperti datang ke Candi Prambanan or Candi Borobudur untuk menyaksikan bangunan indah luar biasa peninggalan sejarah,  tapi kenyataannya saya mendapatkan sebuah pengalaman batin tentang hidup dan mati manusia :  jenazah yang segar,  mungkin 1 jam sebelumnya dia masih berjiwa,  kemudian kaku,  mati tanpa arti apapun…..apakah dia jenazah yang cantik,  yang ganteng,  yang gagah….sudah tidak menjadi pembicaraan,  dia seperti  seonggok barang yang siap dibakar,  yang membedakannya hanya ada doa dan penghormatan yang mengantar raganya menjadi abu.

Saya meninggalkan tempat itu dengan pikiran sedikit bias,  senyatanya tidak ada hidup yang sangat panjang yang harus selalu diisi dengan kesempurnaan dan keindahan  yang kadangkala saat meraihnya kita melupakan cara-cara yang pantas.    Senyatanya lagi hidup itu singkat saja;  raga ini hadir  secara singkat dan dapat sekejap lenyap dalam serpihan abu mengikuti aliran sungai bermuara entah ke samudera yang mana.

Selamat jalan raga-raga  yang menghitam….sambil melangkah menjauh kompleks Candi Pashupati,  saya mendorong hati berucap doa :  ‘semoga jiwa2  mu beristirahat dalam damai !’

Ya Gusti Allah,  mampukan saya mengisi hidup yang singkat ini dengan banyak kebaikan.  Amin !